Cerita Dewasa - Membantu Cewek SMU

Galeri Cerita Sex Dewasa Terbaru Disertai Foto Cewek - Cerita bokep terpanas sebelumnya yang berjudul  Cerita Dewasa - Diperkosa 5 Daun Muda, Namun Gairah sexku terpuaskan , dan pada kesempatan kali ini situs cerwasa.com akan membagikan cerita sex dewasa baru yang tidak kalah seru nya dengan judul cerita Dewasa -  Membantu Cewek SMU.




Cerita Dewasa - Perkenalkan namaku Herman. Aku tinggal di Cirebon tapi tempat kerjaku di dekat Indramayu yang berjarak sekitar 45 Km dan kutempuh dengan kendaraan kantor (nyupir sendiri) sekitar 1 jam. Bagi yang tahu daerah ini, pasti akan tahu jalan mana yang kutempuh. Setiap pagi sekitar jam 06.30 aku sudah meninggalkan rumah melewati route jalan yang terdekat untuk berangkat ke kantor.

Pagi hari di daerah ini, seperti biasa terlihat pemandangan anak-anak sekolah entah itu anak SD, SMP ataupun SMA, berjajar di sepanjang jalan yang kulalui sambil menunggu angkutan umum yang akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka masing-masing. Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan. Kadang-kadang truk atau pick-up yang berhenti dan berbaik hati memberikan tumpangan, sedangkan kendaraan lainnya jarang mau berhenti, karena yang melambai-lambaikan tangannya berkelompok dan berjumlah puluhan.

Suatu hari Senin di bulan November 2014, aku keluar dari rumah agak terlambat. Kuperhatikan anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan ke sekolahnya masing-masing. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan, kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya.
Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan,

"Mau ke mana dik?". Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku,
"Bapak BISA gak saya ikut sampai di sekolahku", dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat ?, dengan wajah yang penuh harap.
"Yaa ... ya, OK lah .., naiklah cepat", kataku.
"Ma kasih paak", katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 7 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU dan dia bernama Daniati (edited by cerwasa.com). Tinggi badannya sekitar 157 cm, kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu. Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di dekat sekolahnya Daniati segera memberikan aba-aba.

"Ooom ..., sekolah saya ada di depan itu", katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan.

Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku Daniati mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, Daniati masih sempat bertanya, Cerita Dewasa.

"Oom ..., besok pagi saya bisa ikut lagi .., nggak Oom, lumayan Oom ..., bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos .., bisa yaa .. Oom?".

Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab,

"Bisa bisa saja Daniati ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaa".
"Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini".

Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, Daniati sudah ada di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, Daniati bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya.

Daniati juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan. Seminggu kemudian di hari Jum'at, waktu Daniati akan naik di mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan Daniati duduk tanpa banyak bicara. Karena penasaran, kusapa dia, Cerita Mesum

"Daniati, habis nangis yaa ..., kenapa ..? coba Daniati ceritakan .., siapa tahu Oom bisa membantu ".

Daniati tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia berkata,

"Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu", lalu dia diam lagi.
"Kalau Daniati percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu", kataku tetapi Daniati saja tetap membisu.

Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba Daniati mengatakan,

"Oom ..., bisa nggak Daniati minta waktu sedikit buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di sekolah".

Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

"Ada apa Daniati ...?", Kataku.

Daniati tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.

"Ayoo ..., lah Daniati, jangan takut atau ragu ..., ada apa sebenarnya", tanyaku lagi.
"Begini ..., Oom, kata Daniati",

lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak bisa mengikuti ulangan. Orang tuanya ternyata tidak memiliki uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus.

Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikawinkan dengan tetangganya. Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena Daniati juga terus diam, lalu kutanya,

"Lanjutkan ceritamu sampai selesai Daniati". Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata,

"Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin Daniati ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan Daniati juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi ..., kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya ".

Setelah diam sejenak, lalu Daniati berkata lagi,

"Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya".

Mendengar cerita Daniati walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya. cerita Tante

"Lho Oom, kok banyak benar ..., saya takut tidak dapat mengembalikannya", katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.
"Daniati .., ambillah ..., nggak apa-apa kok, sisanya bisa kamu belikan buku-buku atau apa saja ..., saya yakin Daniati membutuhkannya", dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan,

"Daniati .., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga jangan ke orang tuamu ..., dan Daniati nggak perlu mengembalikannya".

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata,

"Terima kasih banyak Oom .., Oom .. sudah banyak menolong saya".

Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara Daniati masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.

"Ayoo ..., Daniati ..., sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat sekolahnya". Daniati tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya.

Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, Daniati mengatakan,

"Oom .., terima kasih yaa .. Ooom ... dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita Daniati".
"Kalau besok gimana ..?, Kataku.
BISA .., oom ", jawabnya cepat.
"Lho ..., besok kan masih hari Sabtu dan Daniati kan harus sekolah", jawabku.
"Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom ..., hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting", kata Daniati.
"Oklah ..., kalau begitu ..., Daniati, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu".

Dalam perjalanan ke kantor setelah Daniati turun, masalah Daniati terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor. Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat Daniati tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis. Lalu kutanya, Cerita sex

"Daniati ..., habis perang lagi yaa ?, soal apa lagi?".
"Oom, ceritanya nanti saja deh", katanya agak malas.
"Kita mau kemana Oom?", Tanyanya.
"Lho ..., terserah Daniati saja .., Oom sih ikut saja".
"Oom ..., saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain ..., jadi kalau-kalau Daniati nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom".

Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan Daniati, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN. Segera saja kukatakan padanya,

"Daniati ... Tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi ..., bagaimana kalau kita ke CPN saja ..?". "Dimana itu Oom dan tempat apaan?", Tanya Daniati.

Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja,

"Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan ..., begini saja deh .., Daniati .., kita ke sana dulu dan kalau Daniati kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi".

Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada Daniati,

"Gimana Daniati .., kamu mau disini ..?, Lihat saja tempatnya sepi.

Setelah mobil kuparkir di depan kamar, sebelum turun kutanya dia kembali,

"Daniati ..., gimana .., mau di sini? atau mau cari tempat lain? ".

Daniati tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja Daniati memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak.

Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan,

"Daniati coba tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom ..., siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu".

Daniati masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan kutelentangkan Daniati di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan,

"Daniati cobalah ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu".

Daniati tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.

"Oom ...", katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi.
"Daniati ...", kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di rambutnya, "cerita lah".

Lalu Daniati mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya, dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Daniati dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikawinkan pada bulan Maret akan datang.

Daniati katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kawin, apalagi kawin dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. Daniati punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana.Daniati juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa sudah keluar katanya.

"Jadi ..., gimana .., Oom .., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.
"Daniati", kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.
"Daniati ..., masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu.
"Begini saja Daniati ..., sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkawinan itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja ..., kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi".

"Katakan lagi ..., sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang gratis tanpa mendapatkan Ijasah.

Daniati ..., sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu ".

"Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian". Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya ...,

"Daniati ..., bagaimana pendapatmu dengan saran Om ini?".

Seraya saja Daniati bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata,

"Ooom ..., terima kasih .., atas saran Om ini ..., belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini ..., Oom sangat baik terhadap Daniati entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom", dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan Daniati telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimanku Kuturunkan ke hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya.

Karena Daniati masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja Daniati menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam mulutnya dan Daniati mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Bersambung ...

tags #ceritadewasa, Cerita Mesum, Cerita Ngentot Janda, Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Panas, Cerita Pemerkosaan, Cerita Seks Indonesia, Cerita Seks Sedarah, Cerita Selingkuh, Cerita SEX, Cerita Skandal, Cerita Tante Girang, Cewek Telanjang, Foto bugil, Memek Perawan, Tante Girang, Toket Gede Mulus

Subscribe to receive free email updates: