Cerita Dewasa - Bagiku Ga Masalah Siapa yang Muasin Aku

Galeri Cerita Sex Dewasa Terbaru Disertai Foto Cewek – Cerita bokep terpanas sebelumnya yang berjudul Cerita Dewasa - Kini Ibu Sonia Menjadi Pacar Gelapku, dan kali ini situs cerwasa.com akan membagikan cerita sex dewasa baru yang tidak kalah seru nya dengan judul Cerita Dewasa - Bagiku Ga Masalah Siapa yang Muasin Aku. Dijamin anda kembali bergairah dalam bercinta.


Cerita Dewasa - Bagiku Ga Masalah Siapa yang Muasin Aku – Saat masih wajar ponsel-ku sudah bunyi. Aku sedikit malas bangun dari tempat tidurku. Akhirnya Aku paksakan juga berdiri dan melihat siapa yang menelponku pagi-pagi begini. Ech, ga tahunya temanku Anjari. Aku sedikit ketus juga menjawabnya, Ternyata Si Anjari mengajakku ikut bareng lelakinya ke vila miliknya. Aku sih setuju sekali dengan ajakan itu, terus Aku tanya, apa Aku boleh ajak lelakiku. ya jelas harus dong, katanya. Rencananya kita bakal pergi besok sore dan kumpul dulu di rumahku.

Singkat cerita kita berempat sudah ngumpul di rumahku. Septian, lelakinya Anjari teman baik Daniel lelakiku. Oh ya, Aku belum mengenalkan Aku sendiri ya, namAku Devita, umurku sekarang 17 tahun, sama dengan Si Anjari, Daniel lelakiku sekarang 19 tahun, setahun lebih tua dari Septian lelakinya Anjari. Kita berempat langsung cabut ke villanya Anjari. Sekitar setengah jam kita baru sampai. Aku dan Anjari langsung beres-beres, menyimpani barang-barang dan menyiapkan kamar. Daniel dengan Si Septian lagi main bola di halaman villa. Mereka memang pecandu bola, dan kayaknya ga bakalan hidup kalau sehari saja ga menendang bola. Cerita Seks

Ada tiga kamar di vila itu, namun yang satu dipakai untuk menyimpani barang-barang. Mulanya Aku atur biar Aku dengan Anjari sekamar, Daniel dengan Septian di kamar lain. Namun waktu Aku beres-beres, Anjari masuk dan ngomong kalau dia mau sekamar dengan Si Septian. Aku terkejut juga, nekad juga ini anak. Namun Aku pikir-pikir, kapan lagi Aku bisa tidur bareng Si Daniel kalau ga di sini. Ya ga perlu sampai gitu-gituan sih, namun kan asik juga kalau bisa tidur bareng dia, mumpung jauh dari ayah dan Bunda-ku. Hehehe, mulai deh omes-ku keluar. Oke, akhirnya Aku setuju, satu kamar buat Septian dan Anjari, satu kamar lagi buat Daniel dengan Aku.

Sorenya kita makan bareng, terus menjelang malam, kita bakar jagung di halaman. Asik juga malam-malam bakar jagung ditemani kekasih hati. Wah, benar-benar suasananya mendukung. Aku mulai mikir yang macam-macam, namun malu kan kalau ketahuan dengan Si Daniel. Makanya Aku tetap diam pura-pura biasa saja. Namun Si Anjari kayaknya memperhatikan Aku, dan dia nyengir ke Aku, terus gilanya lagi, dia ngomong gini,

“Wah.. sepertinya suasana gini ga bakalan ada di Bandung. Ga enak kalau dilewatin gitu saja ya.” Aku sudah melotot ke arah dia, namun dia malah nyengir-nyengir saja, malah dia tambahin lagi omongannya yang gila benar itu, “Septian, kayaknya di sini terlalu ramai, kita jalan-jalan yuk!” Aku sudah ga tahu harus apa, eh Si Septian juga dengannya, dia setuju dengan ajakan Si Anjari, dan sebelum pergi di ngomong dengan Daniel, “Nah, sekarang elu harus belajar bagaimana caranya nahan diri kalau elu cuma berdua dengan cewek cakep kayak Si Devita.” Aku cuma diam.

Aku lihati Si Septian dengan Si Anjari, bukannya jalan-jalan malahan masuk ke villa. Aku jadi ga tahu harus ngapain, Aku cuma diam, semoga saja Daniel punya bahan omongan yang bisa diomongin. Eh, bukannya ngomong, dia malah diam juga, Aku jadi benar-benar bingung. Apa Aku harus tetap begini atau nyari-nyari bahan omongan. Akhirnya Aku ga tahan, baru saja Aku mau ngomong, eh.. Si Daniel mulai buka mulut,

“Eh.. kamu ga dingin?”.. Aku terkejut, ga jadi deh Aku mau ngomong, sebenernya Aku memang mau ngomong kalau di sini itu dingin dan Aku mau ajak dia ke dalam. Namun ga jadi, Aku ga sadar malah Aku geleng-geleng kepala. Daniel ngomong lagi, “Kalau ga dingin, mau dong kamu temenin Aku di sini, lihat bulan dan bintang, dan.. bintang jatuh itu lihat..!” Daniel tiba-tiba teriak sambil menunjuk ke langit.

Spontan Aku berdiri terkejut sekali, bukan dengan bintang jatuhnya, namun dengan teriakan Si Daniel, aduh.. malu benar jadinya. Daniel ikutan berdiri, dia rangkul Aku dari belakang, “Sorry, Aku ga punya maksud ngagetin kamu. Cuma Aku seneng saja bisa lihat bintang jatuh bareng sama kamu.”Aku cuma bisa diam, ga biasanya Daniel segini warm-nya dengan Aku. Dia malah ga pernah peluk Aku seerat ini.

Aku tengok arlojiku, jam 11.00 malam. Kemudian kuajak Daniel ke dalam, sudah malam sekali. Dia setuju sekali, begitu masuk ke villa kita disambut dengan bunyi pecah dari lantai atas. Kontan saja kita lari ke atas melihat ada apa di atas. Daniel sampai duluan ke lantai atas, dan di nyengir, terus dia ajak Aku turun lagi, namun Aku masih penasaran, memang ada apa di atas. Waktu Aku mau ketuk pintu kamar Anjari, tiba-tiba ada teriakan lembut,


“Awww.. ach.. pelan-pelan donk!” Gila Aku terkejut setengah mati, namun tanganku sudah keburu ngetuk pintu. Terus kedengaran bunyi gedubrak di dalam kamar. Pintu dibuka sedikit, Septian nongol sambil nyengir, “Sorry, ngeganggu kalian ya? ga ada apa-apa kok kita cuma..”Aku dorong pintunya sedikit, dan Aku lihat Si Anjari lagi sibuk nutupi tubuhnya pakai selimut. Dia nyengir, namun mukanya merah benar, malu kali ya. Aku langsung nyengir,“Ya sudah, lanjutin saja, kita ga keganggu kok.”Terus Aku ajak Daniel ke bawah. Daniel nyengir, “Siapa coba yang ga bisa nahan diri, hehehe.”

Tiba-tiba ada sandal melayang ke arah Daniel, namun dia langsung ngelak sambil nyengir, terus buru-buru lari ke bawah. Aku ikut-ikutan lari sambil ketawa-ketiwi, dan kita berdua duduk di sofa sambil mendengarkan lagu di radio. Ga lama kedengaran lagi suara-suara dari atas.Aku ga tahan dan langsung nunduk menahan ketawa. Gila, bisa-bisanya mereka berdua meneruskan juga olah raga malamnya, padahal sudah jelas-jelas kepergok dengan kita berdua.

Eh, di luar dugaan Aku, Daniel bediri dan mengajakku slow-dance, kebetulan lagu di radio itu lagu saat Daniel ngajak Aku jadian. Aku jadi ingat bagaimana deg-degannya waktu Daniel ngomong, dan bagaimana Aku akhirnya menerima dia setelah tiga bulan dia terus nunggui Aku. Daniel memang baik, dan dia benar-benar setia menungguiku. Cerita Dewasa

Selesai dance, Daniel tanya lagi, “Eh kalau mereka berdua ketiduran, Aku tidur dimana? memang tidur dengan barang-barang?” Aku malu sekali, bagaimana ngomongnya. Namun akhirnya Aku buka mulut, “Kita.. kita tidur berdua.” Wah lega sekali waktu omongan itu sudah keluar. Namun Aku tAkut juga, bagaimana ya reaksi Si Daniel. Eh tahunya dia malah nyengir,

“Oke deh kalau kamu ga masalah. Sebenernya Aku juga sudah ngantuk sih, Aku tidur sekarang ya.” Aku jadi salah tingkah, Daniel naik ke lantai atas dan ga sengaja Aku panggil dia, “Eh.. tunggu!” Daniel berbalik, dia nyengir, “Oke.. oke.. ayo naik, ga bagus anak cewek sendirian malam-malam gini.”


Aku sedikit canggung juga sih, baru kali ini Aku tidur sekasur dengan lelaki, namun lama-lama hilang juga. Kita berdua ga ngapa-ngapain, cuma diam ga bisa tidur. Dari kamar sebelah masih kedengaran suara Anjari yang mendesah dan menjerit, dan sepertinya itu juga yang bikin Daniel terangsang. Dia mulai berani remas-remas jariku. Aku sih ga nolak, toh dia khan lelakiku.

Namun Aku terkejut sekali, Daniel duduk terus sebelum Aku tahu apa yang bakal dia lAkukan, bibirku sudah dilumatnya. Aku mau nolak, namun kayaknya tubuh malah kepingin. So, Aku biarkan dia cium Aku, terus Aku balas ciumannya yang semakin lama semakin buas. Baru saja Aku mulai nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, Aku merasa ada yang meraba tubuhku, dipayudaral remasan halus di dadAku. Aku tahu itu Daniel, Aku ga menolak. Aku biarkan dia main-main sebentar di sana.

Daniel makin berani, dia angkat tubuhku dan diduduki di pinggir kasur. Dia cium Aku sekali lagi, terus dia mau buka pakaian tidurku. Aku tahan tangannya, ada sedikit penolakan di kepalAku, namun tubuhku kayaknya sudah kebelet ingin mencoba, kayak apa sih nge-sex itu. Akhirnya tanganku lemas, Aku biarkan Daniel buka pakaianku, dia juga buka baju dan celananya sendiri. Dia cuma menyisakan celana dalam putihnya. Aku lihat kemaluannya yang membayang di balik celana dalamnya, namun Aku malu melihati lama-lama, so Aku ganti lihat tubuhnya yang lumayan jadi. Mungkin karena olahraganya yang benar-benar rajin.


Aku ga tahu apa Aku bisa tahan, soalnya Aku tahu sendiri bagaimana staminanya waktu dia main bola. 2×45 menit dia lari, dan dia selalu kuat sampai akhir. Aku ga terbayang bagaimana aksinya di kasur, jangan-jangan Aku harus menerima kocokannya2x45 menit. Gila, kalau gitu sih Aku bisa pingsan.

Waktu Aku berhenti memikirkan stamina dia dan Aku, Aku baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya. Sekarang dadAku telanjang bulat. Aku malu setengah mati, mana Daniel mulai meremas dadAku lagi, yah pokoknya Aku ga tahu harus bagaimana, Aku cuma diam, merem siap menerima apa saja yang bakal dia lAkukan.

Tiba-tiba remasan itu berhenti, namun ada sesuatu yang hangat di sekitar dadAku, terus berhenti di putingku. Aku melek sebentar, Daniel asik menjilati putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Aku makin malu, mana ini baru pertama kali Aku telanjang di depan lelaki, apalagi dia bukan adik atau kakakku. Wah benaran malu deh.

Akhirnya Aku mulai bisa menikmati bagaimana enaknya permainan lidah Daniel di dadAku, Aku mulai berani buka mata sambil melihat bagaimana Daniel menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Namun tiba-tiba Aku diterkejutkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku. Tepat di bagian kemaluanqu. Aku ga sadar mendesah panjang. Rupanya Daniel sudah menelanjangiku bulat-bulat. Kali ini jarinya mengelus-elus kemaluanqu yang sudah basah sekali.

Dia masih terus menjilati puting payudaraku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkanganku. Aku menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh kemaluanqu naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, Aku ga sadar mendesah lagi, dan tanganku ga sengaja menyenggol gelas di meja dekat kasurku. Lalu ... Cerita Dewasa

“Prang..” gelas akhirnya pecah juga. Daniel berhenti, kayaknya dia mau memberesi pecahan kacanya. Namun entah kenapa, mungkin karena Aku sudah larut dalam nafsu, Aku malah pegang tangannya terus Aku menggeleng, “Barkan saja, nanti Aku beresin. Lanjutin.. please..”
Sesudah itu Aku lihat Daniel nyengir, terus diciumnya bibirku dan dia melanjutkan permainannya di selangkanganku.

Daniel benar-benar jago mainkan lidahnya, benar-benar bikin Aku merem-melek keenakan. Terus di mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya. Aku seperti kesetrum ga tahan, namun Daniel malah terus-terusan melintir-melintiri “kacang”-ku itu. “Euh.. achhh.. achhh.. achh.. aw..” Aku sudah ga tahu bagaimana Aku waktu itu, yang jelas matAku buram, semua serasa mutar-mutar. Tubuhku lemas dan nafasku seperti orang baru lari marathon. Aku benar-benar pusing, terus Aku memejamkan matAku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di tubuhku mulai dari selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin tubuhku kejang-kejang tanpa bisa Aku kendalikan.

Aku coba atur nafasku, dan waktu Aku mulai tenang, Aku buka mata, Daniel sudah buka celana dalamnya, dan kemaluannya yang hampir maksimal langsung berdiri di depan mukAku. Dia megangi batang kemaluannya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Aku tahu dia mau di-”karoake”-in, ada rasa jijik juga sih, namun ga adil dong, dia sudah muasin Aku, masaAku tolak keinginannya. So Aku buka mulutku, Aku jilat sedikit kepala kemaluannya. Hangat dan bikin Aku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi, terus dan terus.

Daniel duduk di kasur, kedua kakinya dibiarkan terlentang. Aku duduk di kasur, terus Aku bungkuk sedikit, Aku pegang batang kemaluannya yang lumayan besarnya itu pakai tangan kiriku, tangan kananku menahan tubuhku biar ga jatuh dan mulutku mulai bekerja. Mula-mula cuma menjilati, terus Aku mulai emut kepala kemaluannya, Aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku, ternyata ga masuk, kepala kemaluannya sudah menyodok ujung mulutku, namun masih ada sisa beberapa senti lagi. Aku ga maksakan, Aku gerakkan naik-turun sambil Aku hisap dan sesekali Aku gosok batang kemaluannya pakai tangan kiriku.

Daniel sepertiya puas juga dengan permainanku, dia lihati bagaimana Aku meng-”karaoke”-in dia sambil sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah. Sekitar 5 menit akhirnya Daniel ga tahan, dia berdiri dan mendorong tubuhku ke kasur sampai Aku terlentang, dibukanya pahAku agak lebar dan dijilatnya sekali lagi kemaluanqu yang sudah kebanjiran. Terus dipegangnya kemaluannya yang sudah sampai ke ukuran maksimal. Dia mengarahkan kemaluannya ke kemaluanqu, namun ga langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan kepala kemaluannya ke bibir kemaluanqu, baru beberapa detik kemudian dia dorong kemaluannya ke dalam.

Seperti ada sesuatu yang maksa masuk ke dalam kemaluanqu, menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir. Kemaluanqu sudah basah, tetap saja ga semua kemaluan Daniel yang masuk. Dia ga memaksa, dia cuma mengocok-ngocok kemaluannya di situ-situ juga. Aku mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana kemaluannya menggosok-gosok dinding kemaluanqu, benar-benar nikmat.

Waktu Aku asik merem-melek, tiba-tiba kemaluan Daniel maksa masuk terus melesak ke dalam kemaluanqu. “Awww.. acchhhh..” kemaluanqu perih bukan main dan Aku teriak menahan sakit. Daniel masih menghentak dua atau tiga kali lagi sebelum akhirnya seluruh kemaluannya masuk merobek selaput darAku. “Ssstt.. tahan sebentar ya, nanti juga sakitnya hilang.” Daniel membelai rambutku. Di balik senyum nafsunya Aku tahu ada rasa iba juga, karena itu Aku bertekad menahan rasa sakit itu, Aku menggelengkan kepala, “Ga apa-apa.. Aku ga apa-apa. Terusin saja.. yaa…acchhhh..”

Daniel mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Kemaluannya menggesek-gesek kemaluanqu, mula-mula lambat terus makin lama makin cepat. Rasa sakit dan perihnya kemudian hilang digantikan rasa nikmat luar biasa setiap kali Daniel menusukkan kemaluannya dan menarik kemaluannya.

Daniel makin cepat dan makin keras mengocok kemaluanqu, Aku sendiri sudah merem-melek ga tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam kemaluanqu. “Ga lama lagi.. ga bakalan lama lagi..” Daniel ngomong di balik nafasnya yang sudah ga karuan sambil terus mengocok kemaluan Aku. “Aku juga.. ah.. oh.. sebentar lagi.. ah.. aw.. juga..” Aku ngomong ga jelas sekali, namun maksudnya Aku mau ngomong kalau Aku juga sudah hampir sampai klimaks. Cerita seks

Tiba-tiba Daniel mencabut kemaluannya dari kemaluanqu, dia tengkurapi Aku, Aku sendiri sudah lemas ga tahu Daniel mau apa, namun secara naluri Aku angkat pantatku ke atas, Aku tahan pakai lututku dan kubuka pahAku sedikit. Tanganku menahan tubuhku biar ga ambruk dan Aku siap-siap ditusuk dari belakang. Beneran saja Daniel memasukkan kemaluannya ke kemaluanqu dari belakang, terus dia kocok lagi kemaluanqu.

Dari belakang kocokan Daniel ga terlalu keras, namun makin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan tubuhku biar ga ambruk, dan Aku rasakan tangan Daniel meremas-remas dadAku dari belakang, terus jarinya menggosok-gosok puting payudaraku, bikin Aku seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang. Daniel kembali mengeluarkan kemaluannya dari kemaluanqu, kali ini dimasukkannya ke anusku. Dia benar-benar memaksakan kemaluannya masuk, namun ga semuanya bisa masuk.

Daniel sepertinya ga peduli, dia mengocok anusku seperti mengocok kemaluanqu, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas dadAku, tangan kanannya sibuk main-main di selangkanganku, dia masukkan jari tengahnya ke kemaluanqu dan jempolnya menggosoki klitorisku. Aku makin merem-melek, anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadAku diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir, terus kemaluanqu dikocok-kocok juga pakai jari tengahnya. Aku benar-benar ga kuat lagi, akhirnya Aku klimaks, dan Aku merasakan Daniel juga sampai klimaks, dari anusku kerasa ada cairan panas muncrat dari kemaluan Daniel.

Akhirnya Aku ambruk juga, tubuhku lemas semua. Aku lihat Daniel juga ambruk, dia terlentang di sebelahku. Tubuhnya basah karena keringat terus, kupegang tubuhku, ternyata Aku juga basah keringatan. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.Ga tahu berapa lama Aku ketiduran, waktu akhirnya Aku bangun. Aku lihat arloji, sudah jam 2 subuh. Leherku kering, namun waktu Aku mau minum, Aku ingat gelas di kamarku sudah pecah gara-gara kesenggol.

Aku lihat ke lantai, banyak pecahan kaca, terus Aku ambil sapu, Aku sapu dulu ke pinggir tembok. Aku turun ke bawah, maksudnya sih mau ambil minum di bawah, Aku masih telanjang sih, namun Aku cuek saja. Aku pikir si Septian pasti masih tidur soalnya dia pasti capai juga olah raga malam bareng Si Anjari. Aku turun dan mengambil air dingin di kulkas. Kebetulan villanya Anjari lumayan mewah, ada kulkas dan TV. Aku ambil sebotol Akua, terus sambil jalan Aku minum.

Aku duduk di sofa dalam ruangan itu, rencananya sih Aku cuma mau duduk-duduk sebentar soalnya di kamar panas sekali. Ga tahu kenapa, namun Aku akhirnya ketiduran dan waktu Aku bangun Aku terkejut setengah mati. Aku lihat Si Septian dengan santainya turun dari tangga langsung menuju kulkas, kayaknya mau minum juga. Aku bingung harus menutupi tubuhku pakai apa, namun Aku telat Si Septian sudah membalik duluan dan dia melongo melihat Aku telanjang di depannya.

Dia masih melihatiku waktu Aku menutupi selangkanganku pakai tangan, namun Aku sadar sekarang dadAku kelihatan, makanya tanganku pindah lagi ke dada, terus pindah lagi ke bawah, Aku benar-benar bingung harus bagaimana, Aku malu setengah mati. Septian akhirnya berbalik,
“Sorry, Aku pikir kamu masih tidur di kamar. Jadi.. jadi..” “Ga apa-apa, ini salahku.”

Aku masih mencari-cari sesuatu untuk menutupi tubuhku yang telanjang polos, waktu akhirnya Aku juga sadar kalau Septian juga telanjang. Sepertinya dia pikir Aku masih di kamar dengan Si Daniel, makanya dia cuek saja turun ke bawah. Aku pikir sudah terlambat untuk malu, toh Septian sudah melihatku dari atas sampai ke bawah polos tanpa sehelai benangpun, apalagi Aku sudah ga perawan lagi, so malu apa. Cuek saja lah.

“Kamu sudah boleh balik, Aku ga apa-apa.” Aku mengambil remot TV terus menyalakan TV. Aku setel VCD, Aku pikir bagus juga Aku rileks sebentar sambil nonton TV. Septian juga sepertinya sudah cuek, dia berbalik namun ga lagi melongo melihatiku telanjang, dia duduk sambil ikut nonton TV. Tapi gilanya yang Aku setel malah VCD BF. Namun sudah tanggung, Aku tonton saja, peduli amat apa kata Si Septian, yang penting Aku bisa istirahat sambil nonton TV.

“Bagaimana semalem?” Aku buka percakapan dengan Septian. Dia berbalik, “Hebat, Anjari benar-benar hebat.” Septian sudah bisa nyengir seperti biasanya. Aku mengangguk, “Daniel juga hebat, Aku hampir pingsan dibikinnya.” Septian nyengir lagi, lalu kita ngobrol sambil sesekali menengok TV. Kayaknya ga mungkin ada lelaki yang tahan ngobrol tanpa mikirin apa-apa dengan cewek yang lagi telanjang, apalagi sambil nonton film BF.

Tiap kali ngomong Aku tahu mata Septian selalu nyasar ke bawah, ka dadAku yang memang lumayan menggoda. Aku ga memuji sendiri, namun memang dadAku cukup oke, ranum menggoda, bahkan lebih seksi dari kepunyaan Anjari, itu sebabnya Septian ga berhenti-berhenti melihati dadAku kalau ada kesempatan. Ada sedikit rasa bangga juga dibalik rasa maluku, dan sekilas kulihat kemaluan Septian yang mulai tegang. Aku nyengir dan sepertinya Septian tahu apa yang Aku pikirkan.

Dia mencoba pegang tanganku, “Boleh Aku pegang, itu juga kalau kamu ga keberatan.” Wah berani juga dia, Aku jadi sedikit tersanjung, terus Aku mengangguk. Septian pindah ke sebelahku, dia peluk Aku dan tangannya mulai remas-remas dadAku. Mula-mula dia sedikit ragu-ragu, namun begitu tahu kalau Aku ga nolak dia mulai berani dan makin lama makin berani, dan jarinya mulai nakal memelintir puting payudaraku. Aku mulai merem-melek sambil memutar tubuhku.

Sekarang Aku duduk di paha Septian berhadap-hadapan. Septian langsung menyambar putingku dan lidahnya langsung beraksi. Aku sendiri sudah kebawa nafsu, Aku mulai mengocok kemaluannya pakai tanganku dan sepertinya Septian juga puas dengan permainanku. Aku mulai terbawa nafsu, dan Aku sudah ga peduli apa yang dia lAkukan, yang jelas enak buatku. Echh… Septian menggendongku, kupikir mau dibawa ke kamar mandi, soalnya kamar di atas ada Anjari dengan Daniel, namun tebakanku keliru. Dia malah menggendongku ke luar, ke halaman villa.

Aku terkejut juga, bagaimana kalau ada yang lihat kita telanjang di luar. Namun begitu Septian buka pintu luar, Aku melihat di seberang villa, sepasang lelaki-cewek lagi sibuk nge-sex. Cewek itu mendesah-desah sambil sesekali berteriak. Aku lihat lagi ke sekitarnya, ternyata banyak juga yang nge-sex di sana. Rupanya villa-villa di sekitar sini memang tempatnya orang-orang nge-sex. “Bagaimana? kita kalahkan mereka?” Septian nyengir sambil menggendongku. Aku ikutan nyengir, “Siapa tAkut?” terus Septian meniduriku di rumput.

Punggungku dingin dan basah oleh embun malam, namun dadAku lebih basah lagi dengan liurnya Si Septian. Udara di luar itu benar-benar dingin, sudah di pegunungan, subuh-subuh lagi. Wah ga terbayang bagaimana dinginnya deh. Namun lama-lama rasa dingin itu hilang, Aku malah makin panas dan nafsu, apalagi Septian jago benar mainkan lidahnya.

Sayup-sayup Aku mendengarkan suara cewek dari villa seberang yang sudah ga karuan dan ga ada iramanya. Aku makin nafsu lagi mendengarnya, namun Septian sepertinya lebih nafsu lagi, dia itu seperti orang kelaparan yang seolah bakal nelan dua gunung kembarku bulat-bulat. Lama juga Septian main-main dengan dadAku, dan akhirnya dia pegang kemaluannya minta Aku meng-”karaokei”-in itu kemaluan yang besarnya lumayan juga.

Gara-gara tadi malam Aku sudah mencoba meng-”karaokei”-in kemaluan Daniel, sekarang Aku jadi kecanduan, Aku jadi senang juga meng-”karaoke”-in kemaluan, apalagi kalau besarnya lumayan seperti punya Si Septian. Makanya ga usah disuruh dua kali, langsung saja Aku caplok itu kemaluan. Aku ga mau kalah dengan permainan dia di dadAku, Aku hisap itu kemaluan kuat-kuat sampai kepalanya jadi ungu sekali. Terus kujilati mulai dari kepalanya sampai batang dan pelirnya juga ga ketinggalan.

Kulihat Septian melihati bagaimana Aku main di bawah sana. Sesekali dia buka mulut sambil berdesah menahan nikmat. Aku belum puas juga, kukocok batang kemaluannya pakai tanganku dan kuhisap-hisap kepalanya sambil kujilati pelan-pelan. Septian merem-melek juga dan ga lama dia sudah ga tahan lagi, sepertinya sih mau keluar, makanya dia cepat-cepat melepaskan kemaluannya dari mulutku.

Aku tahu dia ga mau selesai cepat-cepat, makanya Aku ga ngotot meng-”karaoke”-in kemaluannya lagi. Septian sengaja membiarkan kemaluannya istirahat sebentar, dia suruh Aku terlentang sambil mengangkang. Aku menurut saja, Aku tahu Septian jago mainkan lidahnya, makanya Aku senang sekali waktu dia mulai jilati bibir kemaluanqu yang sudah basah sekali. Benar saja, baru sebentarAku sudah dibikin merem-melek gara-gara lidahnya yang jago sekali itu.

Sepertinya habis semua bagian kemaluanqu disapu lidahnya, mulai dari bibirnya, klitorisku, sedikit ke dalam ke daerah dinding dalam, sampai anusku juga ga ketinggalan dia jilati. Aku perhatikan, sepertinya pasangan di seberang sudah selesai main, soalnya sudah ga kedengaran lagi suaranya, namun waktu Aku lihat ke sana, Aku terkejut. Cewek itu lagi meng-”karaoke”-in lelaki, namun bukan lelaki yang tadi. Lelaki yang tadi nge-sex dengan dia lagi membersihkan kemaluannya, mungkin dia sudah puas.Cerita Dewasa

Sekarang cewek itu lagi meng-”karaoke”-in lelaki lain, lebih tinggi dari lelaki yang tadi. Gila juga itu cewek nge-sex dengan dua lelaki sekaligus. Namun Aku tarik lagi omonganku, soalnya Aku ingat-ingat, Aku juga sama dengan dia. Baru selesai dengan Daniel, sekarang dengan Septian. Wah ternyata Aku juga dengan gilanya. Aku nyengir sebentar, namun terus merem-melek lagi waktu Septian mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya.

Waw… Septian benar-benar ahli, ga lama Aku sudah mulai pusing, Aku lihat bintang di langit jadi tambah banyak dan kayaknya mutar-mutar di kepalAku. Aku benar-benar ga bisa ngontrol tubuhku. Ada semacam setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin Aku gila. “Acchhh.. acchhh.. Septian.. Ahhh.. berhenti dulu Septian.. Achhh.. Ach.. Shh..” Aku ga tahan dengan puncak nafsuku sendiri. Namun Septian malah terus-terusan melintir-melintir klitorisku. Aku benar-benar ga tahan lagi, Aku kejang-kejang seperti orang ayan, namun sudahnya benar-benar enak sekali, beberapa menit lewat, semua tubuhku masih lemas,

Aku tahu ini belum selesai. Sekarang bagianku bikin Septian merem-melek, makanya Aku paksakan duduk dan mulai menungging di depan Septian. Septian sendiri sepertinya memang sudah ga tahan ingin mengeluarkan maninya, dia ga menunggu lama lagi, langsung dia tusukkan itu kemaluan ke kemaluanqu. Ada sedikit rasa sakit namun ga sesakit pertama kemaluanqu dimasukkan kemaluan Daniel.

Septian ga menunggu lama lagi, dia langsung mengocok kemaluanqu dan tangannya ga diam, langsung disambarnya dadAku yang makin ranum karena Aku menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putingnya. Aku ga tahan digituin, apalagi tubuhku masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan waktu Septian menyodokkan kemaluannya saja sudah ga kuat. Aku ambruk ke tanah, namun Septian masih terus mengocokku, dari belakang.

“Acchhhh.. euhhh.. acch.. awww..” Aku cuma bisa mendesah setiap kali Septian menyodokkan kemaluannya ke kemaluanqu. Aku coba mengangkat tubuhku namun Aku ga kuat, akhirnya Aku menyerah, Aku biarkan tubuhku ambruk seperti gitu. Septian memutarkan tubuhku, terus disodoknya lagi kemaluanqu dari depan.

Aku sudah ga bisa ngapa-ngapain, setiap kali Septian menyodokkan kemaluannya selain dinding kemaluanqu yang tergesek, klitorisku juga tergesek-gesek, makanya Aku makin lemas dan merem-melek keenakan. Septian memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu kanannya, terus dia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Aku diam saja, ga bisa menolak, posisi apa yang dia ingin terserah, pokoknya Aku ingin cepat-cepat disodok lagi.

Aku ga tahan ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku terkabul, Septian menyodokku lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang lagi, makanya kemaluanqu terbuka lebih lebar dan Septian makin leluasa mengocok-ngocokkan kemaluannya. Kemaluanqu diaduk-aduk dan Aku bahkan sudah ga bisa lagi berdesah, Aku cuma bisa buka mulut namun ga ada suara yang keluar.
“Aku mau sampai…, Aku mau keluarrrrr..” Septian membisikkan sambil ngos-ngosan dan masih terus mengocokku. “jeee… jeeee … Jangan di.. jangan di dalam. Accch.. acchhh.. oh.. Aaaaaa…Aku.. Aku ga mau.. hamillllllll.” Aku cuma bisa ngomong gitu, Aku ga tahu apa suarAku keluar atau ga, pokoknya Aku sudah usaha, itu juga sudah Aku paksa-paksakan. Aku ga tahu apa Septian ngerti apa yang Aku omongin, namun yang jelas dia masih terus mengocokku.

Baru beberapa detik lewat, dia mencabut kemaluannya, kakiku langsung ambruk ke tanah. Septian mengangkang di perutku, dan dia selipkan kemaluannya ke sela-sela dadAku yang sudah montok sekali soalnya Aku sudah dipuncak nafsu. Kujepit kemaluannya pakai dadAku, dan Septian mengocok-ngocok seolah masih di dalam kemaluanqu. Ga lama maninya muncrat ke muka dan sisanya di dadAku.

Aku sendiri klimaks lagi, kulepaskan tanganku dari dadAku, maninya mengalir ke leherku, dan mani yang di pipiku mengalir ke mulutku. Aku bahkan ga bisa menutup mulutku, Aku terlalu lemas. Aku biarkan saja maninya masuk dan Aku telan saja sekalian. Belum habis lemasku, Septian sudah menempelkan kemaluannya ke bibirku. Aku memaksakan menjilati kemaluannya sampai bersih terus Aku telan sisa maninya. Septian menggendongku ke dalam, terus dia membaringkanku di sofa.

Aku lemas sekali makanya Aku ga ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas baru jam 8.00 Aku baru bangun. Begitu Aku buka mata, Aku sadar Aku masih telanjang. Aku memaksakan duduk, dan Aku terkejut kenapa Aku ada di kamar Anjari. Terus yang bikin Aku lebih terkejut lagi, Aku lihat sebelah kiriku Septian masih tidur sedangkan di kananku Daniel juga masih tidur. Mereka berdua juga masih telanjang seperti Aku.

Belum usai terkejutku, Anjari keluar dari kamar mandi di kamarku, dia lagi mengeringkan rambutnya dan  masih telanjang. Baru akhirnya Aku tahu kalau semalam Anjari bangun dan melihat Aku lagi nge-sex dengan Septian. dia sih ga marah, soalnya yang penting buat dia Septian cinta dengan dia, soal Septian memuaskan nafsu dengan siapa, ga masalah buat dia. Ternyata Anjari melihat dari jendela bagaimana Aku dengan Septian nge-sex dan Daniel yang juga bangun subuh-subuh terkejut melihat Aku lagi nge-sex dengan Septian.

Dia keluar kamar, sepertinya mau melihat apa benar Aku lagi nge-sex dengan Septian, namun dia sempat menengok ke kamar sebelah dan melihat Anjari yang lagi nonton Aku dengan Septian nge-sex dari jendela. Daniel langsung dapat ide, so dia masuk ke dalam dan mengajak Anjari nge-sex juga. Singkat cerita mereka akhirnya nge-sex juga di kamar. Dan waktu Aku dengan Septian selesai,

Septian menggendongku ke atas dan melihat Daniel dengan Anjari baru saja selesai nge-sex. Makanya kita berempat akhirnya tidur bareng di kamarnya telanjang bulat. Hehehe, ga masalah, kita berempat malah makin dekat. Nanti malam juga kita bakalan nge-sexlagi berempat, ga masalah buat Aku Daniel atau Septian yang jadi pasanganku, yang penting Aku puas. Ga masalah siapa yang muasin Aku.

Seperti rencana kita semula, malam itu juga kita nge-sex berempat bareng-bareng. Asik juga sekali-kali nge-sex bareng seperti gitu. Daniel masih tetap oke walaupun dia sudah ngocok Anjari duluan. Aku masih kewalahan menghadapi kemaluannya yang memang gila itu. Septian juga ga kalah, biarkan dia masih ngos-ngosan waktu selesai ngocok Aku, dia langsung sambar Anjari yang juga baru selesai dengan Daniel. Terus kita nge-sex lagi sampai akhirnya dengan-dengan puas.

Aku puas sekali, soalnya baru kali ini Aku dipuasi dua lelaki sekaligus tanpa jeda. Baru saja selesai satu, yang satunya sudah menyodok-nyodok kemaluannya ke kemaluanqu. Pokoknya benar-benar puas sekali deh Aku. Malam ini kita rencana ga akan nge-sex lagi, soalnya sudah capai sekali dua hari gituan melulu. Makanya Daniel dengan Septian langsung menghilang begitu matahari mulai teduh. Mereka sih pasti main bola lagi, ga bakalan jauh dari itu. Anjari menghabiskan waktunya di villa, kayaknya dia capai sekali, hampir seharian dia di kamar.

Aku jadi bosan sendirian, makanya Aku putuskan Aku mau jalan-jalan. Kebetulan di dekat situ ada air terjun kecil. Aku rencana mau menghabiskan hari ini berendam di sana, biar tubuhku segar lagi dan siap tempur lagi. Aku ga langsung ke air terjun, Aku jalan-jalan dulu mengelilingi kompleks villa itu. Besar juga, dan villanya keren-keren. Ada yang mirip kastil segala. Sepanjang jalan Aku ketemu lumayan banyak orang, rata-rata sih orang-orang yang memang lagi menghabiskan waktu di villa sekitar sini.

Hampir semua orang yang ketemu melihati Aku. Dari mulai lelaki keren yang ada di halaman villanya, om-om genit yang sibuk menggodai cewek yang lewat sampai tukang kebun di villa juga melihati Aku. Aku sih cuma nyengir saja membalas mata-mata kasar mereka.

Singkat cerita, Aku sampai ke air terjun kecil itu. Aku jalan-jalan mencari tempat yang enak buat berendam. Kaosku mulai basah dan dadAku makin jelas kelihatan, apalagi Samping yang Aku pakai, sudah basah benar-benar kena cipratan air terjun. Enak juga sih segar, namun lama-lama makin susah jalannya, soalnya Samping Aku jadi sering keinjak. Aku jadi ingin cepat-cepat berendam, soalnya segar sekali airnya, dan waktu Aku menemui tempat yang enak, Aku siap-siap berendam, Aku lepas sandalku.

Namun waktu Aku mau melepas Samping-ku tiba-tiba ada tangan yang memegang bahuku, Aku berbalik ternyata seorang lelaki menodongi pisau lipat ke leherku. Aku terkejut camput tAkut, namun secara naluri Aku diam saja, salah-salah leherku nanti digoroknya. “Mau.. mau apa lo pada ke gue?” Aku tanya ke orang yang lagi nodong pisau ke Aku. Aku ga berani lihat mukanya, soalnya Aku tAkut sekali.

Tapi ternyata lelaki itu ga sendiri, seorang temannya muncul dari balik batu, rupanya mereka memang sudah ngincar Aku dari tadi. Temannya itu langsung buka baju dan celana jeans-nya. Aku tebak kalau mereka mau memperkosa Aku. Ternyata tebakanku benar, orang yang menodongi pisau bicara, “Sekarang lo buka semua baju lo, cepet sebelum kesabaran gue habis!” Aku jadi ingat bagaimana korban-korban perkosaan yang Aku lihat di TV, Aku jadi ngeri.

Jangan-jangan begitu mereka selesai perkosa Aku, Aku dibunuh. Makanya Aku beranikan diri ngomong kalau Aku ga keberatan muasin mereka asal mereka ga bunuh Aku. “Okey.. okey baiklah, Aku buka baju. Kalem saja, Aku ga masalah muasin elu berdua, namun ga usah pakai nodong segala dong.” Aku berusaha ngomong, padahal Aku lagi tAkut setengah mati. Orang yang nodongin pisau malah membentak Aku, “Goblok, mana ada cewek mau diperkosa, elu jangan macem-macem ya!”

Aku makin tAkut, namun otakku langsung bekerja, “Woles dong, emangnya gue berani pakai baju ginian kalau gue ga siap diperkosa orang? Lagian apa gue bisa lari pakai samping kayak ginian?” Kedua orang itu melihati Aku, terus akhirnya pisau itu dilipat lagi. Aku lega setengah mati, namun ini belum selesai, Aku masih harus puasin mereka dulu. Aku mulai buka Samping-ku, “Maunya bagaimana, berdua sekaligus atau satu-satu?”

Orang yang tadi nodongin pisau melihat ke orang yang satunya, “Eloe dulu deh. Gue lagi ga begitu mood.” Temannya mengangguk-angguk dan langsung mencaplok bibirku. Aku lihat-lihat, ganteng juga nih orang. Aku balas ciumannya, dia sepertinya mulai lebih halus, pelan-pelan dia remas dadAku dan tahu-tahu Aku sudah ditiduri di atas batu yang lumayan besar. Dia ga langsung main sodok, dia lebih senang main-main dengan dadAku, makanya Aku jadi lebih rileks, so Aku bisa menikmati permainannya.

“Achhh.. yeah.. achhhh.. si … siapa.. siapa nama loe?” Aku tanya dibalik desahan-desahanku menahan nikmat. Dia nyengir, mirip sekali Si Septian, dia terus membuka celana dalam birunya, dan kemaluannya yang sudah tegang sekali langsung nongol seperti sudah ga sabar ingin menyodokku. Ga usah disuruh, Aku langsung jongkok, tanganku memegang batangnya dan ternyata masih menyisa sekitar 5 – 7 cm. Aku jilat kepala kemaluannya terus Aku kulum-kulum kemaluannya. Dia mulai menikmati permainanku,

“Okey.. terus.. terusssss.. acchhhh..” Ternyata ada juga lelaki yang suka berdesah-desah kayak gitu kalau lagi nge-sex. Aku berhenti sebentar,“Belum dijawab?” “Oh, sorry. Nama gue Joni.”
Dia menjawab sambil terus merem-melek menikmati kemaluannya yang Aku kulum dan kuhisap-hisap. Kulihat-lihat sepertinya Aku kenal suaranya.“Elu tinggal di sini juga ya, elu yang lusa kemarin ngentot di halaman villa?” Joni terkejut juga waktu Aku ngomong gitu.


“Memang elu tahu dari mana?” Aku nyengir terus Aku teruskan lagi menghisap kemaluannya yang sudah basah sekali dengan liurku. Aku berhenti lagi sebentar, “Gue lihat elu. Gila lu ya! berdua ngentotin cewek, keliatannya masih kecil lagi.” Joni nyengir, “Itu adik kelas gue, dia baru 15 tahun. Gue ajakin ke sini, dan gue entot bareng Si Mex. Dia sendiri sepertinya suka digituin dengan kita berdua.”

Aku ga meneruskan lagi, Aku berhenti dan langsung cari posisi yang enak buat nungging. Joni mengerti maksudku, dia langsung menyodok kemaluannya ke kemaluanqu bareng dengan suara eranganku. Terus dia mulai mengocok, mulanya sih pelan-pelan terus tambah cepat. Terus dan terus, Aku mulai merem-melek dibikinnya. Terus dia cabut kemaluannya, Aku digendong dan dia masukkan kemaluannya lagi ke kemaluanqu. Terus dia mengocok Aku sambil bediri. Gila!

Kemaluanqu seperti ditusuk-tusuk keras sekali dan Aku makin merem-melek dibuatnya. Dan akhirnya Aku ga tahan lagi, Aku kejang-kejang dan Aku menjerit panjang. Pandanganku kabur, dan Aku pusing. Aku hampir saja jatuh kalau Joni ga cepat-cepat memegangi pinggangku. Aku lagi nikmati puncak kepuasanku, tiba-tiba seorang sedang mendekatiku, sepertinya sekarang dia nafsu sekali gara-gara mendengarkan desahan-desahanku. Dia sudah telanjang dan kemaluannya sudah tegang sekali. Aku tahu dari mukanya kalau dia sedikit kasar.

Aku ga banyak cing-cong lagi, Aku langsung maksakan bangun dan jongkok meng-”karaoke”-in kemaluannya. Kemaluannya sih ga besar-besar sekali, namun Aku ngeri juga melihat otot-otot di sekitar paha dan pantatnya. Jangan-jangan dia kalau ngocok sekeras-kerasnya. Bisa-bisa kemaluanqu jebol. Lama juga Aku meng-”karaoke”-in kemaluannya, dan akhirnya dia suruh Aku berhenti. Aku menurut saja, dan langsung ambil posisi menungging.

Aku sudah pasrah kalau dia bakal menyodok-nyodok kemaluanqu, namun kali ini tebakanku salah. Dia ga masukkan kemaluannya ke kemaluanqu, namun langsung ke anusku. “Ah.. aduh..” anusku sakit soalnya dengan sekali ga ada persiapan. Namun rupanya Mex ga peduli, dia tetap maksakan kemaluannya masuk dan memang akhirnya masuk juga. Walaupun kemaluannya kecil namun kalau dipakai nyodok anus sih ya sakit juga.

Benar dugaan Aku, dia kalau nyodok keras sekali terus ga pakai pemanasan-pemanasan dulu, langsung kecepatan tinggi. Aku cuma bisa pasrah sambil menahan perih di anusku. DadAku goyang-goyang tiap kali dia menyodok anusku, dan sepertinya itu membuat dia makin nafsu. Dia tambah kecepatan dan mulai meremas dadAku. Benar-benar kontras, dia mengocok anusku cepat dan keras, namun dia meremas dadAku halus sekali dan sesekali melintir-melintir putingnya. Mendadak rasa sakit di anusku hilang,


Aku mulai merasakan nikmatnya permainan tangannya di dadAku. Belum habis Aku nikmati dadAku diremas-remas, tangan kirinya turun ke kemaluanqu dan langsung menyambar klitorisku, mulai dari digosok-gosok sampai dipelintir-pelintir. Rasa sakit kocokannya sudah benar-benar hilang, sekarang Aku cuma merasakan nikmatnya seluruh tubuhku. Aku mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya Aku sampai ke puncak yang kedua kalinya hari itu, dan berdenganan puncak kenikmatanku, Aku merasakan cairan hangat muncrat di anusku, Aku tahu Mex juga sudah sampai puncak dan Aku sudah lemas sekali, akhirnya Aku ambruk.

Mungkin Aku kecapaian soalnya tiga hari ini Aku terus-terusan mengocok, ga dengan satu orang lagi, selalu berdua. Aku masih sempat lihat Joni menggendong Aku sebelum akhirnya Aku pingsan. Aku ga tahu Aku dimana, namun waktu Aku bangun, Aku terkejut melihat Daniel lagi mengocok cewek. Cewek itu sendiri sibuk mengulum-ngulum kemaluannya Septian. Aku paksakan berdiri, dan waktu Aku lihat di sofa sebelah, ada pemandangan yang hampir dengan, bedanya Joni yang lagi sibuk mengocok cewek dan Aku lihat-lihat ternyata cewek itu Anjari. Anjari juga sibuk mengulum-ngulum kemaluan Mex. Aku jadi bingung, namun Aku tetap diam sampai mereka selesai main.

Terus Aku dikenali dengan cewek mungil yang tadi nge-sex bareng Daniel dan Septian, namanya Angel. Aku baru ingat kalau tadi Aku pingsan di air terjun habis muasin Joni dengan Mex. Ternyata Joni bingung mau bawa Aku ke mana, kebenaran Daniel dan Septian lewat. Mereka sempat ribut sebentar, namun akhirnya Akur lagi, dengan catatan mereka bisa menyicipi Angel ceweknya Joni dengan Mex. Angel sendiri setuju saja dengan ajakan Daniel dengan Septian, dan waktu mereka lagi mengocok, Anjari kebetulan lewat. Septian memanggil dia dan dikenali dengan Joni dan Mex, terus mereka akhirnya nge-sex juga.


Jadi makin asik dan seru juga, sekarang tambah lagi satu cewek dan dua lelaki di kelompok kita, dan seterusnya kita jadi sering main ke villa itu untuk muasin nafsu kita masing-masing.
tags #ceritadewasa, #ceritamesum, #ceritangentotjanda, #ceritangentotpembantu, #ceritangentotperawan, #ceritapanas, #ceritapemerkosaan, #ceritaseks, #ceritasekssedarah, #ceritaselingkuh, #ceritasex, #ceritaskandal, #ceritatante, #cewektelanjang, #fotobugil, #tantegirang

Subscribe to receive free email updates: