Cerita Dewasa Aku Rela Dikeroyok Oleh Kelima Pembantuku

cerwasa.com kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang gadis ABG yang cantik seksi rela digauli oleh kelima pembantunya. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

SELAMAT MENIKMATI !!!

www.cerwasa.com

Dewi membelalakkan mata tidak percaya saat aku menceritakan itu. hanya saja setelah aku menceritakan kisahku, dengan seaakan tidak percaya Dewi mempersiapkan sesuatu agar aku bisa menikmati kelima pembantuku. aku sendiri terperangah mendengar hal itu.

Jam yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi ini membuatku harus terlepas dari mimpi indahku untuk berangkat ke sekolah. Aku memang sangat malas sekolah, namun demi mendapatkan ilmu yang tinggi  aku mulai menggosok gigi dan menuju kamar mandi. Selanjutnya aku membuka lemari dan mengenakan seragam SMAku ini. aku memang lebih bisa berkesplorasi dengan seragam SMA ku ini. rokku yang masih diatas lutut ini dapat memperlihatkan kakiku yang mulus ini, baju seragam juga cukup ketat membuat bodiku tercetak jelas dan cukup membanggakan diriku. sebenarnya ga bisa terlalu bangga sih. aku kan lebih tua dari teman-temanku wajar aja kalau bodiku ini lebih dewasa.

Di rumah ini, sekalin aku hidup pula 7 makhluk lain penghuni masion ini. Hiii.. serem abis ini jadinya... hehe.. nda kok, selain aku, ada 6 orang yang berada di rumah ini dan 1 anjing kesayanganku.

Edo adalah supir keluarga kami, usianya 25 tahun, dia selalu mengantar jemput aku ke sekolah. Edo adalah anak dari Pak Tono, supir keluarga kami yang telah pensiun. Edo adalah supir keluarga kami yang mengetahui perjalanan sukses kakekku dan orang tuaku. Setelah menjadi supir keluarga kami lebih dari 35 tahun, maka tugasnya kini digantikan oleh anaknya yang meneruskan pekerjaan Pak Edo. Postur badannya cukup kekar karena saat tidak ada tugas mengantar jemput aku, dia selalu menggunakan alat fitness yang ada di belakang rumahku seperti treadmill dan mengangkat barbel.

Parmin, usianya 23 tahun tugasnya di rumah adalah membersihkan seluruh rumah termasuk membersihkan kamar tidurku dan kamar tidur kedua orang tuaku. Orangnya sangat baik, perhatian serta jujur, pernah suatu ketika mama lupa meninggalkan sekotak emas di kasur dengan keadaan terbuka, namun ternyata Parmin tidak mengambil sedikitpun. Karena itu aku tidak kawatir saat handphone ataupun Ipadku tertinggal di dalam kamar.

Sutijo, ini usianya masih 24 tahun pekerjaannya adalah membersihkan bagian luar rumah, kalo Parmin bagian dalam, Sutijo bagian luar seperti taman dan lainnya. dia sangat pandai dalam memotong pohon menjadi sebuah bentuk yang cantik. sebelum kerja di rumah ini, memang dia pernah bekerja di bidang pertamanan. Selain itu Sutijo bertugas membersihkan kolam renang keluarga kami. Terkadang Sutijo juga mempunyai tugas untuk menyuci mobil saat mobil-mobil keluarga kami kotor

Beno, pembantu yang paling pintar memasak, meskipun masih berusia 20 tahun, namun Beno ini lulusan SMK tata boga. Tugasnya adalah memasak untuk makanan untuk dihidangkan di rumah dan di pabrik orang tuaku. sehingga para buruh pabrik orang tuaku tidak perlu membeli makanan di luar, melainkan sudah disiapkan oleh Beno. setiap hari Beno ikut ke kantor bersama orang tuaku menyiapkan masakan disana berserta tim koki yang ada di pabrik keluarga kami. Namun setelah menyiapkan masakan, biasanya pukul 11 siang Beno pulang ke rumah untuk menyiapkan makan siang untukku.

Rino usianya 18 tahun, satu tahun lebih tua dari aku. Namun karena kekurangan biaya dia tidak melanjutkan sekolah dan bekerja menjadi sekuriti di rumah kami. Rumahnya tidak jauh dari komplek rumah kami, dia tinggal di kampung belakang komplek, hanya saja karena tuntutan pekerjaan, dia harus tinggal dalam rumah kami. tugasnya menjaga keamanan dan juga bantu-bantu yang lain jika memerlukan. walaupun tugasnya menjaga keamanan, Rino tidak pernah mengenakan seragam satpam karena memang tidak diperbolehkan oleh orang tuaku entah kenapa. Namun memang tenaga Rino lebih dibutuhkan saat malam hari dibandingkan siang hari.

Yang terakhir adalah Dewi, atau biasa dipanggil Ika satu-satunya pembatu perempuan untuk menemani aku, usianyapun sama denganku, masih 17 tahun. orang tuaku menempatkan Dewi agar aku tidak kesepian katanya. walau kenyataannya aku tetap kesepian tanpa hadirnya kedua orang tuaku.

Oh.. kelupaan,Boy!! dia adalah anjing keluarga kami yang juga setia menjaga keluarga kami. Papaku membelikannya saat dia masih 2 bulan 3 tahun yang lalu, sekarang Boy sudah menjadi seekor anjing yang gagah.

Diantara keenam pembantuku ini, hanya Dewi yang dibiarkan tidur di sebelah kamarku. dia diberikan kamar yang sangat nyaman lengkap dengan TV dan komputer untuk keperluannya sekolah. Sama seperti diriku, Dewi sudah siap-siap sekolah di sekolah negeri yang tidak jauh dari komplekku ini. Sengaja Dewi disekolahkan oleh orang tuaku aga aku mempunyai teman yang sepadan. selain Dewi, para pembantuku ditempatkan pada tempat tinggal terpisah dari bangunan utama rumahku. Jadi di pojok belakang, orang tuaku membuat semacam pondok kecil ukuran 30m2 yang lengkap dengan ruang santai dan satu kamar tidur untuk mereka berlima.

Bukan aku tidak tau sepak terjang para pembantuku ini urusan seksual, berkali-kali aku memergoki para pembantuku ini masuk ke kamar Dewi, tau lah apa yang terjadi. Namun memang Dewi baru menceritakan semuanya seminggu yang lalu setalah aku desak. Ceritanya ini memang membuat gairah seksualku naik. namun aku berusaha normal waktu itu.

Hanya saja aku berkata pada Dewi kalau aku juga mau mencobanya. Dewi membelalakkan mata tidak percaya saat aku menceritakan itu. hanya saja setelah aku menceritakan kisahku, dengan seaakan tidak percaya Dewi mempersiapkan sesuatu agar aku bisa menikmati kelima pembantuku. aku sendiri terperangah mendengar hal itu. tapi hal ini cukup membuat aku penasaran mengenai hal ini. Pikiran ini kembali terlintas saat di meja makan ini, namun aku langsung cepat menghabiskan sarapan ini dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Hari ini pelajaran di sekolah sungguh sangat membosankan. Akhirnya bel Pulang sekolah ini yang paling ditunggu tiba. aku dan teman-teman lainnya langsung membereskan semua buku-buku dan beranjak menuju parkiran. Namun Edo belum terlihat menjemputku akhirnya aku putuskan untuk duduk di bawah pohon biasa teman-teman cowo cangkrukan.

“Li, belum dijemput?” Charles memulai omongan
“Belum nih. Ga tau kemana supirku,” Balasku.
“Udah di sini aja, temenin kita, ntar kita ajakin yang asik-asik,” Vincent menimpali
“Apaan ajak asik-asik,” Balasku sekenanya.
“Pokoknya asik dah, km pasti ketagihan,” Charles berkata padaku sekenanya
“Iya Li, aku ga percaya kamu belom pernah gituan,” Vincent mulai mendekatiku

Untungnya mobil yang biasa menjemputku tiba. aku langsung melambaikan tangan pada mereka dan memasuki mobilku. dalam hati aku bergumam, “kapok lu gagal mau godain gua”

Perjalanan melelahkan ini telah sampai pada rumahku yang cukup besar di komplek kami. mobil dengan kaca super gelap ini memasuki pekarangan rumah setelah Rino membuka pintu pagar. Aku lansung keluar dari mobil dan merebahkan badanku di sofa ruang tengah ini, rasanya badan pegal-pegal semua. Dahagaku ini terlepas setelah Beno datang membawa segelas jus jeruk kesukaanku. Aku langsung meminumnya melepas dahaga.

“Non Lily mau makan siang apa? Beno buatkan,” kata Beno padaku
“Masakin apa aja deh yang penting kenyang. Aku lapar sekali,” balasku sambal berlalu menuju kamar. “bawakan makanan ke kamarku ya, zal”

Aku langsung menaiki anak tangga menuju kamarku yang memag terletak di lantai 2. Mungkin lantai 2 ini adalah kerajaanku, disana terdapat kamar tidurku, tempat fitness yang menghadap ke kolam renang belakang, grand piano dan meja bilyard. Aku masuk ke dalam kamar dan mengganti bajuku dengan kaos serta celana rumah yang longgar.

“Non, makanannya sudah siap, saya bawa masuk kedalam ya?” Beno berteriak dari luar kamar.

Aku menyuruh Beno masuk dan menaruh makanan itu di meja belajarku. aku sedang sendiri sedang berada di balkon menerima telepon teman sekolahku yang “katanya” dari dulu mengejar-ngejar cintaku. Namun aku sendiri belum terlalu menganggap dirinya istimewa.  Telepon usai aku langsung menyantap makanan yang dibuat oleh tukang masakku ini, makanan sapi lada hitam yang super enak. Setelah menghabiskan sepiring nasi ini aku langsung bergegas ke kasur dan mulai menutup mata. Aku ingin beristirahat sejenak karena pegal sekali rasanya.

Aku terbangun kaget karena tiba-tiba mulutku dibekap seseorang. Aku pikir rumah ini kemalingan namun ternyata kelima pembantuku ini sudah mengelilingiku dengan muka yang seram seakan hendak menerkamku. Kedua tangan dan kakiku dipengangi mereka dengan kasar. Aku mulai meronta sambil melihat Parmin mengunci pintu kamarku dan menutup jendelaku.

“Non.. Sebaiknya non jangan macam-macam. Kita bisa kasar sama non,” Edo berbisik di dekat telinga kananku ini
“Iya non, kami Cuma ingin mencicipi tubuh non yang mulus ini, jadi non harus melayani kita,” bisik Beno ditelinga kiriku

Aku sendiri  kaget setengah mati melihat kelakuan mereka, namun aku teringat Dewi pernah berkata akan merencanakan sesuatu. apakah mungkin hal ini adalah rencana jail Dewi? Namun aku mencoba pasrah saja dengan keadaanku sekarang ini, toh aku juga ingin mencoba bagaimana rasanya bermain dengan mereka

“Kita akan lepaskan non, tapi non ga boleh macam-macam, non berontak dikit aja aku gorok leher non Lily,” Rino sok-sokan mengancam.

Namun karena aku tidak bisa bicara lantaran mulutku dibekap oleh Edo, aku hanya mengangguk pasrah. Setelah menggangguk dan memastikan aku tidak akan lari, mereka melepaskan kedua kaki dan tanganku serta mulutku. Aku terduduk dan mencoba menghirup udara .

“Kalian ini kenapa sih? Aku kan ga salah apa-apa. Kok kalian tega sih berbuat gini sama aku?” Tanyaku dengan mimik muka yang aku buat memelas.
“Non, salahnya itu kenapa non cantik, seksi lagi. Kita yakin non ga akan nolak lah kalo kita puasin non,” kata Sutijo sekenanya. “Paling nantinya non yang ketagihan.”

Aku hanya terdiam melihat kelakuan mereka. Mereka mulai mengerumuni aku yang terduduk di tengah ini sampai membuang muka kebawah. Ngeri melihat muka-muka mesum mereka seakan membugili aku lewat matanya. Aku sedikit merinding membayangkan tubuhku ini akan dilumat mereka berlima. Aku sendiri belum pernah ml rame-rame seperti ini, apalagi posisiku ini sendiri. Merasakan bakal digilir mereka berlima aku merinding sendiri.

“Kalian ini.. ya sudah, aku juga udah ga bisa ngapa-ngapain, laripun percuma kalian berlima gampang banget kalo mau nangkep aku,” Aku mulai berkata-kata dan mereka mulai mantuk-mantuk
“Aku hanya ingin kalian jangan kasar, aku takut.. aku belum pernah main rame-rame begini. Aku memang udah ga perawan, tapi tolong jangan kasar,” Lanjutku.
“Emang susah ya cari cewek perawan sekarang ini,” Edo mulai bicara ngawur kepada teman-temannya. “Padahal aku udah pingin merawanin non.”
“Pantes, non Lily pasrah aja sama kita, ternyata memeknya emang udah jebol. Berarti boleh dong non kita nyicipin,” Beno menambahi sambil tangannya menyentuh susuku dibalik baju ini.
“Ya sudah, aku mau main sama kalian,” aku menghela nafas pasrah. “Tapi kalian ga boleh jajan diluar, aku ga mau kena penyakit, trus kalo aku lagi banyak tugas, kerjaan kalian ga boleh maksa. Awas loh kalo maksa. Aku juga ga suka kalian main kasar, sakit semua.”
“OKE!!!” jawab mereka serempak.

Setelah prosesi penyerahan diriku ini selesai, Edo yang merasa paling senior diantara yang lain mulai mendekapku dari belakang, dia menyandarkan aku ke dadanya yang bidang. Kakiku juga diterlentangkan oleh Beno. Celanakupun langsung mereka lepas. Susuku  juga tidak pernah lepas dari rabaan mereka. Mereka bergantian meraba susuku ini. Aku hanya memejamkan mata membayangkan nasibku yang harus rela tubuh mulusku ini digilir oleh pejantan-pejantan mesum dalam rumahku.

“Non, bajunya aku lepas ya, aku mau liat non Lily pake BH ama celana dalam doang,” kata Rino. “Aku belum pernah liat cewek bugil secara langsung nih.”

Aku hanya diam karena bingung harus berbuat apa. Eh, Edo langsung saja membuka kaosku dan melemparnya kebawah lantai. Kini pertama kalinya tubuh mulusku ini terlhat oleh para pembantuku ini. Edo langsung meraba susuku ini dengan sepenuh hati, terlihat nafsunya yang ingin sekali melumat diriku.

Sutijo yang dari tadi melihat mulai mendekatiku dan mencium bibirku ini. Rasanya sedikit beda air liurnya deras memasuki mulutku, aku langsung telan agar tidak terlalu terasa baunya. Kaitan brakupun mulai dilepas oleh Edo yang daritadi ada dibelakangku. Celana dalam inipun langsung saja dilepas oleh Beno yang ada di depanku. Tubuh mulusku dengan bulu-bulu tipis di memekku terlihat jelas oleh mereka berlima.

Aku hanya diam pasrah melihat mereka sibuk sekali menciumi susuku, bibirku dan memekku. Diam-diam gairahku bangkit lagi. Gairah dulu yang sempat padam mulai bangkit bahkan lebih hebat. Baru kali ini aku merasakan bibir, susu dan memek dijilat, dikecup dan dihisap secara bersamaan. Rasanya sangat luar biasa.

Aku melihat Parmin dari tadi hanya duduk diam di kursi belajarku. Nampak dia tidak terbiasa melakukan hal ini berbeda dengan Beno, Edo, Sutijo, bahkan Rino yang umurnya hampir sama denganku. Parmin terlihat duduk sambil mengusap celananya. Aku yakin batangnya pun sudah tegang melihat aku dikeroyok 4 orang ini.

“aduh, Zal.. aduduh… pelan-pelan,” kataku saat Beno mulai memasukkan jarinya kedalam memekku dan mengocoknya. Aku sendiri dalam keadaan pasrah harus melayani ciuman dari Rino, Edo, dan Sutijo. Bibirku ini tidak dibiarkan sama sekali menganggur. Lepas dari lumatan Rino langsung berganti Edo dan seterusnya.

“Oi, Gus.. ngapain kamu disana? Ga mau nikmatin non Lily?” Sutijo memanggil Parmin untuk bergabung bersama.

Akhirnya Parminpun mendatangi kami dan langsung saja melepas celananya. Aku melihat batang penisnya sudah tegak mengacung. Cukup hitam dan berurat. Reflek aku menggelengkan kepalaku melihat penisnya yang mengacung bergerak ke arahku. Aku merinding melihat penis itu begitu tegak, Parmin langsung saja berdiri dihadapanku dan memasukkan penisnya ke dalam mulutku hingga aku kelabakan.

Para pembantuku yang lain sengaja mengalah dan duduk di sampingku untuk melihat mulut ini melakukan blowjob terhadap Parmin. Penisnya dia maju mundurkan seolah-oleh sedang memompa memekku. Aku sendiri memilih untuk memejamkan mata menikmati rangsangan demi rangsangan. Geli rasanya jari-jari Beno yang masih saja bermain-main didalam memekku.

“Non Lily kok bisa seksi begini ya?” Rino berkomentar sambil terus saja memainkan jarinya di susu kiriku.
“Iya nih.. uh, sepongannya mantap,” Parmin ikut mengomentari sambil merem melek merasakan hisapanku.
“Wah, kalo gini, kita semua bisa betah kerja disini,” Tambah Beno sembari mengeluarkan jarinya yang belepotan cairan cintaku.

Mungkin hasrat Parmin sudah sedikit terpuaskan, dia melepaskan penisnya dari mulutku, akhirnya mulutku ini terbebas dari penis Parmin yang cukup besar dan agak bau itu. Tapi kebebasan ini sepertinya tidak berlangsung lama, baru saja Parmin melepaskan penisnya dari dalam mulutku, Beno yang tadi sibuk memainkan jarinya di dalam memekku ini langsung berganti posisi dengan Parmin, dia menurunkan celananya dan mengusap-usap penisnya di pipiku.

Penis Beno ini memang tidak setebal milik Parmin, tapi cukup panjang juga. Aku sadar setelah penis itu masuk ke dalam mulutku hanya setengah. Itupun penis itu sudah menyentuh kerongkonganku membuat beberapa kali aku terbatuk-batuk. Namun bagi Beno yang sedang keenakan penisnya dihisap, dia tidak menghiraukan aku yang tersedak dan batuk-batuk. Beberapa kali aku mendorong penisnya keluar karena aku tersedak.

Jujur saja aku merasakan pengalaman baru yang sangat luar biasa. Baru kali ini aku merasakan rangsangan yang begitu hebat. Mungkin ini karena aku dirangsang oleh banyak cowok. Aku sendiri hanya memilih pasrah menikmati segala rangsangan yang dilancarkan oleh para pembantuku ini. Awalnya, walau hati kecil ingin merasakan dikeroyok seperti ini, namun tidak pernah berpikir bahwa aku harus melayani pembantu-pembantu rumahku.

Kini aku digetakkan di kasur dengan posisi telanjang, para pembantuku membuka baju dan celana mereka seolah mengerti bahwa aku tidak akan merasa risih dengan mereka. aku melihat berbagai macam jenis penis yang dimiliki pembantuku, kecuali Parmin dan Beno yang memang tadi sudah merasakan mulutku.

Edo, yang sedari tadi berada dibelakangku, kini aku dapat melihat wajah dan seluruh badannya, mataku tertuju pada penisnya yang mengacung perkasa. Penisnya besar dan cukup panjang juga. Lalu, pandangan aku alihkan ke Sutijo, penisnya bisa dibilang cukup untuk ukuran orang Indonesia. Namun, penis Sutijo adalah yang terputih diantara semua pembantuku, ini memang karena kulit Sutijo adalah yang paling putih.

Terakhir pandanganku tertuju pada Rino. Aku sampai terbelalak melihat penis Rino. Penisnya besar, panjang, dan sangat berurat, sungguh penis yang perkasa untuk seumurnya, bahkan Rino lebih mudah setahun dariku. Diam-diam aku ngeri juga membayangkan memekku akan diaduk-aduk dengan penis-penis mereka.

Aku diangkatnya menjadi posisi jongkok, Edo menyuruh aku untuk menjilati penis-penis mereka, aku sendiri jujur belum terbiasa untuk melakukan adegan seperti ini. Aku hanya pernah melihat adegan seperti ini di dalam film bokep yang beberapa kali aku tonton, namun kini aku dihadapkan dengan penis-penis asli. Kini aku mengerti bagaimana perasaan artis-artis bokep saat harus melakukan blowjob dengan banyak penis. Perasaan senang, sedih, jijik, bercampur jadi satu

“Non, ayo diisep,” Edo yang paling berkuasa membimbing kepalaku kepada penisnya.

Aku mulai memasukkan kepala penisnya itu kedalam mulutku, namun aku membiarkan saja penis itu, dalam hati aku ingin menggoda mereka, aku ingin tau apa yang akan mereka lakukan jika aku diam saja. Disamping itu, Rino dan Sutijo juga menempati posisi kiri dan kananku, serta membimbing tanganku kepada penisnya.

Aku yang hanya diam ini rupanya cukup membuat Edo hilang kesabaran, dia memegang kepalaku dan memaju mundurkan penisnya di dalam mulutku. Walau kelabakan karena penisnya beberapa kali menyentuh kerongkonganku, dalam hati aku senang karena pancinganku tadi membuahkan hasil. Dari posisi duduk aku dibuat tidur terlentang, Edo kini sudah bersiap untuk menghujamkan penisnya ke dalam liang memekku ini.

Aku sengaja tidak menutup mata karena ingin melihat prosesi jebolnya memekku kali ini oleh pembantu-pembantuku yang super mesum ini. Belum sempat penis ini masuk kedalam memekku, badanku sudah di tindih oleh Beno, rupanya dia juga ingin merasakan mulut mungilku ini. Hal ini membuatku tidak bisa melihat Edo memasukkan penisnya kedalam memekku.

“enngghh,” aku mulai merengerang merasakan memekku ini dimasuki benda asing.

Setelah kejadian terenggutnya keperawananku waktu SMP, aku belum pernah merasakan hal ini lagi. Pengalaman ini benar-benar tidak terlupakan dimana aku harus merasakan beberapa penis yang akan menusuk tubuhku ini. Aku hanya merem melek meningkati setiap senti penis Edo ini.

Edo mulai memaju mundurkan sambil memegangi pinggulku, Beno kini melepaskan penisnya dari mulutku sehingga aku dapat bernafas dan melihat Edo yang sedang keenakan menggenjot tubuhku. Mungkin karena aku sudah lama tidak merasakaan nikmatnya permainan ini, belum apa-apa memekku sudah basah, aku mendapatkan orgasme sampai terkencing-kencing. Badanku sampai melengkung keatas membuat susuku makin terlihat menyembul.

“Gila Non, belum apa-apa udah muncrat begini,” Edo berkomentar
“Iya nih, non Lily keenakan itu. Puasin deh Mo,” Beno ikut-ikutan mengomentari
“Enak ya kalo kerja di rumah ada  yang bisa dipake gini,” Kata Sutijo
“Iya lah, masih ABG, masih muda, susu dan memeknya masih kenceng,” Kata Rino

Aku tidak menanggapi celotehan mereka sama sekali. Omongan-omongan mereka sudah tidak bermoral sama sekali. Edo mulai mempercepat gerakan penisnya membuat aku makin mengerang keenakan. Namun, tiba-tiba Edo mencabut penisnya, lalu membalikkan badanku menjadi posisi menungging.

Edo rupanya ingin memasukkan penisnya dari belakang seperti posisi doggy style. Aku tidak bisa melihat penis itu maju mundur karena mulutku ini diisi oleh penis Sutijo. Dua lubangku depan dan belakang disodok oleh penis-penis pembantuku ini. Tanganku yang terluntai di kasur ditarik kebelakang oleh Edo dan dia menggenjotku lebih cepat dari tadi.

Sambil mengerang-erang Edo mempercepat genjotannya dan menumpahkan spermanya di dalam liang memekku ini. Semprotan hangat langsung aku rasakan, selain itu aku juga merasakan sebagian dari sperma itu mengalir keluar. Aku tidak banyak bergerak karena masih merasakan hangatnya sprema Edo, namun pinggulku sudah dipegang oleh Rino, Penisnya sudah mulai digesek-gesekkan pada memekku.

Aku kembali merasakan penis lainnya masuk kedalam memekku, Rino yang umurnya masih lebih tua setahun dariku ini ternyata menyimpan nafsu yang sangat besar. Begitu penisnya menancap pada memekku, langsung saja dia menggenjotku dengan cepat. Aku sampai kewalahan hingga berteriak dan mengerang minta ampun.

“Non.. Gila, ini pertama kali aku ngeseks, memeknya sempit,” ceracau Rino
“Iya.. Ji.. tolong.. Pelan-pelan..,” Balasku sambil melepas kulumanku pada penis Sutijo.

Namun, gairah muda memang tidak bisa ditahan, Rino tidak menuruti. Dia tetap menggenjot dengan cepat sehingga belum ada lima menit, penisnya sudah memuncratkan sperma di liang memekku. Rino langsung mencabut penisnya dari dalam memekku ini dan langsung terduduk di samping. Para pembantuku yang lain menertawakan dia, ada yang bilang Rino masih amatir, ada juga yang bilang Rino ini ga bisa tahan lama.

Aku sendiri masih dalam posisi menungging menanti penis lain menusuki memekku. Walau sebenarnya tenagaku sudah terkuras habis, tapi aku masih belum cukup puas bermain bersama Rino tadi. Sutijo yang masih keenakan penisnya aku kulum sepertinya belum mau memindahkan posisinya untuk menusuk memekku.

Parmin yang dari tadi hanya melihat kami bermain tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Dia masukkan penisnya perlahan, kembali aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam liang memekku ini. Parmin kelihatan mulai bersemangat, dia mulai memaju mundurkan penisnya di dalam memekku.

“Non, bener kata Edo, enak banget non,” Parmin mulai berceracau
“Iya dong, abis ini gantian aku ya,” Beno tiba-tiba masuk ke kamar.

Aku baru menyadari kalau dari tadi Beno meninggalkan kami untuk masak makanan kesukaanku, sapi lada hitam. Katanya, karena aku sudah bekerja keras melayani mereka, Beno merasa harus memasakkan makanan kesukaanku. Aku senang sekali dengan perlakuan kelima pembantuku ini.

Awalnya aku sempat takut mereka menyiksaku, trus menggilir aku dengan kasar seperti yang banyak diberitakan di TV dan sosial media. Banyak sekali remaja yang menjadi budak seks para pembantunya dengan kasar, namun ternyata kelima pembantuku ini berbeda. Mereka masih menganggap aku sebagai mRinokannya, mereka memakai aku dengan sopan, memang terkadang mereka menggenjot dengan cepat, namun tidak kasar seperti yang diberitakan.

Posisi tubuhku kini dibalikkan lagi ke posisi terlentang oleh Parmin, sambil terus menggenjot aku perlahan, Parmin menindihku dan menciumi bibirku. Aku menutup mata menikmati semua perlakuan ini, Parmin membelai rambutku sambil mengecup bibirku, lalu meremas pelan kedua susuku ini.

Sutijo yang tadinya dioral, sudah bangkit berdiri dan duduk di sofa kamarku bersama dengan Edo dan Rino yang terlihat kelelahan. Mereka mulai menyantap makanan sapi lada hitam yang dibuat Beno sebanyak jumlah kami. Mereka asyik sekali menyantap piring mereka masing-masing. Beno masih terlihat mondar mandir melayani kita seperti mengambilkan minum, krupuk dan lain sebagainya.

“Ini minuman air putih buat kalian, yang jus jeruk buat non Lily, biar seger.”

Rasanya ingin cepat-cepat menuntaskan permainan bersama Parmin ini dan segera menyantap nasi dengan sapi lada hitam beserta jus jeruk yang terlihat menyegarkan ini. Tapi sepertinya Parmin terlalu menikmati permainan ini sehingga tidak bermain cepat seperti Rino tadi.

Waktu kini sudah menunjukkan pukul 15.25 berarti sudah hampir satu setengah jam aku melayani nafsu mereka, aku masih ingat tadi sekitar pukul 14.00 mereka mulai menyekap dan mengeroyokku. Aku yang tadinya ingin semuanya berakhir namun kini malah asyik-asyikan dengan para pembantuku ini. Pertama kali aku merasakan ngeseks dengan beberapa orang ternyata rasanya sungguh luar biasa.

Aku melihat muka Parmin yang mulai kelelahan, namun belum ada tanda-tanda dia akan menyelesaikan genjotannya ini. Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam memekku. Aku yang tadinya bergairah langsung padam seketika.

“Kok dicabut Gus?” kata-kata ini tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku
“Iya non.. Laper saya, yuk non makan dulu,” Ajaknya sambil membantuku berdiri

Aku yang masih dalam keadaan bugil ini bangkit berdiri menuju sofa dengan meja kecil di dekat pintu kamarku dimana Beno sudah menyiapkan sepiring nasi sapi lada hitam kesukaanku. Aku duduk di tengah-tengah kursi sambil menyantap nasi ini sambil menyilakan kaki, menutupi memekku ini. Aku tidak mau saat asyik-asyiknya makan mereka mengerjaiku.

Para pembantuku ini rupanya masih menganggap aku sebagai tuannya bukan hanya sekedar budak seks belaka. Buktinya mereka membiarkan aku makan dengan lahap tanpa menyentuh sedikitpun tubuhku yang masih bugil ini. Edo yang paling senior di antara mereka berdiri dan berjalan menuju TV yang ada persis di depan ranjangku. Setelah dia menyalakan TV dia dengan santainya duduk di kasurku dan diikuti Sutijo dan Rino.

“Non, enak makanannya,” Beno meminta komentarku mengenai makanannya
“Enak banget, Zal,” balasku sambil terus menyantap makanan
“Non, kalo boleh tahu, sejak kapan non ga perawan?” Tanyanya Lagi
“2 SMP Zal,” Balasku lagi

Ingat-ingat hal itu, aku kembali agak bersedih. Aku sudah relakan mahkotaku yang paling berharga ini untuk orang yang bahkan bukan kekasih hatiku. aku memberikannya pada teman cowokku karena aku sendiri penasaran bagaimana nikmatnya berhubungan seksual.

Setelah sepiring nasi sapi lada hitam ini habis aku makan dan jus jeruk itu habis aku minum, Parmin mencium bibirku sambil membisikkan kalau dia ingin menuntaskan permainan tadi, aku dengan tersenyum kecil mengangguk sambil mencubit perutnya.

“Non Lily manja ya,” Balas Parmin melumat bibirku

Para pembantuku yang lain bersorak karena tuannya sudah benar-benar jatuh ke tangan mereka, aku dituntunnya ke kasurku yang cukup besar ini dan diterlentangkan, kedua pahaku diangkat oleh Parmin ini sehingga memekku kembali terlihat oleh pembantuku ini. Aku tidak tahu kenapa tanpa pemanasan apapun penis Parmin ini sudah mengacung dengan tegaknya, apakah karena tadi hasratnya belum terpuaskan ataukan melihat aku yang bugil ini dihadapannya.

“Engghh…,” kembali aku melenguh karena memekku dimasuki benda tumpul kepunyaan Parmin ini, Beno dan Sutijo yang belum kebagian jatah menghampiri aku yang sedang asyik-asyikan dengan Parmin. Tanganku digenggamkan pada penis mereka masing-masing, reflek aku mulai mengocoknya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun yang dikatakan oleh para pembantuku ini, aku hanya ingin mencapai kepuasan.

“Aduduh Gus, aku mau keluar lagi Gus,” erangku.
“Bentar non, sama-sama, Parmin juga udah mau keluar,” Parmin mulai mempercepat temponya.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Parmin makin mempercepat genjotannya dan akhirnya meumpahkan spermanya yang cukup banyak itu di dalam memekku ini, kembali memekku terasa hangat oleh sperma pembantuku ini. Parmin langsung mencabut penisnya dari dalam memekku dan berjalan menuju sofa sambil memunguti bajunya yang berserakan di lantai. Aku sendiri masih dalam posisi terlentang dengan selangkangan terbuka dan terengah-engah.

Sutijo dan Beno terlihat mulai melepaskan semua bajunya dan menghampiriku. Aku yang sudah lemas ini hanya bisa pasrah melihat kelakukan mereka. Namun, mereka belum saja menyentuhku, tiba-tiba telepon berbunyi. Sengaja aku suruh mereka yang mengangkat telepon itu untuk memberikan waktu istrirahat untukku.

“Halo, iya bu.. baik, baik bu.. ada sebentar,” Edo menyerahkan telepon itu padaku.
“Halo ada apa ma?” balasku. “Oke.. iya, Ma tau.. hati-hati dijalan Ma.”

Ternyata telepon itu dari papa mamaku yang malam ini akan menginap di semarang karena ada urusan pekerjaan yang mendadak. Beginilah nasibku, aku sudah terbiasa, dari kecil aku memang sering ditinggal orang tuaku untuk urusan bisnisnya. Memang aku tidak kekuarangan secara materi, namun secara kasih sayang aku sangat kekurangan, mungkin hilangnya keperawananku ditangan mantankupun hasil dari aku mencari apa itu kasih sayang.

“Ibu hari ini nda pulang lagi ya non,” kata Sutijo sambil mengelus pipiku.
“Iya Jak, aku kesepian jadinya ga ada mama, selalu ditinggal,” kataku sedikit sedih
“Tenang non, Non kan punya kita berlima,” kata Edo sambil menaruh gagang telepon.

Aku tidak tahu harus berkata apa dari celotehan pembantuku ini, di satu sisi aku memang sedikit tidak rela tubuhku ini menjadi bulan-bulanan mereka, tapi di sisi lain aku sangat menikmati perlakuan mereka, mereka benar-benar menyayangiku dan memperlakukanku secara lembut.

Sutijo yang dari tadi sudah dalam posisi siap tempur kini membalikkan lagi badanku ke posisi menungging, dia masukkan penisnya itu dari belakang, aku tidak tahu kapan dia masukkan penisnya, yang terasa hanyalah lubang memekku kini terisi penuh lagi. Beno juga mengambil posisi di depanku, sambil membuka mulutku, dia masukkan penisnya ini ke dalam mulutku.

Aku kembali harus melayani dua penis di mulutku dan di memekku. Genjotan maju mundur ini membuatku sedikit kelabakan, terkadang Sutijo memaikan susuku yang menggantung. Gairahku yang tadi padam kini beranjak bangkit kembali, namun karena tenagaku yang sudah terkuras habis ini aku hanya mengikuti Irma permainan mereka saja.

Beno kini mencabut penisnya dari mulutku yang mungil ini, dia beranjak ke belakang Sutijo seakan menunggu giliran menggenjotku, Sutijo yang sudah paham bahwa Beno menginginkan jatahnya kini mempercepat genjotannya padaku. Mulutku yang telah bebas dari penis Beno ini kini mengeluarkan suara rintihan kenikmatan, hingga akhirnya aku harus ambruk di kasur setelah Sutijo memuncratkan spermanya di dalam liang memekku.

Aku sudah tidak tahu memekku ini sudah sebasah apa, yang jelas kasurku sudah acak-acakan dan kamar ini sudah bau sperma, Beno memengang pinggulku dan memposisikan aku seperti doggy-style tadi, dan langsung menghujamkan penisnya ke dalam memekku. Mungkin karena memekku sudah banjir dengan cairan cintaku dan sperma dari para pembantuku yang lain, penis itu tidak sulit masuk ke dalam memekku.

Beno yang memang sudah sangat bernafsu menggenjotku dengan irama cukup cepat. Aku hanya bisa merintih dan merintih, tenagaku sudah habis dan hanya pasrah saja memekku ini diaduk-aduk oleh pembantuku yang terakhir ini. Kepalaku sudah aku benamkan pada bantal dan tangan ini sudah terlentang.

“Non, udah cape banget ya,” kata Beno

Aku hanya mengangguk. Badan rasanya remuk semua setelah dihajar empat pembantuku ini. Gilanya masih ada Beno, pembatu terakhirku yang mulai memasukkan penisnya ke dalam memekku. Kembali aku merintih karena genjotan penis Beno. Dia cukup mengerti keadaan tubuhku yang sudah remuk semua ini. Beno hanya menggenjot perlahan, sambil dibaliknya aku menghadap mukanya.

Sambil terus menggenjotku, Beno menciumi bibirku, terkadang dia mencium pipiku, keningku dan kedua susuku. Aku hanya pasrah melihat kelakuannya, aku sudah tidak memiliki tenaga untuk meladeni nafsunya itu. Beno makin cepat menggenjot memekku, entah karena dia ingin cepat-cepat selesai ataukah emang dia sudah sangat bernafsu seperti Rino.

“Non, aku keluarin di susunya non boleh?” Pintanya
“Terserah kamu aja Zal,” Balasku sambil terengah-engah

Dua menit berselang, Beno mencabut penisnya dan menumpahkan spermanya itu pada susuku ini. Alhasil susuku menjadi basah dan lengket bercampur dengan keringat. Tumpahan sperma ini mengakhiri permainan seksku hari ini. Aku yang sudah tidak berdaya hanya terengah-engah di kasur melihat kelima pembantuku ini memakai kembali pakaiannya.

Setelah semua memakai pakaiannya dan akan beranjak keluar, aku memanggil mereka dan mengingatkan bahwa hal seperti ini hanya terjadi jika papa mamaku tidak ada di rumah, aku tidak sedang mens, malas, ataupun ujian. Mereka mengganguk dan tersenyum sambil keluar dari kamarku.

“Tenang non, hal ini Cuma kita yang tau, kita kan masih mau main sama non.. kalo ketauan bapak atau ibu kita bisa dipecat, non juga bisa dimarahin, semua bakal repot,” Edo menenangkan
“Iya non, nanti kalo non udah seger lagi kita main lagi ya non, sekarang istirahat dulu aja,” Beno berceloteh.
“Lagian ada Dewi kan bisa gantian, kalo non Lily ga mau main sama kita mungkin Dewi mau,” Rino menambahkan sambil menutup pintu kamarku.

Kini tinggal aku seorang diri di kamar masih tidak menggunakan sehelai benangpun, tidak lama kemudian, Dewi masuk ingin mengganti spreiku ini. Namun aku sudah terlalu malas untuk bangun dan memakai bajuku, akhirnya Dewi metutupi tubuhku ini dengan selimut tebalku.

“Gimana non Lily? enak kan?” Kata Dewi sambil berbisik
“Enak Ka, aku lemes banget,” balasku pelan

Setelah Dewi menutupiku dengan selimut, dia keluar dari kamarku. kesendirian dan pikiran mengenai kejadian tadi ini membuat aku sangat mengantuk dan akhirnya tidur terlelap.

tags #ceritadewasa, #ceritamesum, #ceritangentotjanda, #ceritangentotpembantu, #ceritangentotperawan, #ceritapanas, #ceritapemerkosaan, #ceritaseks, #ceritasekssedarah, #ceritaselingkuh, #ceritasex, #ceritaskandal, #ceritatante, #cewektelanjang, #fotobugil, #tantegirang

Subscribe to receive free email updates: