Cerita Seks Kami Menikmati Kebebasan Ngesek Setiap Hari

Dalam keluargaku, hanya ada dua anak, yaitu aku dan adik perempuanku. Namaku adalah Soma, anak SMK yang hiperseks dan emutin empik seorang perempuan. Dan Aku punya adik perempuan yang namanya Dara. Bapak ibuku termasuk orang yang kaya. Jika aku kelas 3 SMK, Dara adikku saat ini duduk di kelas 3 smp mau lulus. Dara di sekolahnya termasuk gadis yang sangat populer karena kecantikan dan keseksian bodinya. Aku sebagai kakaknya sering membayangkan jika adikku yang ayu dan seksi itu aku entotin sendiri. Pasti kontolku bakalan terpuaskan.



Adikku Dara memang merupakan kebanggaan papi mami. Selain itu dia juga sangat pandai membawa diri di hadapan orang lain sehingga semua orang menyukainya. Namun di balik semua itu, sang “Princes” ini sebetulnya tidaklah baik. Kepribadiannya yang manis ternyata hanya topeng belaka. Di dunia ini, hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu akan kepribadiannya yang sesungguhnya. Kedua bapak ibukuyang sibuk berbisnis selalu menitipkan rumah dan adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau aku kesulitan untuk mengendalikan adikku yang nakalnya bukan main. Di hadapanku, dia selalu bersikap membangkang dan seenaknya. Bila aku berkata B, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Pokoknya aku sungguh kewalahan untuk menanganinya.

Hingga suatu hari, semuanya berubah total. Hari itu adalah hari Minggu yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Pada hari minggu itu, seperti biasanya kedua bapak ibukusedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka akan kembali pekan depannya. Kebetulan, aku dan adikku juga sedang liburan panjang. Sebetulnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar kota, tapi bapak ibukumelarang kami ikut dengan alasan tak ingin kami mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi aku tahu kalau dia sangat kesal di hatinya. Setelah mereka pergi, aku mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang kubeli. Tapi kebaikanku tak dihiraukannya. Bukan saja dia tidak menerima kebaikanku, bahkan dia membanting pintu kamarnya di depan hidungku.

Inilah pelecehan terakhir yang bisa kuterima. Akupun menonton film sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan bagaimana caranya membalas perbuatan adikku. Di rumah memang cuma ada kami berdua. Orang tua kami berpendapat bahwa kami tidak memerlukan pembantu dengan alasan untuk melatih tanggung jawab di keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku nanti malam dan memfoto tubuh bugilnya waktu tidur dan menggunakannya untuk memaksa adikku agar menjadi adik yang penurut..

Akhirnya saat jam menunjukan pukul dua belas malam. Aku pun mengedap di depan pintu kamar adikku. Daun telingaku menempel di pintu untuk memastikan apa adikku sudah tertidur. Ternyata tidak ada suara TV ataupun radio di kamarnya. Memang biasanya adikku ini kalau hatinya sedang mengkal, akan segera pergi tidur lebih awal. Akupun menggunakan keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu kamar adikku. Kebetulan aku memang mempunyai kit untuk itu yang kubeli waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku membawa sebuah kamera digital.

Di kamar adikku, lampu masih terang karena dia memang tidak berani tidur dalam kegelapan. Akupun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Ternyata malam itu dia tidur nyenyak sekali terlentang dengan mengenakan kimono merah. Tanganku bergerak perlahan dan gemetar menyingkap kimononya ke atas. Dia diam saja tidak bergerak dan napasnya masih halus dan teratur. Ternyata dia memakai celana dalam warna jingga dan bergambar bunga matahari. Pahanya begitu putih mulus dan aku pun bisa melihat ada bulu-bulu halus menyembul keluar di sekitar daerah empiknya yang tertutup celana dalamnya.

Kemudian aku menggunakan cuter dan memotong kimononya sehingga akhirnya bagian susunya terlihat. Di luar dugaanku, ternyata dia tidak mengenakan kutang. Susunya tidak begitu besar, mungkin ukuran A, tapi lekukannya sungguh indah dan menantang. Jakunku bergerak naik turun dan akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam hidupku. Kemudian dengan gemetar dan hati-hati, aku pun membuka celana dalamnya. Adikku masih tertidur nyenyak sekali..

Sesuatu yang indah segera terpampang di hadapanku. Sebuah hutan kecil yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya, aku hanya bisa berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di tanganku. Aku lupa akan maksud kedatanganku kemari. Sebuah pikiran setanpun melintas, kenapa aku harus puas hanya dengan memotret tubuh adikku. Apakah aku harus melepaskan kesempatan satu kali ini dalam hidupku? Apalagi aku masih perjaka tulen. Tapi kesadaran lain juga muncul di benakku, dia adalah adik kandungku., Kedua kekuatan baik dan jahat berkecamuk di pikiranku.

Akhirnya, karena pikiranku tidak bisa memutuskan, maka aku membiarkan “kontolku” di selangkangku memutuskan. Ternyata beliau sudah tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi setanlah yang menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun menggunakan kain kimono yang sudah koyak untuk mengikat tangan adikku ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya bebas agar tidak menghalangi permainan setan yang akan segera kulakukan. Adikku masih juga tidak sadar kalau bahaya besar sudah mengancamnya. Aku pun segera membuka bajuku dan celanaku hingga bugil bulat.

Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah empik adikku. Ternyata daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan dan klitoris adikku. Adikku masih tertidur nyenyak sekali, tapi setelah beberapa lama, napasnya sudah mulai tak beraturan. Semakin lama, empik adikku semakin basah dan merah merekah. Aku sudah tak tahan lagi dan mengarahkan kontolku ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang pergelangan kaki adikku dan membukanya lebar-lebar.

Ujung helm kontolku sudah menempel di bibir empik adikku. Sejenak, aku ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku dan membuang jauh kegalaunku. Dengan sebuah sentakan aku mendorong pantatku maju ke depan dan kontolku menembus masuk empik yang masih sangat rapat namun basah itu. Sebuah teriakan nyaring bergema di kamar,” Aaaggh, aduh….uuuhh…. KAK , APA YANG Kakak LAKUKAN??” Adikku terbangun dan menjerit melihatku berada di atas tubuhnya dan menindihnya. Wajah adikku pucat pasi ketakutan dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berontak mencoba melepaskan diri. Begitu juga kakinya menendang mencoba melepaskan diri dari pegangannku. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku akan berubah pikiran. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah empiknya. Ternyata empik adikku mengeluarkan darah, darah perawan.

Aku tidak memperdulikannya semua itu karena sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan dalam hidupku menyerangku. Kontolku yang bercokol di dalam empik adikku merasakan rasa panas dan kontraksi otot empik adikku. Rasanya seperti disedot oleh sebuah kompresor. Aku pun segera menggerakan pinggulku dan memompa tubuh adikku. Adikku menangis dan menjerit:” Kakkk…. Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..ka k…lep..as..kan.. …sakitt!!” “Kak..Adii.... aduh…empikku!!! ” Aku tidak tahan dengan rengekan adikku, karena itu aku segera menggunakan celana dalam adikku untuk menyumpal mulutnya sehingga yang terdengar hanya suara Achh..Ughh..Ahhh saja.

Setelah sekitar 10 menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis dan mengeluh kesakitan. Darah masih belepotan di sekitar empiknya tapi tidak sebanyak tadi lagi. Aku sendiri memejamkan mata merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku semakin cepat menggerakan pinggulku karena aku merasa akan segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku menampar pantat adikku agar dia menggoyangkan pinggulnya sambil berkata:’ Siapa ayahnya nanti?” Sebuah dilema muncul di pikiranku. Haruskah aku menembak di dalam rahim adikku atau di luar? Aku tahu kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil? Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupu n menembakan cairan hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami dan darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami dan sprei tempat tidur.

Aku masih membiarkan kontolku di dalam empik adikku selama beberapa menit. Kemudian setelah puas, aku mencabut keluar kontolku dan tidur terlentang di samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku dan membuka sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan kemarahannya. Namun di luar dugaanku, dia tidak menyerangku. Adikku hanya diam membisu dan masih menangis. Posisinya masih tidur dan membelakangiku. Aku melihat tangannya menutup dadanya dan tangan lainnya menutup empiknya. Dia masih menangis tersedu-sedu.

Setelah semua kepuasanku terlampiaskan, baru sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau bapak ibuku tahu. Hidupku bisa berakhir di penjara. Kemudian pandangan mataku berhenti di kamera. Sebuah ide jenius muncul di pikiranku. Aku mengambil kameranya dan segera menjepret tubuh bugil adikku. Adikku melihat perbuatanku dan bertanya: ”Kak , Apa yang kau lakukan? Hentikan, masih belum cukupkah perbuatan setanmu malam ini? Hentikan…” Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Namun aku sudah memperkirakan ini dan lebih sigap. Karena tenagaku lebih besar, aku berhasi menjauhkan kameranya dari jangkauannya.

Aku mencabut keluar memori card dari kameranya dan berkata: “Kalau kamu tidak mau foto ini tersebar di website sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiakan dari semua orang. Kamu juga harus nuruti apapun perintah kakakmu ini mulai sekarang.” Wajah adikku pucat pasi, dan air mata masih berlinang di pipinya. Kemudian dengan lemah dia mengganggukkan kepalanya. Sebuah perasaan ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu, kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang bandel ini. Kemudian aku memerintahkan dia untuk membereskan ruangan kamarnya dan menyingkirkan sprei bernoda darah dan potongan kimononya yang koyak. Selain itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari lemari obat ibuku. Terakhir aku menyuruhnya segera mandi, tentu saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk menggunakan tangannya untuk membersihkan kontolku dengan lembut.

Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selama seminggu kepergian orang tuaku, aku selalu ngetotin adikku di setiap kesempatan yang ada. Pada hari keempat, adikku sudah terbiasa dan tidak lagi menolakku biarpun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kali kita bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam selama seminggu ketika aku menonton TV, aku menyuruh adikku untuk mengemut kontolku. Dan aku selalu menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya dan menyuruhnya untuk menelannya.

Ketika bapak ibuku kembali minggu depannya, aku memerintahkan adikku untuk bersikap sewajarnya menyambut mereka. Ketika ibuku memeluk adikku, aku melihat wajah adikku yang seperti ingin melaporkan peristiwa yang terjadi selama seminggu ini. Aku pun bertindak cepat dan berkata pada ibuku: “Ibu, gimana kabar ibu?.” Ibuku tersenyum mendengar ini dan tidak mencurigai apa pun. Tapi adikku menjadi sedikit pucat dan tahu makna dari perkataanku. Dia pun tidak jadi berkata apa-apa.

Sejak itu, setiap kali ada kesempatan, aku selalu ngetotin adikku. Setelah dia lulus SMK, kami masih melakukannya, bahkan sekarang dia sudah menikmati permainan kami. Terkadang, dia sendiri yang datang memintanya. Ketika dia lulus SMA, aku yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama dipindahkan ke Semarang. Aku meminta bapak ibuku untuk mengijinkan adikku kuliah di Semarang. Tentu saja aku beralasan bahwa aku akan menjaganya agar adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Bapak ibuku setuju dan adikku juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Semarang dan menikmati kebebasan kami. 


Tags:cerita Seks, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: