Cerita Seks Abg - Pria Setengah Tua Itu Bersenjata Besar


Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Cintya adalah seorang gadis muda berusia sekitar 18 tahun, yang masih kelas 3 SMU, dia gadis periang dan ramah, selain cantik, Cintya mempunyai lekuk-lekuk tubuh yang seksi. Siapun cowok yang melihatnya pasti akan terpesona. Cerita ini berawal ketika siang tadi siang saat Cintya pulang sekolah berpapasan dengan Pak Rahmat yang sedang memperbaiki dinding rumah.
www.cerwasa.com

“Siang pak..lagi ngapain pak..?” sapa Cintya.
“Eh..dik Cintya dah pulang..”sahut Pak Rahmat dengan mata berbinar. “

Cintya yang mau buru-buru ke kamar terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh, ketika Pak Rahmat meminta bantuannya, namun sebenarnya Cintya kesel banget dengan pandangan nakal Pak Soleh.

“Bisa pak…” jawab Cintya agak Ketus.
“Tolong turunkan semua foto-foto yang tergantung di dinding, sebab dindingnya mau sya bersihkan.” Kata Pak Soleh.

Saat Cintya menaiki tangga yang dipegangi Pak Soleh, Mata Pak Rahmat dengan leluasa menikmati indahnya paha putih mulus. Melihat pemandangan indah ini, Pak Rahmat merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan penisnya yang jadi semakin keras menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi saat itu Pak Rahmat hanya dapat menelan air liurnya sendiri.

Sudah beberapa kali Cintya naik turun tangga untuk menurunkan semua foto yang ada di dinding, sampai akhirnya entah karena capek atau kurang berhati-hati, dan rasa dongkolnya pada Pak Soleh, Cintya terpelanting dari tangga.

“Eiiihh…eiihh..” Cintya terjatuh ke belakang dan saat itu dengan sigap Pak Rahmat menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh lebih parah. Merah muka Cintya karena satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari dekapan Pak Rahmat yang mengambil kesempatan itu.

“Maaf dik Cintya, untung sempet saya tangkap tubuh adik, kalo ngga bisa gawat tuh..” ujar Pak Rahmat tersenyum nakal yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Cintya tadi walau sesaat.
“Mmm..iya pak, makasih....” jawab Cintya sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Pak Rahmat yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu. “Hmmm..suatu saat tubuh indahmu bakal kutelan habis” pikir pria setengah tua ini yang sebenarnya memang punya kelainan sex, dalam hati.

Cintya masih uring-uringan dengan kejadian tadi. Sudah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata-kata yang menjurus mesum dari si pria setengah tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bahwa tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang di tengah kota dan dekat dengan sekolahnya atau mau ke mana saja. Maka ia memutuskan untuk tetap bertahan asalkan si otak mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Bila ketemu pasti Cintya merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Pak Rahmat yang seperti menelanjangi sekujur tubuhnya, tapi terkadang selain ngeri dan risih Cintya juga merasakan bangga dan senang karena kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu.

“Ahh..persetan, ga penting juga kali …mendingan aku mandi” kata Cintya dalam hati Sambil mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH Biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara besar. Dengan pinggang yang ramping, maka payudara itu tampak sangat besar dan indah dan karena Cintya rajin olahraga makin tampak kencang dan padat. Sungguh merupakan idaman bagi semua laki- laki di dunia bagi yang dapat menikmatinya. Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok abu-abunya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 169cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada.

Body yang akan membuat laki-laki rela untuk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih mulus dan dihiasi dengan bulu-bulu halus lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara. Cintya melepas kaitan bra disusul dengan cd-nya yang segera dilemparkan ke ember tempat baju kotor. Ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan.

“Auuh…” Cintya sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada memeknya yang tanpa sadar tangan kirinya turun ke arah memeknya dan sedikit membelainya. Sambil senyum-senyum sendiri, Cintya membayangkan dada telanjangnya dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari pacarnya yang tidak penah bosan juga mengulum puting dan menciumi kulit payudaranya yang mulus dan harum itu.

Cintya menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru tadi malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan pacarnya. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian pacarnya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dengan hot dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum penis Pacarnya sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran penis Pacarnya saja udah bikin deg- degan, ga sabar untuk ketemu dan mengemut-ngemut batang kemaluan yang kokoh itu.

“Huuuh..mending aku segera mandi aja deh, biar otakku gak semakin ngeres.”

Selesai mandi, sedikit terusir pikiran-pikiran tadi karena sudah tersiram air dingin. Dengan hanya mengenakan rok mini, Cintya menuju ke ruang makan, karena dari tadi sehabis pulang sekolah dia belum mengisi perut.

“Ehh..Dik Cintya baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe cantik makan sendirian” tiba-tiba Pak Rahmat muncul.
“Ia pak..” jawab Cintya sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia-sia menarik turun rok mininya.

Karena kedatangan Pak Soleh, Cintya buru- buru nyelesaiin makannya, saat tiba-tiba ia merasa puting susunya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada memeknya. Ia sudah berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat

“Ouuuhh..” keluh Cintya

Akhirnya Cintya tidak tahan dan ia menggaruk sedikit kedua payudaranya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya karena keenakan menggaruk ia lupa jika dihadapannya ada Pak Soleh.

“Kamu Kenapa Dik Cintya?” Tanya Pak Soleh
“Uuuuuffh..ssshh…ga tau nih Pak” jawab Cintya

Aliran darah Cintya berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat nafsu birahinya bangkit.

“Ma…maaf pak..uuffh..” Cintya berniat mau bangkit dari kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya terduduk kembali sambil terus menggaruk,ia melihat Pak Rahmat hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu.

Cintya mengutuk karena ia memberikan tontonan gratis kepada pria tua itu tanpa dapat mencegah. Gerakannya makin cepat dan tidak karuan karena kedua tangannya hanya bisa menggaruk – garuk bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sudah tersingkap semua karena ia harus menggaruk liang memeknya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus itu. Cintya terus mendesah karena kini rasa gatalnya sepertinya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan celana dalam tipisnya untuk memeknya, tubuhnya serasa lemas karena rasa gatal dan nafsu birahinya yang kini membuat memeknya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras.

Karena akhirnya ia tidak tahan dan tidak bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik turun branya sehingga kini payudara putihnya telanjang, segera ia menggaruk dengan cepat dua gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan karena rasa gatal pada memeknya makin menghebat. Pak Rahmat tersenyum dalam hati, kini ia dapat menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa payudara Cintya yang berbentuk bulat kencang itu tidak tertutup apapun.

Senang ia melihat gadis yang cantik ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mencampuri makanan itu dengan obat perangsang dan bubuk gatal. Tangan Cintya masih bergerak menggaruk, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk memeknya secara langsung tapi ia kesulitan karena harus menggaruk putingnya. Akhirnya Pak Rahmat memberanikan diri menawarkan bantuan,

“Saya bantu ya Dik Cintya…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Cintya, sehingga sekarang terlihat memek Cintya yang dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan.
“Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh… iyaa…ouuhh” ngga jelas Cintya mau ngomong apa.

Sedetik berikutnya memeknya sudah diobok- obok oleh orang yang dia sebeli, tapi Cintya tidak berdaya karena rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tidak mampu menolak perbuatan Pak Rahmat . Kini ia fokus menggaruk payudaranya, tidak hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri. Dengan leluasa Pak Rahmat menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milik gadis itu. Hampir 5 menit liang memek itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Pak Rahmat yang sudah ahli itu.

“Aaaahh..jgn dilepas..ohh…pak..” jerit Cintya saat tangan Pak Rahmat mengangkat tangannya dari memeknya yg sudah basah itu dan malah.
“Kenapa Dik..? kamu mau aku untuk terus mainin memek kamu..?” tanya Pak Rahmat .
“Ngeh..ngeh..iii … ouufh..” Cintya menganggukkan kepalanya
“Bener nihhhh..??” Tanya Pak Rahmat senang.
“uuhh…ngeh… sssh..” Cintya mengangguk lagi, karena sudah terbakar birahi.
“Baiklah adik cantikkkkk…” jawab Pak Rahmat

Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir memek Cintya yang becek itu dan menggesek dengan cepat. Cintya melenguh penuh nikmat sambil meregangkan selakangannyanya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya yang mengakibatkan Cintya mendesah- desah. Cintya merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik..

“Oouuhh…ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Pak Rahmat makin menggila dan terus menggila, ia sudah hampir tidak tahan. Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tidak mengira bahwa dirinya dapat dibuat klimaks oleh Pak Rahmat .
“Ouuuuuuhhhhhh…. aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Cintya mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras.

Cairan nikmatnya makin deras membasahi liang memeknya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Pak Rahmat menunduk dan mencium bibirnya yang tipis.

“Mmmmmmpphhh…..” Cintya mengerang dan sulit menolak saat lidah Pak Rahmat memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Pak Rahmat masih mengocok kencang lubang memeknya dan Cintya merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Pak Rahmat berpindah mencium puting susunya.

“Auukkh..ssttopp..ssssshh… ssshh..” tapi Cintya malah membusungkan dadanya, sehingga mempermudah Pak Rahmat menikmati puting kerasnya. Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu birahi yang tidak pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Pak Rahmat ke penisnya yang sudah mengeras.
“oouuh..bes..bessar banget ppaakk..” gumam Cintya tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik ke arah batang kemaluan Pak Rahmat yang ternyata lebih besar dibanding milik pacarnya.

Tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum penis itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila penis itu menyerang memeknya. Dengan birahinya yang terus membara. Cintya dengan penuh nafsu terus mengocok penis raksasa Pak Soleh, ia sudah tidak ingat akan rasa sebelnya terhadap pria setengah tua itu. Pak Rahmat mulai mendesah-desah keenakan di antara kulumannya pada kedua puting Cintya.

“Aaaaaaaannggghhhhh… pppaaaakkhh…… aaaaaaannggghh…” Cintya mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut karena kocokan tangan Pak Rahmat , matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai menahan nikmat.
“Sekarang kamu emut punya bapak yaa..kamu kan jago kalo sama pacar kamu”
“ouuh..ngga ma..mau..ap… aauupphhh..mmmhh..” Cintya yang lemas akibat klimaks tadi tak berdaya menolak saat Pak Rahmat menarik lehernya membungkuk ke arah batang kontolnya, tidak memperdulikan protes Cintya yang ia tau hanya pura- pura karena sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu.
“Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…?” Desis Pak Soleh.

Aroma dan rasa dari penis laki- laki itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak.

“Ayo..cantik… sekarang kamu di atas ya..” pinta Pak Rahmat

Tanpa berucap Cintya mulai menaiki ke atas tubuh tambun Pak Rahmat , dengan hati berdebar menanti penis besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Pak Rahmat yang memegang pinggangnya yang ramping.

“Ooooh..” Cintya mengerang saat ujung kontol itu bersentuhan dengan bibir memeknya dan mulai memasuki liang surganya. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat baru masuk sedikit, liang memeknya berusaha mengimbangi diameter penis Pak Rahmat itu.
“Enak kan Cin?”Tanya Pak Soleh
“Hmmmmm…nggh…” Cintya hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu penis itu terbenam seluruhnya ke dalam memeknya. Tapi Pak Rahmat hanya menggesek- gesek liang memek Cintya itu dengan ujung kepala “meriamnya”. Cintya menggoyang- goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan pantatnya, tapi Pak Rahmat tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat membenamkan penis Pak Rahmat seluruhnya.
“Hemmm…kenapa Cin? Udah ga sabar yaa ngerasain kontol bapak?”
“Oouuh …paaak… tolong masukin kontol ba..ngeehh..bapak ke memekku paak, kentotin sayaaa ooh paakk… akkuu.. akuuu mohooon…” pinta Cintya memelas sambil meremas-remas kedua payudaranya.
“Hehehehe…kamu tergila- gila ya sama kontol bapak..”
“Iyaa ppaakkh… please..aku ga tahaaan paakk…”

Pak Rahmat lalu menarik ke atas tubuh Cintya dan menurunkannya kembali, dengan diiringi erangan Cintya merasakan penis itu makin dalam menerobos ke liang memeknya dan sulit ia menahan diri untuk tidak klimaks yang keempat kalinya. Cintya kembali menaikkan turunkan pantatnya, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat karena memeknya sudah bisa menerima penis berukuran di atas rata-rata itu. Cintya sudah benar-benar dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang-awang merasakan gesekan-gesekan penis Pak Rahmat dengan dinding memeknya. Tidak sampai 5 menit Cintya sudah merasakan akan keluar lagi.

“Ouuh..ammmpuuunnnnn.. oouuuhhhhhhhhh..” Cintya mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi penis yang masih perkasa itu.

Payudaranya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dengan nikmat Pak Rahmat meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas- remasnya dengan gemas. Dengan liar Cintya terus menunggangi penis itu. Hampir 25 menit Cintya menikmati permainan penis itu, dalam permainan itu Cintya sudah mencapai orgasme 4x lagi, ia tidak dapat menahan untuk tidak melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit untuk fokus bahwa ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki- laki setua itu. Pak Rahmat juga sudah hampir mencapai puncaknya, penisnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Cintya, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan payudara montoknya bouncing naik turun makin cepat.

“Uuuaaahh… gilaaaaa… ooouuuhhh…” akhirnya Pak Rahmat tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Cintya. Pak Rahmat merasakan dinding memek Cintya yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya. Dengan lunglai Cintya turun dari tunggangannya dan rebah di samping Pak Rahmat yang juga masih merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu.

Setelah peristiwa itu Cintya memutuskan untuk pindah kost, karena dia tidak mau hal itu terulang lagi. Ia akan malu berat jika sampai pacar atau temen-temennya tahu bahwa dia mau-maunya ngeseks dengan lelaki yang pantasnya menjadi ayahnya. Cukup sekali itu saja dia ngeseks dengan Pak Soleh, meski ia sangat menyukai hebatnya kontol Pak Rahmat yang super gede dan panjang.

Tags: Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.


Subscribe to receive free email updates: