Cerita Dewasa Pembantu Ibuku Kini Jadi Kekasih Gelapku

Cerwasa.com kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang lelaki beristri dan berkecukupan, tetapi dia selalu ngiler setiap melihat lekuk tubuh seksi gemulai pembantu dari ibunya, dan ternyata pembantu tersebuta juga menaruh minat tuk dapat mengayuh nikmat dengannya. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

SELAMAT MENIKMATI !!!


Umurku yang sudah menginjak tiga puluhan saat ini sudah beristri dan mempunyai 3 orang anak, aku tinggal di pinggiran kota di Jakarta, orangtuaku tinggal di permumahan yang elite tak jauh dari rumahku, bisa dibilang bercukupan sehingga dia bisa mempekerjakan seorang pembantu dirumahnya, Dan cerita ini pembantu itulah yang menjadi peran utama dalam ceritaku.

Bapakku baru dua bulan yang lalu meninggal, jadi sekarang ibuku tinggal sendiri hanya ditemani Fiona, pembantunya yang sudah hampir 4 tahun bekerja sebagai pembantu. Fiona berumur 27 tahun, belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, namun giginya agak tonggos, walaupun tidak bisa disebut jelek juga.

Yang menarik dari Fiona ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibuku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah agak mekar.

Hari itu, karena kurang Enak badan, aku pulang dari kantor jam 10.00 WIB, sampai di rumah, kudapati rumahku kosong. Rupanya isteriku pergi, sedang anak-anakku pasti sedang sekolah semua. Akupun mencoba ke rumah ibuku, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumahku.

Biasanya kalau tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, Entah untuk sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja. Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Fiona, sedang memasak.

 “Fi...., Bu Dewi kesini nggak?” Tanyaku pada Fiona
“Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Fiona.
“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi.
“Tadi dijemput Bu Ina (Adikku) diajak ke sekolah Yogi (keponakanku)”
“Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa Fi? tanyaku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur sop”

Rupanya dia ngerasa juga kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.

“Pak Irwan ngeliatin apa sih” Tanya Fiona.

Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab,

“Ngeliatin pantat kamu Fi. Kok bisa seksi begitu sih Fi?”
“Iiih ................................. Bapak, kan Ibu Dewi juga pantatnya gede”
“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu Fi”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Fiona, sambil matanya melirik kearahku.

Aku yakin, saat itu memang Fiona sedang memancingku untuk kearah yang lebih hot lagi. Merasa mendapat angin, akupun menjawab lagi,

“Iya, kalo Bu Dewi kan cuma memangt gede, tapi tepos”
“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.

Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat tititku berdiri. Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Fiona yang masih mengaduk ramuan sop itu di kompor.

“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kenceng”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kenceng” sahut Fiona, tapi tidak menolak saat tanganku meraba pinggulnya.

Mendengar itu, akupun yakin bahwa Fiona memang minta aku ‘apa-apain’. Akupun maju sehingga tititku yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya.

“Adduuhh...................”, rasanya Enak sekali karena Fiona memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali tititku yang keras itu menempel di belahan pantat Fiona yang, seperti kuduga, memang padat dan kenceng.

“Apaan nih Pak, kok kerassssssss.............................? tanya Fiona genit.
“Ini namanya ‘sonny’ Fi, sodokan nikmat” sahutku.

Saat itu, rupanya sop yang dimasak sudah matang. Fionapun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan tititku.

Aku tidak tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah dadanya. Alamaakkkkkkkkk..............., tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyall dan terasa hangat dibalik kaos dan branya. Saat kuremas, Fiona sedikit menggelinjang dan mendesah,

“Aaacccchh...., Pakkkk...................” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali.

Kulihat matanya terpejam menikmati remasanku. Kukecup bibirnya (walaupun agak terganggu oleh giginya yang sedikit tonggos itu), dia membalas kecupanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. TItitku yang tegang kutekan-tekankan ke pantatnya, menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Fiona).

Sekitar lima menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesukaran akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya.
Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan,

“Ssshhhh................, aaaaacccchhhhhh..............., Pak Irwan, paakkkkk.. jangan di dapur dong Pak”

Dan akupun menarik tangan Fiona, kuajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibuku. Sesampai di kamarnya, Fiona langsung memelukku dengan penuh nafsu,

“Pakkkkkkkkkkkkk.................................., Fiona sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”
“Kok nggak bilang dari dulu Fi?” tanyaku sambil membuka kaos dan roknya.

Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh pembantu ibuku ini. Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang  kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Fiona tidak mau membuang waktu, diapun segera membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana penonangku.

Sekarang kami berdua hanya memakai pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Fiona meresap ke kulit tubuhku. Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah gairahku,

“Aaaaaccccccccchh..............hh, Bapaaaaaaaaaak...............................”.

Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yang indah itu. Langsung kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Fiona yang berwarna coklat, terasa padat dan kenyal, lalu kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yang langsung mengeras.

Kurebahkan Fiona ditempat tidurnya, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat keindahan kemaluan Fiona yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Fiona.

Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.

“Pakkkk...................., jangan diliatin aja dong, Fiona kan malu” Kata Fiona.

Aku sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan kepalaku dan bibirkupun menyentuh vagina Fiona yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Fiona menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di klitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah ini.

“Fiiii..................., memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Irwan suka sama memek Fiona? tanya Fiona.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga Enak” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari vagina Fiona.
“Mulai sekarang, memek Fiona cuma untuk Pak Irwan” Kata Fiona.
“Pak Irwan mau kan?”
“Siapa sih yang nggak mau memek kayak gini Fi?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke vaginanya kembali.

Fiona terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan lidahku ke lubang anusnya.

“Ooohhhhh....., sshshh....., aacchh.. Pakkk.........., Enak sekali Pakkkkkk.......... Terusin ya Pak Irwan sayanggggg......................”

Sepuluh menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit  bernafas.

”Pak Irwannnn........... aacchh..............., Fiona nggak kuat Pak.. sshh.....................”

Kurasakan kedua paha Fiona menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan vagina Fiona menjadi semakin basah. Fiona sudah mencapai orgasme yang pertama. Fiona masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara air maninya meleleh keluar dari vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Fiona sampai kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa nikmat. Aku senang sekali melihat dia mencapai kepuasan.

Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yang masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Ooouugh........................, nikmatnya, ternyata Fiona sangat memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat giginya yang agak tonggos itu mengenai batang kemaluanku.

Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Fiona terus mengulum kemaluanku, yang semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluanku.

“Pak Irwan, Fiona masukin sekarang ya Pak?” pinta Fiona.

Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku. Digenggamnya batang kemaluanku, lalu  diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga.

Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp........... sepertiga kemaluanku sudah tertanam di vaginanya. Fiona memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kemaluanku.

Aku merasakan jepitan yang sangat erat dalam kemaluan Fiona. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Fiona. Ketika kutekan agak keras, Fiona sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata,

“Pelan dong Pakkkk.................., sakit nih, tapi Enak banget”. Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluanku lenyap ditelan keindahan vaginanya.

Kami terdiam dulu, Fiona menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ vaginanya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Fiona menyedot kemaluanku!

Belum sempat aku berkomentar tentang betapa Enaknya vaginanya, Fionapun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Fiona. Waw....... kurasakan kepalaku hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam vaginanya.

Fiona merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah dadanya yangbesar menekan dadaku, astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku hampir tidak bertahan. Aku tidak mau orgasme dulu, aku ingin menikmati dulu vagina Fiona yang ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. 
Maka, kudorong tubuh Fiona ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia.

Lalu kusuruh Fiona tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke vaginanya yang sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Fiona.

Kumainkan pantatku turun naik, sehingga tititku keluar masuk di lorong sempit Fiona yang sangat indah itu. Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari vagina Fiona. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala tititku.

“Fiiiiiii........................., aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku pada Fiona.
“Iya Pak, Fiona juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. bareng ya Pakkkkk.., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Fiona.

Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Fiona yang luar biasa itu, Fiona mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang penonang, tubuhku mengejang.

“Fionaaaaaaaaaaaa........................., hh.. hh, aku keluarrrrrrrrrr.................... sayaang”

Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan, Fiona pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku.

“Pak Irwaannn..............................., Fiona juga keluar paakk, sshh, aaccccchh................”.

Aku terkulai di atas tubuh Fiona. Fiona masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.

“Fiiii....................., terima kasih yaa, memek kamu Enak sekali” Kataku.
“Pak Irwan suka memek Fiona?”
“Suka banget Fi, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya.

Kembali kami berpagutan.

“Dibandingin sama Bu Dewi, Enakan mana Pak?” pancing Fiona.
“Jauh lebih Enak kamu sayang”

Fiona tersenyum.

“Jadi, Pak Irwan mau lagi dong sama Fiona lain kali. Fiona sayang sama Pak Irwan”

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Fiona. Pembantu ibuku yang sekarang jadi kekasih gelapku

tags #ceritadewasa, #ceritamesum, #ceritangentotjanda, #ceritangentotpembantu, #ceritangentotperawan, #ceritapanas, #ceritapemerkosaan, #ceritaseks, #ceritasekssedarah, #ceritaselingkuh, #ceritasex, #ceritaskandal, #ceritatante, #cewektelanjang, #fotobugil, #tantegirang

Subscribe to receive free email updates: