Cerita Sex Tante Nikmatnya Ngeseks Saat Hamil



Aku perempuan yang sudah berumur 30 th. Namaku Mawar. Bodyku terbilang kecil dengan tinggi 156 cm dan berat 42 kg. Aku boleh dikatakan sangat pintar merawat diri, apalagi kini aku selalu mengenakan jilbab dengan rapat setiap pergi keluar rumah. Itulah sebabnya kulitku selalu kelihatan putih bersih terawat meskipun aku tidak pernah melakukan perawatan diri ke salon kecantikan. Bahkan teman-temanku mengatakan kalau wajahku masih seperti anak baru gede. 

Cerita ini terjadi di tahun 2005 saat aku menikah dengan seorang lelaki yang telah beristri, dan aku menjadi istri keduanya waktu itu (dimadu). Suamiku ini sebenarnya baik dan sangat menyayangi aku, aku pun sangat menyayanginya. Dalam kehidupan rumah tanggaku terlihat hanya normal-normalsaja. Hal itu terjadi mungkin karena perkawinanku sejak awal tanpa izin istri pertamanya. Sehingga perjalanan rumah tanggaku banyak terjadi masalah dikarenakan hal itu. Suamikupun pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, sehingga tidak bisa berlaku adil kepada istri pertamanya. Bahkan buat diriku sangat jarang dia bisa bermalam walau hanya untuk satu malam saja.

http://www.cerwasa.com/2016/12/cerita-sex-tante-nikmatnya-ngeseks-saat.html


Pelepasan rindu dengan suami sangatlah terbatas hanya pada siang hari saja, meskipun itu aku anggap cukup untuk merajut kenikmatan bersamanya. tapi lama kelamaan aku jadi sering merasa kesepian. Hal itu cukup lama berjalan, tapi aku tetap berusaha untuk sabar dan menerima semua ini sebagai sebuah nasib yang harus aku jalani. Di lingkungan rumah aku bertetangga dengan seorang wanita yang suaminya mempunyai bisnis di luar jawa. S (namanya) kurang lebih sama seperti aku, dalam hal pemahaman agama dan cara berpakaian.

Awalnya kami sering bertemu dalam arisan RT. Akhirnya kami berkenalan dan kami merasa ada kecocokan. Mengingat S ini juga ditinggal suaminya berbisnis di luar kota, sehingga dia di rumah hanya bersama kedua anaknya yang masih kecil. Itulah sebabnya aku sering bertandang ke rumahnya dan kami menjadi akrab. Dia baik sama aku, suka membantu dan menolong. Hingga sampai suatu hari terjadilah bencana Banjir bandang yg mengerikan di kotaku. Bencana itu telah meluluhlantakkan hampir seluruh rumah dan bangunan di desaku, termasuk rumahku. Alhamdulillah aku bisa selamat.

Peristiwa itulah yang menjadi awal dari berbeloknya kisah hidupku. Setelah bencana itu aku ditawari untuk tinggal di rumah M yang meskipun sederhana namun selamat dari kerusakan parah dan masih layak ditinggali. Setelah itu aku jalani hari-hariku di rumah keluarga ini. Selang beberapa hari setelah bencana itu suami S (sebut saja DT) pulang dan akhirnya menutup usahanya di luar jawa demi untuk bersama keluarganya yg sedang tertimpa bencana. Aku disuruh menempati sebuah kamar yg sederhana. Tempat tidur tanpa dipan dan ruang kamar itu tanpa pintu. Hanya ditutup kain horden. Meski demikian, aku sangat bersyukur dalam kondisi sulit seperti ini ada tetangga yg benar2 tulus mau membantu. Aku menjadi akrab dengan mereka dan anak2nya. Setiap hari kami saling membantu membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya serta mengurus anak-anak S dan DT.

Dua minggu setelah bencana itu aku periksa ke bidan desa dan aku baru tahu kalau ternyata aku hamil 1 bulan. Pantas saja, akhir-akhir ini badanku sering terasa lelah dan malas untuk beraktivitas seperti biasa. Aku sangat gembira dengan kehamilan pertamaku ini. Aku berharap semoga dengan kehamilanku ini bisa menambah perhatian suami terhadapku. Akupun menyampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku.

Namun impianku akan perhatian suamiku nampaknya harus aku hapus. Suamiku masih bersikap seperti biasanya. Dia masih lebih sayang pada istri pertamanya, sedangkan untuk diriku tidak lebih sebatas kebutuhan-kebutuhan badan yang dipenuhinya. Aku sedikit terhibur dengan keberadaanku di keluarga DT ini. Lama kelamaan kami menjadi seperti keluarga yang cukup akrab. Keakrabanku dengan DT dan keluarganya terkadang membuat batas diantara kami menjadi longgar. Terlebih lagi memang rumah keluarga AH ini kecil dan sempit. Terkadang aku kepergok DT dalam kondisi aku tanpa kerudung. Aku merasa risih sebenarnya, tapi mau gimana lagi ?

Hari-hari terus berlalu sejalan dengan keberadaanku di tengah2 keluarga mereka. Suamiku dua minggu sekali menjenguk aku di rumah DT ini. Sering kami keluar berdua, dan sorenya aku dipulangkan ke rumah DT. Keadaan seperti itu berlangsung hingga kira2 tiga bulan. Sampai suatu hari, DT menyatakan sesuatu kepadaku yang cukup membuat aku terperanjat. Ia memberikan harapan padaku bahwa dia bersedia mengawini aku jika saja aku mau bepisah dg suamiku. Aku kaget bukan main atas niatnya itu. Awalnya aku menolak secara halus. Tapi ketika dia mengatakan bahwa deritaku saat ini sudah dia konsultasikan dengan para Ulama (di linkungan RT), dan semua menganjurkan dalam kondisi suamiku yang tidak bisa lagi berbuat adil maka lebih baik berpisah saja. Saat itu aku mulai galau…. Antara ya dan tidak.

Aku merasa ada benarnya pendapat DT itu, tapi aku juga tidak mau kalau harus berpisah dengan suamiku, dan menyandang predikat janda muda. Aku, S dan DT terkadang membicarakan masalahku saat itu. Dan dari sekian alasan yang kami ajukan, selalu berdasar pada kesimpulan “lebih baik berpisah daripada diabaikan terus…” Akan tetapi sampai sejauh itu, S belum tahu jika DT sudah mempunyai maksud untuk menikahi aku nantinya. DT meminta kepadaku untuk sementara waktu menyimpan dulu hal itu sampai nanti dia sendiri yang akan menyampaikan ke S sambil menunggu saat yang tepat. Akibat seringnya kami ngobrol, dan terkadang di situ ada saat saling curhat diantara kami, aku semakin merasa nyaman. Sedikit demi sedikit tanpa aku sadari aku merasa mendapat energi baru. Sebuah sandaran yang bisa memberikan rasa nyaman dan bisa menerima aku. Sementara itu sandaran lamaku aku rasakan mulai hilang, dan menjadi hambar bahkan kadang menyakitkan.

Hingga pada suatu malam ketika aku tertidur sangat lelap. Tiba2 aku merasakan ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku….. Antara sadar dan tidak, aku merasa bahwa saat itu suamiku mencumbui aku…. Akupun menyambutnya dengan perasaan sangat bahagia, bagaikan orang yang telah dahaga tidak berjumpa dan memendam kangen yang sangat dalam… Dia mulai mencumbuiku, dari dasar kaki….naik ke betis, lalu paha dan akhirnya ke bagian yg paling rahasia.. Dia mencumbui bagian itu dg lembutnya, sampai akupun merasakan rasa nikmat yg sangat.. Dalam keadaan setengah sadar aku menerima semua itu dengan birahiku yg mulai bangkit membara.

Setelah itu aku rasakan dia mulai melepas celana dalamku….akupun hanya pasrah…karena memang aku juga sudah sampai titik birahi.. Dia mencumbui bagian itu sampai akhirnya aku merasakan kenikmatan yang sangat. Sampai ketika aku rasakan ada sesuatu yg mulai mendesak masuk ke penisku, aku baru tersadar dan membuka mata…. alangkah kagetnya aku, karena ternyata yg berada di atas tubuhku bukanlah suamiku, dan dia adalah… DT. Kaget, bingung, malu, marah dan apalah namanya berkecamuk jadi satu di otakku. Dia langsung menutup mulutku, sambil setengah mengancam dan berbisik…
”Hei… Jangan teriak..!”
Aku langsung sadar, kalau aku saat itu berada di rumah DT. Aku menjadi sadar bahwa kenikmatan yang barusan aku rasakan ternyata bukan mimpi. Spontan aku teringat istri dan anak2nya…ingat keluarganya yg selama ini sudah begitu baik padaku. Maka aku pun diam mencoba berpikir apa yang harus aku lakukan…. Yang pasti aku tidak ingin terjadi masalah dg keluarganya. Lalu aku mencoba berontak, akan tetapi tenaganya jauh lebih kuat dariku. Dia menindih dengan kuat sambil menutup mulutku…

Aku sudah mencoba menyatukan kedua pahaku, tapi dengan posisi DT yang sudah menindih dan berada diantara kedua pahaku, aku mendapatkan kesulitan untuk itu. Kedua kaki DT bhakan telah  mengunci kedua pahaku untuk terus terbuka. Kudorong tubuhnya, akan tetapi tubuhku yang mungil nampaknya tidak memiliki cukup tenaga untuk mendorong tubuh DT yang tinggi dan kekar itu… Tangan kanannya terus menutup mulutku dan tangan kirinya menekan tangan kananku. Tangan kiriku mencoba untuk meronta, tapi semua itu sia-sia. DT terlalu kuat bagiku. Lama kelamaan aku menjadi lemas kehabisan tenaga… Mungkin setelah dia rasa aku mulai lemah, dia mulai mengendorkan pelukannya.

Aku hanya bisa terisak memelas…”Abang…jangaaaann… Jangaaann…” Aku terus memohon..

Akan tetapi isakanku sia-sia, DT tetap mempertahankan posisi itu dan mulai membelai rambutku dan mencoba mencium bibirku… Diciumnya bibirku, dan lidahnya berusaha menerobos masuk mulutku. Aku berusaha menutup kedua bibirku dengan kuat. Perlahan-lahan tangan kirinya mulai meremas lembut susuku beberapa saat….

“Abang….tolong lepaskan….jangan abang….”

Aku terus memohon dengan isakan yang pelan nyaris tak terdengar. Bagaimanapun juga aku khawatir kalo aku sampai membangunkan S, yang tentu akan memicu masalah yang lebih besar. DT tidak juga bergerak, bahkan dia terus mempertahankan pelukannya… Setelah itu, aku rasakan penisnya mulai mencari-cari jalan untuk menerobos lobang vaginaku. Aku tersentak dan berusaha menghindarinya. Akan tetapi dengan sisa-sisa tenagaku, usahaku sia-sia. Akhirnya, dengan dua tiga kali sentakan dia menemukan lobang itu dan mulai mendorong pelan penisnya masuk lebih dalam lagi dan lagi…

“Aduhhh….Sakiiit abang….”

Aku merasakan rasa perih ketika kepala penis DT mulai menerobos lobang vaginaku. Dia mendorong terus penisnya sampai akhirnya aku rasakan semua tenggelam dalam lobang vaginaku. Aku menahan nafas, dan DT menahan posisi itu beberapa saat. Setelah dirasa aku diam, DT meneruskan gerakannya dengan yang lembut dan pelan….sambil terus dibelainya rambutku dan sesekali diciumnya bibirku. Penisnya terasa memenuhi seluruh ruang di lobang vaginaku, berbeda rasanya dengan punya suamiku.. terasa lebih besar dan keras.. AH terus memaju mundurkan pantatnya dengan gerakan yang lembut dan teratur…. berulang-ulang….

Awalnya aku merasakan perih di lobang vaginaku, barangkali karena kekagetanku ketika aku tersadar yang membuat nafsuku spontan hilang. Akan tetapi dengan peristiwa yang sudah berlangsung seperti itu lama-lama aku rasakan vaginaku mulai bisa menerimanya. Cairanku pelan-pelan mulai membasahi dinding-dindingnya dan otot-ototnyapun mulai merespon tanpa bisa aku tahan sedikitpun. Beberapa kali kepala penis DT terasa menyentuh dasar rahimku.. uh, sedikit ngilu.. tapi nikmat. Aku bingung, malu, takut, bercampur jadi satu dg gairahku yg pelan-pelan mulai merasuki lobang vaginaku.

Birahiku, perlahan tapi pasti getar-getar rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh nadiku… Entah demit apa yang berperan, lama-lama secara sadar aku mulai mengimbanginya dengan gerakan-gerakan kecil pinggulku…. Aku tidak bisa lagi berpikir jernih ….. Yang ada waktu itu hanya rasa malu, bercampur bingung yang sudah tertutup rasa nikmat yang mulai menjalar. Malu karena aku yang selama ini selalu menjaga diri dengan menutup rapat auratku, malam ini tubuhku nyaris telanjang di depan laki-laki yang bukan suamiku. Bingung,…mengapa getar-getar gelora nikmat itu bisa ikut menjalar dalam peristiwa seperti ini??

DT mulai memainkan iramanya, kadang dia percepat kemudian diperlambat…. Kadang dia benamkan dalam-dalam dan dia tahan sambil diputar-putarnya di dalam rongga vaginaku. Rasa yang aku rasakan pun semakin bergelora dahsyat…. Aku masih mencoba berpikir jernih bahwa pebuatan itu dosa, akan tetapi gataran-getaran rasa nikmat itu seakan menepis semuanya…..

“Abang….aaaahhhhh….”

Tiba-tiba DT mempercepat irama permainannya beberapa saat dan itu membuat aku tersentak terbelalak mencoba menahan sesuatu yang mendesak kuat pengin keluar dari dalam….. Akan tetapi tanpa bisa aku bendung, desakan-desakan itu semakin menguat dan…..

“Abang..bang….!! Aaaaccchhh……” Aku Sampai, tanganku meremas kuat kepala DT dan kedua kakiku terangkat tinggi sambil pahaku menjepit kuat-kuat paha DT. Yaahh….sampailah aku pada orgasmeku….

Sekuat aku ingin menahannya, kenyataannya aku tidak mampu. Daguku mendongak dan lenguhan kecilku tidak bisa aku sembunyikan lagi…. Otot-otot vaginaku terasa berdenyut-denyut meremas batang penis DT yang masih terbenam dalam-dalam. DT merasakan senang….entah apa arti senyumannya itu… Sesaat kemudian aku terkulai lemas tak berdaya

Karena dilihatnya aku mulai menikmati permainannya, dia semakin berani meneruskan misiya… DT memulai lagi mendorong dan menarik penisnya, kali ini langsung dengan irama yang cepat…. Aku yang sudah lemas dibuatnya terengah-engah menahan serbuannya. Dan dengan mata terpejam, aku ikut menyambut gerakannya dengan goyangan pinggulku. DT pun semakin ganas menggauliku. Sambil menggenjotku, tangan DT beraksi, meremas kedua susuku dengan gemas. Ditariknya Bra-ku ke atas, sehingga susuku pun kini terbebas sempurna, dan dengan ganasnya kedua susuku ikut bergoyang ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah seirama dengan goyangan dan genjotan DT. DT semakin bersemangat… sembari menggoyang tubuhku, puting merah muda susuku yang sudah berdiri dengan tegak dijepit-nya dengan jari-nya, dipilin dengan gemas. Bibirnya juga bergerak. Dicium-nya kedua puting susuku, dipermainkannya dengan lidah yang kasar. Aku hanya bisa melenguh kenikmatan..

“ Uuuuuugggghhhhhh.. ugggghhhhhh..”

Kemudian ditariknya tubuhku hingga sejajar dengan tubuhnya, pahaku pun kemudian ditumpukannya di atas paha-nya. Dengan posisi duduk seperti ini, klentitku pun bergesekan langsung dengan batang penisnya. Ah, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku utk menahan rasa nikmat yang timbul.. nikmat sekali rasanya. Kudekap kepala DT dengan kedua tanganku.. tanpa malu-malu kupagut juga bibirnya dengan bibirku. Lidah DT pun bergerak lincah.. menerobos masuk ke dalam mulutku, membelit lidahku dengan beringas. Aku semakin terbang. Cerita sex

Berbarengan dengan itu, tangan DT juga bergerak lincah.. diremas-nya kedua susuku.. dan tak ketinggalan putingnya dipelintir dengan jari-jari-nya. Bibirnya bergerak perlahan.. menyusuri bagian belakang telingaku..kemudian bergerak ke bawah menyusuri leherku yang jenjang.. dan tiba-tiba, bagian ular sanca, gigi-nya mematuk dan mulutnya mengigit leherku dengan keras. Aku hanya bisa menjerit lirih.. Tidak berselang lama, tangan DT memeluk tubuhku dengan erat.. puting susuku terasa bergesekan lembut dengan rambut di dada-nya.. uh, nikmat kurasakan.

Dirapatkannya kedua paha-nya.. bongkahan pantatku dipegang-nya dengan kedua tangan. Dibantunya pergerakan naik turunku di atas pahanya.. semakin cepat dan cepat. Bibirnya kembali mencari bibirku.. lidah kami berdua kembali bertaut. Dan tiba-tiba dibenamkan penisnya lebih dalam hingga dasar kepala-nya terasa mentok di dasar rahimku, dan kemudian menahannya sambil mengnikmatat

”Uuurrgg…aaacchhhh…, saaayyyaaaang…..” desahan panjangnya tepat di telingaku
Rupanya dia mendapatkan Puncak nikmatnya. Aku rasakan batang penisnya berdenyut-denyut di dalam lobang vaginaku, dan terasa beberapa kali semprotan hangat benihnya dalam rahimku… Ya….rahim yang saat itu sudah berisi janin dari suamiku… Malam itu DT menuntaskan birahinya denganku… Setelah selesai dia ke kamar mandi, lalu kembali ke kamarnya.. Aku terdiam dan terkulai lemas di tempat tidurku. Kulihat jam di hp-ku menunjukkan pukul 3.00 pagi. Setelah itu kesadaran dan kesadaranku mulai normal…Aku menangis,… Aku merasa sangat berdosa…!Berdosa pada suamiku…. Berdosa pada S sahabatku… Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.. tak bisa tidur lagi sampe pagi.

Pagi harinya DT mengirim pesan di hpku,

”Maaf ya, aku khilaf benar-benar tadi malam. Awalnya aku takut, tapi waktu aku lihat Melati jg menikmatinya, aku jadi semakin berani.”
“Iya, abang kok bisa gitu sih ? Jangan diulangi ya…” Jawabku.

Aku terdiam, berpikir mengapa itu bisa terjadi ?? Mengapa terjadi padaku..?? Dan parahnya lagi, mengapa aku semalam malah ikut menikmatinya…?? Aku mulai berfikir, apakah ini karena sebenarnya aku merindukan kehangatan dari suamiku ? Kuakui selama ini urusan ngeseks dengan suami lebih banyak terasa begitu hambar. . Mungkin karena banyaknya masalah yang terpendam dan menumpuk aku selalu hampir tidak pernah bisa orgasme. Apalagi setelah bencana banjir bandang, boleh dikatakan tidak pernah suamiku menyetubuhikuku. Sehingga semalam ketika terjadi peristiwa itu aku hampir bisa dikatakan pasrah, tanpa perlawanan yang berarti. Bahkan barangkali sebenarnya aku menginginkannya… Ah…yang sudah terjadi biarlah berlalu, pikirku… Aku hanya kawatir kalo peristiwa tadi malam diketahui oleh S, istrinya…. Mengingat S hanya tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku…
Setelah peristiwa itu hari-hari berlalu dan aku berusaha bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa… Aku tidak ingin S, istrinya tahu peristiwa malam itu… Begitu juga kepada suamiku…. Aku simpan rapat2 peristiwa malam itu. Waktu itu aku mulai berpikir, barangkali benar apa yang dikatakan para Ulama itu. Mungkin memang sebaiknya aku bercerai dengan suamiku. Bukankah dia tidak bisa lagi berlaku adil padaku ? Bukankah aku juga punya hak yang sama dengan istri pertamanya ? Bukankah DT sudah mau menikahiku ? Dan berbagai pernyataan batinku memenuhi benakku sekedar untuk mencari pembenaran atas pemikiranku….

Dua minggu setelah peristiwa malam itu….. Esoknya DT pamit mau ikut gotong royong memperbaiki rumah penduduk yang rusak karena banjir bandang. Memang waktu itu masih banyak rumah penduduk yang rusak dan kami di kampung itu menerapkan sistem gotong royong saling membantu untuk memperbaikinya. Meskipun bantuan dari masyarakat luar desa juga ada, akan tetapi kami selaku penduduk yang tinggal di desa itu merasa tidak bisa berpangku tangan. Setelah DT pergi, S istrinya juga pamit mengantar anak-anaknya sekolah. Anaknya yang paling tua kelas 2 SD, kedua TK. Sarana prasarana sekolah menjadi tujuan utama perbaikan di desa kami, mengingat penduduk tidak bisa membiarkan anak-anak mereka berlama-lama tidak sekolah. Jarak sekolah dari rumah DT kurang lebih 10 menit dengan berjalan kaki. Jam 7.15 S berangkat dan biasanya pulang sampai rumah sekitar jam 11.30 karena S harus menunggu anaknya yang duduk di bangku TK.

Begitu S pergi maka aku mengerjakan tugas-tugas di rumah. Itung-itung aku harus ikut meringankan beban S mengingat aku sudah banyak dibantu selama ini. Sangat tidak pantas rasanya kalau aku hanya berdiam diri sementara mereka bekerja. Aku berusaha mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik, dan siang itu kurang lebih jam 10 selesai sudah semua pekerjaan rumah. Badanku terasa lelah dan aku segera beristirahat di kamar. Baru saja aku membaringkan badan, tiba2 ada suara salam dan ketukan di pintu depan. Aku kaget, karena itu suara DT. Aku segera mengenakan jilbab besarku dan belum sempurna aku mengenakannya aku dengar langkah kaki DT sudah memasuki rumah. Aku segera memberi tahu kalo S baru ngater anak ke sekolah. Maksudku supaya DT tidak masuk rumah karena aku sendirian. Sangat tidak enak kalo ada tetangga yang tahu, apalagi ini siang hari….

“Bang, S belum pulang. Abang jangan masuk…..!”
“Cuma mau ambil cangkul kok,Dik…. Sebentar aja.”

Terdengar suara gaduh DT di belakang mencari-cari cangkul. Aku masih tetap di balik horden kamar, tidak berani keluar. Meski ada rasa takut, tapi jantungku mulai berdetak lebih kencang. Bayangan-bayangan peristiwa itu mulai muncul lagi….

“Ah….enggak … gak boleh! Jangan sampai !” pikirku.
“Adik, lihat cangkul ga ya ? Kok ga ada di sini ?”
“Di belakang pintu kayaknya…” jawabku
“Tolong bantu cari dong…keburu mau dipake nih…”

Dengan perasaan takut dan jantung yang makin berdetak kencang aku keluar dan menunjukkan posisi cangkul yang tertimbun barang-barang lain.

“Yups…ini dia…. Makasih ya… Adik udah makan belum ? lhoh, kok keliatan pucat sih?”
“Adik sakit ya? Udah, istirahat saja. Kasian kan kandungannya…”
“Ga pa pa kok bang….” Jawabku.

Aku segera berjalan untuk kembali masuk ke kamar melewati ruang keluarga. Tiba-tiba tanpa kuduga DT mendekap pinggangku dari belakang. Dia lingkarkan tangan kanannya ke perut sambil sedikit ditariknya badanku, sehingga sekarang aku berada dalam pelukannya. Belum hilang rasa kagetku, dia langsung dongakkan mukaku dengan tangan kirinya sehingga wajahku menengadah dan menghadap wajahnya. Spontan dia cium bibirku sambil tangan kanannya mulai meraba dadaku

“Jangan lagi Abang….Jangan…!” Aku memohon.
“Sebentar aja, Dik…” Jawabnya sambil terus memelukku dengan kuat.
“Jangan….nanti S pulang lho… Akh..jangan….mmmhh…..”

Dia terus mencium bibirku sambil mengelus susuku. Birahiku pun perlahan mulai bangkit. Ya….sebuah rasa yang memang sudah agak lama tidak aku dapatkan. Dari semenjak banjir bandang, pertemuanku dengan suami sangatlah jarang. Kalaupun berjumpa tidak pernah bisa ada ruang dan waktu untuk memadu kasih. Sehingga ketika siang ini aku mendapatkan perasaan itu maka terasa sulit juga untuk menghindar. Meskipun aku juga khawatir kalau S tiba2 datang. Akan tetapi aku merasa sedikit tenang, karena posisi ruang tengah ini tepat menghadap ke jalan dimana jika S pulang maka 150 meter sebelum sampai pintu pasti terlihat dari ruang ini, dan kami bisa segera menghilangdari penglihatan S. DT bisa segera keluar dari pintu belakang dan kembali bergotong royong. Pergulatan kami pun berlanjut…. DT semakin liar mencium bibir dan lidahku….sambil diremasnya susuku dengan lembut… Aku hanya bisa menggelinjang dan melenguh

“Aaaahhh….mmm…..abang….”

Dalam posisi masih bediri DT menarik bagian bawah bajuku. Rupanya dia mau menggarap bagian vaginaku. Aku memberikan jalan dengan agak melonggarkan selakangnganku…. Benar saja, jari-jemari tangannya mulai menerobos menembus celana dalamku. Dicarinya bagian klentitku dan dielus-elus dengan lembutnya… Klentitku mulai terasa basah dan jari-jemarinya mulai terasa licin menelusuri permukaannya. Nafasku mulai memburu dan aku mulai bergairah.

”uuhh…aaaa…hhh..mmmhh….”ketika dasar jari tengahnya menerobos masuk ke lobang vaginaku..

Aku semakin menggelinjang dan aku jepit jari-jemarinya dengan pahaku…

“Dikkkk …..” bisik DT di telingaku….

DT menurunkan celana dalamku, dan diapun membuka sedikit celananya sebatas turun ke lututnya. Aku diangkatnya, rupanya DT menginginkan ngeseks sambil berdiri. Aku pasrah ketika kepala penisnya mulai menyeruak bibir vaginaku dari bawah dan menekannya ke atas…..Bleesss…. Seluruh batang penisnya langsung masuk ke vaginaku. vaginaku terasa penuh sesak dan kurasakan rahimku tertekan ke atas…dan klentitku langsung tertekan pangkal penisnya yg berrambut lebat…

“Aaacchhhh……” Aku mendesah terasa begitu nimkat

Seluruh batang penisnya tertanam di lobang vaginaku. Kami berpelukan dalam posisiku dalam gendongannya. DT tidak banyak bergerak rupanya dia faham kondisiku yang lagi hamil. Dia menekan dengan kuat pantatku dengan tangannya dan memutar-mutar batang penisnya. Seluruh dinding lobang vaginakupun terasa diaduk aduk, serta merta klentitku menerima gesekan-gesekan lembut dari pangkal penisnya dan itu menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa…. Aku hanya terpejam menikmati permainan DT ini…. Gelora birahiku naik dengan cepatnya, aku memeluk lehernya dengan kuat. Dan bibir kami pun saling kulum dengan beringas….lidah kami saling beradu untuk membelit dan akhirnya…..

“Aaaaaaaaaaaaahhh……mmmmmhh….abbaaaanng….”

Aku tak bisa membendung puncak nikmatku yang datang begitu cepatnya. Aku remas kepala DT dengan kuat untuk melepaskan energi yang besar itu. Diputarnya tubuhku, sehingga posisi DT ada di belakang-ku. Ditekannya tubuhku mendekati tembok.. diposisikannya kedua tanganku menempel ke tembok. Diangkatnya kembali bajuku.. diposisikannya kembali penisnya di bongkahan pantatku.. ah aku senang dg posisi itu.

Akupun sedikit berteriak.. “..jangan abang.. jangan dimasukkan ke lubang anusku..”

DT hanya tersenyum, dan hanya berkata.“..Enggaaaak, sayaaangg.. aku cuma pengin ngentot dari belakang..”.

Dan dengan lembut kepala penisnya menyeruak masuk ke lubang vaginaku. Uh, rasanya menakjubkan ketika titik klentitku di dalam lobang vaginaku tersodok kepala penisnya yang besar. DT pun kembali menggoyang kembali tubuhku.. Disingkapnya bajuku lebih ke atas.. tangannya kemudian meremas kedua susuku dari belakang. Meski masih tertutup BH, tapi rasa nikmat akibat remasan tangan DT cukup terasa di puting susuku yang sudah berdiri tegak.. Tidak berapa lama, desakan orgasme-ku yang kedua pun mulai muncul. Kupeluk dan kutarik leher DT ke arahku.. aku ingin sekali orgasme sambil mencium bibir DT. Rupanya AH tahu keinginanku.. bibir-nya pun segera mengulum bibirku, dan ledakan orgasme-ku yang kedua menggelora.

“Aarggghhhhhhhhhhhhhhh….”

Setelah itu dibaringkannya aku di kursi, dan DT melanjutkan aksinya dengan gerakan memompa dengan cepat. Tak berselang lama DT mengnikmatat kejang….memeluk tubuhku merapat makin kuat….. Dia memejamkan matanya sambil melenguh,

“aaaaaccchhhhh………..”

Dan kemudian lobang vaginaku pun terasa mendapat kedutan-kedutan keras yang berlanjut dengan rasa banjir lahar panas mengguyur di dalamnya. Aaargggghhh.. aku pun mendapat orgasme yang ketiga. Sesaat setelah itu, dia roboh ke kursi sambil nafasnya terengah-engah…. Batang penisnya terlepas dari vaginaku.

“Kamu hebat luar biasa, Diiikkk…. hebat…”

Jam menunjukkan pukul 11.05… Sudah dekat waktunya S pulang. Maka aku minta DT untuk segera pergi sebelum S pulang. Aku membersihkan kursi, barangkali ada sisa-sisa sperma AH yang tertinggal. Setelah itu aku mandi membersihkan diri dan memulihkan kesegaranku.

Kurang lebih 3 bulan setelah itu aku benar-benar minta cerai dari suamiku, dan akhirnya kamipun bercerai. Tapi anehnya… aku tidak merasa berduka dengan perceraian itu. Waktu itu usia kandungankku 6 bulan. Berarti aku mempunyai masa idah selama kurang lebih 3 bulan sampai anak pertamaku lahir. Suamiku memang orang yang bertanggung jawab. Sebulan setelah perceraianku, dia menyewakanku sebuah rumah. Rumah itu cukup sederhana dan berada di pinggir desa. Tepatnya terpisah dari desa dan berada di areal perkebunan dan itu satu-satunya rumah di situ. Tetangga terdekat berjarak sekitar 100 meter dari rumah itu dan kurang lebih 200 meter dari rumah DT.
Kadang aku masih berkunjung ke rumah S untuk sekedar dolan. Suamiku pun seminggu sekali masih datang menjengukku sekedar menanyakan dan memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Suatu malam, nada sms di hp-ku berbunyi dan aku kaget bangun karenanya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 23.45. Ternyata dari DT…

”Dik…belum tidur kan ??”

Aku tidak meresponnya karena memang aku rasa sudah malam dan aku masih mengantuk. Akan tetapi tidak berselang lama, nada pangedann berdering lagi dari hp-ku. DT misscall. Akhirnya dg agak malas aku jawab teleponnya,

“Da pa mas ? Dah malam ni…”
Dia jawab lagi, “Jangan tidur dulu ya, 15 menit lagi aku datang…”

Astaga…aku terperanjat….! Edan juga ni orang… Tiba-tiba perasaanku campur aduk gak karuan…. Terbayang lagi peristiwa-peristiwa yang lalu…. Duh…Mau ngapain ini orang, pikirku. Dah larut malam gini lagi.

“Eh…ngapain ?! Jangan edan ah….!” Jawabku
“Aku baru pulang dari Jakarta, ada buah tangan buat Adik nih… he he”
“Ga enak kalo aku bawa pulang, ntar ketauan S kan ?” Jawabnya.

Lebih 15 menit berselang terdengar ketukan halus di pintu depanku. Aku segera mengenakan jilbab hitam besarku dan berjalan mendekati pintu dan mengintip dari balik horden. Ternyata benar, DT yang nongol. Nekat juga ini orang… Begitu slot kunci aku buka, dia segera  menerobos masuk rumah. Aku merasa gak enak dan khawatir kalau ada orang yang mengetahui kedatangan DT ke rumahku malam2 begini.

“Ada apa sih ? Gak enak kalo ada yang tahu…”
“Tenang…aku dah amati keadaan, aman. Tadi aku turun di dasar jalan dan jalan kaki ke sini…” Jawabnya.

Dia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas dan memberikannya padaku. Setelah aku buka, ternyata dua stel baju. Satu stel jubah merah tua lengkap dengan jilbabnya dan satu lagi gaun tidur warna kuning yang sangat cantik.

“Makasih yaaa…. Udah, sana pulang….” Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraankku…
“Kok langsung diusir pulang…?! Abang mau liat Adik pake dulu baju ini…”

Aku mencoba menolak karena memang sudah malam dan aku benar2 masih khawatir kalau ada orang yang tahu. Akan tetapi bukan DT namanya kalau mudah menyerah. Akhirnya aku turuti permintaannya. Aku ke kamar mandi dan berganti baju yang baru dibelikannya. Keluar dari kamar aku mengenakan baju jubah kuning dan jilbab besarnya. Terasa pas banget di badanku, seakan-akan baju ini memang dijahit untukku. Aku melihat sudah ada 2 gelas teh panas di meja. Rupanya selama aku di kamar mandi dia menyiapkan teh panas itu. Hmmm….dasar Edan, pikirku…

DT izin untuk mandi, karena selama perjalanan jauh badannya terasa lelah dan capek banget. Akupun memperbolehkannya. Dia masuk ke kamar mandi sambil membawa air panas sisa membuat teh barusan. Setelah selesai mandi DT keluar dengan mengenakan kaos yang bersih dan badannya terlihat segar. Kami ngobrol ringan sambil menikmati teh panas. Obrolan kami berkisar cerita DT yang baru merintis usaha baru di Bandung sampai akhirnya ke kondisi kehamilanku yang waktu itu sudah memasuki usia 8 bulan. Dia sangat perhatian padaku dan banyak memberi saran untuk kesehatanku dan jabang bayiku.

Diam-diam aku semakin merasa nyaman dan adem dengan perhatiannya… Tanpa aku sadari tiba-tiba tangan kanan DT sudah berada di kepalaku dan dibelainya jilbabku dengan lembut. Aku mencoba menghindar, tapi nampaknya DT membaca sikapku. Dielusnya dari atas ke bawah….dan sampai di tengkuk, dipijitnya dengan lembut dengan gerakan memutar ibu jarinya. Lama kelamaan akupun sangat menikmati pijatan demi pijatannya.
Akhirnya pijitannya turun ke lengan dan punggungku. Agak lama dia pijat bagian tersebut dan akupun semakin menikmatinya… Entah berapa lama aksi itu berlangsung, tiba2 kurasakan hembusan hawa hangat di leherku. Ya,…DT mencium bagian belakang leherku dari balik jilbabku. Aku agak terkrjut, tapi pasrah. Mungkin karena suasana yang seperti itu membuat nafsuku pelan-pelan bangkit. Rupanya DT tahu akan hal itu… Dia terus menciumi leherku dari belakang, dan akhirnya dibalikkannya tubuhku hingga kami berhadapan. Aksinyapun dilanjutkan dengan ciumannya di bibirku… Dilumatnya bibirku dengan lembutnya, dan akupun menikmatinya. Aku buka bibirku dan lidah kamipun saling membelit dengan beringasnya….

Untuk kesekian kalinya aku kehilangan kesadaranku. Tapi aku pikir sudah kepalang tanggung. Bukankah aku sudah dicerai dan DT pun bersedia mengawiniku? Apalagi aku dalam kondisi hamil…. Jadi amanlah aku pikir… pergulatan kami pun berlanjut… Sambil berciuman tangan DT menelusup di balik jilbab dan meraba-raba susuku. Nafasku mulai memburu dan kuberanikan diri meraba penis DT. Terasa betapa penisnya sudah mengeras….besar dan panjang. DT kemudian membuka resleting celananya untuk memberi jalan padaku supaya lebih bebas memegang penisnya.

“Wow….” Ternyata penisnya sangat besar dan panjang terasa dalam genggamanku. Aku tidak berani melihat, akan tetapi aku rasakan ada cukup sisa panjang penisnya yang tersembul dari genggamanku.

Terdengar DT berbisik.. “adik.. tolong dikocok donk…”.

Selama aku Kawin, belum pernah sekalipun aku memegang penis suamiku.. apalagi kemudian mengocoknya. Bingung disertai rasa takut, perlahan-lahan, aku kocok juga batang penis DT.. mulut kami pun kembali saling beradu. Tak berapa lama, kurasakan batang penis DT semakin membesar dan mengeras. Akhirnya kuberanikan diri untuk melirik penis DT. Ahhhhhh.. tak kusangka, kepala penis DT sangat besar.. dan terlihat mengkilap karena cairan sudah mulai keluar dari lobang kecil di kepala penisnya.

Kembali terdengar DT berbisik.. “adik.. tolong dikulum”
Aku kaget setengah mati mendengar permintaannya, dan kujawab “..maaf, bang.. aku belum pernah.. aku gak bisa … takut…”
DT pun menjawab.. “ya sekarang dicoba..”

Bandanku pun ditekan kedua tangan DT yang kekar ke bawah.. kakiku pun bertumpu pada kedua lututku.. posisi kepalaku menjadi sejajar dengan penis DT. untuk pertama kali-nya dalam hidupku, aku melihat penis seorang pria dewasa yang sedang berdiri tegang. Bentuknya aneh.. urat-uratnya terlihat jelas bagaikan akar yang mennikmatlingi batang pohon.. rambut penisnya terlihat ikal dan lebat. Dan ternyata lebih aneh lagi pada saat kucium bau-nya.. tapi entah kenapa, tiba-tiba aku semakin bergairah dengan kondisi itu.. kurasakan ada sedikit cairan yang mengalir keluar dari lobang vaginaku..

Berdebar karena bingung.. kucoba mendekatkan diri ke kepala penis DT. Perlahan-lahan kujilat dengan ujung lidahku.. kemudian aku menengadah ke atas.. kulihat muka DT, matanya terpejam menikmati sentuhan ujung lidahku.. aku menjadi semakin terangsang.. kujilat kembali kepala penisnya.. berulang-ulang seperti anak kecil yang sedang menikmati permen kojak.. ujung lidahku pun bergerak menyelusuri batang penisnya.. ke bawah dan terus ke bawah hingga pangkal-nya. Kemudian kubalik arah-nya, kujulati dari pangkal hingga kepala.. berulang-ulang. Mulut DT pun melenguh.. Tiba-tiba, pada saat mulutku menjilat kepala penis untuk yang kesekian kali, kedua tangan DT yang berotot memegang kepalaku.. dan ditariknya kepalaku ke depan.. masuklah seluruh batang penis DT ke dalam mulutku.. Akupun tersedak.. hueeekkksss… hampir muntah rasanya.

Akupun marah.. “..abang.. kenapa dimasukkan semua ke mulutku..?
DT menjawab.. “..aku sudah nggak tahan, dikkk.. tolong emut…. tolong..”

Aku segera bangkit berdiri.. aku marah sekali.. kurapikan jubah yang kukenakan.. dan duduk di kursi membelakangi DT. Melihat aku marah, DT memeluku dari belakang dengan lembut. dan berbisik di telingaku..

“..maafkan abang yahhhhh.. kamu jangan marah.. abang janji nggak akan mengulangi lagi..”.

Diremasnya kedua susuku dengan lembut.. berkali-kali.. lidahnya pun menjilati bagian belakang telingaku. Meski masih tertutup jilbab, tapi perbuatan DT di belakang telingaku membuat bulu kudukku merinding.. dan membuat menggelinjang menahan nikmat. Mendapat perlakuan seperti itu, aku-pun luluh.. kusambut mulut DT yang ada disampingku telingaku dengan ciuman yang liar.. lidah kamipun saling memagut satu dengan yang lain.. Kami terlibat dalam percumbuan yang ganas dan dahsyat, masing-masing dari kami saling merangsang dengan hebatnya. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya, saat DT mengangkat tubuhku ke dalam kamar.

Dibaringkannya tubuhku di tempat tidur dan kami melanjutkan percumbuan kami. Dia semakin beringas, disibakkannya jilbab besar yang aku pakai dan ciumannya kini mulai turun ke leher dan daerah susu. Akupun semakin menggelinjang gak karuan… DT pun makin menggila, dibukanya kancing jubah yg aku kenakan sekaligus celana dalamku. Dan untuk pertama kali-nya, aku bugil di depan DT. Entah demit mana lagi yang meracuniku sampai rasa maluku malam itu benar2 hilang. Yang ada hanya hasrat yang memuncak dalam birahi. Aku selalu menantikan serangan selanjutnya dari DT….

Mulutnya kembali menerjang mulutku.. kemudian bergerak ke bawah, menelusuri leher-ku yang jenjang.. turun dan terus turun.. dan secara perlahan dikecup-nya pangkal susu-ku yang putih. Tiba-tiba aku tersentak dan menjerit lirih, ketika kecupan lembut DT berubah menjadi cupangan dan gigitan yang terasa menyakitkan.

“Ah, abang.. jangan digigit.. sakit..”.
DT hanya tersenyum dan menjawab “.. maaf sayang.. aku gemas dengan susumu..”

Lidahnya terus bergerak lincah.. puting susuku dipelintirnya.. bergantian kiri dan kanan.. berulang ulang entah berapa kali. Dan kembali aku tersentak dan hanya bisa menjerit lirih, ketika mendadak puting susuku dihisap DT dengan ganas.

“..abaaaaanngggg.. uuuggghhhh..” Di tengah nafsu yang melanda, sulit sekali aku membedakan antara sakit dan nikmat akibat sedotan itu.

Bosan bermain-main dengan susuku, DT pun mulai mencumbui bagian bawahku. Lidahnya mulai menjilati bibir vaginaku. Dengan suara gemetar karena menahan nafsu, terdengar DT berbisik,

“..Aadiik.. rambut penismu bagus.. rapiiii.. abang juga kangen dengan baunya.. harum..”.

Aku hanya tersenyum senang, dan kedua tanganku pun meremas rambut kepala DT dengan gemas. Duh, sudah tidak sabar rasanya merasakan klentitku di oral oleh DT. Tidak berapa lama keinginanku pun terkabul, klentitku mulai diisap-isap dan dijilat-jilatnya. Aku menggelinjang sangat hebat sampai pantatku terangkat-angkat tidak karuan….lenguhan-lenguhan kecilku menambah panasnya tempat tidurku malam itu….

”hhh….ssshhh… aaachh…. abang… aaahh…mmmm….”

Dia bertahan beberapa saat di permainan itu sampai akhirnya aku setengah menjerit,

…”Aaaaccchhh…..abaaanggg….aaaaaaahhhhhh” Aku remas rambutnya dan kakiku menjepit kuat lehernya. Yah….aku orgasme….

Suatu kenikmatan yang aku jadi merindukannya….. Setelah beberapa saat aku terkulai lemas…. DT menciumi wajah dan bibirku sambil tersenyum penuh kepuasan….

”Iiihhhh nikmat banget ya….??? Sampe gitu-gitunya….” selorohnya menggoda.

Aku hanya terpejam sambil tersenyum puas…. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang bugil. Bagaimanapun juga masih ada rasa malu ketika aku tahu DT melihat tubuhku bugil seperti ini. Beberapa saat setelah itu sambil aku masih terbaring berselimut DT kembali memijat kakiku. Rupanya dia memahami kondisiku malam itu. Badanku yang memang terasa lelah makin lemas rasanya ketika harus meledakkan energi orgasme yang cukup dahsyat barusan. Dia mulai memijit jari-jemari kakiku, kemudian telapak kaki. Dipijatnya dengan lembut bagian itu sampai aku benar-benar merasa cukup segar lagi. Kemudian pijatannya mulai naik ke betis dan di kanan kiri tulang keringku, sampai ke lutut. Setelah dirasa cukup, mulai telapak tanganku dipijatnya merata sampai ke bahu. Benar-benar pijatan yang bisa mengendorkan seluruh syaraf dan otot tubuhku. Aku sangat menikmati pijatannya, sampai akhirnya aku tertidur….

Namun tiba-tiba aku merasakan birahiku merambat naik lagi… Aku tersadar… Ternyata DT mulai menyerangku lagi. Kali ini dia langsung ke klentitku. Pelan tapi pasti hasratku mulai memuncak lagi. Aku mulai melenguh dan pantatku terangkat-angkat… Digosoknya klentitku yang sudah licin dengan jarinya, dan sesekali dimasukkannya jarinya ke vaginaku dengan gerakan keluar masuk. Aku terbelalak, nafasku mulai bergelora lagi dan tanganku mencari-cari kepalanya. Aku tarik kepalanya dan kami bercumbu lagi dengan hebatnya. Lidahnya menyapu langit-langit mulutku dan itu membuat aku semakin beringas seakan mau menelan lidahnya bulat-bulat. Setelah dia rasa aku cukup pemanasan, dia membuka kakiku dan memasang posisi siap beraksi…

“Gantian ya Dik, abang belum dapat tadi….” bisiknya di telingaku.

Aku hanya terpejam….

“Hati-hati lho, perutku udah besar…” bisikku
“Tenang sayang, aku tahu caranya kok…nikmati saja ya.. coba kamu naik di atasku, sayang….”

Akupun menurutinya. Aku segera naik ke atas tubuh DT. DT meraba-raba pantatku sesaat, sebelum aku menikmatinya penisnya mulai menyeruak bibir vaginaku. Mendesak masuk, pelan tapi pasti… Agak susah masuknya, barangkali dengan posisi itu lobang vaginaku menjadi lebih rapat. Dia terus mendorong dengan mantap sampai akhirnya seluruh batang penisnya tertanam di lobang vaginaku. Cerita sex

Aku terhenyak…. DT mulai meremas kedua susuku.. dimainkannya kedua putingku dengan jari-nya. Akupun mengimbangi dengan gerakan naik turun.. kurasakan klentitku menggesek rambut penisnya.. uh nikmat dan nikmat. Aku rasakan gesekan-gesekan penis besarnya di dalam lobang vaginaku mengaduk-aduk rahimku. Aku mulai mendesah dan melenguh lagi dan pasrah dalam kenikmatan yang semakin lama semakin memuncak…. Tak selang lama, DT melenguh panjang,…

”Uuuuuuggghhhh…..diiikkkkk….” Rupanya dia sudah orgasme duluan.

Ditariknya pantatku kuat-kuat dan ditancapkannya seluruh batang penisnya dalam-dalam. Aku rasakan semburan benihnya amat banyak di dalam rongga vaginaku, sampai aku merasakan ada sebagian yang keluar mengalir turun di pahaku. Setelah itu disuruhnya aku berbaring dan kembali kami berpelukan dengan kuatnya melepaskan energi yg maha besar itu. Setelah nafasnya agak teratur, DT kembali memulai permainannya. Sekarang posisi aku terlentang di bawah dan DT menopang badannya di atasku. Ia mulai memasukkan dan memainkan lagi penisnya di dalam vaginaku. Luar biasa, tahan lama juga rupanya…

Dia menyangga badannya dengan kedua tangan, sehingga perutku aman dari tekanan berat tubuhnya. Dia permainkan penisnya di dalam lobang vaginaku, diputar-putar dan maju mundur masuk perlahan-lahan….kadang agak dipercepat. Terdengar bunyi “crot-crot…” berulang-ulang karena beradunya kelamin kami yang sudah sangat basah. Dalam gerakan-gerakan dan gesekan antar kelamin yang penuh birahi itu tak lama kemudian aku mendapatkan lagi puncak nikmatku…. Orgasme yang kedua, yang aku rasakan jauh lebih dahsyat dari orgasmeku yang pertama tadi.. Aku mengejang dengan dahsyat,

“Uuuuaaaacchhh….. abaanggg… aku sudah mau keluar..”
DT membalas, “.. tahan sebentar ya.. aku juga sudah mau keluar.. kita bareng-bareng yah..”

Dipercepatnya gerakan keluar masuk batang penisnya.. cepat, cepat, cepat dan semakin cepat.. hingga akhirnya aku menjerit keras….

“..aaaaahhhhhh……..akh…akhhhh.. ……”

Seluruh otot di tubuhku serasa lepas … Aku dekap erat kepala DT dan kakiku menjepit kuat pinggangnya untuk kedua kalinya malam itu. Dan DT pun menyusul berteriak..

“..aaaaahhhhhhhhhh..”.

Ditancapkannya penisnya dalam-dalam di lobang vaginaku.. terasa cairan panas memenuhi rahimku. Tubuhnya menggelepar hebat di atas tubuhku.. tuntas sudah. Nafas kami memburu beradu dengan nafasnya. Ciuman kami menyatu dengan kuatnya seakan tak mau kami lepaskan. Kami sama-sama terengah-engah malam itu, bermandikan keringat. Setelah itu,DT memeluk tubuhku dengan lembut dari arah belakang.. lengannya yang kekar melingkar di leherku.. dan kepalaku pun akhirnya disandarkannya di dadanya yang bidang. Dikecup-nya keningku, kedua mataku, kedua pipiku,dasar hidung-ku.. dan mulutku. Kupejamkan mataku.. damai sekali aku rasakan waktu itu, rasanya aku sudah memiliki suami yang benar-benar bisa membuatku bahagia. Kami pun akhirnya tertidur pulas sampai pagi

Sampai waktu terdengar kokok ayam kami terbangun, dan ternyata posisi kami masih belum berubah.. tubuhku masih ada di dalam pelukan tangannya. Hari-hari selanjutnya kami sering ngeseks di rumah itu.. dan aku pun akhirnya berani melakukan oral sex ke DT. Bahkan, DT sengaja membawakan VCD porno untuk mengajariku bagaimana melakukan oral sex.. sampai akhirnya kami berdua sering melakukan oral sex secara bersamaan.. DT  ke rumahku selalu malam hari, kadang langsung pulang dan terkadang tidur sampai pagi. Jika sampai pagi biasanya DT pas saat pulang dari luar kota.

Tags:cerita Seks, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Subscribe to receive free email updates: