Cerita Sex "Ha.., ha.., ha.., Mami sama Tante Susi dipipisi Om Ferdy."

Inilah kisahku dengan tetangga aku yang Ayu bernama Farah , kami masing-masing sudah berumah tangga, untuk saat ni suami mbak Farah sedang pergi keluar kota dalam beberapa hari dan saat ini istriku dirumah. Aku punya ketertarikan dengan mbak Farah. Dan akupun merancang bayak cara agar bisa ngetot dengannya. 

http://www.cerwasa.com/2016/11/cerita-sex-ha-ha-ha-mami-sama-tante.html

"Mas Ferdy, aku kok kayaknya nggak pernah bosen ya 'ngetot' sama kamu..." kata Farah.
"Lha, memangnya kalo sama Andre sudah bosen..? dia suamimu kan siap setiap saat" jawabku
"Enggak gitu. Kalo sama Mas Andre gayanya itu-itu saja, dan lagi kontolnya Mas Andre kan nggak sebesar punya kamu," jawab Farah jujur sambil mengurut batang kemaluanku yang kembali berdiri.
"Jangan gitu lho Far. Andre itu kan suamimu, baik lagi.

Tapi, masa bodoh lah, yang penting memek istrinya enak banget.

“Ya sudah '…..ngentot' lagi yuk, mana toketmu, sini, aku mau 'nenen'..!"

Ketika kami mau mulai babak keempat, Vina, anak Farah yang sering melihat maminya KUENTOT masuk ke kamar.

"Mi….., masih main kuda-kudaan ya..? " tanyanya polos.
"Iya, mami baru mau main lagi, kenapa Vin..? kata Farah.

"Vina mau bobo mami, tapi Vina takut, temenin Vina ya Mi, Om Ferdy main kuda-kudaanya di kamar Vina aja ya..!" pintanya penuh harap.

Ya sudah, akhirnya aku dan Farah pindah arena ke kamarnya Vina. Sambil masih bertelanjang bulat, kami berusaha menina-bobokan Vina yang katanya tidak kangen sama papinya, dia malah menganggap aku papi kandungnya, dalam 10 menit si Vina tertidur dan baru 3 menit si Farah menghisap batang kemaluan ku, telephone di kamar Farah berdering.

"Mas, aku ngangkat telephone dulu ya, kali aja dari Mas Andre." kata Farah.
"Ya, jangan lama-lama.." jawab aku.

Setelah hampir 5 menit, Farah balik lagi ke kamar dengan wajah bingung.

"Mas, adikku mau kesini. Dia sudah ada di depan komplek. Gimana nih..?" kata Farah.
"Siapa..? Si Susi..? Ama suaminya nggak..?" tanya aku berusaha tidak panik.
"Nggak sih, kan dia lagi pisah ranjang sama Gery. Sudah 4 bulan ini." jawab Farah.
"Gak pa-pa. Bilang aja aku lagi nemenin kalian. Apa susahnya sih?"

Tidak lama kemudian Susi datang. Dia adalah wanita cantik umur 25 tahun, dengan ukuran payudara sekitar, kulit putih bersih dan hidung yang bangir. Malam itu dia mengenakan 'Tank Top' warna biru ditutup dengan Cardigan hitam dan celana Capri warna putih.

"Malam bakk Farah, Eh.., ada siapa nih..?" kata Susi.
"Ini Mas Ferdy, tetanggaku. Dia datang kesini mau nemuin Mas Andre, namun nggak ketemu." Farah menjawab.
"O iya, kenalin Mas, ini adikku, Susi.
"Susi," katanya sambil bersalaman dengan aku.
"Ferdy," jawab aku.
"Kamu kenapa kesini..?" kata Farah, "Tumben-tumbenan, mana malem-malem lagi. Kamu nggak takut apa? Daerah sini rawan pemerkosaan lho..!"

Susi menjawab sambil melepas Cardigan-nya dan memamerkan keindahan buah dadanya, yang dapat membuat laki-laki sesak nafas itu, katanya,

"Ngapain takut, kalo diperkosa malah seneng. Aku sudah hampir 5 bulan lho Mbakk, nggak 'gituan'..!"
"Kamu ini kalo ngomong sembarangan aja," kata Farah sambil melirikku,
"Kasian Mas Ferdy tuh, lagi tanggung, nanti dia ngocok disini lagi."
"Tanggung..? Emangnya kalian lagi ngapain..? Wah, kayaknya lagi macem-macem nih kayaknya!" tanya Susi penasaran.
Si Farah menjawab, "Kenapa emangnya..? Mau ikut nimbrung..? Suntikannya Mas Ferdy besar lho..!"

Aku dari tadi hanya diam dan tersenyum mendengar 'adik' aku dibicarakan dua wanita cantik.
Lalu aku angkat bicara,

"Kamu ini ngomong apa sih Far..? Emangnya kamu sudah pernah liat burungku apa..?" kata aku menggoda.
"Iya nih, Mbak Farah. Emang udah pernah liat..?" kata Susi.
"Jangan macam-macam deh Mas, mendingan kita lanjutin pertandingan tadi. Kamu mau ikutan nggak Sus..?" ajak Farah sambil kembali melepas dasternya dan langsung melucuti celana pendekku.
Melihat hal ini, Susi memekik pelan, "Wah, itu kontol..? Gede banget, boleh nyobain gak Mas..?"
"Ya sudah, kamu hisap-hisap aja Sus..!" kata aku, "Nah, Far kesinikan memekmu biar kujilatin..!"

Lalu kami bertiga bermain kuda-kudaan bareng. Aku duduk di sofa, sementara Susi jongkok dan sibuk dengan batang kemaluanku. Farah berdiri menghadap ke aku sambil mengarahkan kepala aku ke liang vaginanya dan menjilatinya sampai kelojotan. Aku tidak sadar waktu Farah agak bergeser, ternyata Susi sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, polos, telanjang bulat dan berusaha menjepit peniskudengan kedua buah dadanya yang ternyata memang besar dan membuat gerakan naik turun.

"Ya, terus Sus, enak banget..!" kataku, sementara Farah sudah duduk di sebelah kiriku sambil mengulum bibirku.
"Mas Ferdy, aku mau masukin ke memekku ya..!" pinta Susi penuh harap.

Ketika melihat dan mengamati kemaluan Susi, aku agak kaget. Selain botak, vagina Susi juga masih terlihat sempit. Dalam hati aku berpikir, ini kakak beradik punya kemaluan kok ya sama. Lalu Susi membelakangi aku dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang sempit itu dengan perlahan-lahan. Farah yang juga sedikit terengah-engah memasukkan jari aku ke dalam liang kemaluannya yang mulai basah.

Susi benar-benar memperlakukan batang kemaluanku dengan penuh nafsu. Gerakan maju mundurnya sangat hebat dan terkadang dikombinasi dengan gerakan berputar. Menyikapi hal ini, aku lalu mengangkat badan Susi dan aku balikkan, hingga kami beradu pandang, dengan posisi penisku tetap di dalam vaginanya yang keset-keset basah. Susi ternyata sangat ahli dengan posisi duduk, dia terus naik turun makin lama makin dalam penisku menembus pertahanan liang vaginanya.

Setelah hampir 10 menit, Susi menjerit, "Masssssss…………….. aku keluar..!"

Namun herannya dia masih saja menggoyang pantatnya. Sementara itu, Farah ada di belakang Susi sambil memeluk dan meremas buah dada Susi. 3 menit kemudian, giliran aku yang bilang, "Sus, aku mau keluar nih, di dalam apa di luar..?"
"Di luar saja Mas, aku mau minum pejunya," jawab Susi semangat.
"Sus, cepat lepas..!" kataku sambil mengocok batang kemaluanku dengan cepat dan mengarahkannya ke mulut Susi yang sekarang sudah jongkok di bawah aku.

Ternyata benar, mulut Susi tidak hanya menampung sperma aku yang banyak, namun juga benar-benar berkumur dan menelannya. Melihat hal itu, Farah yang vaginanya tidak aktif, langsung mendekati batang kemaluanku dan mengulumnya lagi. Aku yang sudah banjir keringat langsung berkata kepada Farah,

"Far, yang bersih ya, aku istirahat dulu sebentar."

Sambil Farah terus disibukkan dengan pekerjaannya, aku menyuruh Susi mendekat dan langsung mengulum bibirnya yang tipis dan beraroma sperma. Sesaat kemudian, batang kemaluanku mulai menegang lagi. Mengetahui perbuatannya berhasil, Farah dengan tindakan super cepat menarik aku ke lantai dan menyuruh aku telentang. Farah dengan cepat pula langsung menduduki peniskudan menjepitnya dengan kemaluannya. Dengan posisi seperti itu, tanganku diberi kesempatan untuk meremas payudara Farah dan memainkan putingnya.

Hampir 10 menit mengerjai batang kemaluan aku, gerakan Farah mulai agak mengendur. Aku tahu, dia sudah orgasme. Melihat hal ini, aku membaklikkan badan Farah, dan sekarang dia yang telentang. Kedua kaki Farah yang putih itu aku buka lebar-lebar sambil menusuk vaginanya dengan gerakan yang amat cepat dan teratur. Erangan dan desahan Farah sudah tidak aku dengarkan sama sekali. Hingga 3 menit kemudian, aku sudah tidak dapat menahankannya lagi.

Dengan posisi penis masih di dalam vagina Farah, aku menyemprotkan cairan sperma aku untuk yang kedua kalinya malam ini. Liang senggama Farah yang aku perhatikan beberapa hari ini sudah agak melebar, tidak kuat menampung cairan sperma aku yang kental dan banyak. Melihat hal itu, Susi langsung menjilati vagina kakaknya berusaha mendapatkan air mani lagi sambil tangannya mengocok penis aku.

Vina yang sudah tidur rupanya terbangun karena berisik.

"Mami, aku nggak bisa tidur, itu ada siapa..?"
"Eh Vina, ini Tante Susi. kok kamu nggak tidur..?" tanya Susi sambil menyuruh Vina mendekat.
"Nggak bisa tidur Tante. Mami kenapa..? Kok kakinya terbuka, Mami sakit lagi ya..?" tanya Vina polos.
"Mami nggak sakit. Justru Mami itu sehat, kan Mami habis Om suntik, nanti sebentar lagi juga bangun." jelasku.
"Lho kok Tante Susi telanjang juga? Habis disuntik juga ya sama Om Ferdy?"
"Iya Vin, soalnya Tante lagi sakit memeknya jadi disuntik." kata Susi sambil mengelus vaginanya sendiri.
"Memek itu apa sih Tan..?" tanya Vina.

Sambil membersihkan kemaluan Farah, aku berkata ke Vina, "Ini yang namanya memek Vin. Ini gunanya buat masukin jarum suntiknya Om Ferdy."
"Vina juga punya Om." kata Vina sambil menyingkap rok tidurnya.
"Iya, namun punya Vina belom boleh disuntik. Nanti kalo sudah besar, boleh deh..!" kata Susi sambil tersenyum.

Sudah seminggu Susi menginap di rumah Farah, kami bertiga hampir tiap malam mengadakan acara ngetot bersama. Vina yang selalu melihat aksi kami selalu tertawa kalau aku menyemprotkan sperma ke mulut mami dan tantenya.

"Ha.., ha.., ha.., Mami sama Tante Susi dipipisi Om Ferdy." katanya lucu.

Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: