Cerita Sex Threesome Aku, Istriku dan Sahabat Wanitanya

Cerwasa.com Menyajikan cerita seks dari seorang suami yang ketika pulang mendapati istrinya yang lagi bercinta dengan teman wanitanya. Bukannya marah kepada istri tapi dia malah ikut bergabung untuk melakukan seks threesome yang sangat dahsyat. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini. .....

SELAMAT MENIKMATI !!!


http://www.cerwasa.com

Rasanya badan pegal dan capek sekali seharian kerja, berangkat jam 6 dan harus pulang jam 6 pula, untung sudah punya istri yang masih dengan setia mau nyiapin makan sama kopi. Padahal dia pasti capek juga seharian kerja. Mungkin jam 8 kita berdua udah tertidur. dan lewat deh ngetot-nya.

Seperti saat ini aku mgerasain kok ngantuk banget ya. Mumpung direksi pada lagi rapat, kesempatan nih aku pulang kerumah, tidur barang 1-2 jam sempatlah pikirku, langsung deh aku ngacir kerumah yang jaraknya cuma 15 menit dari kantor, dan sesampai dirumah aku memang punya kebiasaan masuk dengan diam diam tapi bukan ninja ya bro. Maklum daerah pinggiran mesti cek dulu, daripada keduluan rampok ato maling.

Dengan perlahan kubuka garasi rumah,

“lho kok ada motor istri yach… padahal kan dia tadi ngantor, turunnya aja sama-sama, cuti juga nggak. Kalau sakit pasti dia telpon aku, nggak mungkin berani pulang sendiri”. Perasaan curiga mulai muncul, pengalaman selingkuhku justru mengganggu aku nih.

Garasiku memang langsung mengarah ke ruang tengah, kulihat Tas istriku, ada diatas meja kerjaku, blazer kantornya tergeletak di sofa, bau asap rokok menusuk hidungku dan kulihat diatas meja masih menyala rokoknya dan sepertinya baru saja dihisap. Darahku mendidih sampe ke ubun-ubun. Gila istriku yang kucintai, dan perhatian ternyata berselingkuh. Perasaan marah bercampur sakit hati membuat aku hampir saja menendang pintu kamarku.

“Mundur 7 langkah, maju 7 langkah” ini aku lakukan karena aku teringat sebuah buku filsafat cina yang intinya bisa meredakan samarah. Emosiku akhirnya bisa terkendali, memang aku tak mundur tapi mengambil nafas biar hatiku tetap dingin. Aku hanya mundur beberapa langkah, mengambil sebuah kursi bar yang cukup tinggi. Kubawa ke depan pintu kamarku, aku mengintip lebih dulu melalui ventilasi kamar tidurku.

Ohhh… Tempat tidurku terhalang oleh dinding kamar mandi, hanya seperempat kasur saja yang
terlihat, dan disitu hanya terlihat sepasang kaki mulus istriku saja,

“ah ternyata istriku sedang istirahat sendiri” aku agak sedikit lega.

Sesaat aku diam dan berniat ingin turun, tetapi tiba-tiba ada sebuah kaki yang merayap menaiki kaki istriku, kagetku membuat aku hampir melompat dari kursi. Untung aku bisa bertahan dan terus kuperhatikan sepasang kaki lainnya itu. “mulussss?” lho kok……..?

Aku turun dari kursiku pelan-pelan mengembalikan kursi itu ketempat semula, berjalan kearah
garasi, kusamati disitu, sepatu lelaki yang ada hanya milikku. Dan beberapa sepatu perempuan, yang aku sendiri tak hafal dengan sepatu-sepatu istriku. Aku jadi penasaran kudekati lagi kamar tidurku, beruntung sekali aku selalu merawat engsel pintuku yang ternyata tak terkunci, karena memang tak ada orang lain dirumah kami.

Suara TV dikamarku menysamarkan bunyi handle pintu. Posisi tempat tidurku memang sedikit salah sehingga jika pintu kamar terbuka pasti tak akan kelihatan dari arah kepala tempat tidur.Aku berjalan perlahan seperti ninja menyusuri dinding kamar mandi, dan berhenti setelah aku bisa melihat bayangan tempat tidurku dari cermin rias. Aku kembali terkejut melihat badan istriku yang sudah tak menggunakan apa-apa lagi, sementara di atasnya menindih seseorang yang sangat aku kenal,

“Sahabat istriku…?” yang juga tempat curhatku kalau lagi marahan sama istriku. Kawannya sekantornya yang selama ini aku percayakan jika istriku ingin berlibur keluar kota. Seseorang yang juga aku senangi. Dia selalu membayangi pikiranku yang kadang ngeres tetapi sedang bosan dengan paras istriku.

Wanita itu keturunan cina yang kulitnya sedikit lebih putih dari istriku. Pernah sekali pas istriku sedang keluar kota dengannya aku minta difotoin dia kalau lagi tidur sama istriku, sayanknya sampat saat ini nggak pernah dituruti sama istriku.

Renata memang seorang perempuan keturunan cina, dengan paras yang cAnitak. Tingginya juga
seukuran istriku, hanya saja pantatnya yang padat sudah agak turun karena sudah punya 2 anak. Kok bisa punya anak ya padahal kehidupannya dengan suami yang aku dengar dari cerita istriku sih biasa saja, malahan cukup dingin, Renata sering iri dengan gaya kami yang masih seperti orang pacaran. Tapi hari ini aku nggak percaya kalau ternyata istriku dan Renata bukan hanya bersahabat tapi menjadi sepasang kekasih.

Lamunanku buyar karena kudengar suara desahan istriku, istriku dan Renata masih melakukan French kiss, aku sedikit cemburu karena kulihat begitu semangatnya istriku membalas setiap ciuman yang diberikan Renata, mereka terlihat sangat mahir memainkan lidahnya, posisi Renata yang diatas istriku, selalu menggoyangkan pinggulnya mengikuti irsama tangan kanan istriku yang memegang pantatnya, sementara tangan kiri istriku mengelus leher dan punggungnya, desahan istriku terdengar lagi saat Renata memegang puting istriku.

Sekarang bukannya aku marah sama istriku, malahan aku jadi ikutan horny, aku justru
menikmati pertunjukan itu. Renata mulai melepas gaya frenchkissnya dan mulai menjilati leher istriku, ketelinga istriku, mengulumnya, membuat istriku mendesah dan memperkuat pelukannya pada Renata, aku tau rasanya saat itu, karena itu juga yang aku lakukan ke istri saat foreplay. Renata mencium istriku dan menjilati leher istriku seperti menikmati eskrim. Renata mulai turun ke arah payudaraistriku yang sekel itu. Diremasnya kedua bukit dengan begitu halusnya, sambil menjilati dan mengulum putingnya, istri menggelinjang dan begitu menikmatinya, aku merasa bersalah pada istriku karena sering melewati bagian ini,

“Aah yank” desahan itu keluar dari mulut istriku, bukannya “ah mas”.

Kumajukan badanku karena kau semakin horny dan supaya bisa melihat jelas tanpa lewat cermin lagi, paras istriku begitu menikmati gigitan-gigitan yang diberikan Renata. Kedua tangan istriku mencengkram bantal tanda ia begitu menikmati, kaki istriku melingkari badan Renata yang terus bergoyang menekan daerah selangkangan istriku. Renata kembali memberikan kenikmatan pada istriku dengan menciumi daerah pusar dan terus turun ke daerah memek istriku. Renata menjilati seluruh daerah itu membuat badan istriku terkadang sontak kejang, memang perempuan bisa saling mengerti bagian itu. aku benar-benar menikmati badan Renata yang selama ini hanya bisa aku bayangkan, posisi Renata yang meninggung dengan parasnya yang mengarah ke badan istriku membuatnya badannya semakin sexy, pantatnya yang putih.

Kepingin rasanya aku melompat dan menjilati pantat itu. payudaraRenata memang sudah tak kenceng lagi, maklum sudah punya anak, tetapi dengan putingnya yang kecil itu begitu berbeda dengan milik istriku yang sedikit besar. Desahan istriku semakin sering, tanda istriku hampir mencapai klimaksnya,

Renata sekarang mengambil posisi 69. Dasar aku masih sayank sama istriku, aku nggak tega kalau istriku juga harus menjilati Memeknya Renata. Nekat aku berdiri di depan Renata yang masih asyik memainkan memek istriku. Seketika Renata terhenyak, aku tau pasti dia kaget gak karuan, badannya gemetar ketakutan, aku sengaja memasang paras angker dulu, padahal aku juga lagi horny banget.

“Mas” suara istriku juga bergetar,

Keduanya terduduk, istriku benar-benar salah tingkah, sedangkan Renata menutupi payudaradan memeknya, tapi nggak mungkin bisa kan, aku masih bisa melihat bentuk badannya yang putih mulus itu, sedikit lebih putih dari istriku, udah dari sononya emang putih sih Renata, aku berpura-pura mengambil nafas panjang. Kudekati mereka berdua. Paras istriku menunduk, pasti ia takut aku gampar.

“Mas maaf, ampun mas”.

Kini aku duduk mendekati istriku, duduknya semakin meringkuk, sedangkan Renata semakin
gemetaran. Kupandangi paras mereka berdua, keduanya nggak berani menatapku, wow ternyata sandiwaraku berhasil, padahal aku sedang menikmati dua paras cAnitak dihadapanku, seseorang yang aku cintai dan seseorang yang aku senangi dan selalu mengganggu hayalanku. Perlahan kuambil selimut dan kututupi kedua badan perempuan ini. Renata ingin berdiri, pasti dia akan mengenakan bajunya.

“Renata, kamu duduk dulu, aku mau ngomong” cegahku. Suaraku sengaja kutinggikan biar lebih
gimana gitu.
“sudah berapa lama, ini terjadi ma?”
“B..ba..baru kali ini mas” jawabnya.
“Tapi kalian kan sering pergi liburan sama-sama, malahan seringnya satu kamar, biarpun perginya rame-rame”
“benar mas, baru kali ini kita keterusan sampe gini” sementara istriku diam mematung

“dulu pernah pegangan tangan aja waktu tidur bang” sambut Renata.
“Ma, aku lebih suka kamu jujur”
“Iya mas, dulu waktu liburan ke Bali yang berlima, kami cuma ciuman mas, nggak lebih”

Aku jadi teringat istriku pernah cerita kalau suami Renata saat itu sedang selingkuh, dan dia curhat ke istriku sampe nangis, mungkin itu yang buat Renata jadi nggak mesra lagi sama suaminya. Dan berita terakhir Renata pingin cerai dari suaminya.

“ya udahlah, mau diapain lagi, aku tau kalian juga saling menyayangi”

“Renata.. kamu tega benar sama aku, padahal aku percaya sama kamu, dan aku suka kok sama kamu”
“Maaf ya bang” balas Renata

Parasku tida lagi angker, aku sebenarnya dari tadi sudah mau tersenyum, dan saat kupandangi
paras istriku dan aku tersenyum padanya, istriku meraih tanganku dan mencium tanganku tanda menyesal. Kupegangi parasnya dan aku mencium kening istriku.

Dasar akunya dari tadi emang udah horny, langsung kucium istriku, kulumat bibirnya dengan gaya French kiss yang tadi aku saksikan. Ciuman kali ini benar-benar beda banget, istriku membalasnya seakan ia benar-benar mau menyenangkan aku. Ia menarikku dan meluruskan badannya keranjang, sedangkan Renata masih terduduk disamping kami, kupegang payudaraistriku, dia membalasnya dengan menggenggam Mr.Pku, istriku mulai melucuti baju kemejaku dan melemparnya ke lantai, aku bergerak menciumi leher istriku, wangi badan Renata, masih melekat di badan istriku membuat aku semakin semangat mengulum telinganya.

Istriku mendesah, “oh mas, aku sayank mas” sambil tanganya mulai membuka celanaku, sekilas kulihat Renata mulai bergerak menyingkir, dia pasti ingin memberi kesempatan kepada kami berdua. Tanganku langsung menangkap tangannya, tanda ia tak boleh pergi dari situ.

“Bentar bang, aku ke WC dulu ya”

Kuteruskan melumat bibir istriku dan mengulum payudaraistriku, sementara istriku telah melepaskan seluruh pakaianku. Kudengar dari kamar mandi ada suara air tanda Renata telah selesai,

“Ma panggil Renata” kataku.

Saat Renata keluar dari kamar mandi istriku memberinya kode untuk duduk kembali ketempat semula. Renata menurutinya. Kutangkap tangan Renata, tetapi aku masih asyik mencumbu istriku, kuremas tangan Renata layaknya orang berpacaran, Renata menanggapinya dia juga meremas tanganku dengan kedua tangannya, dan mencium tanganku seperti mengucapkan terima kasih karena tak seperti yang dia takutkan tadi. Istriku juga melihat kejadian itu, lau ia bergeser menaikkan kepalanya ke atas paha Renata sambil menarikku untuk mengikutinya. Posisi ku sungguh diuntungkan aku berciuman dengan istriku dengan tangan kananku memegang tangan Renata sementara tangan kiriku mengelus payudaraistriku, sementara parasku menempel ke payudaraRenata.

Sesaat kemudian istriku melepaskan ciumanku, lalu memandangku kemudian ke arah Renata, aku menatap parasnya dan paras Renata, Renata membalas kami berdua sambil tersenyum. Coba kukecup pipi Renata. Dia agak menghindar, aku tau ia pasti merasa tak enak dengan istriku.

“Jadi gimana kita ma?” tanyaku.
“Ya mas kan sayank sama aku, senang sama Renata juga dari dulu sampe minta fotonya yang habis mandi kan? Hi..hi..”
“Terus?” tanyaku lagi
“Aku sayank sama mas dan Renata, Renata sayank juga sama aku, Cuma nggak tau dianya dengan mas”.

“Kalau mama selingkuhnya sama laki-laki sih aku pasti bisa marah besar, tapi kalau sama Renata, sih aku nggak masalah ma, rasa senangku bisa berubah jadi sayank juga kan”
“Makasih ya mas, aku beruntung punya suami kayak kamu mas, kamu gimana Renata?”
“Entah kenapa kok aku jadi sayank ya sama kalian berdua, aku ijin ya selingkuh sama suami kamu?” jawabnya. Istriku tersenyum.

Lalu kucium lagi istriku sambil merangkul Renata, tak lama istriku mendorongku keatas aku pun
mencium Renata yang membalasku, kali ini aku merasakan double French kiss yang luar biasa. Ciumannya lebih liar saat istriku mulai meremas dan mencium payudaraRenata, sementara satu tangannya membelai kontolku. Lidah kami seperti dua orang satria yang berperang memainkan pedang dengan liukan-liukan jurus mematikan, jurus kami yang selalu saja seri membuat aku melakukan manuver untuk melakukan jurus lainnya, kini kuarahkan lidahku ke arah leher Renata.

“Ohhhhh…” desahannya yang tertahan mengisyaratkan manuverku cukup berhasil, pingin rasanya kubuat tanda disitu, tapi ah, ntar jadi berabe, jadi kelanjutkan dengan arah telinga, kujilati dan kukulum bagian bawah telinganya, Renata menyerah tak berkutik, gigitan kecil dan remasan istriku ke payudaranya tentu membuatnya semakin tak berdaya.

Renata yang tadi duduk kini bergAnita menjadi terlentang, sementara istriku mendapatkan daerah bawah aku mendapatkan badan bagian atas Renata, bentuk payudaranya yang masih agak kencang pertanda punya Renata jarang disentuh sama suaminya, putingnya mengeras, nafsu Renata mulai naik. Istriku mulai meraba paha dan daerah selangkangan Renata, akupun mulai memijat payudara Renata, meremasnya dengan lembut, Renata membalasnya dengan menyentuh memek, masih agak kaku, pasti karena ada istriku, walau begitu dengan sentuhan jari-jarinya membuat memek ku mengeras dengan gagahnya.

Dengan ujung jari telunjuknya ia memainkan milikku dari atas ke arah pangkal, menyentuh buah Zakar-ku hingga menggenggamnya, dan kali ini kekakuannya telah hilang. Kuarahkan milikku mendekati parasnya, Renata ngerti maksudnya, dia mulai mendekatkan bibirnya ke milikku. Lalu dimasukkan milikku mulutnya, hangat, rasanya ingin kudorong penuh ke mulut kecilnya itu, tapi kubiarkan saja Renata yang mengontrol permainan itu, saat itu aku sudah bergAnita arah memegang payudaraistriku, Renata ternyata lebih mahir dalam jurus ini dibandingkan istriku. Sedotannya serasa ingin mengeluarkan cairanku.

Hal itu aku jadi semangat meremas pantat istriku. Dengan jariku kusentuh bagian clitorisnya,
mengusapnya, istriku menggelinjang dan membuka selangkangannya, sesekali kumasukkan jariku ke dalam lubang memek-nya, cairan pelumas dari lubang itu kumanfaatkan untuk mengusap clit-nya. Istriku juga mulai tinggi nafsunya, sesaat dia mau mencium memek Renata, tapi kucegah dengan merubah posisinya, aku masih nggak tega, kalau istriku yang harus melakukan itu dengan orang lain, sekalipun itu Renata.

Maka kurelakan melepas jurus Renata ke Kontolku dan kuarahkan ke bibir istriku, dan sebenarnya aku kepingin sekali mengenal Renata lebih jauh, apalagi Memeknya Renata yang selama ini aku idam- idamkan. Renata berbalik ke arah selangkangan istriku, aku langsung berbaring dan mulai mencium Memeknya.

Kukeluarkan jurus pembangkit selera, bentuk Renata ternyata lebih tembem dari punya istriku, dengan jariku kubuka daerah clitorisnya, kuhujamkan lidahku disitu, gerakan naik turun lidahku membuat pinggul Renata bergerak naik turun melawan arus lidahku, sementara Renata juga melakukan hal yang sama ke istriku, apa yang dilakukan Renata ke istriku sekarang juga kulakukan kepadanya, saat ia memasukkan lidahnya ke lubang istriku, kulakukan hal yang sama kepadanya, parasnya menunjukkan ekspresi senang, istriku yang tengah mendapatkan kenikmatan itu pun memasukkan hampir seluruh Kontolku kemulutnya, Luar biasa memang segitiga yang kami lakukan ini,

Aku benar-benar hampir mencapai klimaks dan sebelum itu terjadi kulepaskan sedotan istriku, kali ini kubiarkan Renata, merayap menaiki badan istriku. Renata menjilati badan istriku, menggigit payudaranya, dan mencium bibir istriku. Gerakan pinggul mereka pasti membuat clitorisnya saling bergesekan, aku bergerak ke arah mereka, kuangkat kaki istriku, aku benar-benar kepingin melakukan penetrasi kepada mereka berdua, posisi Renata yang menungging bisa membuat aku lebih cepat keluar, makanya kupilih istriku, Renata member ruang dan memajukan badannya kedepan sehingga payudaranya tepat diatas paras istriku.

Aku langsung menancapkan milikku ke lubang istriku, desahan istriku mulai terdengar ngos-ngosan, sambil ia mengulum payudaraRenata dan memainkan Clit Renata dengan jarinya, hingga akhirnya kurasakan hawa hangat pada kontolku, istriku sudah mencapai titik puasnya. Kucabut penetrasiku pada istriku setelah rasanya pijatan dari dalam lubang istriku mengendor, kali ini kuarahkan memek ke lubang milik Renata. Mulai kumasukkan milikku ke arahnya.

“Acchhh……” kudengar desahan Renata, lubang itu agak lebih sempit dari milik istriku,
“Yank, punya suamimu lebih gede” kudengar bisikan mesra Renata ke istriku.

Istriku tersenyum ke arahku dan mengangguk pertanda aku bisa melanjutkan lagi. Kali ini aku mencoba memasukkan hampir seluruh Memek ku, badan Renata kejang, antara menahan sakit atau keenakan, entah karena ia jarang disentuh sama suaminya atau memang punya suaminya lebih kecil aku nggak mau mikir, karena aku kembali menikmati pantat indah Renata, sekaligus rapatnya lubang miliknya membuatku harus bisa bertahan lebih lama, apalagi posisinya yang menungging itu. istriku membantu dengan mencumbu Renata.

Sedotan pada payudaraRenata dan gerakanku membuat Renata mulai mendesah, nafasnya mulai memburu, untung saja mereka sudah melakukan lebih awal sehingga aku bisa bertahan, hingga akhirnya Renata mendesah,

“Bang terus Bangggg……, lebih kencang lagi banggggg…….”

Aku tau Renata sudah hampir mencapai klimaks, aku juga hampir sampai, maka gerakan maju mundurku kali ini lebih kencang, Sampai akhirnya, dari kontolku keluarlah semburan, yang memuntahkan hampir berjuta pasukan kecil ke sarang musuh yang bisa mematikan semua benda milik lelaki setelah keluar dari lubang itu. kurasakan pijatan otot dari arah dalam lubang ke milikku, benar-benar kenikmatan yang luar biasa.

Renata perlahan melepaskan milikku yang hampir mati layu, dan merebahkan dirinya disamping istriku setelah mengecup bibir istriku, aku yang kecapean juga ikut merebahkan diriku, kuambil posisi ditengah-tengah mereka. Istriku langsung memelukku dan menciumku,

“Makasih mas, kamu suami terbaik di dunia, aku nggak rela orang lain merebut mas”, “Tapi kalau buat Renata aku rela kok, kalau nAnita Renata cerai sama suaminya, mas kawini aja dia, kan enak kita bertiga bisa serumah, aku sayank sama mas”

Renata pun langsung memelukku juga, dia mencium bibirku

“Bang, aku juga mau jadi istri kedua kamu, pasti kamu bisa adil ke kita berdua, makasih ya bang, Love u honey”.

Aku hanya tersenyum toh kalau aku kawini mereka berdua kan nggak masalah, kita masing-masing sudah punya gaji, Cuma saja apa kata orang-orang kalau aku punya 2 istri yang serumah dan sekantor lagi mereka. Bodoh ah, yang aku tau aku capek sekali, dan mataku langsung terpejam lagi, ketiduran.
Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: