Cerita Sex Bercinta dengan Sekretaris di Kamar Hotel

Jabatanku saat ini  Kacab perusahaan bonafid disalah satu kota di Jawa Barat. Aku mempunyai seorang sekretaris, Friska namanya. Dia sudah bekerja denganku kurang lebih 3 tahun. Friska sangat menarik, dandanannya cukup simple, namun suka pakai rok mini. Dalam pekerjaan sehari-hari aku dan Friska hanya membicarakan tugas (tidak lebih), tidak pernah melenceng ke hal-hal yang berbau porno, meskipun aku sering mencuri-curi ke arah pahanya yang mulus, yang tidak tertutup oleh rok mininya.
http://www.cerwasa.com/2016/12/cerita-sex-bercinta-dengan-sekretaris.html
 
Dalam keseharian aku sering menghampiri meja kerjanya untuk membicarakan masalah tugas, dan Friska dengan santainya membicarakan serius tanpa gaya merayu atau apapun. Paha yang terlihat pun tidak berusaha untuk ditutupinya. Pokoknya hubungan aku dengan dia hanya sebatas teman kerja.

Kegiatan rutinku, aku kerap kali berkunjung ke kantor pusat Jakarta untuk urusan rapat ataupun hal lain. Namun kejadian minggu malam yang lalu adalah hal yang benar2 berbeda. Undangan rapat tiba dari kantor pusat memanggil kami untuk rapat membicarakan krisis, karena cukup penting maka kantor pusat memanggil beberapa staff cabang  termasuk Friska. Aku menyampaikan ke Friska bahwa dia harus hadir di Jakarta, meskipun sebenarnya aku memang rencanakan untuk hadir juga disana. Jadi aku pesan  tiket pesawat secara terpisah.

Saat  pada hari H, aku langsung check in di counter Garuda, saat boarding sengaja aku masuk pesawat paling akhir, sambil jalan di gang aku lihat penumpang dan terlihatlah Friska yang sudah duduk di kursi dekat jendela. Saat aku dating menghampiri, dia terkaget akan kehadiran aku, aku sudah langsung bilang bahwa aku putuskan untuk ikut rapat. Dalam perjalanan hampir dua jam lebih aku hanya bisa melihat Friska dari belakang, karena aku dapat kursi paling belakang sedangkan Friska ada ditengah. Tiba di Jakarta, langsung aku menghampirinya dan aku jelaskan bahwa aku memutuskan untuk ikut karena pentingnya rapat ini, dan Friska pun hanya mengangguk sembakri menjawa,

“Ya Pak” dengan  nada pelan, dengan muka yang terlihat sedikit kebingungan.

Dari bandara kami langsung menuju ke Hotel tempat kami meeting. Karena waktu yang mepet sekali, kami langsung menuju ke Ballroom tanpa check in kamar terlebih dahulu. Rapat pun berjalan serius dan berakhir sore hari. Aku  menyuruh Friska untuk check in ke resepsionis. Friska sempat menanyakan apakah aku mau check in kamar juga. Aku jawab nanti aku susul setelah aku menemui atasan di Ballroom itu.

Selesai berbicara dengan atasan, aku menuju ke resepsionis, dari jauh aku melihat Friska dari belakang dengan rok mininya serta terlihat pahanya yang mulus yang sudah aku hafal benar, dan aku pun mendekati Friska dan dia langsung bertanya, 

“Bapak mau check in juga?”
“Kamu check in saja dulu, aku nanti nyusul”.

Selesai check in Friska menuju lift untuk menuju ke kamar, aku mengikutinya sambil membicarakan tentang rapat tadi. Friska pun masuk lift, memasukkan kartu kamarnya dan menekan tombol lantai 17. Didalam lift aku mengatakan bahwa aku hanya pesan satu kamar, dan aku tanya Friska apakah dia keberatan kalau aku tidur di kamar berdua, aku tambakhkan pula alasan untuk menghemat anggaran kantor cabang. Kulihat Friska terlihat bingung namun juga tidak bilang keberatan ataukah tidak, sambil jalan ke kamar yang dituju.
Begitu di kamar aku langsung aja menaruh koper kecil aku, dan Friska sempat menanyakan apakah aku serius mau sekamar dengannya. Maka aku tegaskan lagi bahwa kalau hanya untuk tidur semalam  kan gak ada masalah. Akhirnya sambil terheran-heran Friska mengiyakan, tanpa menyebut syarat-syarat. Kami pun mulai melepaskan baju kantor kami, aku lepas di kamar dan Friska masuk ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus membersihkan diri.

“Karena badan sudah terlalu penat  kita gak usah keluar makan, kita order room service saja” kataku.
Friska pun langsung setuju. Sambil menunggu makanan room service aku pun mandi, namun dalam otak ku hanya terbayang tubuh Friska yang mulus. Setelah kami makan, Friska kembali ke kamar mandi, aku santai sambil nonton TV di kamar, duduk di sofa yang empuk. Interior hotel yang indah membuat suasana sangat romantis, ditambakh sinar lampu yang pas.

Friska pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster warna kuning muda, sambil berbaring di ranjang dan ikut menonton TV. Dia menanyakan mengenai posisi tidur, karena ranjang yang kami dapat adalah King Size Bed. Aku hanya bilang aku biasa di sebelah kanan, Frika setuju. Friska tidak menyukai tayangan di TV, jadi dia bilang mau tidur. Sepuluh menit kemudian aku pun ke tempat tidur, lampu aku redupkan, dengan hati yang berdebar.

Sudah sepuluh menit berlalu, aku tidak bisa langsung tidur. Aku lihat Friska pun beberapa kali ganti posisi. Yang pasti Friska belum bisa tidur juga, mungkin karena ada aku di sebelahnya. Hingga setengah jam pun berlalu, kondisi masih sama, dia masih gelisah, begitu pula dengan aku. Melihat lekukan tubuh Fara yang memunggungi aku membuat pikiran aku menjadi tak karuan. Sempat terbesit dalam pikiran aku untuk bisa melihat dan menikmati apa yang berada di balik daster berwarna kuning muda itu.

Sampai akhirnya tanpa sadar aku elus daster Friska dari belakang. tiba-tiba Friska membaklikkan badannya. Aku pun sedikit terkejut karena aku pikir dia akan marah, namun ternyata tangannya malah membaklas elusanku. Maka aku langsung mendekat dan memeluknya. Tidak ada tanda penolakan sedikitpun dari Friska, malah dia pun memulai gerakan erotisnya, seperti sudah terangsang dengan sentuhan lembut aku di tubuhnya. Perlahan tanganku turun hingga sampai berada di pahanya yang mulus. Paha yang sering aku tatap di kantor itu sekarang ada di genggaman. Jari-jari  jahilkupun mulai meraba hingga ke arah vaginanya.

Tak lama aku langsung perlahan melepas dasternya yang lembut. Dan sekali lagi Friska pun tidak menolaknya, bahkan wajahnya dibuat manja, sehingga aku tak tahan untuk menciuminya. Lepaslah sudah daster kuning muda itu, lalu dari wajah aku turun menciumi leher, pundak, dan akhirnya menuju ke ketiaknya yang bersih tanpa bulu, Friska pun mulai mengerang-ngerang nikmat. Puas menciumi ketiaknya, aku menuju payudaranya yang kencang pertanda birahi. Beberapa saat kemudian aku menelusuri perut hingga tiba di vagina nya yang masih tertutup CD.

Perlahan sambil menikmati lekukan bodynya, aku melepas CD nya dan melihat vaginanya yang ditumbuhi rambut halus yang natural. Foreplay pun dimulai dengan berbagai posisi dan bertaburan kecupan dari masing-masing. Aku sadar bahwa Friska pun sudah siap setelah meraba vaginanya yang sudah licin sekali. Kulepas busana secepat kilat. Aku dekatkan penisku ke vagina Friska yang berbaring di ranjang. Friska pun langsung menggenggam peniskudan menuntunnya menuju ke lubang vaginanya yang sudah sangat basah itu.

Akhirnya….“ Bleesss…” 

Penisku yang keras secara perlahan namun pasti masuk ke vaginanya. Wow, beberapa kali goyangan di vagina yang licin sempat membuat penisku hampir muncrat, namun aku pakai teknik untuk mengurangi ketegangan. Beberapa posisi sudah aku coba sampai pada saatnya Friska yang sedang berada diatas aku tiba2 mengerang dan aku  rasakan vaginanya makin kuat menjepit penis aku. Dan saat itulah Friska mengalami orgasme yang hebat. Tak tahan aku melihat sambil merasakan vaginanya yang sedang berkontraksi, aku pun mencapai puncaknya, namun aku langsung sadar bahwa aku belum pernah membicarakan soal kontrasepsi yang dia pakai, dengan berat hati aku langsung angkat sedikit tubuh Friska agar penis keluar segera dari vaginanya, dan muncratlah sperma aku di tubuh dan perut Friska.

Tanpa ijin aku langsung tarik daster kuning mudanya untuk mengelap sperma yang berceceran, dai pun tidak sempat komplain karena dia masih lemas dan penuh kepuasan. Dalam hitungan menit, kami berdua tertidur lelap tanpa busana, hanya berselimutkan selimut putih tebal yang lembut.

 Matahari pagi mulai bersinar, korden kamar hotel yang tidak tertutup rapat menembuskan sinar matahari pagi yang mebangunkan kami. Tak tersadarkan aku bangun sambil memeluk perut Friska yang ramping dan mulus. Aku pun mulai mengusap kelembutan kulitnya, kuciumi bibirnya dan Friska pun terbangun. Beberapa pelukan pun terjadi yang membuat penisku tegang berdiri lagi, tanpa menunggu reaksinya aku pun terlibat dalam permainan yang tidak kalah serunya, kali ini to the point karena semuanya sudah  telanjang.

Sudah beberapa kali kami berganti posisi bagai pegulat profesional, hingga akhirnya posisi aku diatas dan terus menggenjot vaginanya  yang licin. Lebih lama dari pergulatan semalam, aku mampu menahan klimaks, Friska pun terlihat sudah mencapai orgasme, lalu aku pustuskan untuk memuncratkan sperma aku, sekali lagi diluar vaginanya. Rambut kemaluannya pun terlihat berceceran sperma.

Setelah berpelukan  romantis, kami pun segera mandi bersama, mengingat waktu yang harus kami kejar untuk rapat hari kedua, kami pun hanya mandi bersama plus sedikit saling mengusap barang pribadi kami dengan sabun.

Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: