Cerita Sex Perawan yang Menjelma Menjadi Maniax Sex

www.cerwasa.com
Cerwasa.com kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang gadis lugu pelayan warung makan yang mendapat pelajaran bercinta dari rekan kerjanya yang mantan PSK, berawal dari peristiwa itu kini dia menjadi sosok gadis yang selalu ingin bercinta dan meraih nikmat seks. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini. .....

SELAMAT MENIKMATI !!!


Shania baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Ia berjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tiara sedang membenahi peralatan dapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliran Shania yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nanti malam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutup dan buka kembali jam 7 malam.

Shania adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia tak dapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dan sangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat. Mata Shania bersinar lembut, bibirnya kemerahan tanpa lipstik. Shania mempunyai rambut yang panjang, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shania membusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shania memiliki pantat yang indah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shania seorang gadis yang sedang tumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya.

Tiara seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal cerai suaminya. Sudah 3 tahun Tiara bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main gila dengan seorang pelacur. Tiara bertubuh montok dan bahenol. Semuanya serba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. Bibir Tiara sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tiara berwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalau sedang musim tanam atau panen.

Tiara dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur. Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampai akhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tiara dan banyak juga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tiara terlihat sangat cuek dan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya.

Buah dada Tiara besarnya bukan main, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadi buah-bibir. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besar dan kenyal itu. Tiara juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging seperti meminta……. tubuh Tiara sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya.

“Shan, kamu sudah punya pacar belum?” kata Tiara sambil berjongkok didepan Shania dan mulai membantu gadis itu mencuci pirng-piring kotor.
Shania terkikik dan menggeleng.
“Belum tuh”
“Lho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksir” kata Tiara sambil memandang Shania. Shania tertawa lagi.
“Payah.??
“Semuanya mikir kesitu melulu” Jawab Shania.
“Memang.?? laki2 itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngewe” kata Tiara tanpa merasa risih berkata kasar.
“Ah mbak, jangan suka ngomong gitu ah” timpal Shania.
“Kan nggak ada yang dengar ini” Jawab Tiara.

Mereka terdiam lama.

“Mbak…….” suara Shania menggantung. Tiara terus mencuci.
“Mmmm?” Jawab wanita itu. “Ngggg………” “Ngomong aja susah banget sih” Tiara mulai hilang sabar. Shania menunduk. “Ngg…… anu…….. ngewe itu enak nggak sih?
” Akhirnya keluar juga. Tiara memandang gadis itu. “Yaaa…….. enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinter” jawab Tiara seenaknya.
Maksud mbak?” Shania penasaran. “Iya pinter………. bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!” kata Tiara sambil terkikik.

Shania merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran. “Bisa macam-macam apa sih, Mbak?” tanya Shania.

Tiara memandangnya sambil menimbang. Ah……. toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shania sungguh cantik sekali, sekilas mata Tiara tertumbuk pada posisi Shania yang sedang berjongkok. Tiara melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadis itu berwarna coklat muda.

“Macam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai mau ngemut tempik kita lohh….” jawab Tiara.

Entah kenapa Tiara merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidih melihat selangkangan Shania yang bersih serta mulus.

“Idiiiih…… jorok ihhhh….. kok ada yang mau sih?” Shania sekarang melotot tak percaya.
“Lho…… banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kok” jawab Tiara masih terus melihat selangkangan Shania.
“Astaga……. masak anunya lelaki diemut?” Shania merasa aneh dan jantungnya berdebar, ia merasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya.

Gadis itu tidak mengerti bahwa ia terangsang.

“Oh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm…… ehmm………”
“Kalo apa mbak?” Shania makin penasaran.

Tiara merasa melihat bagian memek Shania yang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tiara tidak yakin.

“Yaaa…….. malu ahhh….!” Tiara sengaja membuat Shania penasaran.
“Ayo doong mbak” rengek Shania.

Tiara sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelap di celana dalamnya. Tiara sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu.

“Kalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enak banget!” bisik Tiara didekat telinga Shania.
Shania membelalakkan matanya. “Apa itu pejuh?” tanyanya.

Tiara merasa tidak tahan.

“Pejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lho” Jawab Tiara.

Ia melihat bagian memek Shania makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tiara.

“Idiiihhh amit-amit, jorok banget sih”
“Lho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita, apalagi kalo memek kita harum, tidak bau terasi”
“Idiiihh mbak saru ah!”
“Tapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terus”
“Udah ah, lama2 jadi saru nih” kata Shania.
Tiara tertawa. “Kamu udah banjir yaaa?” goda Tiara.
Shania memerah, buru-buru ia merapatkan kedua kakinya. “Ahhh….. Mbaakk!!!”

Tiara tersenyum melihat Shania melotot.

“Nggak usah malu, aku sendiri juga basah nih” Kata Tiara.

 Ia lalu membuka kakinya sehingga Shania bisa melihat celana dalam putih dengan bercak gelap ditengah, Shania terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tiara yang mencuat keluar dari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya.

“Ihhh….. mbak jorok nih” desis Shania.
Tiara terkekeh. “Mau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?” bisik Tiara.
Shania berdebar. “Ngaco ah!”
“Aku mau emutin punya kamu, Shan?” Tiara mendekat.

Shania buru-buru bangun dan mundur ketakutan.

Tiara tertawa. “Kamu akan bisa pingsan merasakannya” bisik Tiara lagi.
“Ogah ah….. udah deh…… jangan nakut-nakutin akhh” Shania mundur mendekati pintu kamar mandi dan Tiara makin maju.
“Nggak apa-apa kok…. cuman diemut aja kok takut?”
“Masak mbak yang ngemut?”
“Iya… supaya kamu tahu rasanya”
“Malu ahhhh…….”
“Nggak apa-apaaa……” Tiara mendekat dan Shania terpojok sampai akhirnya pantatnya menyentuh bibir bak mandi.

Tiara sudah meraba pahanya. Shania merinding dan roknya terangkat ke atas, Shania memejamkan matanya. Tiara sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memek Shania yang tertutup celana dalam. Tiara mencium bau memek Shania, dan Tiara puas sekali dengan harumnya memek Shania. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malah pernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya.

Tubuh Shania gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhu tubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tiara mulai menciumi memek Shania yang masih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shania dan Tiara terangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam gadis itu ketika ditarik turun. Tiara menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itu dan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shania sungguh indah sekali, tidak terlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut. Tiara mencium dan mulai melumat memek Shania.

Gadis itu mengerang dan menggeliat-liat ketika lidah Tiara menjalar membelai liang memeknya. Shania benar-benar shock dengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaan nikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tiara menyapu dinding memeknya, Shania menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawah perutnya.

“Aahhh…. Mbak… uuuhhhh….. ssshhhhh…. ja…. jangan mb….. mbbak! Ji…. jijikhh…. aahhhh”

Tiara tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shania. Lidahnya bergumul dan menembus liang memek Shania dengan lembut, Tiara tahu Shania masih perawan dan ia tak ingin merusak keperawanan Shania, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tiara sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahi lidahnya dan Tiara mengendus-endus bau khas memek Shania dengan sangat menikmatinya. Tiara perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shania, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shania, dan Shania sedikit tersentak tapi kemudian menggelinjang geli, tapi Shania membiarkan dirinya pasrah terhadap Tiara. Ia percaya sepenuhnya pada Tiara dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun!

“Enak Shan?” desah Tiara dengan mulut berlumuran lendir Shania.

Shania memandang ke bawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yang dinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tiara merasakan liang memeknya berdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya dan merasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shania, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shania dan membuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dibayangkannya.

Shania merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh benda lunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget becampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya. Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shania dan Tiara telah saling memeluk dalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tiara mencium mulut Shania, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tiara diitilnya membuat gadis itu mabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat.

Tiara melumat mulut Shania dengan penuh nafsu, Shania membalasnya dengan malu-malu tapi mereka berdua memang saling melumat juga akhirnya. Terdengar bunyi mulut mereka ketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shania berkelojotan berkali-kali dan Tiara merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shania menjilati dan mengemuti kemaluannya. Perlahan-lahan Tiara mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shania, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tiara mulai menghisap puting tetek Shania. Perlahan Tiara menggeser posisinya sehingga Shania dapat membelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja.

Tiara tidak sabar, diambilnya tangan Shania dan ditaruhnya di memeknya, Shania mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tiara, segera saja wanita itu memajukan pinggulnya dan memompa jari Shania. Shania mulai mengerti dan ia mulai memainkan itil Tiara dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tiara sudah mengangkangi Shania dan ia menciumi memek Shania kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shania kembali merasakan terjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tiara, Shania membiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tiara berjatuhan, menetes dan membentuk lendir panjang, tapi Shania tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran.

Memek Tiara dengan bibir tebal kehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shania melihat memek Tiara lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyaris menyentuh hidungnya. Shania mencium bau memek Tiara dan dirasakannya sama baunya dengan memeknya. Shania menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tiara sehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shania gelap mata, ia menjulurkan lidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shania bahkan menghisap lendir itu seperti kelaparan. Shania mengemut itil Tiara yang besar dan menonjol.

Tubuh Tiara kaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yang luar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shania. Tiara menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidung Shania terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang2kan pinggulnya maju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shania dan gadis itu malah menambahkan kenikmatan Tiara dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kali Tiara memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah serta hidung Shania. Tiara berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkan desahan kenikmatan.

“Shaniaiiiiii!!!!……. aaaaaaarrrrgggghhhhh!!!!…..” Tiara merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu.

Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan dunia hitamnya. Shania merasa puas karena berhasil membuat Tiara menjerit-jerit minta ampun karena kenikmatan. Shania merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memek Tiara. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memek Tiara dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tiara kala menggesek diwajahnya. Shania tersenyum lemah karena lelah. Tiara ambruk diatas tubuhnya dan Shania membiarkan, dan gadis itu iseng membuka pantat Tiara dan memperhatikan liang anus Tiara. Shania melihat liang dubur Tiara seperti bintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shania penasaran, ia mencium serta mengendus liang itu…. tidak berbau apa-apa.

Tiara diam saja membiarkan Shania berbuat sesukanya. Shania menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tiara dengan perlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shania mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tiara menggelinjang geli.

“Aduh Shan, enak…. terus Shan… jilat… jilat terus… ya.. ya… aaakkhhhh…”

Tiara merasakan lidah Shania kaku menusuk liang duburnya. Tiara bangkit lalu berjongkok diatas wajah Shania dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shania yang kaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tiara menggeram pelan…… Shania merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang dubur Tiara, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja. Tiara tidak ingin Shania terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shania sehingga gadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tiara sehingga liang dubur gadis itu mencuat keatas wajahnya.

Dijilatnya liang dubur Shania dengan rakus, lalu setelah licin oleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shania menggigit bibir, ia merasa mulas tapi sekaligus nikmat. Kemudian dilihatnya Tiara mengeluar masukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tiara menjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shania mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan seperti itu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tiara. Ia merasa seolah-olah Tiara adalah pembersihnya, Shania memejamkan mata dan merasakan memeknya berdenyut mengeluarkan cairan.

Tiara benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liang dubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shania begitu merangsang, begitu lembut dan begitu nikmat. Tiara tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar dari lubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shania gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tiara tidak kuatir dengan hal itu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shania betul-betul puas dan dewasa. Tiara kemudian memompa liang memek Shania dengan lidahnya dan membuat gadis itu meraung-raung serta kejang-kejang.

“Mbaakkkk… sudah mbaakkk…. ampuuunnn…… ooohhhhh!!!”

Shania sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubi melanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tiara dan berusaha membuat wajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamar mandi. Tiara memandang Shania….

“Bagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?” tanya Tiara.
Shania membuka matanya dan memandang wanita itu. “Bisa gila aku mbak…. aahhh benar-benar bisa gila!” Desah Shania.
Tiara tersenyum. “Mau lagi?”
“Jangan! Bisa semaput benaran aku nanti…”
“Ya sudah tak mandikan yuk!” Kata Tiara.

Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shania mengetahui apa yang harus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnya tahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shania belajar banyak dari Tiara. Dan ia memuja wanita itu. Malam itu Shania tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya dengan Tiara. Terbayang olehnya perbuatan Tiara terhadap dirinya, Shania merasa seluruh bulu ditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekali mengulangi lagi dengan wanita itu.

Shania bangun dan berjalan kemeja kecil tempat ia biasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara2 aneh, itu kamar Supriati, teman sesama kostnya. Shania mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papan tipis. Shania kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itu suka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shania kaget setengah mati ditengah malam.

Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar-samar dan sepertinya ada suara lain, Shania menempelkan telinganya dan ia mendengar suara rintihan Supriati. Shania berdebar, ini malam minggu….biasanya pacar wanita itu suka datang menginap. Sedang apa mereka? Shania berjingkat keluar kamar. Diluar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pasti Supriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shania tegang, ia berjalan kebalik kamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shania tahu disana dindingnya tidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati.

Pelan-pelan Shania naik keatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia ragu hendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan-pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap kedalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shania bisa melihat dengan jelas Supriati sedang ditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyang pinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjot Supriati dengan cepat.

Shania merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu sama lainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tangan Supriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shania terangsang sekali, belum pernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasa aneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan. Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shania melihat tangan Supriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggaman Supriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocok kontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengan tubuh bergetar.

Shania merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu, Shania ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karena sebelumnya Shania belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjang itu! Shania melorot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan diri diranjang. Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shania merinding membayangkan lubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shania akhirnya terlelap….

Seminggu lewat sudah dan Shania bingung memikirkan Tiara. Wanita itu tidak masuk seminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilik warung mengapa Tiara tidak masuk. Selama seminggu ini Shania tidak bergairan dalam pekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tiara atau mengingat pemandangan adegan Supriati dengan pacarnya. Shania tidak bersemangat, apalagi sehari-hari teman-temannya selalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-segan membicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shania merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usia mereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shania mendekat, padahal ia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka.

Shania lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran. Malam itu Shania merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tiara. Ia sudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tiara telah berhenti bekerja karena mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shania diam-diam menangis memikirkan Tiara yang tega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shania hanya pasrah dan menjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tiara. Ia menangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tiara dan wanita itu membelai rambutnya dengan sayang, Shania menyusup dalam ketiak Tiara dan menangis sesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangis makin keras……

* * * * * * * * * * Tidak terbayangkan oleh Shania ketika memandang wajah wanita itu didepan pintu restoran. Tubuh Shania bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air mata mengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shania terbuka dengan mata terbuka seolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya…….sudah setahun lewat sejak kepergiannya dan Shania merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiada malam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanita itu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main! Wanita itu mendekat dan Shania tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya.

Semerbak wangi tercium oleh Shania, wanita itu membelai rambutnya sambil memeluk erat tubuhnya. Shania merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tiara. Wanita itu merasakan aliran hangat jatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuh dirambut Shania.

“Mbak… oh….” Shania tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalam dipelukan Tiara. “Shan, sudah lama sekali yaa….” Bisik Tiara.
Shania mengangguk-angguk. Shania merasakan lembutnya buah dada Tiara dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya.
“Aku rindu sekali mbak…. ja… jangan pergi lagi…..” Suara tercekat dari Shania membuat Tiara sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannya membuatnya bertahan.
“Aku juga rindu Shan, sudah, sudah…..”

Wanita itu mendorong Shania pelan dan membawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tiara memang sudah mengamatinya sejak satu jam yang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang dengan penampilan seperti itu, apalagi bermobil.

“Mbak cantik sekali….” Bisik Shania, ia menatap Tiara kagum.

Tiara memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusan kulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnya yang penuh juga makin terlihat merangsang. Shania menelan ludah, ia melihat pakaian Tiara yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tiara yang juga tidak berubah, montok dan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itu membuat Shania rindu bukan main.

“Kamu kelihatan makin cantik dan matang Shan….” Bisik Tiara lalu dibelainya pipi Shania yang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tiara merayap menyentuh bibir Shania, Shania membiarkan jari Tiara menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jari itu, jantungnya berdegup, Tiara membiarkan jarinya dihisap oleh Shania.

“Aku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut aku” Kata Tiara.
Shania terkejut. “Kemana?” Tanya Shania.
Tiara tertawa. “Ikut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak denganku” Kata Tiara.

Shania memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakah memang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tiara maka kemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shania sungguh bingung.

“Jangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingat sama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut denganku” Kata Tiara sambil membelai tangan Shania. “Lagipula kamu dan aku sudah seperti…. seperti…. kekasih….” Suara Tiara berbisik dan bibirnya bergetar.

Shania ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tiara dibawah meja menjamah pahanya dan mengelus serta meremas lembut pahanya, Shania merinding, ia ingin merintih tapi ia hanya menatap saja wanita itu. Tiara memandangnya sendu dan bibirnya terbuka.

“Baiklah mbak…. ka.. kapan kita berangkat?” Bisik Shania bergetar.
“Besok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disana” Jawab Tiara “Jangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disana”

Shania mengangguk. Gadis itu memandang Tiara, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shania tahu Tiara tidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tiara yang dulu.

“Jaga diri kamu baik-baik, Shan…..sampai besok” Bisik Tiara.

Shania merasa pahanya diremas oleh Tiara dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shania memandang kepergian Tiara dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkan jiwanya. Tiara menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu.

* * * * * * * * * * Shania memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudah sepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shania juga sudah pulang, beberapa yang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shania sengaja memilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnya selama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semua karyawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu ia ingin berhenti. Dan sekarang Shania hendak berhenti karena besok ia sudah akan di Jakarta.

“Mengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?” Sergah pak Mohari dengan wajah mengeras dan kelihatannya marah betul.

Shania membisu, tubuhnya tegang karena takut.

“Kamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?” Desis laki laki itu.

Ia memandang Shania dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanya tertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shania yang ditutupi kaus tipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohari terkesiap merasakan berahinya tiba-tiba memuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelan ludah, matanya tidak lepas dari dada Shania dan mulutnya terkunci. Shania tidak tahu majikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang tak berdaya.

“Baik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambil uangmu!” Suara serak pak Mohari terdengar aneh di telinga Shania, tapi gadis itu merasa lega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu.

Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan mess tempat tinggal para karyawan restoran. Shania tahu ia menuju kantor Pak Mohari, atau tepatnya tempat biasa Pak Mohari membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedang capek. Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalau sedang capek melayani tamu. Pak Mohari menyalakan lampu kamar dan Shania disuruh duduk di dipan yang biasa ditiduri oleh laki-laki itu. Shania duduk dan Pak Mohari berjalan mendekatinya, tiba-tiba tangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shania menjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan.

“Kamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lonte juga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalaman nanti” bisik Pak Mohari dekat sekali dengan wajahnya.

Shania mencium bau rokok menyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah.

“Saya akan menjerit pak….. jangan pak…… malu!” bisik Shania.

Pak Mohari menerkam Shania dengan tiba-tiba dan Shania terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shania membuka mulutnya hendak menjerit, tapi tangan pak Mohari dengan sigap menutup mulutnya. Shania terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuat sekali.

“Sekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamu bisa tunggu mereka semua di neraka!” Desis Pak Mohari,

wajahnya sungguh kejam sekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohari? Hanya sang isteri yang baik pada karyawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shania menangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangi oleh tangan lelaki itu.

“Ikuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang penting kamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?” Ancam Pak Mohari,

Shania menggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, ia cepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu. Pak Mohari menarik kaki Shania sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yang beralaskan tikar. Kemudian Shania melihat Pak Mohari dengan gugup melepaskan pakaiannya. Shania memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohari bergoyang-goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shania melihat pak Mohari sudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shania, gadis itu tidak bergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohari, Shania menjerit pelan merasakan pipinya panas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya.

Shania mengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkan juga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohari. Shania bisa merasakan napas panas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohari berusaha menciumnya tapi Shania memalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shania terpaksa membiarkan bibirnya dikulum mulut laki-laki itu, Shania merasa mual….

“Pegang ini, awas jangan macam-macam kamu!” bentak Pak Mohari.

Tangan Shania dituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohari. Shania merasa jijik, kontol yang tidak begitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam.

“Kocok!” perintah Pak Mohari.

Shania belum pernah melakukannya. Ia meremas-remas pelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shania merasa jijik.

“Kocok seperti ini goblok!” desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri.

Shania berusaha menurutinya dan Shania sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan. Pak Mohari tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Ia menyodorkan kontolnya kemulut Shania, gadis itu menghindar.

“Sialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!” bentak Pak Mohari seperti kalap.

Shania menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnya benda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempat berbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shania ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shania dengan tergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shania mendengar Pak Mohari mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuh dengan cairan lengket dan berbau aneh. Shania menahannya supaya tidak tertelan, ia mual sekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tiara sebagai pejuh.

Jijik sekali, pikirnya. Shania memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohari terus bergerak maju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shania segera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohari yang kelelahan dengan perasaan benci bukan main.

“Hahaha……. bagus……. memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buat seorang lonte!” Desis pak Mohari lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajah Shania.

Shania terkulai tak berdaya dan Pak Mohari bergegas hendak keluar tapi sebelumnya sekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shania terbelalak kesakitan. Sekejab kemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shania menangis pelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman2 yang tinggal diseberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya dan meringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, ia menerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya.

Shania dengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan bhnya. Ia melepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dan kausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang. Shania berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidak ingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan ia menggosok teteknya kuat-kuat, ia tak perduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendak melenyapkan jejak remasan Pak Mohari.

Shania menangis tanpa suara, ia tidak menyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur dan menusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak perduli mulutnya terasa pahit dan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohari tertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shania menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalam kamarnya. Ia telah mencuci bersih bhnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkan pakaian itu disini saja. Lalu Shania berbaring berusaha untuk tidur……diam-diam ia bersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidak menyetubuhinya, Shania menghela napas dalam lelap.

* * * * * * * * * * “Ini kamar kamu Shan, suka?” bisik Tiara sambil memandang gadis itu. Shania ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalam perjalanannya dengan Tiara seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnya besar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias dan Shania heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapa ada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uang sekali, pikirnya. Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya dengan fasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambil menimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya.

“Ada air panasnya lho Shan…” kata Tiara. Shania memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tiara dan berterima kasih padanya dengan air mata mengalir.
“Kamu berhak mendapatkannya sayang…” bisik wanita itu.
“Indah sekali mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?” kata Shania dengan suara serak.

Tiara tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkan barang-barang Shania. Shania sangat kagum dengan rumah Tiara. Besar, bersih, mewah dan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indah bukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurut gadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besar lengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buang kain saja.

Kemudian Shania melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TV yang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shania tidak dapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai.

“Kamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagi” kata Tiara.

Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shania. Gadis itu duduk di atas ranjang, wah empuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekali ia disayangi seperti itu oleh Tiara. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudah terlelap…… Shania terbangun oleh belaian Tiara. Jari-jemari Tiara membelai pipinya, Shania memegang tangan Tiara kemudian menciumnya dengan lembut.

“Terima kasih mbak” bisiknya. Tiara tersenyum.
“Ah tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya aku nggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangan tanpa kamu Shan” kata Tiara.
Shania mengecup lagi telapan tangan yang membelainya. “Kok mbak kimpoi nggak bilang-bilang sih?” tanya Shania.

 Tiara tertawa. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tiara rindu sekali dengan hembusan napas Shania dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah serta mulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shania, selama ini ia selalu melayani ‘suami’nya dengan baik. Dan sang ‘suami’ juga kelihatan sangat sayang padanya, maka itu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tiara menceritakan semuanya kepada ‘suaminya’ dan tak disangka ‘suaminya’ sangat menyetujui….

“Jadi kamu suka bermain dengan cewek juga?” tanya ‘suaminya’, yang sebetulnya adalah laki-laki yang bernama Dermawan dan selama ini memelihara hidup Tiara dan diam-diam mereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu.

Tiara mengangguk, ia pasrah jika Dermawan meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ia lihat hanya pandangan terpesona saja.

“Ya mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya mas” Jawab Tiara.
“Jadi selama ini kamu tidak cinta padaku?” Tanya Dermawan menyelidik.
“Aku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan…..”
“Dan apa?”
“Dan membayangkan gadis itu” Tiara menjawab terus terang.
“Boleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau……” Dermawan tidak meneruskan kata-katanya. Tiara tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Dermawan.
“Aku akan mencobanya sayy…. aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmati keperawanan gadis itu” bisik Tiara.

Dermawan lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tiara yang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tiaranya yang begitu hebat diatas ranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita itu selalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan.

“Mbak…… kok melamun?” bisikan Shania menyadarkan lamunan Tiara.

Wajahnya dekat sekali dengan Shania dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tiara tertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shania dan melumatnya. Shania terengah-engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tiara mengelus-elus buah dadanya dan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tiara dengan gemas dan membuat wanita itu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugil ria dalam pergumulan panas. Shania tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uang logam. Dan semua kejadian dikamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Dermawan!

Dan sekarang Dermawan sedang menahan napas memandang kearah layar besar didalam ruang kerjanya. Tubuhnya tegang dan dirasakan daging dicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tiara melucuti pakaian Shania dan ia bisa melihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shania dengan penuh nafsu. Dermawan tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shania memangut tetek Tiara dan menyedotnya seperti bayi, dan Tiara dengan kalap menyuruk keselangkangan Shania dan mulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya.

Dermawan tak kuasa menahannya, ia juga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalam mulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shania, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shania sedang ditindih oleh bagian bawah tubuh Tiara dan Tiara asyik menjilat-jilat memek Shania, Dermawan dapat melihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karena lendir. Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shania yang tergeletak diujung ranjang.

Dermawan membawa benda itu kewajahnya dan menciumnya, oohh…. nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khas memek seperti punya Tiara, Dermawan menjilat bercak kuning dicelana dalam itu dan merasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubah menjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkak mundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Dermawan berdebar-debar membayangkan kapan Tiara dan Shania akan siap melayaninya bersama-sama.

“Aduh mbaakk, aku keluar lagi mbak…. aduh duh…..”

Shania berkelojotan, memeknya terangkat dan menekan-nekan wajah Tiara, Tiara tidak mau kalah dan mengulek memeknya dengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing.

“Shaan…. mati aku Shan… ooohh…. terus Shan, terus!” desah Tiara dan Shania mempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tiara, ia menghujamkan mulutnya dan lidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shania merasakan cairan masuk kedalam mulutnya dengan mudah, Shania tidak perduli bahwa itu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tiara karena gadis itu membuatnya seperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shania menjalarkan lidahnya didalam memeknya.

Tiara merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadar meliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga oleh jari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tiara juga tidak mau kalah dan ia membuat Shania berguling sehingga gadis itu sekarang yang berada diatasnya dan dengan leluasa Tiara menjilati cairan bening yang jatuh dari liang memek Shania, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tiara. Enak bukan main rasanya dan Tiara seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shania dan membuat gadis itu mengerang, kadang malah Shania tersentak kesakitan karena lidah Tiara masuk terlalu dalam dan Tiara cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masih perawan dan ia ingin Dermawan yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam.

“Mbakhh…. aah… enak sekali mbak…. aaaaa…. keluar lagi mbak…… aduuuuhhh” Shania mengerang panjang dan Tiara merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalam mulutnya.

Tiara menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shania, ia merasa terangsang sekali melihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shania, Tiara memasukkan jari telunjuknya, membuat Shania mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anus Shania. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shania merasa mulas tapi ada perasaan nikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tiara lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shania merasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tiara dengan lahap menjilati lubang anus Shania dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalam anus Shania, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu. Shania melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tiara yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shania di dalam anusnya membuatnya orgasme.

Apalagi Shania dengan tanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tiara merasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihan panjang Tiara mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shania juga lemas diatas tubuh Tiara. Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shania diam-diam memohon agar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tiara lagi, ia tak akan kuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shania menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tiara, ia sangat merindukan kejadian seperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shania sangat suka sekali bau ketiak Tiara yang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shania menjilati keringat yang membasahi bulu-bulu ketiak wanita itu.

Shania mengendus dalam dan menikmati bau khas yang sangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tiara sungguh merangsang. Tiara cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shania tapi ia merasa nafsunya bangkit kembali. Tiara memandang lidah Shania membelai ketiaknya dan menjilati keringatnya dengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap bulu ketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tiara menarik wajah Shania dan melumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shania dan Tiara melumat habis mulut Shania, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tiara menjalar dan menyelusup kemana suka.

Ia merasa jari-jari Tiara mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licin sekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shania merasa nyaman sekali. Tiara membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulut Shania dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yang biasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalam rengkuhan kenikmatan.

* * * * * * * * * * Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shania. Tiara mengangumi tubuh Shania yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan puting merah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padat dan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal ia sudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shania sangat iri melihat tetek Tiara yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya juga besar dan kehitaman tapi Shania tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila-gila ingin menikmati tubuh Tiara.

“Mbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?” Kata Shania, Tiara tertawa terkekeh-kekeh.
“Ini dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosok dengan minyak bulus jadi gede kayak gini” Jawab Tiara.

Ia tak memberitahu Shania bahwa dulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu.

“Memang bisa?”
“Entahlah, tapi kupikir gara-gara itu sih” mereka terkikik.
“Selesai mandi nanti kita kekamarku yuk” ajak Tiara.
“Ah nanti ada suami mbak” jawab Shania.
“Ah mungkin dia pulang malam hari ini” jawab Tiara.

Ia tak mau Shania mengetahui rencananya.

“Wah kamar mbak hebat sekali!” seru Shania kagum melihat kemewahan kamar Tiara.
Tiara tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar. “Heh kamu mau nonton film?” tanya Tiara.
Shania menggeleng. “Film?”
“Iya film yang hebat deh” kata Tiara lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikaki ranjang.

Tiara memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shania. Ia memeluk Shania dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shania melotot ketika melihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapa lelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol pria lainnya. Shania menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang dan hangat. Tiara merasa gadis itu gemetar.

“Lho…. kok.. kok…. ih mbak! Idiihh besar sekali mbak!” desis Shania. Tiara diam.
“Jijik mbak…. aduh jijik sekali!” seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itu menyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahap menjilatnya sambil merengek-rengek manja.

 Shania teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohari, ternyata ada wanita yang suka sekali dengan itu.

“Oh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!” kata Tiara.

Ia membelai tengkuk Shania. Shania bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontol yang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairan kental kedalam mulutnya lagi.

“Aduuhh… geli amat. Kok mau sih…” Suara Shania bergetar, diam-diam ia merasa ada perasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tiara membelai-belai tengkuknya.
“Mbak! Gila ihhh!”

Shania melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itu dan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuk sebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi.

“Wah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamu dimasuki kontol Shan… enaknya luar biasa!” Desis Tiara. Wanita itu juga merasa terangsang.

Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Di televisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka saling menjilat dan menyuapi satu sama lain. Shania mendesah, ia merasa meriang sekali dan memeknya banjir besar, Shania merasa terangsang bukan main melihat bagaimana kedua wanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompa mulut wanita-wanita itu.

“Mbaakk….. aduh mbak….. nggak tahan aku” Bisik Shania manja sambil menatap Tiara. Tiara melumat bibir gadis itu.
“Nafsu yaaa….?” Bisiknya.

Shania mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tiara lagi. Tiba-tiba pintu terbuka dan…..

“Wah ada tamu nih?” Suara besar dan berat menyengat Shania. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tiara tersenyum manis pada laki-laki itu.
“Oh mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shania” Kata Tiara sambil mendorong Shania mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampang seram dengan brewok diwajahnya. “Ini suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Dermawan” Kata Tiara.
“Oh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik begini” Kata Dermawan sambil menjabat tangan Shania.

Shania tersipu menundukkan wajahnya. Dermawan duduk diatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi.

“Lho kok putar film begitu?” Tanyanya berpura-pura. Tiara tersenyum, Shania tidak berani memandang, ia malu bukan main.
“Ya iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shania bagaimana punya laki-laki itu lho!” Kata Tiara manja sambil membantu melepaskan dasi Dermawan.
“Mbaakk….” Shania melotot.
“Lho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Dermawan orangnya sangat terbuka kok. Lagian kami sudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film itu” kata Tiara sambil menarik Shania supaya mendekat.

Kemudian ia memeluk Shania dan mencium mulutnya. Shania merasa malu dengan perlakuan Tiara tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tiara marah. Malah sekarang Tiara meremas buah dadanya dengan perlahan.

“Mbaaakk… malu ah” rengek Shania.
“Ah tidak apa-apa kok Shan, oom sudah biasa kok” kata Dermawan sambil menelan ludah.

Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shania lumer dimulutnya. Lalu Tiara membuka celana Dermawan dan sekaligus memelorotkan celana dalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shania menutup mulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tiara tersinggung.

“Nih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak”bisik Tiara sambil mengocok pelan kontol Dermawan dan Shania bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu seperti lendir memeknya.

Lalu ia terbelalak melihat Tiara dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shania bingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tiara. Dan Dermawan mendengus-dengus sambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shania gemetar menyaksikan pemandangan yang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begitu enaknya sampai Tiara mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?

“Mau cobain Shan? Enak banget….” Tiara menarik gadis itu supaya berlutut juga.

Dermawan berdiri dan tersenyum pada Shania. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agak keras itu. Tiara mengambil tangan Shania dan dipaksanya tangan itu menjamah kontol suaminya. Shania berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dan gundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapi ia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tiara, tapi sekarang malah Tiara memaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu.

“Nggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok….” bisik Tiara.

Kemudian Shania merasakan daging itu ditangannya, lumayan besar dan kenyal, ada lendir bening keluar dari ujung kontol Dermawan, dan Tiara mengusap lendir itu dan memasukkannya ke mulut Shania, Shania merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asin seperti pejuh Pak Mohari. Lalu Tiara mendekatkan mulut Shania sambil menekan kepalanya supaya mendekati kontol Dermawan. Dan entah bagaimana Shania pasrah saja ketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shania merasa daging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, seperti mengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnya merasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tiara juga ikut mengemut kontol Dermawan dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas.

“Mmhhh…. enak sekali mas….. ayo… cepat keluarkan…. aku sudah tak tahan lagi mas!” Desah Tiara, tangannya dan tangan Shania berebut mengocok kontol Dermawan.

Bola mata Dermawan terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnya sungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakan bagaimanapun jilatan dan kocokan Tiara jauh lebih luar biasa daripada Shania. Memang ia tak salah memilih gundik, Tiara memang sungguh luar biasa. Dan Dermawan menyadari selama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tiara sudah mengeluarkan keahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memek wanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahal dengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisa ejakulasi!

Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkan kadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalau dengan Tiara, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyang sebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tiara dapat dengan cepat membangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Dermawan bersyukur dengan Tiara, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untuk membuat wanita itu mencintainya.

“Oouughhhh…… aku…. aku… mau keluar sayyy!!!” seru Dermawan sambil berkelojotan.

Kontolnya dikemot oleh Tiara sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnya ngilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tiara mengeluarkan kontol Dermawan dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shania, gadis itu membiarkan kontol itu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnya berusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tiara mengemuti pelir Dermawan dengan keahliannya, tiba-tiba Dermawan mengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnya ternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkan cairan pejuh panas ke dalam mulut Shania, tubuhnya kejang dan ia membiarkan kontolnya diam dalam mulut gadis itu,

Tiara dengan sigap mengurut dan mengocok batang kontolnya, biasanya Tiara akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampai Dermawan berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shania baru pertama kali dan belum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yang dapat membuatnya mati kaku. Jadi Tiara membantu dengan mengurut batang kontol Dermawan dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa. Shania merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi ia mengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masuk ke dalam kerongkongannya. Jantungnya berdebar melihat Tiara dengan lahap menjilati setiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya.

“Telan Shan…….. enak kok…….. mmhhh…….. sllrrpp…….. mmmmhhhh…….” Tiara menjilati cairan kental keputihan itu.

Dan Tiara dengan cepat menelanjangi Shania, sehingga Shania benar-benar berlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulat dan bahkan kini Tiara berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shania. Shania hendak berpindah menggumuli memek Tiara tapi Dermawan masih membiarkan kontolnya dalam mulut gadis itu. Shania mengeluarkan kontol Dermawan dan menjilati pejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Dermawan, sekarang ia merasa suka dengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyata enak. Memek Tiara digesek-gesek di wajah Shania dan Shania menyelipkan hidungnya di memek Tiara serta mengendusnya,

hhhmmmm nikmat sekali baunya, pikir Shania. Ia menjulurkan lidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tiara yang sudah licin dan banjir. Tangan kanan Shania sibuk mengocok kontol Dermawan, tapi kontol itu lemas tidak bangun kembali. Dermawan meringis kesakitan karena kocokan Shania yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tiara, ia tidak mau melepaskan lumatan Tiara hanya untuk meringis, karena semua yang diberikan Tiara padanya adalah istimewa, dan belum pernah seumur hidupnya Dermawan mendapatkan wanita seperti Tiara.

Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Dermawan sibuk melumat mulut Shania, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tiara. Tapi kontolnya sudah tegang seperti baja kembali karena Tiara yang mengocoknya.

“Mau cobain rasanya memek Shania mas?” desis Tiara.

Dermawan mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia juga memimpikannya. Tiara menyuruh Shania memberikan memeknya tapi Shania malu, Tiara menariknya sehingga pelan-pelan Shania bergeser sampai tubuhnya di atas Dermawan dan ia menungging diatas wajah Dermawan. Tiara mendorong pantat Shania supaya turun dan pelan-pelan Shania menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasar Dermawan dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yang tidak terkirakan nikmatnya. Shania merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Dermawan menjelajahi bibir memeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

Tiara melihat lendir memek Shania berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersama Dermawan menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Dermawan dan laki-laki itu segera menikmati air liurnya. Tiara menjilati liang anus Shania dari atas dan lidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shania mengerang, merintih, menjerit histeris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas serta membuatnya ingin kencing. Shania merasakan memeknya benar-benar disedot oleh Dermawan sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Dermawan tidak menyadarinya. Tapi Dermawan tahu, Tiara pun tahu bahwa Shania sampai terkencing-kencing saking nikmatnya.

“Ayo Shan kencing saja Shan…. mmmhhhh… enak sekali kencing kamu” gerang Dermawan sambil memainkan itil Shania dengan lidahnya.

Shania tidak berdaya, dan ia tak kuasa menahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing atau menerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya.

“Aduh nggak kuat! Aaaaakkkkhhhhh…. mbaaaakkkkk!”

Shania merengek sambil mengocok kontol Dermawan yang licin karena lendir. Air seninya meyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajah Dermawan dan Tiara. Panas dan berbau pesing, Tiara memejamkan matanya dan membuka mulutnya sehingga air kencing Shania masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuh kedalam mulut Dermawan. Mereka meminum air kencing Shania yang masih perawan, air kencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Dermawan melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya.

Tiara malah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahi wajah Dermawan kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tiara sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainan dashyat malam ini dan sekarang terbukti. Dermawan sangat menyukai cairan memek Shania, ada bau khas seperti punya Tiara tapi ia tetap berpendapat cairan memek Tiara lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya-pun lebih keras daripada punya perawan ini. Dermawan merasa kontolnya sudah tak sabar lagi ingin mencari korban, Tiara ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akan bertahan lama jika dikulum oleh Tiara dan itu membuat Tiara terkikik kegelian.

“Takut? Hi hi hi…..”

Dermawan tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendir memek Shania. Ia menarik Tiara agar menggantikan Shania. Tiara beringsut. Ia berbisik pada Shania, gadis itu menggeleng.

“Coba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akan segera merasa enak….” kata Tiara.

Shania diam dan ia pasrah ketika Tiara pelan-pelan membaringkannya terlentang diatas ranjang yang besar itu. Dermawan bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh laki-laki itu, tapi remasan Dermawan ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadi Shania melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tiara, membuat wanita itu meringis. Tapi terhadap dirinya Dermawan lembut sekali bahkan Shania merasa enak sekali teteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tiara merenggangkan pahanya lalu memegang kontol Dermawan yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tiara menyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Dermawan menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tiara mulai menempelkan kepala kontol Dermawan kebibir memek Shania yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuk sesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shania.

“Aaakkkhhhhhh…… sakiiitttttt…… uuuuuhhhhhhh mbaaakkkkk…… ampuuuunnnnn…..” Shania merintih keras ketika kontol Dermawan mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak.

Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turun lagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yang diberikan Dermawan. Shania mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tiara memainkan itil Shania membuat Shania kejang-kejang, lalu Dermawan kembali menusuk, kali ini dengan cepat dan keras.

“Aduuuhhhhh….. ampuuunnnn!!!! Sakiiiittttt!!!! Mati aku mbaakkkk!!!!” teriak Shania histeris ketika merasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main dan panas merayapi tubuhnya.

Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakar punggung Dermawan, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shania dan Dermawan mulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shania, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekeliling memek dan perutnya.

“Tahan Shan, nanti kamu akan keenakan” bisik Tiara.

Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tiara ternyata benar. Shania merintih dan mengerang karena kenikmatan. Dermawan merasakan hal yang sama pada kontolnya. Ia merasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Dermawan benar-benar merasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Dermawan menghisapi tetek Shania bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Dermawan merasa menang karena ia membuat Shania menjerit dan berteriak histeris terus menerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tiara ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tiara menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Dermawan tahu itu hanya pura-pura saja, Tiara hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnya dijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildo karet yang berbuku-buku dan Dermawan melarang Tiara memberikan rintihan palsu sewaktu mereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidak dapat mengalahkan Tiara, selalu saja ia yang terjerambab kalah.

“Oommhhh…. aduh mbak, aku nggak sanggup lagi mbaak!” Shania mengeluh, tubuhnya bersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terus melandanya.

Tiara tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luar biasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Dermawan lalu beberapa saat jika ingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tiara segera menyelomotinya dengan kasar supaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tiara akan menyuruk kememek Shania dan menjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampai bersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shania, ia menghisap dan menelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Dermawan memasukkan kembali kontolnya dan memompa Shania kembali.

Tiara juga mencapai orgasme karena merasa terangsang dengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harus membersihkan semua cairan berahi Dermawan dan Shania dan itu membuatnya sangat terangsang. Lalu Tiara mengatur posisi Shania, ia menyuruh gadis itu menungging dan Dermawan menyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tiara menyurukkan tubuhnya kebawah Shania dan mengemut itil gadis itu sementara Dermawan memompa dengan irama pelan. Kali ini Shania terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyat daripada tadi.

Mulut Shania keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalam mulut Tiara dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya seperti membuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotan seperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shania seperti gila membenamkan wajahnya keselangkangan Tiara, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu dan menjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shania terasa asin dan tubuhnya terasa lengket oleh keringat.

“Sudah oom… ampun…. aduh….. nggak kuat lagi akuuuu!” jerit Shania dan ia terkulai menindih tubuh Tiara.

Dermawan mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shania mengalir cairan encer bening banyak sekali. Tiara dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Dermawan tak segan-segan menjilati liang anus Shania dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itu masih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tiara meremas kontol Dermawan sambil menghisap memek Shania. Kemudian Tiara cepat-cepat mencegah Dermawan ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shania. Dermawan sadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tiara tidak dapat membayangkan bagaimana Shania menerima tusukan kontol Dermawan diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraung-raung kesakitan luar biasa.

“Sekarang giliran aku manis….” desis Tiara. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat kedua kakinya terlipat kewajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shania segera menyelomoti liang memek Tiara dengan rakus. Ia mengocok memek Tiara dengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tiara dapat orgasme bila dengan Shania karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shania mulai menjilati liang anus Tiara sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Dermawan. Tiara menyelomoti dengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Dermawan mengenai giginya dan Dermawan senang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat.

Ia tahu keinginan Tiara, ia tahu Tiara ingin dipompa dan Dermawan senang sekali. Kontolnya tidak lemas karena ia sangat terangsang melihat keliaran Shania melumat liang anus Tiara dengan rakus, Dermawan sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punya nafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyata memang Tiaralah yang memegang peranan.

“Jilat dalamnya Shan,…. oooh bersihkan… terus…. aduh enak sekali Shan….. emut terus Shan” desis Tiara,

Shania menusuk-nusukan lidahnya diliang anus wanita itu dan sesekali lidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tiara tersentak-sentak. Kemudian Shania melihat Dermawan mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shania kaget ketika kontol Dermawan pelan-pelan menusuk keliang anus Tiara. Shania memandang Tiara, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tiara mengejan sedikit dan blup! Kontol Dermawan melesak masuk kedalam liang itu. Shania terpana ketika melihat Dermawan mengayun maju mundur memompa liang anus Tiara, pompaan yang berirama dan ada lendir yang keluar bersama pompaan kontol Dermawan.

“Shan, jilat Shan…. ooohhh…. terus…. aaakkhhhh….” Tiara merasa orgasme ketika melihat dengan tanpa merasa jijik Shania menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya dan bahkan Dermawan mencabut kontolnya dan Shania seperti sudah tahu langsung menghisap dan menyelomoti kontol itu. Shania sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tiara, apapun diminta Tiara ia akan melakukannya karena Shania sadar bahwa yang dikatakan Tiara selalu benar. Shania merasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali ia memaksa kontol Dermawan dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairan lengket keputihan itu.

Dermawan beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yang mencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shania yang membuatnya mengurungkan ledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tiara, sedangkan Tiara sudah lebih dari dua kali orgasme karena perbuatan Shania didepan matanya daripada pompaan kontol Dermawan di duburnya. Ia menarik Shania dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shania membuka mulutnya dan membiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tiara mengalir jatuh kedalam mulut Tiara. Tiara merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka saling membelit dan melumat. Tiara menggoyang berirama dan membuat Dermawan menggerung seperti binatang terluka.

“Aaarrggghhhh….. gilaaaa!!!!” teriak Dermawan.
“Cepat, cepat!” teriak Tiara sambil mendorong Shania. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shania segera menyurukkan wajahnya dan sedikit terlambat ketika Dermawan memuntahkan pejuhnya didalam anus Tiara tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shania segera menangkap dengan mulutnya.

Dermawan memompanya dalam mulut Shania seperti orang kesetanan dan cairan yang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shania kali ini menelan cairan itu, sebagian disekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tiara dan wanita itu menjilat cairan itu dengan lahap. Dermawan berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang sekarat. Ia benar-benar puas. Shania menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleher kontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yang membuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Dermawan tumbang diatas ranjang.

“Aku bisa gila….” desahnya.

Dermawan memandang Shania yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tiara, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tiara dengan lidahnya dan itu membuat Tiara menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shania seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shania tidak perduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. Shania betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tiara berkilat karena jilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shania puas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tiara dengan penuh cinta ketika wanita itu menurunkan kakinya.

Tiara merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnya keram, tapi ia tersenyum letih pada Shania. Ia membelai kepala gadis itu kemudian mereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Dermawan dengan mulut ter-nganga mendengkur seperti babi. “Aku cinta sama mbak” bisik Shania. Tiara tersenyum lembut. “Aku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatku” bisiknya. “Jangan tinggalkan saya mbak” Tiara menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shania menyusupkan kepalanya di payudara Tiara dan tidur lelap dalam kelelahan…..

* * * * * * * * * * “Wah segar sekali kamu kelihatannya?” kata Tiara sambil duduk disamping Shania.

Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tiara sambil memandang kolam renang. Shania terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shania benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada.

“Wah mbak juga kelihatan cantik sekali!” seru Shania.
 “Melamunin semalam ya?” bisik Tiara. Shania mencubit perut Tiara, membuat wanita itu tekikik geli. “Aaahh mbak! Malu nih….” rengek Shania.
Tiara tertawa lagi. “Kok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannya” kata Tiara sambil menyerahkan kopi susu kepada gadis itu.
“Tapi kan nggak kayak semalam mbak. aku malu dan risih sama mbak….” kata Shania, ia menghirup kopi susunya.
Tiara tersenyum sambil minum juga. “Aku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekali kamu juga merasakan kesenangan denganku” jawab Tiara.
“Tetap aku merasa malu, sebab itu kan suami mbak”
“Jangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kita berdua Shan. Dermawan memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?”
“Tapiii….ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suami orang dan bersama pula!”
“Ah mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagia” kata Tiara, ia membelai rambut Shania. “Apakah kamu tidak bahagia?”
“Aku bukan main bahagianya mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harus berterima kasih pada semua kebaikan mbak” jawab Shania.
“Jangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karena kejadian semalam keperawananmu hilang” kata Tiara sambil memandang Shania.
“Ah buatku tidak masalah mbak, yang penting enaaakkk….hi hi hi” Shania merasa lucu sendiri, ia sama sekali tidak perduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Aku malah merasa aneh dan sangat ketagihan…
“Masih sakit?” tanya Tiara.
Shania menggeleng. “Nggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kok Oom Dermawan udah menghilang sepagi itu?” tanya Shania.
“Oh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagi sudah pergi kalau mau keluar negeri” kata Tiara.
“Wah enak dong ya, mbak pasti sudah sering keluar negeri”
“Yah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatan” jawab Tiara tertawa
“Nanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-sama” lanjutnya.
“Wah tadi pagi mulutku baunya bukan main mbak! Semalam ketiduran padahal belum gosok gigi” kata Shania sambil cekikikan.
Tiara tertawa juga. “Aku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi….”
Tiara membuat wajahnya terlihat lucu. “Tapi sekarang sudah nggak lagi kan?” lanjutnya sambil membuka mulutnya dan mendekatkan pada Shania. Shania mencium mulut Tiara dan melumatnya.
“Mmmhhh…. sedaapp…..” desisnya.
“Udah ah, ntar kelihatan sama si mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman begini” kata Tiara.
Mereka tertawa. “Apakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?” tanya Tiara ingin tahu.

Shania memandangnya sambil menggeleng.

“Entahlah, aku malah kepengen lagi mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapa menjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsang setiap kali membayangkannya?”

Shania memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengan tubuh telanjang bulat diatas tubuh Tiara. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bau sekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendir Tiara atau bahkan miliknya sendiri. Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketika membersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktu kena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannya semalam.

Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasuk katagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anus sesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luar biasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali dari sini.

“Heh! Melamun lagi!” seru Tiara.
“Oh eh…ih mbak ngagetin melulu!”
“Mikirin apa lagi?” tanya Tiara.
“Mikirin semalam kok mbak mau saja sih ditusuk di pantat?” tanya Shania.
Tiara mengerling pura-pura marah. “Kamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan….”
“Aaaahhh… ayo dong mbak” rengek Shania.
Tiara mencubit pipi gadis itu. “Ya mau saja, wong buatku enak sekali kok” jawab Tiara.
“Lho? Kan sakit mbak?”
“Ndak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatku” jawab Tiara seenaknya. “Dulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sana”
“Astaga! Mbak ih, jorok…”
“Enaakk…. kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorok” Tiara tersenyum genit.
“Sekali-kali aku pengen juga dientot disana mbak” kata Shania tiba-tiba.
“Nanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot dari depan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa mati keenakan Shan!” kata Tiara.
Shania melotot. “Gila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?”
 Tiara baru mendengarnya lagi. “Iya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambil nungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku dan mulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasa seperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, di memekku, diketekku, ditetekku, diperut, dikaki, dipaha, diwajah serta dirambutku!” Cerita Tiara kebablasan.

Shania tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tiara begitu berpengalaman dengan laki-laki.

“Emang dulu mbak…..”
“Ya aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapi penghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan aku selalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasi yang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatang peliharaan mereka…..” cerita Tiara lagi.

Shania tegang mendengarkan.

“Dan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahiku besar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudah dientot enak dapat uang pula!” lanjut Tiara.
“Mbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan mbak jadi pelacur lho!” seru Shania.
“Sssttt…. pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!” desis Tiara.
Mereka tertawa. “Tapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan dulu dan sekarang lebih enak lagi. Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamu yang…….”
Tiara menggantung kalimatnya.

“Yang apa?”
“Ah nggak jadi deh…..”
“Aaahhh ayo doongg……”
“Yang siap dientot dan mengentot!” bisik Tiara.

Shania menjerit sambil mencubiti Tiara, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tiara memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shania juga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?

“Ehh mbak, nanti malam kalo Oom Dermawan pulang kita lakukan hal yang semalam yuukk…?” kata Shania memecahkan lamunan Tiara.
“Ahh…. kamu masa sih tadi malam belum puas??”
“Aaahhh…. ayo doongg…. mbak khan Shania mau ngobain dientot lewat anus, seperti mbak semalam?” “Memangnya kamu udah siap dientot dipantat?? tanya Tiara meragukan perkataan Shania.”
“Aku khan mau nyobain mbak, abis Shania lihat semalam mbak sangat keenakkan sihhh…..?”
“Shan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Dermawan? Khan kontolnya Oom Dermawan besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohhh…..!!!?” kata Tutu meyakinkan kesungguhan Shania.
“Engga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus mbak bisa masuk di anus Shania engga bisa??”
“Yaa bisa sihhh….., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kali masuk wahhh…. sakitnya bukan main lohh…?”
“Tapi abis itu enak khan mbak??”
“Iya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebih sakit ke anus?” “Pokoknya Shania mau nyoba, tapi mbak ajarin yaa….!!!” Shania memohon ke Tiara.
“Yaa udah bersiaplah nanti malam?”

* * * * * * * * * * Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shania dan Tiara keduanya menunggui Dermawan di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil.

“Shan itu Oom Dermawan pulang?” teriak Tiara.
“Ayu mbak kita kedepan membukakan pintu?” kata Shania sambil beranjak dari duduknya.

Lalu Tiara-pun mengikutinya dari belakang. Setelah Dermawan memarkir mobilnya di garasi, Tiara menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tiara. Sesampainya disana Dermawan langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu Shania menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Dermawan mandi, Tiara menyetel film biru. Shania semakin terangsang melihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, puting susunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tiara yang sangat berpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu. Perlahan-lahan Tiara mulai melepaskan pakaian Shania.

Gadis itu malah ikut membantu mengangkat pantatnya ketika Tiara melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskan pakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berdua telanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka saling melumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat mereka lebih terangsang. Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Dermawan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuan tersebut menyambut Dermawan, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shania dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut.

Sementara itu Tiara sibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tiara mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Dermawan mencium belakang telinga Shania dan lidahnya bermain-main di dalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Shania mengeliat-geliat. Mulut Dermawan berpindah dan melumat bibir Shania dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu dan menggelitik-gelitik lidahnya.

“Aaahhh…, hmmm…, hhmmm”, terdengar suara menggumam dari mulut Shania yang tersumbat oleh mulut Dermawan.

Mulut Dermawan sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shania turun ke leher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Dermawan, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut. Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara gadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shania yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dada Shania yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Dermawan yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap.

Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Shania yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Shania menerima permainan Dermawan yang lihai itu. Badan Shania terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,

“Sssshhh…, ssssshh…, aahhhh…, aaaahhhh…, ssshhhhh…, sssshhhh…, aduh Mbak aku engga kuat, ssshhh….., enaak….. Oom”,

mulut Dermawan terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. Badan Shania benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Tiara terus bermain-main di paha Shania yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Shania. Segera badan Shania tersentak dan,

“Aaaaaahhhhh…, oooohhhh….., Mbaaak…….!”,

mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tiara yang mengelus-elus bibir kemaluannya. Muka Shania yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Tiara memegang kedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shania yang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shania merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Dermawan yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Sambil memegang kedua paha Shania dan merentangkannya lebar-lebar, Tiara membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shania. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shania hanya bisa memejamkan mata,

“Ooohhhhh…, nikmatnya…, ooohhhh!”, Shania menguman dalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Ooooohhhh…, hhhmmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. “Mbaaakk……, aku tak tahan lagi…….!”, Shania memelas sambil menggigit bibir.

Sungguh Shania tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Tiara dan Dermawan yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidak perduli dengan keadaan Shania yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan mereka terlihat amat senang melihat Shania mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Shania, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Shania dengan sangat bernafsu. Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Dermawan dan Tiara ini, Shania benar-benar sangat kewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup.

“Mbaakk……, aaakkhh…, aaaakkkhhhh!”, Shania mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Tiara untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tiara keras-keras.

Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tiara dan laki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Tiara melepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shania yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shania dari atas ranjang dan kemudian Dermawan disuruhnya duduk ditepi ranjang. Kemudian kedua tangan Tiara menekan bahu Shania ke bawah, sehingga sekarang posisi Shania berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Shania sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Dermawan telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekati kontol laki-laki tersebut.

Tanpa melawan sedikitpun Shania memasukkan kepala penis Dermawan ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungil Shania, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shania mulai mengulum alat vital Dermawan dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu merem melek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shania yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shania hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Shania menyapu kepalanya. Sementara itu Tiara sibuk menjilati buah peler laki-laki tersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu.

Beberapa saat kemudian Dermawan melepaskan diri, ia mengangkat badan Shania yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shania terletak di tepi ranjang, kaki kiri Shania diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Dermawan mulai berusaha memasuki tubuh Shania. Tangan kanan Dermawan menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluan Shania, hingga Shania merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Dermawan terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shania yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Dermawan yang besar itu.

Pelahan-lahan kepala penis Dermawan itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan Shania. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shania merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Dermawan memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Dermawan menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shania, rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Shania yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Shania. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shania terdengar jeritan halus tertahan,

“Aduuuh!…, ooooooohh.., aaahh”,

disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shania mencengkeram dengan kuat pinggang Dermawan. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Shania, hingga badannya mengejang beberapa detik. Melihat keadaan itu, dengan sigap Tiara langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shania yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibuk menyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yang kanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shania semakin menggeliat. Kemudian Tiara pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antara pedih dan nikmat.

Dermawan cukup mengerti keadaan Shania, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shania untuk bisa menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Shania mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudian Dermawan mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shania berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shania mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shania berusaha bernafas dan ?.. :”

“Oooomm….., aaaahh….., ooohh….., ssshh”, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas. Shania sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Dermawan menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Dermawan menarik penisnya keluar, Shania merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Dermawan menekan masuk penisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shania terjepit pada batang penis lelaki itu dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Shania menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shania dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tiara dan menarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shania bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shania selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Dermawan yang super besar itu. Shania menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Dermawan terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Lalu tiba-tiba Shania merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shania merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dan kemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil,

“Ooooh…, ooooooh…, aaaaaahhhhhhhmm…, ssstthh!”.

Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan….., akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Shania terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Dermawan tetap terjepit di dalam liang vaginanya.

Selama proses orgasme yang dialami Shania ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Dermawan, dimana penisnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shania dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shania, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaan Dermawan seakan-akan menggila melihat Shania yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Dermawan membalik tubuh Shania yang telah lemas itu hingga sekarang Shania setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjang dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelaki tersebut. Kemudian Shania merasakan Dermawan menjilati liang anusnya dari atas dan lidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shania mengerang, merintih, menjerit histeris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shania yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tiara tidur dibawah Shania kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmat yang tak terbayangkan.

Dermawan melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu dan bagian anus Shania sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yang telah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shania dan diputar-putar di sana. Shania terus mengeliat-geliat dan mendesah.

“Jaaannnggaaann jaaannggaaan… aaaddduuhh… aadduuhhh… saakiitt… saaakiitt…!”

akan tetapi Dermawan tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya. Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Dermawan sambil memegang dengan tangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anus Shania yang telah basah dan licin itu. Kemudian Dermawan membuka belahan pantat Shania lebar-lebar.

“Aaaaduhh, janggaaann! Sakkiiit! Aaammmpuuunnn, aammppuunn! Aagkkh….., Sakiiittt…. Mbaakkk….” Dermawan mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkan kontol itu terjepit dalam anus Shania. “Tahan Shan, nanti kamu akan keenakan” bisik Tiara. Memang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa…. sayang….! Sementara itu Shania menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tiara beralih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya ia gunakan untuk mengocok di vagina Shania agar rasa sakitnya hilang.

“Aduuuh…… sakkiiiit…… Oomm….” ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya.
“Tenang sayang nanti juga enggak sakit” jawab Dermawan sambil terus melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shania .
“Aduuuhh……. sakiiiitt……….” jerit Shania. Bersamaan dengan itu kontol Dermawan amblas dalam lobang anusnya yang sempit.
“Tenang Shan, nanti enak deh.. aku jadi ketagihan sekarang” kata Tiara sambil mengelus rambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya.
“Tuuh… kan sudah masuk tuh… enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini” kata Tiara. Shania diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Dermawan mulai mengocok kontolnya di pantat Shania.

“Pelan-pelan, Oomm… masih sakit” kata Shania pada Dermawan.
“Iya sayang enaakk… niiihhh… seempiiiitt…” kata Dermawan.

Tiara yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocok liang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shania semakin menggelinjang nikmat. Shania meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Dermawan untuk terus mengocok di anusnya. Shania terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besar Dermawan masuk ke anusnya.

“Aaauuugghh…! Saaakkiiit….! jerit Shania ketika Dermawan mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anus Shania. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shania terkulai lemas tertelungkup di atas badan Tiara kelelahan. Secara berirama Dermawan menekan dan menarik penisnya dari lobang anus Shania, dimana setiap kali Dermawan menekan ke bawah, penisnya semakin terbenam ke dalam lobang anus gadis itu. Benar-benar sangat menyesakkan melihat penis besar hitam itu keluar masuk di anus Shania. Terlihat kedua kaki Shania yang terkangkang itu bergetar-getar lemah setiap kali Dermawan menekan masuk penisnya ke dalam lobang anusnya. Dalam kesakitan itu, Shania telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Dermawan duduk melonjor di ranjang dengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shania, sehingga badan Shania tertidur terlentang di atas badan Dermawan dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebar oleh kedua kaki Dermawan dari bawah dan Tiara mengambil posisi di atas Shania untuk menjilati vaginanya.

Tiara mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shania, yang sekarang semakin basah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shania mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Dermawan yang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga dengan perlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shania berangsur-angsur hilang diganti dengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya. Shania mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggarap lobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenap kesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deras ke dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagian tubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakuler melandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas,

Shania terlentang pasrah seakan-akan pingsan dengan kedua matanya terkatup. Melihat keadaan Shania itu semakin membangkitkan nafsu Dermawan, lelaki tersebut menjadi sangat kasar dan kedua tangan Dermawan memegang pinggul Shania dan lelaki tersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan

“Aduuuh… aaauuggghhhh…!” keluh Shania merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yang besar itu.

Kedua mata Shania terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnya diikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Dermawan pada anusnya. Dengan buasnya Dermawan menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shania yang sempit itu. Dermawan merasa penisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shania merasakan penis lelaki tersebut seakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatu perasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumber dari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Shania tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapi badannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidak dapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya.  Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang,

“Aaahh… ssshhh ooouusshh!”

sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasa menjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupa suatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali disertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelam mencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shania keluar suatu erangan,

“Aaaaduhh… laaagii… laaagiii… oohhhh… ooohhh…” Hal ini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluar masuk anus. Tiara yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangat terangsang melihat ekspresi muka Shania dan tiba-tiba Tiara merasakan bagian dalam vagina Shania mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya. Gerakan kaki Shania disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan pada penis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar. Tiba-tiba Dermawan merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tiba-tiba mendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecah dan …..

“Aaaduuuh…….!” secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shania dan pinggul Dermawan terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalam lobang anus Shania, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anus gadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shania merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yang tak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shania terlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua.

tags #ceritadewasa, #ceritamesum, #ceritangentotjanda, #ceritangentotpembantu, #ceritangentotperawan, #ceritapanas, #ceritapemerkosaan, #ceritaseks, #ceritasekssedarah, #ceritaselingkuh, #ceritasex, #ceritaskandal, #ceritatante, #cewektelanjang, #fotobugil, #tantegirang

Subscribe to receive free email updates: