Cerita seks Kunikmati Keperawanan Pembantuku

Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Aku lelaki paruh baya, usiaku sudah 35 tahun, jabatanku sebagai kasubag di salah satu instansi pemerintah, aku sudah beristri dan sudah punya dua orang anak, yang besar laki-laki umur 9 tahun dan yang kecil perempuan baru berumur 5 tahun. Istriku bekerja di suatu perusahaan terkenal di kota Bandung, yang bergerak dalam bidang koveksi. Sampai saat ini Kehidupan rumah tanggaku harmonis dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan isteriku tidak ada hambatan sama sekali.

www.cerwasa.com

Karena kami merasa bahwa dengan kesibukan kami berdua, yang selalu pulang sore hari, sehingga anak-anak menjadi kurang terurus. Menyikapi itu semua kami akhirnya sepakat untuk mencari seorang pembantu yang nantinya bisa mengurus segala keperluan anak kami.

Akhirnya di saat kami mengambil cuti, kami berangkat ke daerah Jawa Tengah, desa tempat kelahiran kami untuk mencari seorang pembantu. Dengan dibantu saudara dan tetangga kami mendapatkan seorang pembantu, Tinah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih lugu. Wajahnya biasa saja, tidak cantik juga tidak jelek, kulitnya bersih dan putih terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi sangat ideal dengan postur tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar,

Cerita seks ini terjadi, berawal ketika aku pulang kantor sekitar jam 2 siang, padahal aku biasanya aku pulang jam 5 sore. Namun karena saat itu dikantor lagi sepi pekerjaan, maka aku putuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Anak dan istriku saat itu sedang ada di rumah salah satu saudara kami yang rumahnya sekitar 2 jam perjalanan dan pulangnya sekitar abis magrib.

Begitu sampai di rumah aku segera berganti pakaian dengan hanya memakai kaos dan celana pendek. Saat aku duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televise, datanglah Tinah dengan membawa segelas minuman hangat dan cemilan dalam piring. Namun pada saat dia akan memberikan padaku, entah karena tergesa-gesa tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk, gelas terlempar ke tempatku, dan dia ambruk tepat di pangkuanku, dan secara tidak segaja kepalanya membentur keras senjata pribadiku. Spontan aku mengerang kesakitan dengan kaos dan celana pendekku yang sudah basah tersiram minuman hangat itu, dengan wajah ketakutan dia segera bangun untuk mengambil gelas yang jatuh sambil meminta maaf yang tidak henti-hentinya.

Awalnya karena keterkejutanku aku akan marah, namun begitu melihat wajahnya yang lugu amarahku jadi langsung reda, sambil meringis kesakitan aku memegangi senjata pribadiku aku berkata,Baca juga Cerita Sex ABG Kugauli Ibu Guruku yang Hipersex

“Sudahlah Tin, Cuma anuku ini jadi sakit sekali”, sambil menunjuk senjata pribadiku.
“Ma…maaf pak, sekali lagi tinah mohon maaf…” katanya dengan wajah memelas.
“Aduh Tin, ini bener-bener sakit sekali..” kataku
“Tinah harus bagimana pak, untuk menebus salah saya harus bagimana?” kata tinah
Aku berdiri sambil berganti kaos oblong, menyahut sambil iseng,
“Aduh… Ini musti diurut Tin!” pancingku (karena di otaku sudah ada niat yang ngeres)

Dan yang membuatku kaget adalah jawaban Tinah yang menurutku karena keluguannya itu.

“Aduh bagaimana ya pak… Tinah panggilin bik Poniah tukang urut itu ya pak.” Jawabnya.
“Eh… Gak usah Tin, ntar kan sembuh juga” jawabku pasang perangkap.
“Baiklah pak, biar cepet sembuh nanti saya urut sendiri aja yah, tapi Sum bersihin ini dulu Pak!” jawabnya.
“Kena juga kamu Tin,” begitu kataku dalam hati,

Akal busukku akhirnya mengena juga, bergegas ku langsung masuk kamar, perasaanku saat itu kaget bercampur senang, karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama kemudian dia mengetuk pintu,

“Pak, Mana Pak yang harus saya urut..?” katanya.

Tanpa menjawab aku langsung rebah dan membuka celana pendekku, dengan senjata pribadiku yang masih tertidur. Sum segera memghampiriku dan berkata.
“Pake apa pak ngurutnya?” tanyanya.

“gak usah pake apa-apa Tin, langsung aja kamu urut ya, tapi pelan-pelan aja biar gak sakit” jawabku.

Lalu dia meraih batang kontolku perlahan-lahan, namun karena yang memegang saat itu perempuan yang masih begitu muda, perlahan-lahan senjata pribadiku bereaksi menjadi membesar dan tegang.

“Lho Pak, kok jadi tambah besar dank eras gini?” tanyanya kaget.
“ya itulah Tin kenapa aku kesakitan, itu karena anuku membengkak, makanya mesti cepet-cepet diurut biar cepat sembuh dan gak membengkak lagi”. Kataku memasang perangkap.

Karena dia gadis yang masih lugu maka caranya mengurut ya asal saja, akibatnya senjataku menjadi perih. Maka aku usulkan,

“Tin…coba kasih ludahmu aja biar nggak seret dan sakit”, kataku sedikit tegang.
Dengan kepolosannya dia bergerak mendekati senjata pribadiku, diludahinya ujung senjata pribadiku, dan mulailah dia mengurut senjataku perlahan-lahan dengan gerakan turun naik. Aku menjadi menggeliat merasakan nikmat yang luar biasa. Namun aku tidak mau hanya sampai disitu, Kemudian kuangkat pantatku, sampai ujung senjata pribadiku menyentuh bibirnya,

“Langsung dimasukin aja ke mulutmu tin…, biar nggak sering kamu meludah, dan bengkaknya bisa segera hilang!” perintahku seenaknya.

Tanpa banyak pertanyaan, perlahan dia memasukkan senjata pribadiku ke dalam mulutnya, kepalanya kutuntun naik turun, awalnya karena keluguan dan kepolosannya serta ketidaktahuannya, senjata pribadiku sering tersangkut giginya, tapi lama-lama dengan bimbinganku atau mungkin dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku semakin merasakan sensasi nikmat yang membuatku mengerang kenikmatan.

“Akh.. uh.. uh.. hah..” begitu eranganku

Kulumannya semakin lama semakin nikmat, Akhirnya kumuncratkan semua air maniku. “Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhh..” Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia kaget dan berusaha untuk melepaskan kontolku dari mulutnya, namun karena kepalanya ku tekan dengan kuat, akhirnya dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing kepalanya agar tetap tidak melepas kulumannya. Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya,

“Apa sudah sembuh sakitnya?, apa masih sakit Pak?” tanyanya polos, dengan wajah yang kecapekan, bibirnya yang basah oleh spermaku, dan sedikit berkeringat. Saat aku tersenyum memandang tubuh Tinah yang begitu menggairahkan, kemudian aku menghampirinya,
“Aku sudah sembuh Tin, bahkan tubuhku menjadi segar bersemangat, sekarang gentian kamu yang aku urut ya, biar badan kamu juga bisa seger kaya aku sekarang”
“Nggak Pak, saya nggak sakit kok pak…, tapi apa bener sih Pak kalo diurut kayak tadi, bisa bikin seger? tanyanya polos.

Aku hanya menjawab dengan anggukan dan sambil meraih pundaknya lalu kucium keningnya, lalu turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta juga tidak membalas (karena dia tidak tahu untuk apa aksiku tadi). Namun ku merasakan badannya bergetar dan keringat dinginnya mulai keluar, ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak hingga tinggal celana dalam dan Bh-nya saja.Baca juga Cerita Sex Tante Nikmatnya Ngeseks Saat Hamil

Tiba-tiba dia berkata, “Lho pak kok semua baju saya dilepas semua, untuk apa pak? Khan Tinah jadi malu Pak, terus nanti kalo Ibu pulang gimana Pak?” tanyanya dengan wajah ketakutan.
“Lho kan kamu juga tahu, kalau Ibu pulangnya abis magrib, sekarang baru jam tiga, jadi kita masih bisa bikin segerin badan”, jawabku dengan gairah nafsuku yang semakin memuncak.

Lalu karena takut dia berubah pikiran, maka segera bh dan celana dalamnya kubuka, begitu juga aku, senjata pribadiku sudah mulai berdiri lagi. Dia kurebahkan di sofa, lalu aku berjongkok di depannya lalu dia mulai membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang mengitari liang nonoknya.. Seakan kehausan, aku langsung menjilat bibir luar nonoknya, tanpa ampun aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam,

“Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh..” rintihnya

Klitorisnya basah mengkilat, berwarna merah jambu. Aku hisap, hanya kira-kira 5 menit kulumat liang nonoknya, lalu dia mengerang sambil menggeliat dan kedua pahanya menjepit kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam.

“Akh.. akh.. uahh..” teriakan panjang disertai mengalirnya cairan nikmat dari dalam liang nonoknya.
“Gimana Tin, enak?” tanyaku menggoda.

Dalam keadaan mata terpejam dia menganggukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya. Segera kulumat bibirnya, dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia mulai menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa ketagihan dan mulai memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, senjata pribadiku sudah tegang.

Kemudian kuraba liang nonoknya yang ternyata sudah berlendir dan basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan senjata pribadiku ke dalam liang kenikmatannya, dia kaget dan berteriak kecil,

“Aauu.. sakit Pak!”.

Namun teriakannya itu tidak kuhiraukan, bahkan kuteruskan tusukanku sambil berkata, “Sakitnya gak lama kok Tin, bahkan nanti rasanya lebih enak dari urutan tadi, sakitnya jangan dirasain..” bujukku.

Tanpa menunggu jawabnya segera kutancapkan kontolku, awalnya dia meronta karena kesakitan dan mulai menangis. tapi aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku mulai mengayun keluar masuk kontolku. 10 menit kemudian aku merasakan denyutan di dalam liang nonoknya, kehangatan cairan liang nonoknya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah membantu senjataku memompa nonoknya.

Tak lama kemudian, tangannya merangkul erat leherku, kakinya menjepit pinggangku, pantatnya naik turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang,

“Pak.. Pak terus.. Pak.. Tinah mau kencing Pak.. ahh..” geli juga aku mendengar daia berkata mau kencing, namun erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan..
“Tinnn.. akh.. akh.. akh..” tanpa dapat kutahan lagi, kusemprotkan semua maniku dalam liang nonoknya, sambil kupandangi wajahnya yang polos. Aku lemas, dia pun lemas.

Begitu tenagaku sudah pulih, aku segara berdiri untuk mandi, sementara Tinah masih tergolek ketiduran di sofa yang ada bercak darah, darah perawan pembantuku.
Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: