Cerita Sex Pertama Kalinya Kami Berdua Ngeseks

Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup bonafit di kota Bandung. Jabatanku sebagai Kepala Bagian di bidang pemasaran yang tentu saja mempunyai beberapa bawahan. Karena nama perusahaan kami yang sudah cukup punya nama maka sudah menjadi tempat tujuan para siswa sekolah melakukan magang. Dan saat ini ada beberapa siswi yang sedang melakukan itu. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya, telah membuat aku seperti kembali merasakan getar-getar rasa suka yang dulu sempat hilang pada cinta pertamaku. Sebut saja namanya Silvi, yang diperbantukan di bidang pemasaran. 

www.cerwasa.com

Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya, karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir yang sensual, dihiasi lesung pipit di kedua pipinya, membuat semua yang ada didirinya terlihat begitu sempurna di mataku. Hari demi hari kami terlihat semakin akrab, bahkan banyak teman-temanku yang menyangka kalau aku sedang ada rasa dengannya. Ach… busyet semua omongan teman-temanku, karena aku merasa saat Silvi disini sedang belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya, dan sebagai seorang Kepala Bidang, aku hanya sekedar membimbing dan membantu, jika seandainya ada sesuatu hal yang dia belum paham. Sudah ampir tiga minggu aku mengenalnya, sikap dan perilakunya semakin membuat aku kesengsem.

Ketika Silvi mendapat tantangan dari teman-temanku, kalau mereka berani kasih Rp. 500.000,- kepada Silvi, jika Silvi mau tidur bersama mereka selama 2 jam. Timbul perasaaan cemburu ketika mendengar tantangan itu. Namun aku tidak berani untuk mengungkapkannya, karena saat itu diantara aku dan Silvi memang belum ada hubungan yang terlalu istimewa. Maka wajar juga jika temanku berkata demikian, karena dengan wajah secantik itu, jika memang Silvi mau memanfaatkan tubuhnya, mungkin harganya bisa diatas 1 juta per dua jam.

Pernah suatu hari, saat dia bersama seorang temannya yang bernama Endah, Silvi menuju meja kerjaku, awalnya sih bertanya tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan tugasnya, mungkin karena merasa sudah akrab, Silvi juga bertanya tentang no. ponselku, dengan alasan biar gampang saja, kalau nanti dia mau berkonsultasi. Sambil tetap memperhatikan pekerjaanku, aku menyebutkan nomorku. Ketika mereka ikut memperhatikan cara kerjaku, tiba-tiba, “Gubraaaak..” tanpa sengaja, tangan Endah menyenggol tumpukan map yang aku taruh disisi meja. Segera aku menunduk untuk memunguti map yang berserakan. OMG.. saat menunduk itulah, tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang sangat indah, dua pasang paha putih mulus terpampang didepan mataku.

Saat itu karena posisi kaki Silvi ketika duduk, agak mengangkang, maka ketika ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang cukup memicu gairah seks ku. Ku lihat dia memakai CD berwarna Merah muda, dengan hiasan bunga mawar di tengahnya. Mungkin karena mereka sedang memperhatikan hasil pekerjaanku, mereka tidak menyadari kalau di bawah meja (aku) sedang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi. Takut mengundang kecurigaan dari bawahanku, terMassa aku kembali duduk dan menerangkan tentang cara kerja di perusahaan kepada Silvi dan Endah. Namun kejadian yang baru saja aku alami, tetap mengganggu pikiranku. Mungkin karena aku tidak konsentrasi dengan apa yang sedang kami bicarakan, Silvi bertanya.

“Mas, maaf sebelumnya … sebenernya mas tadi lagi merhatiin apa sih..”. Sebenarnya malu juga mendapat pernyataan seperti itu, namun karena merasa sudah akrab, aku berbisik di telinga Silvi dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Eh…Bukannya malu, Silvi malah tersenyum mendengarnya dan dia malah balik bertanya yang cukup membuatku kaget,

“Kenapa tidak dipegang saja Mas, biar mas tidak penasaran lagi”, goda Silvi.

Sebagai seorang cowok, mendengar pertanyaan itu, aku malah mulai berpikir ngeres, dan mulai membayangkan apa yang ada dibalik CD nya itu. Namun semuanya berusaha aku redam, karena walau bagaimanapun, di perusahaan ini, aku harus jaga wibawa agar aku tidak kelihatan remeh. Bel istirahat makan siangpun berbunyi, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Baru saja aku selesai makan, Silvi mendekatiku dan berbisik “besok mas aku tunggu di Laksana sekitar jam 09.00 pagi, ada yang ingin aku bicarakan, aku tunggu didepan mini market”. Walau singkat, tapi tetap membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang akan dibicarakan? Mengapa waktunya hari sabtu, padahal kan setiap hari sabtu perusahaan libur.

Mengapa dia berbisik sangat pelan kepadaku, apa takut terdengar yang lainnya?. Besoknya, dengan berpakaian rapi, aku mengeluarkan motorku dan beralasan lembur kepada kedua orang tuaku. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, karena sampai di Laksana, jam baru menunjukkan angka 08.00, Setelah mencari makan pagi, sambil ngerokok, aku iseng-iseng belanja di mini market, padahal cuma mau liat saldo doang, karena uang yang ada di dompetku, masih ada sekitar Rp. 500.000,-. Tak lama kemudia, aku melihat Silvi datang menuju kearahku, dan pagi ini, dia terlihat sangat sexy, karena Silvi hanya mengenakan kaos dan celana jeans ketat.

“Lama ya mas nunggunya? Kan kemarin Silvi janjinya jam 09.00, sekarang baru jam 08.30, Silvi tidak salah khan?”, “panggil namaku saja dech, biar kita bisa lebih akrab”.
“Ok deh Mas, eh Nik … Niko”, sambil tangannya menggandeng tanganku.
“Nik, enaknya hari ini kita ke mana yach”, tanya Silvi.
“Terserah, emang mau ngomongin apaan, kayaknya pribadi banget”.
“Ngga juga, Silvi adem saja kalau deket ama Nik, kenapa ya?”
“Mau tahu jawabannya”, candaku.
“Ngga usah Nik, Silvi juga udah tahu, Silvi rasa Silvi menyukai Nik”, jawab Silvi polos.

Tanpa disadari, mungkin karena saking senengnya, aku yang sejak awal memang mengagumi Silvi, langsung memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Silvi mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, kalau kita masih ada di mini market, tidak enak terlihat banyak orang. Akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang cocok untuk berduaan. Tapi karena yang aku tahu cuma hotel tempat satu-satunya yang cocok untuk berduaan tanpa takut terlihat orang lain, walau terlihat agak takut, Silvi ternyata mau juga. Sekitar jam 09.30, kami sudah sampai di hotel, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV dan AC. Agak ragu juga Silvi memasuki pintu kamar, dan dia agak terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika dia melihat kamar mandinya.

“Eh Nk… Enak juga ya Nik, kita bisa ngobrol cuma berdua disini, tanpa takut akan terdengar atau terlihat oleh orang lain”. Silvi langsung merebahkan badannya ke tempat tidur, dan mencari remot dan menyalakan TV yang khusus menyiarkan acara musik. Kebetulan banget lagunya adalah lagu-lagu romantis, yang secara tidak langsung, ikut mempengaruhi suasana hati kami. Lewat telepon kamar, aku memesan makanan dan minuman dingin. Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Silvi yang sedang rebahan, maksudnya sih mau nawarin makanan, tapi Silvi langsung bangun dan bertanya.

“Nik, salahkah bila Silvi mencintai kamu, Silvi sebenernya malu mengakuinya, tapi bila tidak diungkapkan, Silvi takut kalau Nik tidak mengetahui apa sebenernya yang Silvi harapkan. Maafin Silvi yach, Silvi udah ngerepotin, padahal kan sekarang waktunya libur dan istirahat, tapi Silvi malah meminta Nik menemui Silvi”. Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan semua tentang apa yang ada dihatinya, sambil membelai rambutnya aku pun berusaha meyakinkannya, bahwa semua yang dialami, adalah wajar, jika seseorang mencintai lawan jenisnya, dan tidak ada yang namanya salah, jika sudah menyangkut perasaan hati. Baca juga Cerita Sex Liarnya Si Penggila Sex

Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan aku mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu malah membuat Silvi berani untuk membalas ciumanku. Dia langsung melumat bibirku, dan seperti seseorang yang tidak mau kehilangan sesuatu, dia mendekapku dengan erat sekali. Sambil terus menikmati bibirku, tangannya terus mengelus dan mengusap seluruh bagian tubuhku. Mungkin beginilah cara dia mengungkapkan rasa cintanya terhadap diriku. Tapi sekarang aku yang bingung, karena dengan melihatnya bentuk tubuhnya saja (waktu di kantor), bisa membuat aku “bernafsu”, sekarang seluruh tubuhnya sudah melekat erat ditubuhku.

Kedua susunya terasa makin kenyal, akhirnya kuputuskan untuk menikmati keadaan ini, karena jujur saja, dulu akupun sering menghayalkan betapa nikmatnya jika bercumbu dengan Silvi ini, apalagi jika berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya membikin kontolku berdiri. tanganku mulai berusaha membuka kaosnya, karena aku tidak mau pandanganku yang tertuju kepada kedua susunya. Pelan namun pasti, akhirnya bukan hanya kaosnya yang berhasil aku buka, BH nya pun sudah aku lepaskan. Sejenak aku terpana melihat keindahan bentuk susunya itu, namun hanya sebentar, karena aku ingin segera menikmati dan merasakan keindahan itu, kuelus kedua susunya, dengan mesra aku mulai menghisap putingnya yang sudah agak mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati bagian tubuhnya, mulai dari leher, terus bergerak turun dan menuju putingnya kembali.

“Yaa.. hisap terus sayangggg.. aacchh.. ennaakk banget Nik.. geli.. tapi nik..maaattt.. teeeruuus.. Nik … aaccchhh..” Silvi terus meracau menikmatinya. Aku terus menyerangnyanya, dan mencoba membuka celana jeans yang dikenakannya, lantaran jeans yang dikenakannya sangat ketat, aku kesulitan untuk membukanya, untungnya Silvi mengerti, dengan agak mengangkat pantatnya, dia sendiri yang mencoba menurunkan jeansnya. Dengan sabar, aku menunggu dan terus mempermainkan susunya. Setelah jeansnya terlepas, tangan Silvi berusaha untuk membuka semua yang aku kenakan. Satu persatu jari tangannya membuka kancing kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan celana yang aku Pakai, Silvi hanya menyisakan CD saja yang masih melekat ditubuhku.

Mungkin dia masih ragu untuk membukanya, karena diapun masih mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, kalau dia sedang diamuk birahi, namun dia masih bisa menguasai pikirannya, aku yakin dia merasa takut di cap sebagai cewe yang gampangan dan takut jika aku tidak menyukai tindakannya. Namun aku tetap menikmati suasana yang terjadi di dalam kamar hotel ini. Aku terus merangsang birahinya, ciumanku aku arahkan kedaerah perutnya, terus kebawah menyusuri lubang pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak untuk membuka CD yang masih melekat ditubuhnya.

Secara perlahan aku mencoba melepas CD nya, sambil terus mencumbunya, aku menciumi setiap daerah yang baru telihat ketika CD nya mulai bergerak turun. Silvi sangat menikmati semua sentuhan yang aku berikan, bahkan ketika CD nya telah terlepas, dan aku mulai menjilati empiknya, dia terus mendesah dan malah membuka pahanya lebar-lebar agar lidahku bisa menjilati bagian dalam empiknya. Dengan baunya yang khas, empik itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin aku percepat memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Silvi terus mendesah dan meracau tak karuan.

“Aacchhhh.. terus cinta.. nikmatnya.. teruzzsss.. lebih ke dalam lagi Nik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati terus yang.. itu.. cinta.. accchhh”. Karena rangsangan yang dia terima makin ganas, pantatnya bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang empiknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku. Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi empik Silvi, aku sentuh Kelentitnya secara perlahan, dia langsung menggeliat, lalu kuelus Kelentitnya nya dengan jari tengahku, Silvi makin liar, seperti orang yang sedang kesetanan, dia meracau tak karuan, tak jelas suara apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu, lubang empiknya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.

Melihat Silvi sudah mencapai puncak nikmat, aku berusaha untuk tenang, tetapi kontolku sudah sangat tegang dan ingin segera merasakan nikmatnya empik Silvi. Aku segera mencium dan menjilati “lubang nikmat” itu, agar Silvi bisa merasakan apa yang namanya multi puncak nikmat. Usahaku ternyata berhasil, karena hanya dalam beberapa menit, tubuhnya kembali bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang sangat menggairahkan, Silvi kembali merasakan kenikmatan itu. Karena beberapa kali mengalami puncak nikmat, Silvi terlihat sangat lelah, meski tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia sangat puas dengan oral yang aku lakukan.

Dengan tersenyum, dia mencoba untuk melepaskan CD yang masih belum kulepas. Tanpa diperintah, dia mulai menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan seperti itu, aku yang semula memimpin permainan, hanya diam saja menikmati permainan Silvi. Dengan bibir indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke dalam mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku. Gila.. ternyata Silvi bukan hanya indah buat dilihat, ternyata Silvi mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam merangsang dan memanjakan kita dalam permainan seksnya.

Aku berusaha agar tidak sampai kebobolan ketika dia melakukan oral terhadapku, namun kenyataannya, semua air maniku telah memenuhi mulutnya, ketika secara reflek, aku menjambak rambut dan menarik kepalanya sambil mendesah menahan ejakulasi saat air maniku akan keluar. Tanpa perasaan jijik, Silvi menelan semua air mani yang ada di dalam mulutnya, seperti tidak puas, dia menjilati kontolku yang masih ada sisa-sisa air maninya.

“Nik, enak juga ya rasa air manimu, gurih-gurih gimana gitu..”, kata Silvi memuji. Aku hanya tertawa sebentar mendengarnya, karena bola mataku tetap memandang lekuk-lekuk tubuh Silvi yang bugil tanpa sehelai benangpun menutupinya. Kuperhatikan lagi “empik” yang dihiasi oleh bulu-bulu halus itu, ternyata, warnanya agak memerah, mungkin karena tergesek oleh lidah dan jari-jariku. Baca juga Cerita Sex ABG Kugauli dengan Paksa Mantan Guru SMP ku

“Makasih ya Sil..”, kataku sambil menciumi empiknya.
“Nik, boleh tidak kalau Silvi minta empik Silvi di jilatin lagi, abis enak banget sih..”, tanya Silvi sambil memohon.
“Boleh saja sih, tapi boleh gak kalo punyaku ini aku masukin di emoik kamu, soalnya kontol Nik udah tidak kuat nich, pengen buru-buru berada di dalam empik Silvi. Boleh yach?”
“Silvi takut Nik, kata temen-temen Silvi, rasanya sakit banget, tidak mau ah.. ntar kalau sakit gimana?”, tolak Silvi.
“Silvi gak usah takut, kita buktiin apa kata temenmu bener, sebab kalo bener sakit kan gak ada yang mau kawin… yak an?”, kataku sambil mulai menjilati empik Silvi.

Silvi melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Silvi membantu melebarkan empiknya agar mempermudah ku di dalam mencumbui empiknya. Kujilati keleentitnya hingga dia menggeliat tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima. Sengaja aku terus menjilati klitnya, agar dia diamuk oleh gairahnya sendiri, ketika kulihat tubuhnya mulai mengejang, dan mengalami puncak nikmat, entah untuk yang keberapa kali, aku langsung memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang sudah sangat kencang. Kuciumi bagian bawah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di daerah tersebut.

“Nik.. enak sekali sayanggg.. acchhh.. ooohhhh..” Silvi menggelepar menahan birahinya yang semakin besar.

Jari lentik Silvi mulai bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia terus mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke dalam lubang empiknya yang sudah sangat basah karena banyaknya cairan pelicin yang keluar dari dalam empiknya empiknya. Sambil tetap membenamkan wajahku diantara dua susunya, tanganku secara perlahan menarik tangan Silvi yang sedang asik mengeluar masukan jarinya. Semula dia menolak, tapi ketika aku bimbing jarinya kearah kontolku, Silvi langsung menggenggam dan mengocoknya.

Setelah agak lama, aku meminta Silvi agar dia berada diatas tubuhku yang sudah dalam posisi berbaring. Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja aku menggesek-gesekan kontolku diantara lubang empiknya, ternyata benar, apa yang aku lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan oleh Silvi makin menjadi-jadi, diapun mulai bergerak menggesekan kontolku ke bagian luar empiknya. Akhirnya, walau dengan posisi berada di bawah, tanpa sepengetahuan Silvi, aku berusaha mengarahkan kontolku agar bisa memasuki lubang empiknya. Silvi terus menggerakkan dan menggesekan empiknya, dan tanpa disadarinya, ternyata kepala kontolku mulai bergerak menerobos empiknya ketika dia menggerakan pantatnya dari atas ke bawah.

Terasa hangat sekali ketika kepala kontolku menyentuh bagian dalam dari lubang nikmatnya, ada perasaan nikmat yang sulit untuk diungkapkan, dan tanpa terasa, sudah seluruh bagian kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Silvi terus menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Akupun terus mengeluar masukan kontolku ke dalam lubang empiknya. Secara reflek Silvi langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuhku ketika dia sudah mencapai orgasmenya. Namun karena aku belum sampai, aku langsung membalikan badannya agar berada di bawah tubuhku. Perlahan aku terus menggerakan kontolku, sampai akhirnya air maniku keluar di dalam kehangatan lubang empiknya.

Aku ambruk menindih tubuhnya yang telah kecapekan, wow… nikmatnya permainan tadi yang baru pertama kalinya kurasakan dalam hidupku. Sambil mencium dan memeluk tubuhnya aku berbisik…

“Gimana sayang… sakitkah? Beberkah kata temen-temenmu?”
“Hmmm …. Ternyata enaknya bukan main… nikmatttt banget, thanks ya Cint…

Kembali kami berpelukan dan saling melimat bibir tanda bahwa kami sama-sama merasakan kepuasan yang luar biasa.
Tags:cerita Sex, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: