Cerita Sex Ngetot dengan Tiga Cewek di Warnet

Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita sex ini terjadi sebelum saya mengenal soal internet. Ketika itu saya baru saja masuk kuliah, saya masih dalam taraf pemula dan baru sampai dalam soal hardware. Cerita sex ini terjadi yang sejak berkenalan dengan seorang teman di ITK dan saat ituah saya mulai mengenal apa itu internet. Sampai akhirnya saya menjadi suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Saya semakin suka sekali ber-chatting ria sampai-sampai suka lupa waktu dan pulang larut malam. 

http://www.cerwasa.com/2016/12/cerita-sex-ngetot-dengan-tiga-cewek-di.html

Okey … Langsung saja ku mulai cerita ku ini , simak dan segera kasih pendapat ya…


Pada hari sabtu sore yang cerah, seperti biasa aku suka nongkrong di warnet mulai jam 18:00, dan saya langsung buka mengecek e-mail. Setelah itu saya suka browsing sambil chat. Pada saat saya membeli minuman di dalam warnet, saya melihat dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru, dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah muda, juga sepasang payudara montok agak besar. Saya kembali ke meja dan melihat mereka berdua menempati meja di depan saya.

Sambil menunggu jawaban dari chat, saya mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin aku melihat saya tidak bisa konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yang hanya mengenakan celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yang tercetak jelas akibat baju yang basah. Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet terlihat sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera menyala dan meminta agar semua sabar. Sudah 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi saya tidak bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah membayar uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih begitu deras.

Mereka hanya bisa duduk di sofa yang disediakan pihak warnet, wajah mereka tampak gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yang terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak bisa pulang. Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi udara menjadi dingin akibat angin yang masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa. Dan ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ saya mengetahui nama mereka adalah, Emi (baju putih) dan Dian (baju biru). Lagi asyik-asyiknya ngobrol kami dikejutkan oleh seorang cewek yang masuk ke dalam sambil tergesa-gesa. Dari para penjaga yang saya kenal, cewek tadi adalah pemilik warnet. Saya agak terkejut karena pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy pula. Cewek tadi menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala sampai besok pagi. Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.

“Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan deras, sekalian nemenin Mbak ya..” kata cewek yang punya nama Pemilik warnet ini.

Kemudian berjalan ke depan dan menurunkan rolling door.

“Saya bantu Mbak,” kataku.

“Oh…, nggak usah repot-repot..” jawabnya.

Tapi aku tetap membantunya, kan sudah di beri tempat berteduh. Setelah itu aku menyisakan satu pintu kecil agar kalau hujan reda aku bisa lihat.

“Ditutup saja Dik, dingin di sini..” katanya, dan aku menutup pintu itu.

Entah setan mana yang lewat di depanku, otak ini langsung berpikir apa yang akan terjadi jika ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yang tertutup tanpa orang lain yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yang tidak tahu akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara.

“Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju..” kata Pemilik warnet.

Kemudian aku bertanya dengan nada menyelidik,

“Mbak tinggal di sini ya?”

“Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian baterai lampu sudah mau habis” katanya.

Cerita Sex. Kami bertiga mengikuti Mbak Pemilik warnet ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan tempat istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Pemilik warnet. Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang akan menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak merasa berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yang besar, kami disuruh duduk di ruang tamu. Pemilik warnet bilang dia akan mandi dan menyalakan sebuah notebook agar kami bertiga tidak bosan menunggu dia mandi.

Namun ternyata notebook itu tidak memiliki game yang bisa membuat kami senang. Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan duniasex, aku menduga ini adalah permainan, dan ketika kubuka ternyata isinya adalah cerita yang membuat adikku berdiri. Emi dan Dian pun agak malu melihat cerita-cerita itu. Tapi yang membuat aku tidak tahan adalah mereka tidak memperbolehkan aku menutup program itu dan mereka tetap membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah selesai membaca, Emi merapatkan duduknya dan aku bisa merasakan benda kenyal menempel di lengan kananku.

Tak sadar Dian pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku. Sambil mereka terus melihat cerita yang lain, aku merasakan sakit di dalam celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu, merekapun semakin menjadi-jadi, bahkan Emi membuka kaosnya dengan alasan merasa panas, sedangkan Dian membuka kaosnya dengan alasan kaosnya basah dan takut gerah. Aku merasa panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan posisi adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku membuka baju juga. Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku semakin panas karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan.

Akhirnya jebol juga pertahanan imanku, aku menaruh notebook itu di meja di depanku dan aku menciumi Emi dengan nafsu yang sudah memuncak, Emi pun tak mau kalah dengan seranganku, dia membalas dengan liar. Sedangkan Dian sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku kulingkarkan pada Dian dan mulai meremas buah dada yang masih tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Emi dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah dadanya. Dian mulai membuka celanaku dan menghisap penis yang sudah tegang itu.

“Ouhh.. Acchhh…mmhh.. yahh..” aku mulai menikmati jilatan Dian pada kepala penisku.

Emi pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku hanya bisa pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Pemilik warnet keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi tubuh dan diapun ikut bergabung dalam permainan, dia menarik meja di depanku supaya ada cukup tempat untuk bermain. Pemilik warnet berlutut sambil membuka celana Emi. Setelah celana Emi lepas, dia mulai menghisap vagina Emi.

“Ooohh.. Ssshh.. ahh..” Emi mendesah dahsyat.

Tak lama kemudian Emi membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi Pemilik warnet dan Emi menjadi “69″.

Aku pun sudah tak sanggup menahan lagi, segera kuangkat Dian dan membaringkannya di lantai dan segera menarik dan membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap vagina yang sedang merah itu.

“Auuhh.. Ooohh.. Sayang..” desahan Dian semakin membuatku bernafsu.

Dengan segera aku mengarahkan penisku ke vagina Dian, dan mulai menusukkan secara perlahan. Dian merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku menghentikan penisku yang baru masuk kepalanya itu. Selang agak lama Dian mulai menarik pinggangku agar memasukkan penis ke vaginanya, setelah masuk semua aku menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara perlahan-lahan.

“Ahh.. ayo Sayang.. ohh.. cepatan..”

Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Emi dan Pemilik warnet saling menggesek-gesekkan vagina mereka.

“Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh..” desahan Dian berubah menjadi teriakan histeris penuh nafsu. Tak lama kemudian Dian mencapai orgasme, tapi aku terus menusukkan penis ke arah vagina Dian.

“Gantian donk, aku juga pingin nih..” kata Emi sambil menciumi bibir Dian.

Aku pun menarik penisku dan mengarahkan ke vagina Emi setelah dia telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa licin sekali dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami orgasme bersama Pemilik warnet. Tampaklah Dian dan Pemilik warnet tertidur di lantai sambil berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot tubuh Emi sampai Akhirnya Emi sudah mencapai puncak dan aku merasakan akan ada sesuatu yang akan keluar.

“Aahh..” suara yang keluar dari mulutku dan Emi.

Akhirnya kami berempat tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Emi dan Dian. Pemilik warnet sekarang sudah menikah dan tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan aku masih sibuk dengan urusan kuliah dan tidak pernah ke warnet itu lagi karena sudah ada sambungan internet di rumahku.
Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: