Cerita Sex - Ngetot dengan Anak Perawan Tetangga

Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Suatu hari ketika aku akan membeli perangko di kantor Pos, aku bertemu dengan Nandi anak dari Pak Sotomo tetanggaku, yang masih berumur 19 tahun, kuliah di salah satu Universitas jurusan Manjagemen Perkantoran semester 2. Wajahnya cantik banget, tinggi kira-kira 167 cm, bodynya seksi bahenol banget. Karena itulah sudah sejak lama aku naksir berat kepadanya. Namaku Santo, umur 26 tahun, sudah menikah dan punya anak satu.

www.cerwasa.com

Setelah pertemuan di Kantor Pos dimana kami sempat ngobrol sebentar dan saling tukar nomor Hp, kami jadi sering berhubungan lewat telpon. Dan jarak rumah kami yang dekat, terpaut dua gang dengan rumahku membuat kami janjian untuk bertemu dirumahku, karena kebetulan istriku saat itu sedang ada acara di tempat ibunya yang di luar kota dan menginap 2 malam, maka,

'San, nanti sekitar jam empat an aku main ke rumah kamu ya?' katanya di telepon.
'Okey Nan…., kebetulan Istriku sedang tidak ada di rumah nich.' Aku menyetujui permintaannya.
'Tet…. Tet…!' aku mendengar suara bel pintu rumah berbunyi..
'Sebentar!' jawabku dengan keras.

Ternyata Nandi yang datang, wah senang banget ternyata dia tidak main-main.

'Sebentar Nan, wah seksi banget non, mau ke mana?' sambil buka pintu aku nyerocos menyapa dia.
'Ya mau ke sini San…. Eh, pakaianku terlalu terbuka gak ya?' Dia malah nanya.

Body yang seksi dibalut tank-top warna biru menonjolkan warna kulitnya yang putih dan tonjolan dadanya yang besar.

'He San…., kamu ngelihat apa kok mata kamu melotot begitu..?' Dia merasa kalau mataku tidak terlepas dari arah dadanya.
'Ehm, eh.. gak pa pa. Silahkan masuk Nan.' Aku jadi salah tingkah.
'Duduk Nan, mau minum apa?' tanyaku sambil berjalan ke dapur.
'Apa aja San, eh air putih aja deh. Oh ya jangan yang dingin ya, yang biasa saja.' jawab dia.
'Kalau gitu kamu ambil sendiri aja. Aku mau mandi dulu, lengket nih tadi habis bersih-bersih di halaman belakang.' sambil ngomong aku melirik kembali ke arahnya. Dan sempat terlihat sekilas warna putih pahanya saat Nandi meluruskan kaki mau berdiri. Ada getaran asyik dan aneh setelah menyaksikan pemandangan indah itu.

Segarnya guyuran air saat mandi menjadikan aku teringat dengan paha Nandi, dan sedikit demi sedikit penisku mengeras serta menimbulkan sensasi rasa yang enak.

'Nandi mau nggak ya aku ajak ML?' tanyaku pada diri sendiri.

Sambil masih berbalut handuk dari pinggang ke bawah, aku keluar menemui Nandi.

Di sana Nandi sudah menunggu sambil tangannya memegang segelas air putih yang diambilnya dari dispenser. Posisi duduknya menyebabkan sebagian pahanya yang putih terlihat sampai dekat bongkahan pantatnya. Aku menelan ludah, mungkin dia melihat gelagatku ini. Wah pasti deh wajahku kelihatan merah padam.

'San, ke atas yuk. Aku pingin lihat pemandangan di luar dari atas.' pintanya.
'OK, tapi aku pake celana dulu ya.' jawabku.
'Gak usah San, biar aja.' wah dia ternyata dia gak punya pikiran aneh-aneh.
'Ayo San, cepetan. Ntar keburu malam, aku harus ngerjain tugas kuliah.' Nandi merajuk sambil tangannya menarik lenganku yang masih membetulkan ikatan handuk. Akibatnya, handukku sedikit terbuka di bagian depan sehingga batang penisku jadi terlihat oleh Nandi.

'Hi, apa itu San. Kok hitam gitu, berambut lagi.' celetuknya dengan ekspresi terkejut.
'Ini senjata andalanku Nan' jawabku sekenanya sambil membetulkan handuk.

Setiba kami di ruang lantai dua sengaja aku atur tanpa menggunakan kursi, hanya meja rendah dan bundar model Jepang yang ada di tengah karpet tebal berwarna biru. Ada 4 bantal besar dengan cover bermotif oriental dengan warna biru muda yang dipakai sebagai alas duduk.

'San, itu apaan? Kok tiba-tiba nyembul gitu, tadi kan nggak ada?' tanyanya sambil pandangannya mengarah ke bawah perutku. Rupanya dia menyadari kalau dari tadi aku melihat ke arah dadanya, sehingga aku yang keasyikan menikmati pemandangan indah jadi terkejut.

'Ehm.. ini tho? Ini senjataku yang lagi tegang, kamu pingin lihat ya?' jawabku sambil bertanya.
'Nggak deh, malu. Lagian buat apa?' dia malah balik bertanya.
'Ya biar kamu tahu bagaimana bentuk kelamin cowok pada saat tegang.' celetukku.

Nandi terdiam, keliatannya sedang mempertimbangkan tawaranku. Lalu..

'OK deh. Tapi nggak ada dampak yang aneh-aneh kan?' dia mulai terpancing.
'Ya gak lah, biar ntar semakin asyik. Gimana kalau kita nanti gantian ngasih liat punya masing-masing. Dijamin deh, nggak bakalan ada yang dirugikan.' aku mulai memasang jebakan.

Matanya sedikit terbelalak ketika melihat Senjataku yang berukuran jumbo dengan diameter 4 cm dan panjang 15m.

'Waah, gedhe banget ya. San, apa setiap cowok berukuran segitu?' tanyanya.

Matanya masih menelusuri tubuhku mulai dada sampai pangkal pahaku. Nafasnya mulai sedikit memburu.

'Asyik nih, dia udah mulai tergoda' dalam hati aku bersorak gembira.
'Udah ya Nan, sekarang gantian dong. Sekarang kamu yang buka baju, apa perlu aku bantu bukain baju kamu?' aku menghentikan tatapannya yang mulai bergairah.
'Ehm, Okey... Tapi jangan diapa-apain ya, kamu hanya lihat aja ya.' Dia berkata sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Aku tatap terus matanya lalu mulai membuka t-shirt nya ke arah atas. Pada saat t-shirtnya melintas di wajahnya dan kedua tangannya terangkat ke atas, aku berhenti sejenak, sambil mencuri cium dadanya.

'San.! jangan ah, geli.' Dia berteriak kaget,

Aku berhenti sejenek sambil menunggu reaksinya. Ternyata tidak ada tanda-tanda dia menolak. Karena aku merasa ada lampu hijau, maka aku meneruskan aksiku ini. Lalu terlepaslah t-shirt nya dan terlihatlah tubuh bagian atasnya yang terbuka dan hanya berbalut bra dengan model bikini warna putih. Payudaranya terlihat menonjol dan menantangku untuk meremasnya, tapi aku tahan keinginan itu.

'Wah, putih banget ya kulitmu. Jadi pingin tahu yang di dalam situ.' celetukku sambil menunjuk ke arah payudaranya.
'Ya udah, lihat aja.' sambil berkata gitu Nandi melepas penutup dadanya.

Sekarang terpampang dengan jelas dua payudara putih dengan puting agak merah muda. Dekat sekali dengan aku, membuat aku jadi pingin meremas dan mengulumnya.

'San.. ayo lanjutin buka bajunya Nandi.' pintanya dengan pandangan berbinar nakal.

Aku melanjutkan aksiku dengan memegang kedua pahanya dan menggerakkan kedua tanganku ke atas berbarengan. Sehingga roknya tersingkap ke atas sampai perut. Lalu aku raih CD-nya dan menariknya ke bawah dengan tiba-tiba.

'Ahh, San..!' Nandi menjerit kecil karena tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang. Lalu tangannya meraih pinggangku dan berpegangan agar tidak jatuh. Dan dengan tidak sengaja ujung Senjatakumenyentuh bagian atas perutnya. Terasa sedikit geli. Nandi terdiam dengan posisi masih memegang pinggangku lalu dia melepaskannya dengan tiba-tiba sambil mundur dan tangannya memegang bagian bawah perutnya yang masih terbungkus rok.

'Hi hi, kok Nandi nggak liat kapan kamu melepas CD. Pantas aja rasanya agak anget.' Dia tertawa kecil sambil berkata begitu.

Ketika tangannya bergerak ke belakang tubuhnya, lalu terlepaslah pembungkus tubuhnya yang masih tersisa. Sekarang Nandi benar-benar telanjang. Dan nafasku terasa berhenti ketika melihat kemaluannya yang punya bulu-bulu halus menghiasi. Aku menelan ludah dengan agak susah.

'Kenapa San, heran ya lihat punyaku.' tiba-tiba Nandi berkata mengagetkan aku yang masih terpesona dengan pemandangan di depanku.
'Eh, iya.. Nan, boleh ya aku rabain punya kamu?' aku memohon.
'Jangan San.' Katanya sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku.

Aneh juga, tidak mau tapi malah mendekat. Aku rasakan gesekan lembut antara Senjataku dengan rambut Vaginanya.

'Hmm.. ahh.. sshh' Nandi mendesah lirih sambil memejamkan matanya.

Lalu tak menyia-nyiakan kesempatan aku rengkuh pinggangnya dan kupagut lagi bibirnya. Dia membalas dengan penuh nafsu. Dan kerabai Vaginanya.

'Ahh, jangan San. Aku takut hamil.' rengeknya
'Nikmatin aja Nan, aku jamin kamu gk bakalan hamil, yang ada kamu malah jadi ketagihan nantinya.
'Ya udah, San.. tapi jangan kasar ya.' gumamnya lirih.

Aku kecup lagi bibirnya sambil tangan kananku mengelus lembut bibir vaginanya, sementara tangan kiri meremas lembut payudaranya bergantian kiri dan kanan.

'Hmm.. shh, terus San, enak banget. shh' Nandi mulai meracau keenakan.

Tangannya yang sedari tadi terus bergelayut di pundakku mulai beraktifitas menjelajahi leher dan dadaku. Sementara itu aku kecup lembut puting sambil tangan kiriku masih mengelus daerah selangkangannya.

'Shhtt.. San.. ahhss.. terus San' Nandi semakin keras meracau dan agaknya dia sudah hampir mencapai puncak kenikmatan.
'Ahh..' Sambil badannya mengejang kebelakang dengan kepala mendongak Nandi akhirnya mencapai kenikmatannya yang pertama.
'Hmmff..San, rasanya enak banget. Kok, kamu gak merasa apa-apa?' Tanyanya sambil memeluk leherku dan menatap mataku.

Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat jelas kulit wajahnya yang berkeringat, dan dadanya yang masih membusung masih menempel di dadaku.

'Nan, kamu santai aja dulu, sambil berkata aku mulai lagi mengecup lehernya dengan lembut, lalu meniupkan nafasku ke dadanya. Hal ini membuat Nandi mengerang lagi.
'Sst.. San.. eh kamu nakal ya. Lalu mulutku mulai merayap turun ke dadanya dan menjilati putingnya bergantian kiri kanan selama lebih kurang lima menit.
'Sst.. ahh.. hmm' Nandi mulai meracau lagi. Gairahnya mulai muncul lagi.

Tangannya kini telah memegang Senjataku yang sedari tadi terus mendongakkan kepalanya. Lalu aku rebahkan Nandi di atas meja. Aku beringsut mundur dan meraih kedua pahanya, lalu dengan tiba-tiba membenamkan kepalaku diantara kedua ujung pahanya.

'Ahh.. San geli.. ahh.. sstt.. ohh. Enak San' Nandi kaget lalu mendesah nikmat.

Birahiku semakin menjadi mendengarnya. Mulutku menelusuri seluruh lekuk-lekuk tubuhnya yang berkulit putih dan lembut. Merayap naik dari Vaginanya sampai leher. Lalu kukecup bibirnya dengan lembut. Tangan kanan Nandi mengelus-elus dan meremas Senjataku dengan lembut.

'Terserah apa yang selanjutnya akan kamu lakukan San.' pelan Nandi berkata.

Setelah aku bisikkan, 'Aku menginginkanmu Nan.'

Lalu dengan lembut, aku tarik kedua kakinya sehingga menjuntai dari tepi meja, dan kakinya aku renggangkan sedikit tetapi masih menjejak karpet, sehingga Vaginanya yang sudah basah semakin menantangku. Kusentuhkan ujung kepala Penisku ke Vaginanya, lalu aku gerakkan ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Nikmat sekali.

'Hmm San, cepetan dimasukin, tapi pelan-pelan ya.' Nandi mulai memohon karena sudah tidak tahan dengan rangsangan yang aku berikan.

Aku letakkan ujung Senjataku tepat di atas lubang Vaginanya, lalu dengan perlahan aku dorong. Agak susah juga, sering meleset, padahal cairan yang dikeluarkannya lumayan banyak. Aku hentikan usahaku, kudekatkan kepalaku ke Vaginanya lalu aku sedot cairan yang ada. Sekarang Vaginanya sudah agak kering.

'Sshh.. San.. enak banget.. ayo dong masukin.. cepet.. hmm' Nandi mengerang kegelian.

Kucoba lagi memasukkan ujung Penisku , sekarang berhasil. sudah 3 centimeter ujung Penisku yang terbenam. Aku dorong dengan pelan, lalu kutarik lagi dengan pelan. Ku ulang sampai 4 kali. Hal ini membuat kepala Nandi menggeleng ke kiri dan ke kanan sambil mendesah nikmat.

Lalu dengan tiba-tiba 'Blessss..' Senjataku berhasil menerobos keperawanannya.

'Ahh..San, sakit bangettttt.....' Nandi merintih.
'Tenang San… kamu jangan bergerak dulu ya… ' aku coba menenangkan Nandi, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.

Penisku masih terbenam di Vaginanya, sengaja tidak aku gerakkan pinggulku. Aku ingin merasakan sensasinya. Perlahan Vaginanya mulai berdenyut, dan Nandi sudah tersenyum nakal. Lalu kami berpagutan dengan ganasnya. Pinggulku kudorong naik turun dengan pelan, sambil kedua tangan meremas payudaranya. Nandi juga aktif mengelus punggungku dengan cepat. Sesekali didorongnya pinggulnya ke atas. Sehingga ujung Senjataku terasa menyentuh dinding rahimnya. Aksi ini berlangsung lebih kurang 20 menit, sampai ketika Nandi menjerit tertahan sambil menggigit pundakku.

'Ahh.., San.. aku keluaaarrrr…..' Nandi mengerang dengan dahsyat.

Pada saat yang sama kurasakan Senjataku seperti diremas-remas dan basah. Remasan yang seperti pijitan lembut menimbulkan rasa nikmat di batang Penisku . Aku semakin mempercepat gerakan naik turun, lalu..

'Ahhrhh..' aku melenguh panjang menyemprotkan cairan hangat di dalam rahimnya

Kami berciuman mesra dengan Senjataku masih bersarang di dalam Vaginanya.

'Gila San, kok masih tegang' Nandi kaget karena tahu kalau Senjataku masih tetap tegang.

Kami berdua mengulang sekali lagi percumbuan mengasyikkan itu, sampai kami bisa mencapai puncak kenikmatan berbarengan.

Tags: Cerita bokep, cerita seks dewasa, cerita sex hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Subscribe to receive free email updates: