Cerita Dewasa Tapi Bibi Senang juga Kan?

Cerwasa.com kali ini menceritakan petualangan Seks dari seorang remaja bernama Rafi. Sifat judes Bibi Juwita yang kepada Rafi pada akhirnya bisa berubah menjadi skandal seks antara mereka. Rafi ini tidak lain adalah sepupunya sendiri. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini

SELAMAT MENIKMATI !!!




Perkenalkan nama aku Rafi, disini aku akan menceritakan cerita seks pribadiku dengan istri pamanku. Saat itu aku sedang liburan di kota yang dikenal sebagai kota kembang (Bandung). Saat itu disana aku bermalam dirumah Paman. Pamanku ini sudah berumah tangga, nama istrinya adalah Bibi Juwita yang berumur 28 tahun. Bila dilihat dari usia mereka berdua memang agak terlalu jauh selisih usianya. Bibi Juwita ini bisa dibilang seorang istri yang cantik dan mempunyai bentuk body yang kecil tetapi bohay. Asal pembaca tahu saja, pantat Bibi Juwita ini bebar-benar kencang dan semok.

Dan lagi Bibi Juwita ini mempunyai pinggang yang singset atau seksy. Walaupun Bibi Juwita sudah menikah kurang lebih 2 tahun dengan pamanku, perutnya masih singset sekali. Tapi maklum sih, karena sampai sekarang mereka belum dikaruniai seorang anak. Oh iya, Bibi Juwita ini ada minusnya sih para pembaca, dia cantik namun judes sekali orangnya.

Bibi Juwita ini berasal dari keluarga yang sangat kaya raya, dia hanya 2 bersaudara. Bibi Juwita ini mempunyai adik perempuan yang bernama Mita, usianya kira-kira 22 tahun, dan dia kuliah di salah satu universitas negri di bandung. Mita ini juga tinggal dirumah Bibi Juwita. Selama aku berada dirumah Paman, hampir setiap hari Bibi Juwita mengomeli aku, tapi aku cuek aja.hha.

Sebenarya Bibi Juwita ini memang sangat tidak suka apabila aku menginap dirumahnya. Hal itu wajar aja sih, karena aku memang termasuk anak yang nakal dan bandel, hhe. Dalam usiaku yang masih 21 tahun, jika dilihat dari postur tubuh, aku memang terlihat dewasa, karena aku mempunyai tinggi badan176 cm, berat badan 72 kg dan tubuhku juga proposional.

Oh iya para pembacam, aku ini dari keluarga yang bisa dikatakan keluarga tidak mampu, maka dari itu Bibi Juwita selalu saja mencurigai aku, jika aku sering menerima uang dari pamanku. Pada kenyataanya pamanku sangat jarang memberi aku uang, mungkin saja dia takut dengan istrinya yang judes itu. Saat ini aku menginap di rumah mereka, sebenarnya karena terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan Ibu aku memberitahukan kepada Paman aku yang memaksa aku tinggal dirumah mereka.

Singakt cerita, Hari ini entah mengapa aku merasa bosan sekali. Mungkin saja kebosananku ini berasal dari Bibi Juwita yang selalu menunjukan muka cemberut terhadap aku. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mita adik Bibi Juwita sedang pergi kuliah, Bik Imah sedang pergi ke pasar, dan Bibi Juwita katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi, dengan nada yang setengah membentak, Bibi Juwita menyuruh aku menjaga rumah. Dalam fikiranku saat itu dari pada boring, mendingan aku nonton BF aja di kamar.

Mulailah TV kunyalakan, kuambil kaset porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta celana dalam-ku sendiri. Kejantanan aku yang sedari tadi sudah tegak, lalu kukocok perlahan.

Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam kont0lku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau Klimaks, tiba-tiba…

“ Rafi... apa yang kamu lakukan!!”, ucap seseorang.

Sesaat aku terdiam sejenak, ternyata suara itu adalah suara seseorang seperti yang aku kenal yaitu Bibi Juwita. Lalu,

“ E… eee… nggak lagi ngapa-ngapain Teh… ”, jawabku terbata-bata.

Sungguh saat itu aku kaget dan sangat bingung harus berbuat apa. Aku tidak mengira kalau Bibi Juwita yang tadi katanya pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati Bibi Juwita yang cantik tapi judes itu. Saat itu Bibi Juwita yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata yang melihat keadaanku yang telanjang bulat.

Ditambah lagi kont0lku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh Bibi Juwita yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas.

Sehingga saat itu Bibi Juwita hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak mendongak keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Sesaat saat itu badan Bibi Juwita mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu.

Sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas, lalu Bibi Juwita berkata,

“ Rafi... jangan kurang ajar... berani benar kau ini... ingat, Raf... Aku ini istri Paman kamu… !!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke Paman kamu… ”, teriak Bibi Juwita dengan suara garang mencoba mengancamku.

Aku tak lagi peduli, salah Bibi Juwita sendiri sih, orang mau Klimaks kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua buah dada-nya walaupun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai Bibi Juwita menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu.

Saat itu ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajarkan sopan santun padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Saat itu Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara Bibi Juwita terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki.

Saat itu entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meremas-remas seluruh tubuhnya sambil terus mencium bibirnya dengan liarnya. Saat itu dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi, dengan badan yang atletis dan berotot.

Hal ini membuat Bibi Juwita tidak berdaya, karena postur tubuh Bibi Juwita yang mungil. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari Bibi Juwita, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Karena saat itu aku merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari Bibi Juwita, aku mulai mengosok-gosokan kont0lku pada perutnya.

Setelah itu aku meraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke kont0lku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok kont0lku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian saat dengan perlahan kubuka baju Bibi Juwita, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku.

Namun semua itu percuma saja, tangan kanan mengunci kedua tangannya dan tanganku yang kiri membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya. Hal itu secara tidak langsung mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan Bra-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke buah dada Bibi Juwita yang padat berisi…

“ Raffff… aaammmpuun… iiii... iiingaaattttt... Raaaaaffff..................................... !!!”, ucapnya.

Belum selesai dia berbicara, aku-pun mencium dan melumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kewanitaan-nya yang masih tertutup celana dalam mungilnya itu.

“ Aiiiiiiiii... Oughhhh... Agcchhhhh... Ssssss... Agcchhhhh... Raaaafffff…........... ”, desah Bibi Juwita.

Akibat perlakuanku itu, kayaknya Bibi Juwita mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh Bibi Juwita bergetar dengan kuat dan... .. .

“ Agcchhhhh... Raafffff… ja... jangaaannn… Raffff… … iiii… ngaaaatttt... Ougccchhhh… agchhhhh… agcchhhhh…”, desahnya meronta.

Pada akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap tubuhku dan,

“ Syurrrrrr… Syurrrrrr… Syurrrrrr……”, akhirnya cairan kewanitaan Bibi Juwita membasahi celana dan jemariku.

Setelah masa Klimaksnya berlalu, terasa badan Bibi Juwita melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai Klimaks itu.

Tarikan nafasnya masih terengah-engah. Kami terdiam sejenak, sementara tubuh Bibi Juwita bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik Bibi Juwita masih menggenggam kont0lku yang masih tegak mengacung. Akhirnya secara perlahan-lahan kepala Bibi Juwita menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku. Sehingga saat itu menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…

“ Ougccccchhhhh... Rafff, apa yang kau perbuat pada Bibimu ini… ... ?????”
“ Maafkan Rafi Bibi... Rafi lupa diri... abis Bibi tadi masuk tiba-tiba selagi Rafi akan mencapai klimaks... salah Bibi sendiri sihhh… ... lagi pula… Bibi amat cantik menggemaskan... !!!!!!”, ucapku mencari-cari alasan sekenanya.

Sekarang kayaknya Bibi Juwita sudah pasrah dan sambil tanganya masih menggenggam kont0lku katanya lagi...

“ Raffff... punya kamu gede amat … ????. Punya Paman kamu nggak sampai segede ini... !!”, ucap Bibi mulai menggoda.
“ Bibi bisa aja deh… memangnya benar ya Teh ? ”, jawabku.

Memang sih, kejantanan-ku panjangnya 17 cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik Bibi Juwita yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan kont0lku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan Bibi Juwita tak mau lepas dari situ.

“ Bik... kok diiiii... dii… diemin aja, dikocok dong, Teh... biar enaaakkk... !!!! ”, ucapku.
“ Dasar kamu Raf, bawaanya keburu nafsu aja... Agchhhh... ”, ucap Bibi.

Lalu dengan perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu Bibi Juwita, sehingga tubuh Bibi Juwita berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua tangannya segera menggenggam kont0lku dan kemudian Bibi Juwita mulai menjilati kepala kont0lku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut Bibi Juwita

Dijilatnya seluruh batang kont0lku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya kont0lku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya setengahnya saja yang dapat masuk ke mulut Bibi Juwita. Kurasakan dinding tenggorokan Bibi Juwita menyentuh kepala kont0lku.

Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga Bibi Juwita mengulum kont0lku. Kurasakan batang kont0lku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Merasa aku akan keluar, Bibi Juwita semakin cepat mengocok batang kont0lku.

“ Bikkkkk... Agcccccchhhh... Ougccchhh... Rafi mau keluar nih… ... Agcccchhhh... ”, ucapku.

Tidak lama setelah berkata seperti itu pada akhirnya,

“ Crotttt... Crotttt... Crotttt... ”,

Tersemburlah cairan itu dalam kont0lku, saat itu spermaku diminum, dan dijilati semua sisa-sisa spermaku, sampi-sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi kont0lku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi Melihat itu, Bibi Juwita mencium-cium kepala kont0lku dan menjilat-jilatnya hingga bersih.

Kutarik berdiri tubuh Bibi Juwita dan kudorong ke tempat tidur, sehingga Bibi Juwita terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang Bibi Juwita terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat. Bibi Juwita hanya menatap ku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah.

Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos. Kupegang batang kont0lku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kewanitaan-nya, sambil kutekan-tekan pelahan.

Karena merasakan gesekan-gesekan lembut kewanitaan Bibi Juwita, kont0lku mulai mengeras kembali. Lalu aku mulai meraih tangan Bibi Juwita dan ku tempatkan pada batang kont0lku. Dengan segera digengamnya kont0lku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kont0lku perlahan-lahan mulai masuk.

Sedikit demi sedikit kont0lku mulai masuk ke liang kewanitaan-nya Bibi Juwita. Terasa liang kewanitaan Bibi Juwita sangat sempit mencengkeram batang kont0lku. Dinding kewanitaan Bibi membungkus rapat batang kont0lku, kutekan lagi dan tubuh Bibi Juwita menggeliat…

“ Ougccchhhhhh… Raaafffff… bee... besar sekali kontol kamu... pe... pelan-pelan… Rafffff… Ougcchhh...”, ucapnya.

Bibi Juwita merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kont0lku makin dalam, terasa jepitan kuat dinding kemaluan Bibi Juwita yang menjepit rapat batang kont0lku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini,

“ Bikkkkk… … Ougccccchhh... enak Bikkkk… Ssss… Agccccchhhhh.....................…”, desahku.

Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, Bibi Juwita memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini terlentang pasrah dibawahku.

Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga kont0lku terbenam makin dalam keliang kewanitaannya, dalam-dalam, lalu ujung kepala kont0lku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh Bibi Juwita mengejang saat aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk.

Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha Bibi Juwita terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar liang kewanitaannya.

Aku dapat melihat buah dada Bibi Juwita bergerak-gerak. Susu Bibi saat itu bergerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk kont0lku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan Bibi Juwita dengan kuat menyedot kont0lku.

Semakin lama kurasa semakin kuat saja kewanitaan Bibi Juwita menjepit kont0lku. Kulihat wajah Bibi Juwita nampak makin memerah menahan Klimaks keduanya yang akan melandanya sebentar lagi,

“ Aaaaaaddduuuuuhhhhh... Raafffff... Aaaagggghhhhhh... Oouggg... hhaa... hhaa… Raafffff … Bibi Mau keluar lagi ni Raafffff… Agcccccccchhhh… ”, desahnya menuju klimaks.

Dan tidak lama setelah itu,

“ Syurrr…......................... Syurrr.......................… Syurrr…...............................… ”,

Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi kont0lku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu Bibi Juwita menjerit-jerit kesakitan.

Meskipun liang kewanitaan Bibi Juwita telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran kont0lku yang besar. Tak kuhiraukan lagi suara Bibi Juwita yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permaina ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku.

Kurasakan otot-otot kont0lku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang kont0lku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan Bibi Juwita akhirnya meruntuhkan pertahananku.

“ Ssssstttttttttttttt… Bikkkkkk… Ougccccccccccccccchhh... ”, desahku.

Keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan,

“ Crotttt..................... Crotttt... .................Crotttt....................... ”,

Tersemburlah spermaku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam liang kewanitaan Bibi Juwita, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi Bibi Juwita. Sementara kuubiarkan kont0lku tetap didalam kemaluan Bibi Juwita untuk merasakan sisa-sisa Klimaksku. Kurasakan kemaluan Bibi Juwita tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

“ Bikkk...., terima kasih ya udah mau puasin Rafi ”, ucapku dengan manja.
“ Dasar kamu Raf, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak Bibi kamu sendiri kamu perkosa juga... !!!!”, ucapnya manja.
“ Iiicccchhhhh… Bibi... tapi Bibi senang juga... kaannnn ... ????”,
“ Iya... siiicccccchhh... !!!!!”, kata Bibi Juwita malu-malu.

Semenjak kejadian skandal itu, sikap Bibi Juwita terhadapku berubah 360 derajat, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan Paman dan adik Bibi Juwita. Aku dan Bibi Juwita sering berhubungan seks bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap Bibi Juwita, apalagi Bibi Juwita melayani nafsu seks aku dengan rela dan sepenuh hati.
 

tags #ceritadewasa, #ceritamesum, #ceritangentotjanda, #ceritangentotpembantu, #ceritangentotperawan, #ceritapanas, #ceritapemerkosaan, #ceritaseks, #ceritasekssedarah, #ceritaselingkuh, #ceritasex, #ceritaskandal, #ceritatante, #cewektelanjang, #fotobugil, #tantegirang

Subscribe to receive free email updates: