Cerita Sex Sperma Papa Akan Membuat Bayi di Dalam Kandunganmu Emma Sayang

Ini berawal saat ibunya masuk rumah sakit dan Wandi harus terbang ke luar kota untuk urusan bisnis yang amat penting. Wandi tadinya tak setuju saat Emma meminta papanya (Sumardi), agar menginap di rumah mereka untuk sementara untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, dan hal itu akan mengganggu pikirannya, sebab disatu sisi dia adalah titik penting dalam negosiasi kali ini dan disisi yang lain karena dia curiga sudah sejak dulu papanya ada menyukai Emma istrinya. Namun Emma merasa sangat marah pada Wandi, karena sangat egois dengan perasaan cemburunya itu.

http://www.cerwasa.com/2016/11/cerita-sex-sperma-papa-akan-membuat.htm 

Tidak hanya kali ini Wandi meragukan kesetiaannya terhadap perkawinan mereka dan kali ini dia merasa telah berada dalam puncaknya.. Dan dia tahu dia akan membuat Wandi membayar sikapnya yang menjengkelkan itu. Pada hari sebelum Wandi terbang ke luar kota untuk bertemu kliennya. Dia tidak membiarkan kedatangan Sumardi mengganggu jadwalnya, meskipun dia akan membiarkan papanya bersama Emma tanpa dia dapat mengawasinya selama beberapa hari kedepan.

Namun ini adalah sesuatu yang sangat Emma harapkan dan lebih, ketika dia menyambut Sumardi dengan secangkir teh manis yang begitu harum. Mata Sumardi berbinar saat dia tahu Wandi akan pergi besok pagi-pagi benar, dan dia mendapatkan Emma sendirian dalam beberapa hari bersamanya. Emma sangat menarik, yang sungguhpun dia tahu sudah tidak punya kesempatan terhadap Emma, dia masih berpegang pada harapannya, dan berbuat yang terbaik untuk mengesankannya, dan menggodanya.

Emma tersanjung oleh perhatian Sumardi, dan menjawab dengan mengundang bahwa mereka berdua dapat mulai untuk membiarkan harapan dan pemikiran yang telah dia kubur sebelumnya untuk mulai kembali ke garis depan itu.

Sore itu sudah terlambakt untuk jam kunjungan rumah sakit, sehingga mereka memutuskan akan kembali lagi esok paginya sekitar jam sebelas. Emma menuangkan beberapa gelas minuman segar untuk mereka berdua sekembalinya dari rumah sakit itu.

"Aku mandi dulu ya Em.. " Kata sumardi
"Ya Papa … Nanti biarkan showernya tetap hidup? Aku juga mau mandi jika Papa tidak keberatan."

Emma sudah membayangankan tangan Sumardi merraba dan membelai seluruh tubuhnya.
Dia belum terlalu sering mengenakan jubah mandi sutera itu sebelumnya, tetapi Emma memutuskan untuk memakainya malam ini. Hasrat hatinya mendorongnya untuk melakukannya untuk Papa mertuanya, terlihat pas di pinggangnya dan dengan tali terikat, membuat dadanya tertekan sempurna. Itu nampak terlalu 'intim' saat dia menunjukkan kamar mandi di lantai atas. Emma meninggalkannya, dan kemudian kembali semenit kemudian.

"Ini Pa jubah madinya…." dia berkata tanpa berpikir saat dia membukakan pintu untuknya. Di dalam cahaya yang remang-remang Emma dapat melihat pantat Sumardi yang atletis.

Setelah itu mereka duduk bersama di atas sofa, melihat TV. Dan setelah dua gelas wine lagi, Emma berencana akan melayani apapun yang Sumardi inginkan. Sumardi sedikit lebih tinggi dari Wandi, maka jubahnya hanya sampai setengah paha berototnya. Mau tak mau Emma meliriknya sekilas dan ingin melihat lebih jauh lagi. Sementara itu Sumardi juga tidak menduga sama sekali akan keberuntungannya untuk duduk disamping Emma yang berpakaian sangat menggoda dan benaknya mulai membakyangkan lebih jauh lagi.

Sumardi akan dikejutkan nantinya jika dia mengetahui akan hal sederhana apa yang akan membuat hasratnya semakin mengakar. Besok adalah hari ulang tahun Emma, dan Wandi lupa seperti biasanya, alasannya bahwa tidak ada waktu untuk lakukan apapun ketika dia sedang pergi, dan dia telah berjanji pada Emma kalau dia akan berusaha untuk mengajaknya untuk makan malam yang manis ketika pulang.

Namun kenyataannya Sumardi tidak hanya tidak melupakan, namun membawakannya sebuah hadiah yang menyenangkan seperti malam ini yang mau menemaninya dan memberikan seuntai kalung, menjadikan hatinya lebih hangat lagi. Dia seperti seorang anak perempuan kecil yang sedang membuka kotak, dan menarik sebuah kalung emas.

"Oh Papa sayang….. ini seharusnya tidak perlu.. Ini indah sekali" kata Emma dengan senyum manja.
"Tentu saja aku harus.. Namun aku takut itu tidak bisa membuat kamu lebih cantik cintaku.. Sini biarku kupasangkan untukmu"

"Ohh Papaaaa…!"

Saat itu Emma merasa ada semacam perasaan cinta untuknya saat Sumardi berada di belakangnya. Dia harus lebih dulu mengendurkan jubah untuk membiarkan dia memasang kaitan di belakang, dan ketika dia berbalik ke arahnya, Sumardi tidak bisa memalingkan matanya mengarah pada belahan dada Emma yang menyenangkan.

"Apa rantainya kepanjangan?" ia berharap, menatap kalung yang melingkar di atas payudara Emma
"Tidak Pa.. Ini menyenangkan" Emma tersenyum genit

Emma menciumnya dengan agak antusias dan dengan penuh gairah. Kemudian Sumardi menangkap momen itu, menarik punggungnya seolah-olah meredakan kebingungannya dan menciumnya dengan perasaan jauh lebih dibandingkan perasaan seorang mertua.

"Selamat ulang tahun sayang" katanya, saat senyuman mereka berubah jadi lebih serius.
"Oh papa…terimakasih ya Pa"

Emma menciumnya kembali, menyadari ini adalah titik yang tak bisa kembali lagi, dan kali ini membiarkan lidahnya papanya bermain di dalam mulutnya. Namun tiba-tiba Wandi meneleponnya untuk mengucapkan selamat malam dan sedikit investigasi. Wandi ingin bicara pada papanya dan memintanya agar menyimpan cintanya untuk ibunya yang sudah meninggal. Mata Emma tertuju pada Sumardi saat dia menenteramkan hati putranya di telepon, mengetahui dia akan membiarkan pria ini melakukan apapun..

"Aku sangat menyukai ini Pa.." Emma tersenyum ketika telepon dari Wandi berakhir.

Dia menggunakan alasan memperhatikan kalungnya untuk membuka jubahnya lagi, kali ini sedikit lebih lebar.

"Oh ya.." dia tersenyum, matanya kembali menelusuri bagian atas gundukan dada Emma, dan untuk pertama kalinya membiarkan gairahnya tumbuh.

Emma lalu secara perlahan membuka payudaranya untuk Sumardi, membiarkan dia menatapnya ketika dia membusungkan dadanya jauh lebih lama dibandingkan hanya sekedar untuk memandangi kalung itu. Dia mengangkat tangannya dan memegang mainan kalung itu, mengelus diantara dadanya, menatap tajam ke dalam matanya.

"Kamu terlihat luar biasa cantik dengan kalung itu" dia tersenyum.

Nafas Emma yang memburu ketika tangan Sumardi telah menyentuhnya di sana, dan pandangannya yang memikat saat Sumardi membangkitakan gairah nafsunya. Mereka berdua tahu apa yang akan terjadi kemudian, sudah terlalu jauh untuk menghentikannya sekarang. Dia akan bercinta dengan Papa mertuanya. Mereka berdua juga menyadari, bahwa tidak perlu terburu-buru kali ini, mereka harus lebih dulu membiarkan berjalan dengan sendirinya.

Emma bisa melihatnya sekarang kalau 'pertunjukannya' yang nakal telah memberi efek pada gairah Sumardi. Gundukan yang terlihat nyata di dalam jubahnya menjadikan jantungnya berdebar kencang, dan Sumardi menjadi bangga ketika melihatnya menatap itu, seperti halnya dia yang memandangi payudaranya.

"Kamu sudah cukup merayuku.sayang. Kamu nakal tau!" Emma tersenyum pada kata-kata terakhirnya, memberi dia pelukan yang lain.

Pelukan itu berubah menjadi sebuah ciuman, dan kali ini mereka berdua membiarkan perasaan mereka menunjukkannya, lidah mereka saling melilit dan memukul-mukul satu sama lain. Emma merasa tali jubahnya mengendur, dan Sumardi segera merasakan hal yang sama.

"Oh Papa.... Kita tidak boleh" dia menjauh dari Sumardi sebentar,

Emma tidak mampu untuk hentikan dirinya dari pemandangan jubah Sumardi yang terbuka cukup lebar untuk melihat ujung penisnya yang begitu besar mengacung daintara dua pahanya.

"Ohh Emma.. Aku tahu.. Namun kita harus" dia menarik nafas panjang, memandang pada bawah perut Emma untuk melihat kewanitaannya yang sempurna, telah merekah dan mengeluarkan cairannya. Detak jantung Emma bahkan jadi lebih cepat saat dia lihat tonjolannya menghentak lebih tinggi ke udara saat Sumardi memandang bagian paling intimnya.

"Oh Papa sayang..." desahnya pelan saat Sumardi memeluknya, jubahnya tersingkap dan dia terpana akan tonjolannya yang sangat besar di bagian bawahnya.

Dia tidak bisa hentikan dirinya sekarang.. Dia membayangkan dirinya berenang di dalamnya.

"Emma cintaku.. Betapa lamanya aku menginginkanmu.." kata Sumardi saat ia menggapai paha Emma.

"Oh Papa.... Seandainya aku tahu.. Setiap kali Wandi bercinta denganku aku membakyangkan itu adalah kamu yang di dalamku.. Papa termanis.. Apakah aku terlalu jahat untuk katakan hal seperti itu?"

"Tidak Emma kekasihku.." jawabnya, mencium lehernya dan turun pada dadanya, dan membuka jubahnya lebih lebar lagi untuk agar tangannya dapat memegang payudaranya. Mereka berdua ingin menuntaskan momen itu..
"Apakah kamu ingin aku di sana sekarang sayang……….?"
"Oh Papa.. Ya.. Papa" erangnya kemudian mengangkat jubahnya dan tangannya meraih penisnya.
"Aku sangat menginginkannya"
"Oh Emma.. Kekasihku, apakah ini yang kamu ingin?" dia mengerang, memegang jarinya di sekitar batang berdenyutnya yang sangat besar.
"Oh ya Papa.. Penismu.. Aku ingin penis Papa di dalam memekku"
"Sayangku yang manis.. Apa kamu menginginkannya di sini?"

Sumardi melenguh, menjalankan jemarinya yang pintar sepanjang celah itu, menggodanya, membuat matanya memejam dengan nikmat. Emma hampir merintih ketika dia menatap mata Sumardi.

"Mm ya Papa…penis Papa di dalam vaginaku"
"Ahh …anak manisku tercinta" Emma menjilat jarinya dan menggosoknya secara lembut di atas ujung kejantanannya yang terbakar, membuat Sumardi merasa ngeri dengan kegembiraan.
"Kamu ingin jadi nakal kan Pa.. Kamu ingin orgasme di dalam vaginakuku" Emma menggoda,

Sekarang adalah giliran Sumardi untuk menutup matanya dengan gairah yang mengagumkan.

"Kamu ingin meletakkan spermamu di dalam rahim istri putramu.. Kamu ingin melakukan itu di dalam vagina gadis kecilmu" Goda Emma

Dia hampir menembakkkannya bahkan waktu Emma menggodanya, namun entah bagaimana menahan ombakk klimaksnya, dan mengembalikannya pada Emma, keduanya sekarang saling memegang pinggang satu sama lainnya.

"Dan kamu ingin benih Papa di dalam kandunganmu kan.. Dalam kandunganmu yang dahaga.. Membuat seorang bayi kecil di dalam kandungan suburmu" dia tidak bisa semakin dekat dengan klimaksnya.

Emma telah memimpikan Sumardi memberinya seorang anak, Emma gemetar dan menggigit bibirnya saat jari tangan Sumardi diselipkan di dalam saluran basahnya.

"Papa.. Ohhhhhh….... Tolong.. Aku sangat menginginkannya… Paaa…"

Wandi belum pernah punya keinginan membicarakan tentang hal itu.. Emma tidak benar-benar mengetahui apakah dia ingin seorang anak, sekalipun begitu pemikiran itu menjadi sebuah gairah yang luar biasa. Bibirnya menemukannya lagi, dan tenggelam dalam gairahnya, lidah mereka melilit lagi dengan bebas tanpa kendali yang sedemikian manis. Emma membiarkan jubahnya terbuka seluruhnya sekarang, menekankan payudaranya secara lembut melawan dada berototnya, perasaan geli membuat cairannya lebih berlimpah. Jantungnya terisi dengan kenikmatan, pada pikiran bahwa dia menginginkan dirinya.. Bahwa seluruh gairah Emma akan terpenuhi dengan segera.

"Oh gadis kecilku…. manisku yang jahat" lenguhnya saat bibir Emma menggodanya.
"Aku pergi sebentar ya sayang…" dia tersenyum dengan mengundang saat dia menoleh ke belakang dari pintu.
"Jangan pergi Paaa…" Emma melangkah ke lantai atas, jubahnya berkibar di sekitarnya lagi saat dia memandangnya.

Jantung Emma dilanda kegembiraan lebih ketika dia melepaskan jubahnya dan berjalan menuju dia.. Pada Papa mertuanya.. Telanjang dan siap untuk menyerahkan dirinya seluruhnya kepada Sumardi Papanya. Ketika dia mendengar langkah kaki Emma pada tangga, dia lalu menanggalkan jubahnya dan sekarang berlutut di atas permadani di depan perapian, menghadapinya ketika dia masuk, ereksinya semakin besar dalam posisi demikian.

Emma berlutut di depannya, tangannya memegang penisnya, yang berdenyut sekilas, lembut dan demikian panas dalam sentuhannya. Matanya terpejam dalam kenikmatan murni saat Emma berlutut dan mencium ujung merah delima itu, matanya terbuka, dan mengirim beberapa tetesan cairan lezat kepada lidah penggemarnya. Sumardi mengelus payudaranya dan menggoda puting susunya yang gemuk itu.

"Aku sudah siap Pa.. Malam ini, tubuh ini seutuhnya milikmu"
"Emma sayang, kamu cantik sekali.." Sumardi memujinya dan dia tersenyum dengan bangga.
"Oh Papa.. Kumohon. Aku sangat menginginkannya.. Aku ingin benihmu di dalam perutku"
"Sepanjang malam cintaku.." Sumardi tersenyum, rebah bertumpu pada sikunya lalu menyelipkan tangannya diantara paha Emma.

Emma rebahan pada punggungnya, melebarkan lututnya membiarkan jari Sumardi berada di dalam rendaman vaginanya.

"Ohh … Papa sayang.." Emma melenguh saat jari Sumardi merangsang tunas kesenangannya tanpa ampun.
"Mmmm… Ohhhh… Aku menyayangumu perempuan kecilku.." Sumardi menggodanya ketika wajahnya menggeliat di puncak kesenangan.
"Ohh Papa.. Rasakan bagaimana basahnya aku untukmu"

"Apa anakku yang manis sudah basah untuk penis Papa? Mmm… penis Papa di dalam vagina panas gadis kecilnya.. Penis besar Papa di dalam vagina gadisnya yang panas, vagina basah.." kata-katanya diiringi dengan tindakan saat dia bergerak di antara pahanya, tongkatnya berdenyut dengan bernafsu saat dia mempersiapkan lututnya.

"Entotin aku Pa.. Masukkan penismu ke dalam vaginaku"
"Sayang.. Emmaku yang nakal.. Buka vaginamu untuk penis Papa" tangan mereka memandu, kejantanannya membelah masuk kewanitaannya.
"Papa.. Penis besar ini penuh untukku kan?"
"Ya putriku manis.. Sperma yang penuh untuk kandunganmu..
"Ahh …. ya Papa.. Aku akan membuatmu menembakkkannya semua ke dalam tubuhku.. Ahh ahh ….ahh…."

Emma mulai menggerakkan pinggangnya.. Takkan menghentikan dirinya saat dia membakyangkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam sebuah kesenangan yang sempurna, mereka bergerak dengan satu tujuan, yang ditetapkan oleh kata-katanya.

"Papa akan menembakkkan semuanya ke dalam kandunganmu yang subur.. Sperma Papa akan membuat bayi di dalam kandunganmu Emma sayang"

Sumardi mengayun pantatnya sekarang saat dia mulai menusuk lebih dalam, matanya menatap Sumardi ketika dia menarik pantatnya yang berotot, mendorong lebih lanjut ke dalam tubuhnya.. Memberinya hadiah yang sangat berharga. Penis besarnya menekan dalam dan panjang, buah zakarnya yang berat menampar pantatnya saat dia mendorong ke dalam kandungannya. Dia tidak bisa menolong, hanya melihatnya, setiap gerakan mereka yang mendatangkan nikmat.. Membayangkan waktunya akan segera datang.. Memancar dari Sumardi.. Berenang di dalam dirinya.. Membuatnya mengandung anaknya. Dia menggelinjang saat Sumardi menyusu pada puting susunya yang diremas keras, tangan besarnya meremas payudaranya bersama-sama saat dia mengocoknya berulang-ulang.

"Ohh Papa.. Penis besarmu membuatku Sa.. Sampaiiii.. Oohh" dia berteriak, menaikkan lututnya setinggi yang dia bisa untuk memaksanya lebih dalam ke bagian terdalam vaginanya.

Sumardi menghentak lebih cepat, meremas pantatnya untuk membuat sebuah lingkaran yang ketat pada vaginanya.. Momen yang sempurna mendekat dengan cepat saat dia menatap mata Sumardi.

"Emma sayang.. Papa juga keluarrrrrrrr……...."
"Mmmm….shh….." Emma memperlambakt gerakan Sumardi, menenangkannya ketika waktunya datang..
"Aku ingin menahanmu saat kamu keluar.. Saat kamu memompa benihmu ke dalam tubuhku"
"Oh sayang.. Ya gadis manisku.. Tahan aku saat kukeluarkan spermaku ke dalam vaginamu"

Dia merasa itu membesar di dalam cengkramannya, urat gemuk penisnya siap untuk berejakulasi, dan kemudian menghentak dengan liar, dan dengan masing-masing semburan yang dia rasa pancarannya yang kuat menghantam dinding vaginanya, membasahi hamparan ladangnya yang haus kekeringan.

Bibir mereka bertemu dalam lilitan kenikmatan, tangisan Emma menjadi kala air mani Sumardi menyembur dengan deras ke dalamnya. Punggung Emma melengkung, mencengkeram penisnya sangat erat saat ombak kenikmatan menggulungnya. Dia ingin menahannya di sana untuk selamanya..

"Ohh ….aahh.. Papa melakukannya.. Isi aku.. Papa…. Aahh…." jantung mereka berdegup sangat keras ketika mereka berbaring bersama, terengah-engah, sampai mereka bisa berbicara.
"Oh Tuhan, Emma.. Aku sangat menyanyangimu.."

Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: