Cerita Dewasa - Ngesek Abis di Masa Liburanku Bersama Abah


Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Hot - Ngesek Abis di Masa Liburanku Bersama Abah - Bebasssss… Akhirnya Aku Bebasss … Selesai juga Ujian Semester yang ngeBTin..”, ujar Stefany merasa lega sekali. “oh iya, Stef..kita liburan kemana nih, kan kalo semester genap gini…liburnya lama banget n’ bikin bete…”. “bentar, kita omongin sekalian ama Ambar n’ Intan..”. Stefany dan Monica pun berjalan ke kelas, dimana Ambar dan Intan ujian.

Stefany, Intan, Monica, dan Ambar adalah 4 gadis yang menjadi bunga kampus, jadi cewek idaman banyak cowok di kampusnya. Setiap mereka berempat lewat, cowok yang dilalui mereka akan diam terpaku dan menghentikan segala aktivitasnya hanya untuk memandangi mereka berlalu dari pandangan. Bisa dibilang, mereka berempat memang tipe cewek yang suka menggoda Cowok.

Setiap ada cowok yang menggoda, pasti salah satu dari mereka akan menengok dan tersenyum manis. Mereka suka sekali dengan cowok yang sok-sok menggoda, tapi kalau ditanggapi langsung salah tingkah. Mereka pun tak pernah menolak jika diajak kenalan sehingga tak heran kalau mereka berempat punya banyak teman Cowok di kampus.

“Mon, kemana nih yang enak liburannya?”. “maaana ya? pantai?”. “bosen ach..”. “puncakkk?”. “ogaah…bosen parah..”. “hmm…”. “terus kemana donggg?”. “hmm…”. “ke Bali?”. “hmm…gimana kalo liburan ini kita nyobain kerja-kerja kasar gitu?”. “kerja kasar? maksud looo?”. “yaa jadi buruh kek, petani kek, apa kek gitu, gimana?”, usul Intan. “ah gila lo, apa enaknya liburan kayak gitu?”. “yee justru itu…biar liburan kita beda gitu…bosen kan lo dugem, ketemu cowok-cowok ganteng n’ kaya yang suka banggain diri sendiri?”, jelas Intan yang memang agak beda dengan 3 temannya yang glamour meski dia juga tak kalah kaya dengan 3 temannya, tapi tetap saja, Intan sama ‘gila’nya dengan ketiga temannya.

 “hhhmm…bener juga, gue juga dari dulu pengen ngerasain jadi peternak gitu decch..”. “okelah, tapi emangnya ada tempat yang kayak gitu?”. “dodol lo ach…kita cari profesi beneran aja..”. “hmm..gimana..sekalian aja taruhan..yang paling lama tahan, menang n’ dapet duit 5 juta, gimana?”. “bener yaa? siip deh..”. “tapi mesti ada bukti foto n’ video ya..”, ujar Stefany. “oke kalo gitu..DEAL !!”.

Hari pertama liburan, Ambar bingung dengan tantangan teman-temannya. Dia mau mencoba jadi apa, tak pernah terbayang olehnya, melakukan pekerjaan kasar. Tapi, setelah dipikir-pikir, Ambar juga penasaran tentang sisi berlawanan dari kehidupannya. Sisi kehidupan yang harus bekerja keras hanya untuk menyambung kehidupan satu hari saja. Saat sedang menggonta-ganti chanel tv, Ambar menonton acara tentang para petani yang sedang menggarap sawah.

“hmm…apa gue coba jadi petani ya?”. “tapi ntar kulit gue jadi item..”. Entah kenapa, pertimbangan-pertimbangan tadi seperti sirna di pikiran Ambar. Sekarang, hanya ada perasaan semangat dan tak sabar. Ambar sendiri tak mengerti, kenapa dia begitu ingin merasakan jadi petani, mungkin karena dia ingin sekali mendapatkan pengalaman baru. “hmm…gue tinggal ma Abah Dino aja kali yaa?”.

Ambar teringat dengan orang yang dipercaya ayah Ambar untuk mengurusi sawah keluarga Ambar yang ada di kampung halamannya. Bagi Ambar, Dino sudah seperti keluarga sendiri. Dari kecil, Ambar selalu diawasi Dino jika main di sawah. Kalau dipikir-pikir, sudah lama ia tak bertemu Dino. Sekalian maen aja ach, pikir Ambar.

Keesokan harinya, Ambar pun mengemudikan mobilnya ke desa dimana ia menghabiskan waktu kecilnya. Saat Ambar sudah dekat dengan rumah masa kecilnya, dia melihat seorang pria tua keluar dari rumahnya dengan memakai caping. Pria tua itu berhenti, mengamati mobil sedan berwarna silver itu. Tak lama kemudian, Ambar keluar dari mobil dan berjalan ke arah pria tua itu. Keduanya saling mengamati satu sama lain.

Wajahnya familiar, tapi tak kenal, pikir keduanya. “maaf, bapak ini siapa?”. “saya Dino..neng ini siapa?”. “ya ampun Abaahh…”, teriak Ambar senang dan langsung memeluk Dino. Dino kaget sekali, tiba-tiba dipeluk wanita cantik yang ada di depannya. “maaf, neng ini siapa?”, tanya Dino masih bingung. “ya ampun..masa Abah gak kenal ama Ambar..”. “ha? ini non Ambar?”. “iyaa..”. “ya ampun non Ambar…Abah ampe pangling non..”. “masa Abah lupa sih ama Ambar?”. “ya bukannya gitu non, kan udah lama banget gak ketemu non Ambar..”.

“oh iya ya..terakhir pas Ambar baru umur 11 yaa?”. “iya non..makanya Abah pangling..non Ambar jadi cantik banget..”. “ah Abah bisa aja..”. “oh iya non Ambar ada apa ke sini? biasanya bapak yang kesini?”. “ah nggak, Bah…Ambar pengen maen aja ke sini..ama sekalian pengen belajar jadi petani…boleh kan, Bah?”. “boleh aja non, tapi kenapa tiba-tiba non pengen belajar jadi petani?”. “yaa…ada tugas dari dosen tentang kehidupan petani gitu, Bah…boleh kan?”. “yaa boleh lah, non…kan sawahnya bapaknya non Ambar..”.

“Kalo gitu Ambar ganti pakaian dulu deh..Abah tunggu bentar yaa…”. “sini non, Abah bawain kopernya..”. “Abah masih kuat?”, canda Ambar. “masih dong, biarpun udah 53, masih kuat..ngangkat non Ambar kayak dulu juga masih kuat..”. “wah…jangan Bah…dulu sih Ambar demen diangkat Abah kayak kapal terbang, tapi sekarang ogah deh…hehe..”. “wah..kamar Ambar masih bagus yaa..”. “iyaa non, setiap hari Abah ke sini buat rapihin rumah..”.

“waah…makasih yaa, Bah..tapi tempat tidurnya kayaknya udah gak muat..”. “kalo gitu non Ambar tidur di kamar bapak n’ ibu aja..”. “oh iyaa ya..”. Ambar menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur orangtuanya seperti tak menghiraukan keberadaan Dino. Pria itu kini berusia 53 tahun, baru kali ini ia melihat pemandangan yang begitu indah dari tubuh seorang gadis cantik.

Memang Dino sering memperhatikan Ambar, tapi itu dulu saat Ambar masih kecil. Berbeda sekali dengan sekarang. Melihat wajah Ambar yang cantik, kulitnya yang putih mulus, ditambah dengan payudara Ambar yang membusung ke atas dan posisi Ambar yang terlentang pasrah memancing nafsu Dino. Bapak tua itu merasa batang kejantanannya mulai bereaksi, mulai berkhayal yang tidak-tidak tentang tubuh anak majikannya itu.

Pikiran-pikiran kotor singgah di otak Dino melihat setiap lekukan tubuh Ambar yang ada di pandangannya. Tentu tidak main-main kenikmatan yang bisa direngkuh dari tubuh seindah dan semulus tubuh Ambar. Ingin sekali rasanya di pikiran Diman untuk meremas-remas kedua buah payudara yang sangat ‘menantang’ itu, tapi Dino masih sadar dengan statusnya. Tak mungkin baginya yang hanya jongos bisa menikmati tubuh anak majikannya, Ambar. Berkhayal pun, Dino merasa tak pantas dan sangat menyesal. Tapi, di dalam hati Dino, tentu ada khayalan tentang kenikmatan persetubuhan dengan Ambar.

“non Ambar..Abah tunggu di luar yaa..”. “iya, Bah..makasih ya udah bawain koper Ambar..”. “iyaa non…”. Ambar pun tak mau membuat Dino lama menunggu di luar. Gadis cantik itu langsung bangun dari tempat tidur. Celana jeans dan kaos yang begitu ketat membalut tubuh indahnya kini berada di lantai, hanya tinggal bra dan celana dalam yang menutupi bagian-bagian tubuh Ambar. Bagian tubuh yang tentu bisa memanjakan kaum Adam dan membuat semua Cowok merasa di surga.

Ambar mengambil kaos dan hotpantsnya dari dalam koper. Ambar sengaja mengenakan hotpants dan kaos yang longgar karena dia tahu udaranya pasti panas dan pasti tak enak jika memakai pakaian yang ketat. Ambar membalurkan lotion cream ke seluruh bagian tubuhnya yang terbuka. Tentu saja dia tak ingin kulitnya yang putih mulus nan halus itu menjadi hitam dan tak sedap lagi untuk dipandang karena terbakar sinar matahari.

Ambar keluar dari dalam rumah, mendekati lalu mencolek Dino. “ayo, Bah…kita ke sawah..”. Dino terbengong melihat Ambar. Sepasang kaki Ambar yang jenjang nan indah bisa dilihat Dino dengan sangat jelas. Dari paha Ambar hingga ke betisnya benar-benar putih dan mulus, tak ada cacat atau lecet sedikitpun. Pemandangan itu membuat Dino membayangkan nikmatnya mengelus-elus dan menciumi paha yang begitu putih mulus itu, apalagi jika sampai ke pangkal dari sepasang paha itu.

Tanpa sadar, Dino menelan ludahnya sendiri di depan Ambar. “Abah kenapa?”. “nggak non…ayo non, ikut Abah ke sawah…”, Dino agak grogi takut ketahuan sedang memandangi tubuh Ambar. “ayoo !”, Ambar bersemangat. Selama berjalan, Dino berusaha keras mengenyahkan khayalan-khayalan nakalnya. Tak pernah ia bayangkan kalau gadis kecil yang dulu ia ajak bermain di sawah, ia jaga, ia anggap anak sendiri akan menjelma menjadi gadis yang begitu cantik.

Dari dulu, Dino memang menduga kalau Ambar akan menjadi wanita cantik jika sudah dewasa, tapi sama sekali tak menduga kalau akan menjadi begitu cantik dan begitu seksi, sampai mampu membuat Dino merasa muda lagi, hanya dengan melihatnya saja. Tanpa tahu diamati, Ambar berjalan di depan Dino sambil merekam kesana kemari dengan handycamnya. Dino pun memandangi Ambar dari belakang, bagian yang paling menarik perhatian Dino tentu pantat Ambar.

Kalau saja, kalau saja, pikir Dino. “Abah bawa apa sih tuh?”, tunjuk Ambar ke rantang dan termos yang dipegang Dino sambil mengarahkan handycamnya ke wajah Dino. “ini non..makanan buat kita ntar..dibuatin ama Mbok Minah lho…”. “waaaahh…buatan Mbok Minah yaa..udah lama gak makan makanan buatan Mbok Minah..asiiik !!”, Ambar kegirangan.

“ini namanya Abah Dino, petani dari desa Kolosari, umurnya 53 tahun..”, ucap Ambar memperkenalkan sambil terus merekam Dino. “halo gitu dong, Bah…”. Sambil malu-malu, Dino tersenyum dan melambaikan tangannya ke kamera Ambar. Tak lama kemudian, mereka berdua sampai juga di sawah. Hamparan hijau terlihat, segar sekali udaranya. “waah seger banget udaranya…beda ama udara kota…”. “iya donk non, makanya orang desa lebih sabar n’ gak gampang sakit..”.

“kok lebih sabar? hubungannya apa, Bah?”. “yaa kan kalo udaranya sejuk n’ seger..bikin orang jadi rileks..jadinya gak gampang marah..gak kayak orang kota…”. “oh iyaa juga yaa..bisa aja si Abah…hahaha”. Dino dan Ambar berjalan ke saung/bale-bale, tempat yang biasa digunakan untuk istirahat. “oh iya non Ambar, kok pake di rekam-rekam segala?”. “ini bukti..jadi dosen Ambar percaya…”. “ooh gitu…”.

Mereka berdua kembali ke sawah, terlihat ada beberapa orang bapak-bapak yang sedang menanam padi dan ada yang membajak sawah. Dino memanggil semua orang yang ada di sekitar sawah itu. Ada 5 orang bapak-bapak dan 3 orang ibu-ibu. “kenalin, ini namanya nona Ambar, anaknya Pak Waseso…nona Ambar pengen belajar jadi petani buat tugas kuliahnya…bantu nona Ambar..”. “iyaa !!”.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, para petani wanita kembali menanam padi. Sedangkan, para petani pria genit terhadap Ambar. Bertanya-tanya kepada Ambar. Ambar pun menjawab brondongan pertanyaan sambil terus tersenyum. Tentu saja pada genit. Jarang sekali bisa melihat gadis cantik yang begitu putih mulus. Meskipun ada kembang desa yang juga cantik, tapi tetap saja tak ada gadis di desa itu yang bisa menandingi keseksian tubuh Ambar.

“udah udah..sana balik kerja..”. Ambar mengikuti Dino ke petak sawah yang setengah terisi padi. Dino pun masuk ke dalam. Dengan bantuan Dino, Ambar juga masuk setelah memakai boot yang dibawa Dino tadi. “ayo, Bah..praktekkin caranya nanem padi..”. “gampang non..nih tinggal nancepin..nih..gini doang non”, ujar Dino setelah menancapkan satu genggam padi.

Dengan cepat Dino sudah menanam sekitar 6 genggam padi. “coba sini, Bah…Ambar mau coba..”. Dino mengelap tangannya dan menerima handycam dari Ambar. “ini gimana nih non?”. “udah..Abah tinggal arahin ke Ambar aja kok..”. “kayak gini, Bah?”. “iyaa non..”. Ambar baru menancapkan 3 genggam padi, tapi sudah berpeluh keringat. “susah juga yaa..hihihi..udah gitu gak lurus lagii…hehehe..”.


Ambar bertolak pinggang, melihat hasil kerjanya. Sama sekali beda dengan hasil tanam Dino yang lurus seperti satu garis. “kok Abah bisa lurus gitu yaa?”, Ambar bingung, Dino yang hanya lulusan SMP bisa menanam padi dengan sangat rapih tanpa alat ukur. Sedangkan dia yang bersekolah dari TK sampai SMA ternama dan kuliah di universitas yang juga ternama sama sekali tak bisa menanam padi dengan lurus. “pake perasaan, non…”. “ini juga udah pake perasaan, Bah..hehe..”.

“ya mungkin non belum biasa..”. “iya kali yaa..”. “ya udah, non tanem aja…ntar biar Abah yang benerin..”. “ok dech…”. Ambar menanam beberapa genggam padi lagi hingga petak sawah itu hampir penuh. Bukannya bekerja, para petani lain malah asik melihat Ambar yang serius menanam padi. Seorang gadis cantik mau berkotor-kotoran, menanam padi, dan bercucuran keringat, tentu mereka tak mau melewatkan pemandangan yang langka ini.

“uuh, capek juga ternyata !”, ujar Ambar mengelap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya setelah selesai memenuhi petak sawah dengan hasil tanamnya. “nih non lapnya..”. “sini, Bah kameranya..”. Dino membetulkan padi hasil tanam Ambar dengan mudah dan cepat. Ambar kagum, tadi ia susah payah mengira-ngira jarak padi, tapi tidak rapih juga, beda sekali dengan Dino. “nah udah rapi deh, non..”. “iyaa, rapi banget kalo ditanem ama Abah…”. “ayo non, kita ke saung yang tadi..kita istirahat, pasti non capek..”. “hehe, Abah tau aja..ayo, Bah…”.

Mereka berdua kembali ke saung yang tadi. Dino membuka rantang satu per satu. “waacchh…semur daging !!”. Ambar makan dengan sangat lahap bagai orang yang tak makan berhari-hari. “ati-ati non keselek..”, canda Dino sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum. “aah..kenyang !!”. Ambar dan Dino mengobrol dan beristirahat di saung. Sesekali, Dino curi-curi pandang ke bagian dada dan paha Ambar. Dalam posisi duduk bersila, hotpants Ambar semakin naik sehingga pahanya yang putih mulus semakin terekspos.

Liur Dino hampir menetes melihat paha yang sangat mulus itu. “Bah, abis ini kita nanem lagi?”. “gak usah, non..kita pulang aja..udah siang bolong..kasihan non Ambar ntar jadi gosong..”. “ya elah, Abah..Ambar udah pake tabir surya kok..”. “ya gak usah, non..lagian Abah pengen ngajak non ketemu Mbok Minah…”. “wah..ide bagus tuh, Bah…Ambar juga udah kangen ama Mbok Minah..yuk, Bah..”.


Setelah beres-beres, tanpa ragu-ragu Ambar menggandeng tangan Dino. Dino agak kaget, tapi senang merasakan betapa halus dan lembutnya tangan Ambar. Merasa seperti anak kecil lagi, Ambar pun menggandeng Dino dan ngelendot di bahu Dino dengan manja. Dino keringetan, aroma tubuh Ambar yang begitu harum seolah memancing ‘juniorn’ya untuk bangun. “non, di depan jalannya sempit..”. “oh ya udah, Ambar jalan duluan yaa..”. “iyaa non, tapi ati-ati non..kalo kepeleset bisa masuk ke situ..banyak lintahnya..”. “iya, Bah..”.

“Aaaakkhhh !!”, meski sudah hati-hati, Ambar terpeleset. “byuurr…”. Ambar terjerembab ke dalam kubangan yang keruh. Tubuh bagian bawahnya terendam. “non Ambar !!!”. Dino langsung menjatuhkan rantang, termos, dan handycam yang dibawanya lalu masuk ke dalam kubangan dan membantu Ambar berdiri. “non Ambar gak apa-apa?”. “gak apa-apa, Bah..makasih..”. “jangan gerak non, ada lintah..”. “waa..lepasin donk, Bah..”. “tenang, non..kita ke sana dulu..”. “aduuh, Bah..kaki Ambar sakit..”. “sini, Abah papah..”.

Dengan dipapah Dino, Ambar pun duduk di saung terdekat. Petani yang lain pun mengerubungi saung itu, ingin tahu apa yang terjadi. “pinjem korek”. “nih, Bah…”. Beberapa lintah yang ada di betis Ambar pun bisa dilepaskan Dino setelah lintah itu dibakar terlebih dulu. “ini, Bah..masih ada di paha Ambar..”. Ada 4 lintah yang menempel di paha Ambar bagian dalam. “maaf, non..bisa diangkat dulu kakinya..”. “iya, Bah..”.

Para petani yang mengerubungi saung pun seolah tak berkedip atau lebih tepatnya tak mau berkedip. Tentu mereka tak mau melewatkan detik-detik pembukaan ‘warung’ Ambar. Ambar mengangkat kedua kakinya ke atas saung, dan tanpa disuruh Ambar melebarkan kedua kakinya ke samping kiri dan kanan seperti huruf M. Pandangan mata para lelaki kasar yang ada di sekitar Ambar berubah bagai pandangan serigala saat melihat ada mangsa. 5 pasang mata, semuanya tertuju ke daerah yang paling intim dari tubuh Ambar.

Bukannya tak menyadari, Ambar sadar betul, semua yang ada di sekitarnya tidak memperhatikan lintah yang ada di pahanya melainkan daerah yang ada di tengah-tengah selangkangannya. Ada rasa hangat yang dirasakan Ambar muncul dari dalam tubuhnya. Rasa panik melihat lintah yang tadi dirasakan Ambar kini berubah menjadi sedikit rasa semangat dan gairah.

Pandangan-pandangan liar para petani membuat Ambar merasa dirinya begitu terekspos dan begitu ‘terbuka’ seolah-olah tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Pikiran liar pun singgah di pikiran gadis kota yang cantik jelita itu. Di dalam pikirannya, Ambar membayangkan dirinya bugil sementara Dino sedang memeriksa vaginanya sebelum digunakan beramai-ramai oleh para petani yang sudah tak sabar ingin menjejalkan alat kelamin mereka ke dalam liang sempit milik Ambar.

Tanpa sadar, kedua kaki Ambar semakin terbuka lebar. Bukannya melepaskan lintah, tapi Dino malah bengong, tatapan matanya fokus ke tengah-tengah selangkangan Ambar yang ada tepat di hadapannya. Dino ingin sekali merobek celana Ambar, penasaran ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Pastilah indah alat kelamin yang dimiliki seorang gadis cantik seperti Ambar, pikir Dino. Otak Dino pun kembali normal.

Dino membakar semua lintah yang ada di paha bagian dalam Ambar. “udah non…”, ujar Dino. “makasih, Bah…”. Ambar mengelap sedikit sisa-sisa darah yang ada di pahanya. “non Ambar gak apa-apa?”, tanya seorang petani. “iya gak apa-apa kok, Pak Abdul…”, jawab Ambar sambil tersenyum. “non bisa jalan?”. “bentar, Bah…”. Ambar limbung ketika menapakkan kedua kakinya dan mencoba berdiri. Dengan sigap, Dino memeluk Ambar agar Ambar tidak terjatuh. “kaki Ambar sakit banget, Bah..”.

Semuanya merasa iri dengan Dino yang bisa memeluk dan memegang tubuh indah Ambar. “kalo gitu Abah gendong non Ambar ampe rumah yaa?”. “iya, Bah..”. Ambar pun langsung nemplok ke punggung Dino setelah Dino jongkok. Ambar pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Dino. “maaf ya non..”. “iya, Bah..gak apa-apa kok..”. Dino merapatkan kedua tangannya untuk menampung pantat montok Ambar. “semuanya, Ambar pulang dulu ya..”. “iyaa, non..moga cepet sembuh..”, jawab para petani seperempak yang sebenarnya sangat iri kepada Dino. “udah lama gak digendong Abah kayak gini..”. “iya non..udah lama juga..”.

Emang udah lama, tapi gak pernah seenak ini gendong lo, toket lo empuk banget, pikir Dino. Payudara Ambar yang masih terbungkus BH dan baju itu menempel erat di punggung Dino sampai kelihatan menyatu dengan punggung Dino. Meski agak bau sinar matahari, Ambar merasa nyaman digendong Dino sampai tak terasa tertidur, mungkin karena kelelahan juga.

“non udah nyampe..”. “haa?? mmmm…”, ujar Ambar sambil mengucek-ngucek matanya. Ambar melepaskan rangkulannya di leher Dino. Dengan bantuan Dino, Ambar pun bisa nyaman selonjoran di kasurnya. “kaki non Ambar masih sakit?”. “iyaa nih, Bah…masih agak sakit..”. “mau Abah pijetin kakinya?”. “boleh, Bah..”. “bentar yaa non, Abah pulang dulu..ambil minyak..”. “iyaa, Bah..jangan lama-lama ya…”.

Dino keluar kamar, sementara Ambar memikirkan peristiwa di sawah tadi. Tak pernah ia merasa begitu nakal dan begitu liar. Rasa penasaran pun muncul di benak Ambar. Entah darimana pikiran itu, tapi rasanya sekarang Ambar ingin sekali melihat kejantanan Dino. Meski sudah tua, tapi Dino masih terlihat bugar dan kekar. Vaginanya terasa hangat dari dalam, seperti butuh sentuhan.

Tangannya mengelus-elus daerah pribadinya sendiri. “hmmm”. Sebuah batang yang hitam, besar, dan berurat terbayang di pikiran Ambar. Semakin ‘gatal’ rasanya sehingga tangannya pun semakin aktif. Sebagai pemiliknya, Ambar tahu kalau daerah intimnya perlu sentuhan. Ambar pun menyusupkan tangannya ke dalam hotpantsnya. “uuuhhhmmm”. Usapan-usapan lembut pada bibir vaginanya sendiri terasa begitu ‘menenangkan’. Jari tengahnya naik turun tepat di tengah-tengah belahan bibir vaginanya. Ambar pun memejamkan matanya, meresapi gerakkan jarinya.

Gemas dengan rangsangan ‘lembutn’ya sendiri, Ambar menyusupkan 2 jarinya masuk ke dalam liang vaginanya yang ‘panas’. “eemmm…mmmm..”, 2 jarinya bergerak keluar masuk dengan penuh sensasi. Ambar sadar ada sepasang mata yang sedang mengamatinya. Ambar membuka matanya. Dino sudah ada di sebelah ranjangnya, sedang berdiri dan memandangnya.

Bukannya berhenti, Ambar malah mengeluarkan tangannya dan langsung menuntun tangan Dino masuk ke dalam hotpantsnya. “Baah, tolong Ambar ya…”, desah Ambar dengan suara yang begitu menggairahkan dan begitu ‘memancing’. Dengan insting pria sejati yang berorientasi sex dengan lawan jenis, tanpa ragu-ragu Dino mulai meremasi isi dari hotpants Ambar. “ooohhhh…. Yeeaahhh…. disiituu Baah …!!! teeruuss Baahh …!! uuummhhh…”.

 Ambar semakin menggila saat 2 jari Dino mulai mengebor vaginanya. Tanpa ragu-ragu, tangan Dino yang satu lagi merayap masuk ke dalam kaos Ambar dan langsung meremasi payudara yang empuk nan kenyal yang ada di dalamnya. “EEENNGGHHH !!!”, lenguh Ambar panjang, tubuhnya menegang. Dino mengeluarkan tangannya. Tanpa di suruh, Dino menarik hotpants Ambar beserta celana dalamnya dan membuangnya ke lantai.

Bagai mimpi, Dino tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak percaya dengan pandangannya, vagina kecil yang dulu sering ia sentuh dan ia cuci kini begitu indah, begitu menggiurkan. Tanpa ragu-ragu, Dino menempatkan kepalanya di antara selangkangan Ambar. Dino membenamkan kepalanya di selangkangan Ambar yang sangat wangi. Merasa ada yang menginvasi daerah pribadinya, secara alami Ambar merapatkan kedua pahanya, menjepit kepala Dino yang ada di tengahnya. Hidung Dino menempel di belahan vagina Ambar.

Dino menarik nafas dalam-dalam, menghirup ‘aroma therapy’ yang berasal dari vagina Ambar. Beda sekali dengan punya istrinya yang bau amis. Memek cewek cakep emang beda, pikir Dino. Lidah Dino pun menjulur keluar, menyentuh kelamin Ambar. “eccchhh..”, tubuh Ambar langsung bereaksi saat benda lunak dan hangat melakukan kontak fisik dengan alat kelaminnya. Dengan rakusnya, Dino melahap vagina Ambar habis-habisan.

Tak henti-hentinya, lidah Dino menyapu setiap jengkal dari daerah segitiga majikannya yang cantik itu. Mungkin hanya kali ini bisa merasakan vagina yang seharum dan seenak ini, pikir Dino. Lidahnya terus menggali, menggali, dan menggali lebih dalam lagi ‘tambang’ yang ada di hadapannya sehingga Ambar pun menggeleng-gelengkan kepala, menggeliat-geliat, kedua pahanya semakin menjepit kepala Dino.

“Ooooohhhh !!! teeruuusshhh Baaahhh !!!! makan memek Ambara seepuaasnyaaaa !!!!”, teriak Ambar lepas, tak terkontrol. “iyaaaa Baahh !! jilatin memek Ambarrrrr !!! memek Ambar punya Abaaahhh !!!! oooccchhhh !!!”. Mendengar perkataan-perkataan kotor yang keluar dari mulut gadis cantik seperti Ambar membuat semangat Dino berapi-api seperti prajurit yang bersemangat menghadapi perang. Ambar menekan kepala Dino agar lebih menempel dengan vaginanya.

“Aaaahh aahhh aaahh AAAAKKKHHHH…. !!!!”, Ambar mengejang hebat, kedua pahanya menjepit kepala Dino dengan sangat kencang, perutnya agak ke atas. “ssrruupphhh !!!!”, Dino tak menyia-nyiakan ‘sumber mata air’ Ambar. Semuanya habis diseruput Dino, cairan yang tertinggal di liang vagina Ambar pun sampai tak ada karena terserap lidah Dino yang masuk kembali.

Selesai meminum inti sari dari kelamin nonanya sampai terkuras habis tak bersisa, Dino mengangkat kepalanya menjauh dari selangkangan Ambar. Dengan sangat tergesa-gesa, Dino membuka celana Ambar dan celana dalamnya sendiri. Kedua mata Ambar langsung tertuju ke benda yang ada di tengah-tengah selangkangan Dino. Benda itu terlihat begitu kokoh. “masukkin, Bah…”, lirih Ambar meminta Dino untuk menyumpal vaginanya.

Kedua kaki Ambar terbuka dengan sangat lebar, Ambar juga menyibakkan bibir vaginanya sendiri untuk mengundang burung Dino agar segera masuk ke dalam. Tanpa perlu disuruh, pucuk penis Dino pun sudah mencium lubang vagina Ambar. “masukkin, Baahhh..”, pinta Ambar dengan melirih. Dino memajukan pinggulnya perlahan, kepala penisnya mulai mendobrak masuk ke dalam liang kewanitaan Ambar. “heemmhhh….”, Ambar merasa bagian bawah tubuhnya benar-benar penuh, penuh sesak dengan batang besar milik Dino yang semakin masuk ke dalam.

Sensasi yang belum pernah dirasakan Dino, batangnya terasa begitu terjepit dan terasa seperti diurut dan dipijat. Seluruh batang Dino telah tertancap di dalam liang vagina Ambar dengan sangat kokoh. Dino tak bergerak, diam sejenak untuk menikmati liang vagina Ambar yang begitu hangat dan begitu sempit. Dino merasa penisnya seperti dicengkram dengan sangat kuat oleh dinding vagina Ambar. Belum lagi rasa hangat yang menyelimuti penisnya. Desahan-desahan pelan mengalun lembut dari mulut Ambar saat Dino mulai menggerakkan tongkatnya.

Dino agak kesusahan menarik dan juga mendorong penisnya, rasanya liang rahim Ambar terlalu sempit. Tapi dengan penuh kelembutan, Dino terus berusaha memompa penisnya dengan perlahan. “oohh …ooouuhh… uummhh..iyaa, Baahh !! enaak…, Baahh !!!”, racau Ambar merasa nikmat yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya. Dino terus ‘menggasak’ liang vagina Ambar. Menyodoknya dengan penuh perasaan namun cukup kuat untuk membuat Ambar tersentak-sentak.

“ookkhh…ookkhh..ookkhh…”, Ambar mengerang keenakan saat Dino menyodok vaginanya sampai mentok. Si pria tua itu terus menggenjot dengan ritme pelan agar si gadis cantik yang sedang digenjotnya bisa membiasakan diri terlebih dulu. Kedua tangan Dino pun menangkup dan menggenggam ‘kemasan susu’ Ambar. Meremasi payudara Ambar yang terasa sangat empuk dan kenyal itu. Kaki Ambar pun melingkar erat di pinggang Dino.


Keduanya masih mengenakan kaos, tapi alat kelamin mereka sudah menyatu. Berpikir Ambar sudah mulai terbiasa, Dino mulai mempercepat genjotannya. “OOOUUHHH … !!!”, Ambar mengeluh panjang lagi, gelombang orgasme melanda tubuhnya. “Aaahhhh…”, nafas keduanya menderu-deru, bulir-bulir keringat Dino jatuh membasahi tubuh Ambar yang juga tak kalah basah oleh keringat.

Kedua insan itu bercinta dengan sangat bergairah, begitu menggelora. Desahan-desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut keduanya. Keduanya saling berpelukan dengan erat sementara alat kelamin mereka terus bergesekkan semakin cepat dan tanpa henti. “oohhh ooohh … OOOKKHHH !!!!”, erang Dino melepas orgasmenya. “BAAAAAHHH !!!”, Ambar juga mengerang lepas. Keduanya sama-sama meraih puncak kenikmatan yang mereka bangun bersama-sama. Rasa hangat dan becek terasa oleh Ambar di liang kewanitaannya.

Mata Ambar sayup-sayup, semakin tak jelas pandangannya. Rasa lelah karena di sawah hampir seharian ditambah habis digempur pria tua dengan ‘senjatan’ yang bukan main membuat Ambar tak bisa menahan rasa kantuknya. Dia pun tertidur tanpa memikirkan batang Dino yang masih ‘menyangkut’ di vaginanya. Saat Ambar terbangun, Ambar mendapati dirinya sudah berselimut. Ambar pun membuka selimutnya. Ambar tersenyum saat melihat cairan putih yang meleleh keluar dari vaginanya.

Ambar bangun dan membuka kaos beserta bhnya lalu menuju kamar mandi. “aaccch … segeerrr…”. Air dingin mengucur dari pancuran membasahi tubuh indah Ambar. Dia mengambil shower dan menyemprotkan air ke daerah intimnya untuk membersihkan alat kelaminnya yang telah ‘dinodai’ Dino. Ambar menyabuni setiap jengkal dari tubuhnya. Tubuh Ambar pun kembali segar dan wangi. Ambar melilitkan handuk ke tubuhnya yang basah. Handuknya yang bisa dibilang kecil hanya bisa menutupi payudara sampai 5 cm di bawah ‘lembah’ miliknya.

Saat dia duduk di kursi meja rias, handuknya pun terangkat saking pendeknya. “kruuukk…”. Perut Ambar pun berbunyi kencang. Perutnya keroncongan, minta diisi dengan makanan. “aduuh..pantes aja gue laper banget..udah jam segini…”. Ambar pun mengambil hpnya dan menghubungi nomor rumah Dino. “halo, siapa ini ?”. “ini Ambar…ini Mbok Minah bukan ?”. “ooo yaa ampun !! neng Ambar ??! apa kabar ? iyaa, ini Mbok Minah”.

Ambar dan Mbok Minah pun berbicara lewat telpon bagai 2 orang sahabat yang sudah lama tak bertemu. “oh iyaa, Mbok..Abah ada ?”. “iyaa ada, neng…kenapa ?”. “Ambar laper banget nih, Mbok..”. “oh, iya neng, iya neng..nanti Mbok suruh Mas Dino nganter makanan ke neng…”. “masakan Mbok kan yaa ?”. “iyaa, neng..”. “asiiik ! jangan lama-lama ya, Mbok..”. “iyaa, neng..”. “oh iyaa..kaki neng Ambar udah agak mendingan ?”. Ambar pun menggerakkan kakinya dan berdiri, rasa sakitnya sudah hilang meski masih agak ngilu sedikit.

“udah nggak, Mbok…dipijitin Abah sih…”. “iyaa, kata Mas Dino, neng Ambar sampai ketiduran gara-gara dipijit kakinya”. “iyaa, Mbok..habis enak siih..”, ujar Ambar senyum-senyum sendiri. Bukan ketiduran gara-gara dipijet, tapi gara-gara disodok-sodok, pikir Ambar. “ya udah ya, Mbok…jangan lama-lama makanannya..hehe”. “beres, neng..”. Ambar menyudahi pembicaraannya. Ambar baru sadar kakinya sudah agak mendingan, tidak terlalu nyeri seperti sebelumnya.

“pasti Abah mijitin kaki gue pas gue tidur”, ujar Ambar berbicara sendiri. Meski kakinya terasa agak mendingan, tapi ada bagian lain yang terasa lebih ngilu yaitu daerah selangkangannya. Tapi, rasa ngilu itu tidak terlalu terasa karena Ambar sedang duduk. Ambar bersenandung sambil terus menyisir rambutnya. Entah darimana, Ambar merasa senang sekali, tak sabar menantikan kedatangan Dino. Ambar hanya tahu satu hal, Dino adalah satu-satunya pria yang mampu memberikan kepuasan batin yang begitu maksimal dari semua laki-laki yang tidur dengannya.

Tubuhnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus sawah ayahnya itu. Meski selangkangannya jadi terasa agak ngilu, Ambar ingin sekali merasakan sensasi sodokan-sodokan Dino lagi. Terngiang-ngiang sensasi nikmat dari sodokan penis Dino membuat Ambar semakin tak sabar menunggu pria tua yang tadi telah menyetubuhinya itu. “tok tok tok !!”. “iyaa sebentar !!”, jawab Ambar dengan agak berteriak. “adu duu hh..”, rasa ngilu terasa di pusat daerah intimnya saat dia ingin berjalan cepat menuju pintu.

Ambar pun berjalan pelan dengan kaki agak terbuka dari biasanya. “eh, Abah…udah Ambar tungguin dari tadi..”. “iya..aa, non..maaf lama..”, Dino merasa jadi canggung berhadapan dengan majikannya apalagi hanya handuk mini yang melilit di tubuh Ambar. Ekspresi wajah Ambar tak kelihatan kesal atau marah malah kelihatan senang. Masih segar ingatan Dino akan tubuh indah Ambar yang tak tertutup apa-apa sehingga Dino memandang Ambar seolah tembus pandang, tahu bagaimana bentuk dan setiap lekuk tubuh Ambar meski tertutup handuk.

“ayo, Bah..Ambar udah mau mati nih…hehe..”. Dino pun langsung ke dapur dan segera kembali dengan piring penuh dengan nasi. Ambar yang duduk di kursi meja makan pun langsung menerima piring dari Dino dan langsung menuang berbagai lauk yang ada di rantang yang tadi di bawa Dino ke beberapa piring kosong yang memang sengaja disediakan di atas meja makan. “ayo, Bah..kita makan yuuk…”. “gak usah, non…non Ambar aja yang makan..”. “ayoo dong, Bah…kita makan bareng..masa Ambar makan sendirian..”. “ng..nggak usah, non..”.

Dino benar-benar merasa tak enak kepada Ambar. Padahal tadi dia telah mengambil keuntungan dari tubuhnya dan memperkosanya, tapi kenapa majikannya masih tetap baik malah seperti tak terjadi apa-apa, pikir Dino. “ayoo dong, Bah…kalo Abah gak makan, Ambar marah nih..”, ujar Ambar dengan nada agak manja. “i..i..iya deh non..”. Dino pun pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan ikutan makan dengan Ambar.

Gadis cantik itu makan dengan lahap. “aahh kenyaaang !!!”. Dino tak berani menatap mata Ambar, rasa bersalah dan takut gara-gara peristiwa itu meski Ambar tak menunjukkan ekspresi marah. “non Ambar..”. “iya, Bah ?”. Dino langsung sujud di kaki Ambar. “maaf..maafin Abah, non…Abah bener-bener minta maaf..Abah rela dipecat, non…tapi tolong jangan laporin Abah ke polisi…”, pinta Dino memelas dengan nada suara orang yang hampir menangis.

“Berdiri, Bah…”, ujar Ambar sambil berdiri. Dino benar-benar takut akan dilaporkan ke polisi oleh gadis cantik yang ada di hadapannya karena telah memperkosanya. Dino berdiri dan memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk memandang mata Ambar. “gak apa-apa kok, Bah..”, jawab Ambar dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. “ha ? apa, non ?”, jawaban yang sama sekali tak diduga-duga membuat Dino menjadi bingung. Sambil tersenyum,

Ambar membuka lilitan handuknya. Handuk itu pun langsung lolos turun ke bawah. Tubuh telanjang Ambar tepat berada di depan Dino. “iya, Bah..Ambar gak marah kok…”, jawab Ambar, nada suaranya begitu manja, seperti seorang istri yang sedang ingin bermanja-manjaan dengan suaminya. Dino masih tak percaya, semuanya berjalan terlalu lancar bagaikan mimpi saja.

Dino sama sekali tak pernah membayangkan keadaan ini dimana dengan keadaan sadar, Ambar telanjang bulat di hadapannya. “non Ambar bener-bener gak marah ?”. Ambar tersenyum, dia menuntun kedua tangan Dino ke belakang tubuhnya dan menaruh di bongkahan pantat kanan dan kirinya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dino. “beneer, Abah…malaahh…”, nada suara Ambar kini berubah menjadi sangat ‘memancing’. Ambar mendekatkan bibirnya ke kuping Dino. “kalau Abah mau lagi..Ambar gak keberatan kok..”, bisik Ambar menggoda.

Ucapan yang terlontar dari mulut Ambar terdengar begitu merdu di telinga Dino, seperti nada-nada lagu yang sangat indah. “bener, non ?”, Dino masih tak percaya padahal jelas-jelas kedua tangannya menggenggam pantat montok gadis cantik itu. “Abah masih gak percaya ?”. Tanpa ba-bi-bu, Ambar menempelkan bibirnya ke bibir Dino yang agak hitam. “eeemmhh..emmhhh..ccpphhh”. Keduanya saling pagut, saling bergantian melumat dan menghisap bibir satu sama lain.

Memang beda rasanya jika cipokan dengan gadis yang masih muda dan sangat cantik, bibirnya terasa lembut dan seperti ada rasa buah anggur di bibirnya, pikir Dino. Ambar pun tak bergerak membiarkan bibirnya dipagut, dilumat, dihisap, dan dikulum habis-habisan oleh pria tua yang ada di hadapannya sekarang. Sesekali Ambar menjulurkan lidahnya untuk menjadi ‘makanan’ Dino. Enak sekali rasanya mencumbu bibir yang begitu lembut dan empuk sampai Dino tak mau berhenti melumat bibir Ambar untuk waktu yang cukup lama. Ambar pun tak berusaha melepaskan diri, dia begitu meresapi dan menikmati cumbuan Dino bahkan sampai memeluk Dino dengan sangat erat bagai memeluk kekasihnya saja.

Tangan Dino pun sudah mulai beraktifitas. Asyik sekali Dino meremas-remas kuat bongkahan pantat Ambar yang ada di genggaman tangannya. Tabokan dan cubitan pun dilayangkan Dino ke pantat Ambar yang memang empuk, sekel, padat, dan kenyal sehingga tak heran kalau Dino jadi begitu gemas dibuatnya. Ternyata ini arti mimpinya kemarin, mimpi ketiban durian runtuh. Dino kira itu artinya dia akan mendapatkan rejeki nomplok, tapi rupanya bidadari nomplok. Tak ada rezeki yang lebih baik dari sex gratis dengan gadis muda nan cantik yang mau disetubuhi dengan senang hati tanpa paksaan sedikit pun, pikir Dino.

Dino pun menarik bibirnya setelah sangat puas mencumbu Ambar. Keduanya megap-megap kekurangan oksigen. Ambar dan Dino saling menatap mata satu sama lain. Pandangan mata Ambar adalah pandangan wanita yang sudah ‘on fire’, siap untuk digempur habis-habisan. Pandangan mata Dino pun menunjukkan kalau dia sudah tak sabar ingin merengkuh kenikmatan dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya. Tak sabar ingin menggeluti tubuh indah Ambar untuk kedua kalinya, tidak, mungkin sampai 3x, tidak, pokoknya sampai burungnya tak mampu lagi berdiri dan persediaan sperma di kantung zakarnya habis tak bersisa.

Vagina Ambar tak sabar ingin merasakan panjang dan diameter dari tongkat Dino dan penis Dino tak mau menunggu lagi untuk merasakan kehangatan dan sempitnya celah kecil yang ada di tengah-tengah selangkangan Ambar. Karena sudah mengantongi izin, Dino langsung menggendong Ambar dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, bunyi ranjang yang bergerak-gerak serta desahan, lirihan, dan rintihan keduanya pun terdengar dari dalam kamar.

Hanya ada mereka berdua di dalam rumah itu sehingga mereka bisa mengekspresikan kenikmatan yang sedang mereka rasakan sesuka hati. Entah berapa jam sudah Ambar dan Dino berada di dalam kamar. Keduanya tak keluar-keluar kamar sedari tadi. Bahkan turun dari ranjang pun keduanya tak mau. Bagai malam pertama, Ambar dan Dino layaknya sepasang pengantin baru yang sedang bersetubuh dengan penuh gairah dan nafsu yang sangat menggelora.

Dino merasa nafsunya tak menurun malah semakin naik melihat Ambar yang terkulai pasrah di hadapannya. Ambar pun merasa puas, senang, dan ingin lagi dan lagi untuk disetubuhi Dino. Sodokan-sodokan Dino benar-benar membuat Ambar mabuk dalam kenikmatan. “non Ambar…”, bisik Dino yang sedang memeluk Ambar dari belakang karena sedang istirahat. “iyaa, Bahhh ?”, jawab Ambar dengan nada manja. “boleh minjem telpon sebentar ?”. “iyaa, Bah..ada di meja rias..”.

Dino pun turun dari ranjang dan mengambil hp Ambar. “halo, Mbok ?”. “halo, ini siapa ?”. “ini Mas, Mbok”. “oh Mas Dino, ada apa ?”. “Mas nginep di rumah non Ambar..dia takut sendirian..”. “oh ya udah..inget Mas, jangan macem-macem ama neng Ambar..”. “iya, Mbok..”. Dino pun menutup telpon dan menaruhnya kembali di tempat semula. “iih..Abah boong ke Mbok..”, ledek Ambar. “hehe…bosen tidur bareng Mbok..enakan tidur ama non Ambar…”. “iih Abah porno iih..”. “hehe…”.

Dino pun memandangi Ambar. Tubuhnya berkemilauan terkena cahaya karena keringat ditambah air liur Dino. Belum lagi selangkangan Ambar yang belepotan sperma pria tua itu. Tak disangka, gadis kecil yang dulu dijaganya kini berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan begitu montok. Dino pun merasa dia sedang mengambil haknya, upahnya untuk mengambil keuntungan dari tubuh Ambar yang dijaganya. “Abah kok ngeliatinnya gitu sih?”, Ambar pura-pura menutupi kedua buah payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. “hehe..pake ditutupin segala, non…”. Ambar pun tersenyum dan membuka kedua tangannya ke atas seperti orang yang sudah siap dipeluk. “sini, Bah…”, ajak Ambar dengan sangat menggoda yang sudah siap ‘menerima’ Dino.

Tak perlu dipaksa, Dino langsung menomplok Ambar dan menggumuli gadis cantik itu sampai larut malam, sampai staminanya habis dan tongkatnya tak mampu berdiri lagi, habis sudah persediaan spermanya seperti niat Dino pada awalnya. Keduanya tidur dalam berpelukan, tidur mereka benar-benar pulas karena kecape’an, tapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan yang tiada tara.

Hari-hari dilalui Dino dan Ambar dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan. Ambar pun memutuskan untuk memakai pakaian seperti ibu-ibu petani lainnya agar benar-benar meresapi menjadi ibu petani. Pagi-siang Dino melakukan kewajibannya untuk mengajari Ambar. Sore-malam Dino meminta haknya kepada Ambar yang dengan senang hati melakukan kewajiban lainnya dari ibu petani yaitu memberikan tubuhnya kepada bapak petani, yang tak lain dan tak bukan adalah Dino, untuk ‘digarap’ sesukanya.

“iih, Abah…maen ngintip aja..”, canda Ambar saat Dino membuka lipatan kain Ambar untuk melihat isinya. “hehe…Abah pengen liat aja..”. “tapi jangan di sini, Bah..ntar keliatan orang..”. “iyaa deh non..hehe..”. Dino benar-benar senang mengusili Ambar karena Ambar tak pernah marah meskipun dia sering iseng menyelipkan tangan ke dalam baju dan kain Ambar untuk menyentuh ‘onderdil’ gadis cantik itu saat sedang istirahat di saung.

Tak ada yang tahu kegiatan mereka berdua selain di sawah. Hanya handycam Ambar yang menjadi saksi bisu yang meliput kegiatan Ambar di sawah dan aktifitas panasnya di ranjang bersama Dino. Ambar pun tak sabar ingin menunjukkan rekamannya kepada teman-temannya yang sama ‘gilanya dalam dunia sex.

tags #Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Ngentot Janda, Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Panas, Cerita Pemerkosaan, Cerita Seks Indonesia, Cerita Seks Sedarah, Cerita Selingkuh, Cerita SEX, Cerita Skandal, Cerita Tante Girang, Cewek Telanjang, Foto Bugil, Memek Perawan, Tante Girang, Toket Gede Mulus

Subscribe to receive free email updates: