Cerita Seks Threesome - Ngeseks dengan Anak Gelandangan

Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Hari minggu ini aku aku berncana ingin pergi berlibur menghilangkan kejenuhan pikiran, dan aku putuskan untuk pergi ke Bandung. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku pun segera berpamitan kepada Ibu. Aku sengaja tidak bilang ke pacarku kalau aku akan pergi sendirian ke Bandung, karena dia pasti tidak akan mengizinkanku. Oh ya perkenalkan namaku Juwita. Umurku 24 tahun.

www.cerwasa.com

Setibanya di Bandung, aku langsung memanfaatkan waktu dengan berkeliling kota, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Aku lalu bersiap untuk mencari makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Hari itu aku memakai kaos putih ketat yang aku tutupi dengan jaket dipadukan dengan bawahan celana panjang berwarna hitam. Walaupun begitu, tetap saja masih banyak laki-laki iseng yang mencoba untuk menggodaku. Namun tentu saja tidak ada satupun yang aku hiraukan.

Setelah cukup puas berkeliling kota Bandung sendirian, aku pun berniat untuk pulang. Kalau tidak salah saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karena takut kemalaman, dengan tergesa-gesa aku menuju ke arah parkiran mobilku. Disaaat aku berjalan…

“Mau Kemana non?” tentu saja aku terkejut karena tiba-tiba saja ada suara laki-laki di belakangku bertanya.
“Emmh… Mau ke parkiran…” aku menjawab seadanya.

Sebenarnya aku cukup takut dengan penampilan laki-laki yang bertanya padaku ini, apalagi ditambah suasana sekitar yang sudah semakin gelap. Di belakang laki-laki tersebut ada dua orang temannya.

“Kok sendirian?” tanyanya lagi.
“Nggak kok…” jawabku berbohong kali ini dengan tatapan galak berharap laki-laki tersebut tidak akan bertanya apa-apa lagi.

Karena takut mereka akan berbuat jahat, aku pun segera berlari kea rah mobil. Namun karena masih dalam keadaan takut, ketika hendak menyeberang aku terserempet oleh mobil yang langsung kabur begitu. Tas dan barang belanjaanku sampai jatuh berserakan ke jalan, namun untung saja saat itu tidak ada kendaraan yang melintas.

Walaupun lukanya tidak parah, namun celana panjang yang aku gunakan sampai robek di bagian lutut. Setelah beberapa menit aku baru sadar kalau selain lututku yang berdarah, telapak tanganku yang sebelah kiri juga luka akibat menahan tubuhku yang jatuh ke aspal. Memang tidak ada bagian dari tangan maupun kakiku yang darahnya keluar dalam jumlah banyak, namun tetap saja aku takut kalau sampai terjadi infeksi.

Saat itu aku kesakitan dan sudah pasrah saja bila tidak ada orang yang akan menolongku, karena tempatku tertabrak tadi cukup sepi. Untung saja ternyata ketiga laki-laki bertampang seram tadi memiliki sifat yang berbeda dengan penampilannya. Tanpa perlu aku meminta tolong, ketiganya menghampiriku. Dua orang membantuku hingga sampai ke tempat yang cukup aman, sedangkan seorang lagi mengumpulkan barang bawaanku yang tadi berserakan.

“Aduuuuuh…” aku mulai meringis kesakitan.
“Napa non? Sakitkah? Kami carikan obat ya?” tanya salah satu dari tiga orang tadi yang berperawakan gemuk dan memakai topi.
“I-iya bo-boleh…” aku sudah tidak memikirkan lagi mereka akan berbuat apa terhadapku karena luka ini memang harus segera diobati.

Tanpa membuang waktu lagi, dengan berhati-hati aku pun digotong oleh mereka lalu dibawa masuk ke dalam rumah yang tidak jauh dari tempat tadi. Setibanya di dalam rumah tersebut, aku dibaringkan di atas tikar. Salah seorang dari mereka membawakan aku minum, sedangkan yang lainnya membersihkan lukaku dengan air. Walaupun mereka hanya merawatku dengan peralatan seadanya, namun rasa perih di telapak tangan serta lututku sudah mulai hilang. Merasa kondisiku sudah lebih baik, aku pun bangkit untuk duduk

“Makasih banget ya Mas…” ucapku kepada mereka bertiga yang hanya dijawab oleh anggukan dan senyuman.

Aku yang merasa berhutang budi karena sudah ditolong oleh mereka, akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan diri. Dan mereka adalah Dadan berambut kribo, usianya 16 tahun. Satu lagi bernama Eman, dia juga seumuran dengan Dadan. Yang terakhir bernama Ujang, umurnya masih 14 tahun. Dari obrolan kami berempat, aku bisa mengetahui kalau mereka ternyata adalah anak baik dan sopan namun hanya nasib mereka saja yang membuat ketiganya menjadi anak-anak gelandangan. Perasan aneh mulai menjalari tubuhku karena mereka bertiga mengamati tubuhku dengan tatapan liar.

Melihat tingkah laku ketiganya, justru membuatku ingin terus menggoda mereka. Hitung-hitung sebagai balas jasa mereka yang telah menolongku. Supaya tidak terlihat wanita murahan, aku berpura-pura meringis-ringis minta perhatian ke mereka bertiga walaupun aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Tentu saja mereka semakin berani memegang lutut dan tanganku, bahkan hingga ke bagian yang tidak terluka. Tetapi sepertinya mereka tahu kalau aku memang sengaja menggoda mereka bertiga. Kadang-kadang mereka seperti jual mahal, namun mata mereka masih terus memperhatikan bagian dadaku. Aku pun mulai beraksi dengan membuka jaketku hingga sekarang bagian atas tubuhku hanya tertutup oleh kaos putih yang ketat.

Buruknya wajah mereka bertiga yang justru menjadi sensasi tersendiri bagiku. Raut wajah Dadan, Eman dan Ujang sungguh seperti orang yang sudah dikuasai birahi. Namun mungkin karena aku lebih tua umurnya, maka mereka tidak ada yang berani untuk bertindak aneh-aneh. Melihat mereka masih belum ada yang berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi, maka aku pun terus berusaha untuk memancing mereka.

“Kalian semua apa sudah punya kekasih?” aku memulai aksiku.
“Eman sudah non…” jawab Dadan.
“Kalo kamu Jang?” tanyaku kepada Ujang.
“Aku lom punya non, kan aku masih kecil…” jawab Ujang sambil tersenyum polos.
“Cakep kagak kekasih kalian?” lanjutku sambil melihat bergantian ke arah Dadan dan Eman.
“Biasa aja non, mana ada cewek cantik mau ama kita-kita ini” sahut Dadan.
“Kalo aku … cantik kagak? ” pancingku.
“Kalo non mah cantik bangettt…!!” jawab mereka bertiga hampir serempak sehingga membuat kami tertawa.

Merasa suasana sudah semakin akrab, aku mendekati Dadan yang umurnya lebih tua. Mungkin dia sudah pernah bercinta. Kemudian aku menaruh tangan ke bahunya lalu menatap wajahnya. Aku sadar kalau laki-laki ditatap seperti itu pasti mereka akan menjadi salah tingkah. Sesuai dengan rencanaku, Dadan yang sudah tidak dapat menahan nafsunya langsung menyambar dan melumat bibirku. Mungkin karena ingin melihat reaksiku, pertama-tama Dadan hanya sekedar mencium bibirku saja. Namun setelah melihat tidak ada penolakan dariku, lidahnya langsung berusaha masuk ke dalam mulutku.

Aku dan Dadan mulai berciuman dengan lebih bergairah. Lidahnya bermain dengan liar di dalam mulutku hingga liur kami menetes-netes di pinggir mulut. Perasaan geli dan nikmat bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang mulai naik. Dadan semakin membangkitkan gairahku ketika tangannya meremas-remas susuku dari luar.

“Emmmmmmhh…” aku mendesah saat tangan kasarnya mulai menyusup ke bagian dalam bajuku.

Ketika melirik ke arah Eman dan Ujang, mereka hanya diam menyaksikan temannya sedang bergulat denganku. Namun karena sudah tidak tahan, Eman yang memang sudah lebih dewasa dan mengerti dari Ujang, berpindah duduk ke belakangku. Lalu dia mulai mengelus-elus punggung serta pahaku yang masih tertutup pakaian lengkap. Dicumbui oleh dua orang seperti itu membuat detak jantungku bertambah kencang serta nafas birahiku semakin memburu.

Yang satu mencium bibir dan meraba-raba susuku dari depan, sedangkan yang satu lagi memegang pahaku dari belakang sambil terkadang menciumi leherku. Terkadang begitu ada kesempatan Eman langsung bergantian dengan Dadan untuk meremas-remas susuku. Namun berbeda dengan Dadan yang meraba susuku dengan pelan, Eman meremasnya dengan gemasnya

Kemudaian aku membuka kaos ketatkuku. Mata Dadan melihat tubuh bagian atasku yang hanya tertutup bra dengan tatapan nakal sehingga membuat jantungku semakin berdebar. Apalagi ketika aku dengan gaya menggoda mulai membuka bra hitamku, mata Dadan terlihat semakin membesar dan mulutnya terbuka lebar.

“Kenapa Dan? Pengin yaaaaaa…?” tanyaku tanpa rasa malu.
“E… e … emang boleh non?” kata Dadan dengan tergagap-gagap.
“Ya iyaaa….ayoooo…” kataku sedikit kesal karena Dadan masih saja bersikap lugu.

Diberi kesempatan seperti ini, tentu saja tidak disia-siakan oleh Dadan. Pelan namun pasti, tangannya mulai bergerak ke arah susuku yang sudah terbuka. Pertama-tama tangannya yang kasar hanya menempel di permukaan susuku saja, tetapi semakin lama dia semakin berani. Mulai dari memegang dan memilin-milin putingku yang berwarna coklat, hingga meraba dan meremas seluruh permukaan susuku.

Namun yang membuatku terkejut, tidak lama setelah itu tangannya berganti dengan mulutnya. Lidahnya menempel di putingku. Terasa geli bercampur dengan nikmat, apalagi saat putingku disedot olehnya. Sepertinya Dadan sudah terbiasa melakukan hal ini dengan kekasihnya. Eman yang tidak mau ketinggalan dengan temannya, bergantian untuk berciuman denganku. Bibirnya yang tebal itu mulai melumat habis bibirku. Selagi aku melayani dua orang ini, ternyata Ujang yang tadinya kupikir tidak mau ikut-ikutan karena masih terlalu kecil, mulai mengelus-elus seluruh bagian tubuhku yang lain dari arah belakang.

“Celananya dilepas donk non…” bisik Ujang di telingaku yang benar-benar membuatku terkesima sesaat.

Dengan perlahan-lahan aku menaikkan pantat untuk memudahkanku membuka celana panjang. Dengan tidak sabaran Ujang pindah ke depan, kemudian dia ikut membantuku membuka celana panjang beserta celana dalam milikku lalu melemparnya cukup jauh. Kini tubuhku yang putih mulus telanjang sudah terpampang jelas di depan ketiga anak gelandangan ini.

“Lepas juga pakaian kalian dong…” aku menantang mereka supaya ikut melepaskan pakaian.

Dengan segera, mereka semua membuka pakaian lusuh yang menempel di tubuh mereka. Yang terjadi selanjutnya bener-bener membuatku terkesima, yaitu aku melihat kalau ukuran penis milik mereka bertiga cukup besar untuk anak seusia mereka. Diameternya besar dan berwarna hitam. Hanya milik Ujang sajalah yang terlihat kecil. Setelah kami semua sudah dalam keadaan telanjang, permainan pun dilanjutkan. Anak-anak berusia tanggung tersebut mulai menyerang tubuhku.

“Non tenang aja ya… biar kami yang puasin non” perintah Dadan kepadaku.

Aku hanya dapat mengangguk lemah. Seolah sudah mendapatkan persetujuan dariku untuk berbuat apapun, tiba-tiba Dadan langsung merebahkanku hingga aku kembali ke posisi tiduran. Dadan mengangkat kaki sebelah kananku lalu dia taruh di pundak kirinya. Kemudian tangannya langsung meraba-raba bibir vaginaku yang mulai basah sambil jari telunjuknya mencoba untuk masuk.

Sesekali jari-jarinya bergerak ke atas dan bawah menelusuri lembah kenikmatan milikku. Tidak cukup puas hanya memainkan vaginaku saja, mulut Dadan lalu menghisap pelan puting susuku. Perlakuan Dadan membuat aku semakin merasa terbang saja. Semakin lama tangan Dadan yang menempel di vaginaku bergerak semakin liar, jari-jarinya dengan cekatan memainkan klitorisku.

“Mmmmmhh… Aaaaaaaaaaah…” aku sudah tidak dapat lagi menahan desahan nikmatku akibat permainan Dadan.

Melihat temannya yang sudah kembali menikmati tubuhku, Eman sepertinya juga sudah tidak tahan lagi untuk ikut mencicipinya. Dia mengambil posisi jongkok di sebelah Dadan, kemudian Eman meminta Dadan untuk menggeser posisinya agar dia juga dapat menikmati vaginaku. Namun ketika aku mengira Eman akan menggunakan jari-jarinya juga, dia malah mencium dan menjilati vaginaku yang sudah semakin basah. Melihat vaginaku yang tidak berbulu dan sudah dalam keadaan basah pasti membuat Eman tidak tahan untuk menikmatinya dengan mulut.

“Aaaaaahhh… Ooouuuuhhh… Aaaaaaaaahhh…!!” aku mengerang saat lidah hangat Eman menjilati belahan vaginaku.

Lidah Eman mulai bermain lebih cepat di bibir vaginaku, kurasakan nafasnya berhembus di vaginaku dengan sapuan lidahnya pada bibir vaginaku yang menyebabkan tubuhku menggelinjang nikmat.

“Aaaaaaaaahh…!! Te-teruuss Maaaan!! E-enaaaaak…!! I-iyaaaaahhh…!!” erangku ketika Eman dengan nakal menyedot klitorisku dan menyeruput cairan cintaku yang keluar semakin banyak.

Sementara itu jari milik Dadan juga masih bermain di klitorisku. Sungguh perasaan yang luar biasa nikmat. Tubuhku sampai berkelejotan semakin tidak beraturan karena menikmati aksi yang dilakukan oleh mereka berdua. Karena penasaran dengan yang mereka berdua lakukan, dengan sengaja aku mengangkat tubuhku lalu bertumpu pada kedua siku tanganku, sehingga kini aku dapat melihat lebih jelas wajah Eman dan Dadan yang penuh nafsu saat melumat vagina dan susuku. Setelah sekitar 15 menit mereka berdua memainkan susu serta vaginaku, aku mulai merasa sedikit lagi akan mencapai orgasme.

“Ooouuugghhhh… Teruuuuussss… …!! aku mauuuu keluaaaaaaar…!!!” aku mengerang kencang dengan badan melengkung ke belakang ketika akhirnya aku merasakan orgasme yang luar biasa.

Kami bertiga saling bertatapan dengan senyum penuh arti, kemudian dengan bergantian Dadan dan Eman melumat bibirku dengan mesra.

“Jang…! Jangan diam saja… Ayo sini gabung…!” ajak Dadan ketika sadar kalau dari tadi Ujang hanya berdiam diri saja.
“Kalian duluan aja… aku belakangan ” kata Ujang.

Aku yang tadinya juga heran kenapa Ujang tidak ikut menikmati tubuhku, akhirnya dapat mengerti kalau ternyata dia tidak ingin berebut dengan teman-temannya untuk bermain di vaginaku.

“Hahahaha… Ayo cepet sini Jang …!” panggil Dadan sambil terus tertawa.

Dengan wajah senang Ujang mendekati vaginaku yang memang menjadi incarannya. Pertama-tama dia meraba dan mengelus pahaku yang begitu halus dan putih. Aku menggelinjang kecil karena kaget dan juga merasakan kenikmatan yang menjalar diseluruh bagian tubuh. Selanjutnya mulut Ujang mendekati kakiku, kemudian diciumi dan dijilatinya kedua paha mulusku secara bergantian hingga menuju ke atas.

‘Sluuurp… Sluuuuurppp…’ terdengar olehku bunyi jilatan Ujang ketika lidahnya sudah berada di bibir vaginaku yang masih sangat basah akibat serangan dua temannya.
“Hmmmmm… Ujaaaaang… Aaaaaahh…” sungguh hal tersebut membuatku mendesah lemah.

Sementara itu Dadan dan Eman yang sudah puas menikmati memekku , mulai menjelajahi tubuh bagian atasku. Tangan-tangan kasar mereka tidak henti-hentinya menjamahi tubuhku. Sepertinya tidak ada satu pun bagian tubuh milikku yang ingin dilewatkan oleh mereka. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan mereka bertiga meremas-remas kedua susuku, memilin-milin putingku serta menjilati vaginaku, tubuhku semakin menggeliat-geliat dengan liarnya.

“Ooohhhh… Ssssshhhhh… Aaaagghhhh…” aku melenguh menikmatinya.
“Sluuuurrpp… harum sekali memekmu non… Sluuuurp…” gumam Ujang sambil terus menjilati dan menghisap-hisap vaginaku.

Sementara itu bibir dan lidah Eman mulai bergerilya dari mulutku untuk kemudian menciumi telinga, tengkuk serta leherku. Di saat bersamaan, Ujang semakin menggila dengan perbuatannya, bukan saja mulutnya yang beraksi tetapi sekarang jari-jari tangannya mulai bermain di lubang memekku . Pertama hanya jari tengahnya saja yang Ujang masukkan ke dalam lubang vaginaku dan dikocok-kocokannya, lama-lama jari telunjuknya pun ikut keluar masuk yang membuat vagina itu semakin basah oleh cairan kenikmatanku.

“Uuuuuhh… Aaaaaahhh… Oouuuuuhhh…” desahan dan lenguhanku semakin menjadi-jadi.

Mendengar aku mendesah-desah keenakan, jari Ujang mulai mempermainkan klitorisku. Dia menggosok-gosokkan jari dan lidahnya pada daging kecil yang sensitif itu. Tubuhku sampai bergetar ketika merasakan sapuan lidahnya pada klitorisku. Pijatan lembut telunjuk dan ibu jarinya pada klitorisku membuat pinggulku meggeliat-geliat. Tubuhku semakin menggelinjang karena kelihatannya aku akan segera mencapai puncak kenikmatan yang kedua.

“Ooohh… Ujaaaaaaang!!!” desahku sambil kedua tanganku meremas-remas rambut Ujang, sementara kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri.

Tidak sampai satu menit kemudian, tubuhku akhirnya mulai mengejang-ejang karena tidak tahan lagi menerima rangsangan yang terus-menerus datang. Aku pun semakin merapatkan kepala anak itu ke arah vaginaku. Rupanya walaupun usia Ujang masih sangat muda, namun dia mengerti bahwa aku sudah ingin mencapai puncak. Dihisapnya vaginaku kuat-kuat serta ujung lidahnya dengan cepat menjilati bagian dalam kewanitaanku.

“Aaaaaaaaaaaaaakh…!!” teriakku tidak tertahankan dengan tubuh menggeliat-geliat ketika akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Bagaikan sedang menikmati buah yang manis, Ujang terus menyedot cairan yang ada di seputar memekku tanpa merasa jijik. Tentu saja hal ini membuatku menggelinjang tiada henti. Setelah puas mencicipi cairan memekku , Ujang menengadah dan menatapku lalu berkata “Rasanya sedap sekali non…!”

“Aku ingin ngetotin non… boleh kagak..? Tanya Dadan

Sebenarnya tubuhku masih lemas, namun aku juga sudah tidak sabaran ingin merasakan vaginaku ditusuk bergantian oleh penis mereka bertiga. Lagipula aku tidak mau membuang-buang waktu untuk berlama-lama di tempat ini.

“Boleh… Tapi ganti-gantian yah…” kataku menyanggupi permintaan mereka karena sudah dalam keadaan sangat terangsang.

“Non… ini beneran boleh?” tanya Dadan meyakinkan pendengarannya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, namun hanya melemparkan senyum menggoda. Dapat aku lihat juga mata Dadan dan teman-temannya yang terbelalak mendengar perkataanku. Kelihatannya tidak satupun dari mereka bertiga yang menyangka kalau dengan mudahnya kata-kata itu akan meluncur dari mulut perempuan sepertiku. Mungkin kalau sekedar melakukan hal seperti tadi mereka masih bisa mengerti, tetapi pasti tidak pernah terbayang di pikiran mereka kalau aku sampai mau diajak bersetubuh.

“Aku yang duluan yach…” pinta Eman kepada Dadan dengan tidak sabaran.
“Okey…” jawab Dadan.

Mungkin sebenarnya Dadan sudah tidak tahan lagi untuk segera menyetubuhiku, namun karena dia berpikir nanti juga akan kebagian, maka dia mempersilahkan Eman untuk mendapat giliran yang pertama. Aku hanya bisa diam dan menurut saja. Apalagi aku juga sudah penasaran untuk dapat merasakan penis Eman yang berwarna hitam dan berukuran paling panjang dibandingkan dengan yang lain. Begitu mendapatkan persetujuan dari temannya, kakiku langsung dilebarkannya.

“Ooooooohhh… Pelaaan-pelaaaaaan Maaan…!! Woles dongggg…!!” pintaku karena vaginaku terasa sakit ketika Eman dengan kasar menekan penisnya masuk.

Kelihatannya Eman memang cenderung kasar dalam bercinta yang tentu saja berlawanan dengan Dadan yang lebih lembut. Penis Eman membuat vaginaku yang sempit mulai melebar mengikuti ukuran penisnya yang lumayan besar, sehingga saat ini aku mulai dapat menikmati permainan kasarnya.

“Acchhhh… memek non enak banget…!!” teriak Eman yang disambut gelak tawa teman-temannya.

Aku sungguh menikmati penisnya yang mulai masuk semakin dalam, apalagi Eman juga mulai meremas-remas susuku. Ketika sedang menikmati hujaman penis Eman saat sudah masuk seluruhnya, tiba-tiba di depan wajahku sudah ada sebuah penis yang berukuran lebih kecil. Dengan rasa penasaran aku melihat ke arah atas, dan ternyata penis tersebut adalah milik Ujang.

“Emut kontol ujang ya non…” kata Ujang minta penisnya supaya dihisap olehku.

Karena sudah sangat terangsang, tanpa ragu lagi aku membuka mulut dan menelan benda kecil namun keras milik Ujang. Mulailah aku mempraktekkan teknik oralku padanya. Pertama-tama aku mulai dari kepala penisnya dulu, bagian itu kujilati dan kuemut-emut sambil tanganku mengocok pelan batangnya. Kemudian dengan perlahan aku menjilati batang penisnya menggunakan lidahku yang lembut.

“Accchhh… sedotan non enak bangetttt…!!” komentar Ujang sembari meremas rambut tebalku.

Kepalaku mulai naik-turun mengemuti penisnya yang semakin mengeras saja. Tubuh Ujang pun langsung gemetar. Kelihatannya dia sangat menikmati jilatanku barusan. Tetapi tentu saja aku tidak bisa berkonsentrasi untuk menghisap penis Ujang, karena Eman semakin kencang memompa vaginaku. Belum lagi remasan-remasan tangan Eman pada susuku yang membuatku semakin melayang.

Dadan akhirnya ikut bergabung, dia duduk di sebelah kiriku kemudian menghisap puting susuku yang sudah mencuat keras. Berarti saat ini ada tiga orang yang mengerubutiku. Tanpa sengaja aku melihat penis milik Dadan yang berukuran cukup besar dan keras, aku langsung saja meremas-remas penis tersebut dan mulai kukocok-kocok. Sepertinya Dadan sangat menikmatinya sampai-sampai dia semakin bersemangat menghisap susuku.

Dengan perlahan aku menarik penis Dadan ke samping wajahku, hingga sekarang posisi penisnya dengan milik Ujang berseberangan. Aku pun bergantian mengocok dan menghisap penis Dadan dan Ujang.

“Gila… ternyata non jago banget emutin kontol…!! Aaaaah…!!” puji Dadan sambil merem-melek dan menggelengkan kepalanya.
“Aaaahhhhh…!! Nonnnn…!! aku kaluaaaaaar…!!” tiba-tiba Eman berteriak.

Penisnya juga dapat kurasakan semakin mengeras menyodok di dalam vaginaku.

“Maaan… Maaaan…!! Keluariiin di luaaaar Maaan…!!” teriakku panik.

Aku tidak ingin kalau Eman sampai mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku, karena aku tidak mau hamil duluan. Untunglah Eman sempat mengeluarkan penisnya tepat waktu. Penisnya digenggamnya sambil terus mengocoknya tepat di atas dadaku.

‘Crooott… Croooottt…’ sperma Eman keluar banyak sekali hingga mengenai perut dan susuku.
“Aaaaah… Gilaaaa…!! Enak bnagettttttt…!!” kata Eman keenakan.
“Sekarang giliran aku ya Kang Dadan?” tanya Ujang dengan muka memohon supaya diberi ijin oleh Dadan.
“Okelah…” jawab Dadan yang kali ini terlihat sekali wajah tidak relanya karena harus mengalah lagi.

Tentu saja Ujang senang bukan main karena mendapatkan giliran selanjutnya. Pertama-tama, layaknya anak kecil sedang menikmati permen, lidahnya bergerak menyentil-nyentil puting susuku hingga semakin mengeras. Tidak lama kemudian dihisapnya susuku sebelah kiri dan kanan secara bergantian. Tangan Ujang juga tidak tinggal diam dan mulai menggerayangi tubuh telanjangku.

“Ehhmm… Ujaaaaaang…” aku mengerang nikmat.

Mulut Ujang kemudian turun ke perut hingga sampai di vaginaku. Mata anak itu terbuka lebar menatapi vaginaku yang sengaja aku cukur halus. Secara refleks aku melebarkan kedua kakiku sehingga memudahkan Ujang untuk menjilati vaginaku. Pasti saat ini Ujang dapat mencium aroma lendir kewanitaan yang keluar dari vaginaku.

“Oooooooooohh…!” Aku mendesah panjang sambil menggenggam erat ujung tikar ketika lidah Ujang terus menyapu memekku .

Ujang membuka bibir vaginaku dan mulai menyedotnya dengan rakus sehingga aku mengerang-erang dengan penuh gairah. Semakin lama lidahnya menari semakin liar menjelajahi seluruh bagian dari memekku . Aku dapat merasakan cairan vaginaku meleleh deras seiring dengan rangsangan yang semakin kuat. Sungguh aku merasa semakin nikmat merasakan lidah Ujang yang sesekali menyelinap ke dalam vaginaku.

“Aaaahhh… Mmmmhhh… Jaaaang…!!” aku berteriak nikmat sambil tanganku tidak henti-hentinya memegangi kepala Ujang.

Ketika Ujang merasa sudah cukup melakukan pemanasan terhadap vaginaku, kini tiba saatnya untuk dia merasakan bersetubuh denganku. Penis kecil milik Ujang yang sudah dalam keadaan ereksi penuh, mulai digesek-gesek ke bibir vaginaku. Saat berikutnya, benda tersebut mulai menekan masuk ke dalam lubang memekku . Mungkin karena ukurannya yang kecil, maka penis tersebut tidak terlalu membuatku merasakan nikmat seperti tadi.

“Non… non nungging ya…” pinta Ujang kepadaku untuk berganti posisi.

Tentu saja aku sempat heran anak seusia Ujang sudah mengerti posisi-posisi dalam berhubungan intim. Pasti karena dia bergaul dengan anak yang lebih dewasa darinya. Namun aku yang tidak mau berlama-lama memikirkan hal tersebut membalikkan tubuhku hingga sekarang aku bertumpu dengan kedua tangan serta lututku. Dalam posisi ini, susuku yang bergantung dengan bebas terlihat lebih besar.

Ujang yang sudah mengambil posisi di belakangku, menggenggam penisnya kemudian mengarahkan ke liang vaginaku. Tetapi bukannya Ujang langsung memasukkan penisnya, sekarang dia justru memainkan vaginaku menggunakan tangannya. Walaupun begitu tetap saja aku merinding keenakan. Ketika sedang menikmati jari-jari tangan Ujang di selangkanganku, dengan tiba-tiba Ujang langsung menusukkan penisnya ke dalam vaginaku.

“Heeeeeekh…!!” aku sampai sedikit tersentak karena menerima hujaman keras secara tiba-tiba seperti itu.

Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kutatap Ujang dengan raut muka sedikit kesal. Seolah tidak terjadi apa-apa, Ujang terus menyetubuhiku tanpa ada perasaan bersalah.

“Dasar bocah ingusan…!!” aku mengumpat dalam hati.

Perlahan telapak tangan kecilnya mulai mengelus dan meremas pantatku, sambil sesekali juga mengusap punggung mulusku. Ternyata dengan posisi seperti sekarang, penis Ujang semakin terasa nikmat. Apalagi sodokannya cukup mantap seperti sudah sering dilatih. Tubuhku tersentak maju dan mundur mengikuti gerakan penis Ujang pada memekku .

“Aaaahh… Aaaaahh… Ooohh…” aku hanya dapat merintih-rintih dengan lirih.

Mendengar rintih dan desahanku, maka penis Ujang keluar dan masuk dengan lebih cepat. Namun rasanya jadi semakin nikmat, tidak kalah dari permainan Eman. Aku saja sampai merasa lemas dalam posisi menungging seperti ini. Tangan Ujang sesekali juga digunakan untuk meremas pelan susuku dari belakang. Kadang-kadang dia juga mencium leherku.

Tetapi dikarenakan postur tubuhnya yang lebih pendek dariku, dia cukup kesulitan untuk melakukannya. Aku dapat merasakan nafas Ujang yang semakin memburu seperti orang yang sedang melakukan olahraga. Keringatnya menetes cukup banyak di punggungku yang juga sudah dalam keadaan basah. Sampai akhirnya sodokan Ujang terasa semakin keras dan cepat, otot-otot vaginaku seperti tertarik keluar. Aku pun tidak tahan dan mencapai orgasme lagi. Tidak lama kemudian Ujang juga sudah tidak dapat menahan lagi untuk menahan klimaks.

“Aaaaahhhh…!! Nonnnnn aku keluarrrrrrrr!!” jerit ujang dengan kerasnya

Ujang menyemprotkan spermanya ke punggungku dalam jumlah yang tidak kalah banyak, bahkan mungkin melebihi jumlah sperma milik Eman. Aku yang sudah merasa sangat lemas, langsung jatuh di atas tikar dengan posisi tengkurap. Lelah sekali rasanya disetubuhi oleh dua orang bergantian seperti tadi, walaupun ini bukanlah yang pertama kalinya aku berhubungan seks dengan lebih dari satu orang. Saat sedang beristirahat, aku merasakan ada tangan jahil yang memegang-megang vaginaku. Ketika aku menengok ke belakang ternyata Dadan yang melakukan hal itu.

“Dadan… aku masih capek nih…” ucapku pelan.
“Yaaah… kan aku belum non…” katanya memelas.

Aku baru ingat kalau ternyata hanya tinggal Dadan yang belum kebagian menikmati bersetubuh denganku.

“Iya udah… Tapi ambilin air minum dulu yah… Haus nih…” kataku ketika melihat kalau air di gelasku sudah habis.

Langsung saja Dadan mengambil gelasku yang kosong, kemudian berlari untuk mengambil air di belakang. Ketika dia kembali langsung saja aku habiskan tanpa tersisa. Baru saja aku selesai menghabiskan air minum tersebut, Dadan langsung merebahkanku lalu menempatkan kepala penisnya di mulut vaginaku. Dadan mulai menggerakkan kepala penisnya di depan belahan vaginaku. Kelihatannya dia terus mencoba untuk merangsangku terlebih dahulu. Tentu saja diperlakukan seperti itu terus-menerus, aku pun mulai terangsang dan vaginaku sudah mengeluarkan cairan pelumasnya sehingga penis Dadan mulai dapat masuk lebih dalam.

Penis Dadan akhirnya dapat masuk juga seluruhnya ke dalam vaginaku. Sungguh sakit sekaligus nikmat rasanya, aku sampai menahan agar tidak berteriak ketika dia mendesak masuk penisnya. Aku baru sadar kalau ternyata penis milik Dadan, walaupun masih kalah panjang, namun berdiameter lebih besar dari Eman. Sampai-sampai aku menggigit bibir ketika menikmati penis kerasnya yang dengan teratur menusuk masuk lalu ditarik keluar.

“Enaaaaaaaak bangettt nonnn…!!” teriak Dadan dengan gayanya yang kampungan.

Berulang-ulang Dadan mengeluarkan penisnya dari vaginaku sebelum akhirnya ditusuk masuk lagi. Setiap kali penisnya masuk, aku berteriak-teriak keenakan. Eman dan Ujang hanya tertawa-tawa melihatnya. Akhirnya aku mulai terbiasa dengan penis Dadan yang sedang memompa vaginaku. Aku sampai tidak memikirkan kalau yang sedang menyetubuhiku adalah seorang anak gelandangan. Bahkan aku juga tidak sadar kalau sedang berpelukan dan menciumi Dadan mulai dari kening hingga pipinya, sebelum akhirnya kita berciuman bibir lagi.

Tubuhku sekarang sudah penuh dengan keringat dikerjai oleh tiga orang. Entah sudah berapa lama aku disetubuhi oleh Dadan hingga aku merasa akan menggapai orgasme lagi. Tetapi tepat sesaat sebelum aku menjerit, Dadan semakin keras menekan penisnya yang berdenyut kencang tanda akan mencapai puncak. Dan benar saja …

“Aaaaaaahh…!! Aku mau kaluaaaar non…!!”
“Teruuus… Teruuuus… Lebiiih kenceeeng Daaaan…” teriakku tidak kalah keras.

Dalam keadaan nikmat seperti itu tentu aku hanya bisa pasrah apabila dia mengeluarkan cairan spermanya di dalam vaginaku.

“Arrgghhhh… Nonnnnn…!!” Dadan menggeram lalu menembakkan spermanya yang kental ke dalam rahimku.
“Aaaaahhh… Daaaan… Teteeeeh jugaaaaa keluaaaaar…!!” aku ikut merintih ketika tidak lama kemudian juga mencapai orgasme untuk yang kesekian kalinya.

Cairan milik Dadan keluar begitu banyak mengisi liang vaginaku, sehingga sebagian ada yang menetes keluar. Aku memeluk erat tubuh Dadan karena merasa sangat puas dan nafasku juga sudah terasa mau habis. Terasa di dalam vaginaku pelan-pelan penis Dadan mulai mengecil hingga akhirnya dia cabut. Untung saja saat itu bukan masa suburku sehingga aku dapat bernafas lega.

Ketika kami sedang beristirahat, mereka bertiga memanfaatkan waktu untuk mengenalku lebih jauh. Di tengah pembicaraan kami, ketiga anak itu berharap kejadian yang baru saja mereka alami akan dapat terulang di kemudian hari. Setelah cukup lama mengobrol, aku akhirnya berpamitan pulang. Sayonara tuk kalian semua… aku tak akan lagi jatuh ditangan kalian lagi. Meski kalian sungguh sangat perkasa dan hebat… kataku dalam hati

Tags: Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Subscribe to receive free email updates: