Cerita Seks - Sekali Dayung, Dua Gadis Kuperawani


Cerita sex terbaru, cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante.

www.cerwasa.com

Nama saya Herman. Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Semarang. Asalku dari Malang, saat ini aku ngekost, dan tempat kost ku itu satu kompleks atau bersebelahan dengan rumah si pemilik kos-kostan.


Malam minggu itu aku nggak pergi apel ke rumah doi. Aku cuman duduk-duduk sambil Dita ran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah pemilik kost terlihat sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan di luar kota. Putri tungalnya tidak tahu dia lagi ngapa. Oh ya putri tunggalnya itu bernama Dita . Saat itu dia baru duduk di kelas 3 SMP. Lagi asyik-asyiknya genjreng-genjreng sambil menyanyikan lagu favoritku, tiba-tiba Dita datang menghampiriku.

“Mas Herman kok gak wakuncar....?” sapanya ramah
“Ehh.... kamu Ta... lagi kosong gak da yang diapelin?” jawabku sambil terus memainkan gitarku.
“Ah… Mas Herman boong.” Jawabnya genit.

Kemudian Dita itu duduk di sampingku, namun tanpa disadarinya ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat (saat itu dia pakai rok pendek). Darah mudaku seketika berdesir.

“Ini beneran Ta....seminggu yang lalu aku putus sama doi.” jawabku kemudian.

Mendengar jawabanku kelihatannya Dita malah nampak senang. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Duhhh... kacian ya Mas Herman ini...?” Dita menggodaku.
“Dit... mau gak kamu jadi pacarku” gantian aku yang menggodanya.

Mendengar jawabanku itu, terlihat jelas perubahan wajahnya. Gadis berkulit putih mulus itu merah mukanya. Dia kini menundukkan wajahnya, sambil memainkan jari-jari kakinya

“Dit.... kok malah jadi diem gitu... jawab donkkkk” aku mulai melancarkan rayuanku.

Sesaat kemudian mata Dita melirikku manja. Wow... cantik juga ini cewek. Meski masih kelas 3 SMP tapi bodynya udah kayak anak SMU aja. Tinggi langsing semampai, kulitnya mulus putih, payudaranya ukuran 36. Jantungku berdebar memandangi bodynya yang saat itu cuma pakai kaos putih ketat tanpa lengan yang terlihat jelas belahan dadanya, penisku mulai ereksi waktu melirik pahanya yang makin kelihatan mulus. Aku jadi pengin sekali merabai paha itu, namun lamunanku buyar ketika Dita...

“Mas... mau gak Mas Herman bantu aku ngerjain PR?”
“Lha... besok kan libur Dit... kan ini malam minggu... kita pacaran aja yuk!” kembali aku mencoba merayunya.
“Ah, Mas Herman...” Dita menjawab sambil mencubit pahaku

Mendapat cubitan di paha, maka seketika itu penisku langsung menggeliat.

“Mas Herman mau gak sih tolongin Dita ?” katanya sedikit sewot
“Mau sih... tapiiiii.... imbalannya paan ?” jawabku
“Iiih, mas Herman Pelit... gitu aja minta imbalan...” jawab Dita sambil kembali tangannya mencubit pahaku.
“Ntar mas dikasih cium pipi yaaaaa.” pancingku.
“Iiiiih… Mas Herman nakal deh…” Dita terlihat semakin genit.

kembali tangan Dita mencubit pahaku. Kali ini aku menggenggam tangan Dita biar tetap di pahaku. Wow... ternyata Dita tidak berusaha melepaskan tangannya. Sesaat kemudian Dita berdiri.

“Dita ke dalam ambil bukunya ya mas...” kata Dita
“Okey... tapi ntar ngerjain PRnya di kamar Mas Herman aja, biar gak da yang ngeganggu.

Sebentar kemudian Gadis itu telah datang kembali sambil membawa beberapa. Lalu aku ajak dia masuk ke kamar kostku. Kami terpaksa duduk di kasur, karena cuman itu satu-satunya yang bisa dijadikan tempat duduk. Pintu sudah aku tutup. Dita segera membuka-buka buku yang dia bawa tadi.

“Dita udah punya pacar....?”tanyaku memancing.
“Belum mas....” jawabnya
“Jadi... belum pernah ngrasain pacaran dong?” tanyaku kemudian
“Lha tadi katanya Mas Herman mau ngajarin Dita pacaran... gimana sih” balas Dita.
“Dit... Pertama orang pacaran itu dasarnya harus ada rasa suka... terus sekarang ini Dita suka nggak sama mas Herman?” kataku memancingnya.

Dita sejenak terdiam, kemudian dia menatapku. Dan aku tahu dari sorot matanya bahwa Dita memang menyukaiku. tapi aku butuh kepastian yang bisa kudengar. Lalu aku duduk merapat pada Dita .

“Dit.... Dita suka sama Mas Herman ?” kataku.
“I...iii...iya.” jawabnya pelan.
“Kalau gitu ... sekarang boleh Mas cium Dita?” bisikku ke telinganya.

Dita tak menjawab, namun dia diam saja ketika tanganku mulai membelai rambutnya dan merabai pipinya. Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang lembut dan mungil itu. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan gelora birahi, nafasnya mulai berat.

“Eggggh.. emmhhhhhhh..” Dita mulai mendesah.

Nafasnya mulai memburu. Kedua matanya terpejam menikmati lumatan bibirku. lidah-lidah kami yang saling mengkait, dan saling menggigit. Selanjutnya tanganku merabai dan meremas kedua payudara Dita penuh perasaan. Penisku semakin tegak ketika gundukan kenyal hangat itu tersentuh oleh ujung jari-jariku. Bibirku merayap menyapu leher jenjang Dita . Kupagut sambil kusedot beberapa saat. Tubuh Dita semakin menggeliat bagai ular kepanasan.

“Dit… bajunya dilepas ya sayang…” kataku

Dita mengganggukkan kepalanya. Matanya masih terpejam dan nafasnya semakin memburu. Sambil menahan birahi, kubuka baju yang menempel di tubuhnya dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremasi kedua payudaranya bergantian. Ditapun ternyata tak mau hanya diam, tangannya juga berusaha melepas bajuku.

“Ooooohhhh.... mas Herman....” dita mendesah lagi

Begitu bajunya telah lepas, mataku melebar memandangi dua gundukan besar yang menjuntai indah, putih mulus dan puting yang berwarna kemerahan membesar karena naiknya birahi. Kupeluk tubuh Dita dan kembali kuciumi leher jenjang gadis cantik itu, aroma wangi dari keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat cupangan-cupangan merah di lehernya.

Selanjutnya tubuh Dita kubaringkan perlahan-lahan di kasur. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Dita. Putingnya yang merah kecoklatan sangat menggairahkan. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Dita .

“Aaaaaah…Mass.. Dita nggak tahan Mass… Dita pipis masssssssssssss..” Dita berteriak lirih.

Aku tak pedulikan teriakan nikmat Dita. Aku segera melumat payudara Dita dengan penuh napsu.

“Aduh Mass… pelan dong....sakiit…” rintih Dita sambil meremasi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku meremas dan menyedot puting payudara Dita sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Selanjutnya aku melepas rok pendeknya, Wow... ternyata CD putih yang dikenakan Dita telah basah.

“Dita kencing di celana ya Mass?” tanya Dita yang merasa malu.
“Dita enggak pipis kok, tapi tadi Dita telah orgasme.” Kataku memberi penjelasan.
“Ohhh... begitu ya mas...pantas tadi rasanya enak banget” jawabnya.

Selanjutnya kelepas CD yang telah basah itu. Vaginanya ditumbuhi rambut hitam lebat. Lubang kenikmatan itu telah basah oleh lendir-lendir kenikmatan Dita. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Gelora birahiku semakin membuat aku tidak tahan. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku arahkan tepat ke lubang kenikmatan Dita.

“Tahan ya sayang…engh..” kataku
“Aduh… sakitttttt.... perihhhh sekali mass…” air mata Dita mengalir
“Dita...kamu jangan tegang... rileks aja….” jawabku
“Mas… aah!!!” Dita mencakar punggungku dengan dengan kuku jarinya.

“Slepppp…” dengan sekali dorong batang penisku yang perkasa menembus lubang perawan Dita yang masih virgin. karena vagina itu telah basah jadi nggak terlalu sulit memasukkan batang penisku. Perlahan-lahan, dua centi lima centi batang penisku mulai tenggelam di lubang vaginya.

“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Dita .

Aku tak menghiraukan rintihan Dita, selanjutnya aku hentakkan batang penisku dengan kuat.

“Sleppppp…” batang penisku langsung amblas sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Dita. Batang penisku berdenyut-denyut bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu kumasukkan lagi, keluar lagi begitu berulangkali.

“Masih terasa sakit sayang…” kataku.
“Enggak lagi mas....eungh…” Dita memeluk dan mencium bibirku.

Ia pun sekarang ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin liar sampai-sampai sprei kasur tak lagi rapi. Tubuh Dita berayun-ayun sirama dengan irama genjontan pinggulku. Sampai-sampai kedua gunung kembar Dita melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Aaaaahhh.. terus massss... aku mau pipis lagiiiii…” Tubuh Dita mulai mengejang“
“Pipis aja Dit… mas juga mau pipissssss” Jawabku sambil terus menggenjotnya.
“Aaach…massss.... enakkkkkk!!!” Dita mendesah nikmat
“Ditaaa.......Hegh…engh…” aku mengerang

Cairan nikmat Dita keluar, spermaku juga ikut-ikutan menyembur. Kami berdua telah sama-sama mencapai klimaks. Selanjutnya kutarik kembali penisku, dan darah perawan Dita menempel di ujung kepala penisku berbaur dengan maniku dan cairan nikmatnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kenikmatan yang tiada tara itu. Dita pun terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu, jantung terasa berdegup dengan kencang seakan mau copot. Sukma (petugas cleaning servis rumah kost) terpaku di depan pintu memandangi tubuh Dita yang tergeletak tanpa sehelai benangpun di kasur kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai mengecil. Tapi aku juga menjadi bingung kala melihat Sukma yang sudah telanjang bulat. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Dita masuk tadi Sukma mengintip di depan kamar.

“Sukma..... ? Aku bengong memandangi tubuh Sukma .

Wanita ini lebih tua tiga tahun diatas Dita . Pantas saja kalau dia lebih matang dari Dita . Walau wajahnya tak bisa menandingi kecantikan Dita , tapi tubuhnya tak kalah seksi dibanding Dita , apalagi dalam keadaan telanjang bulat kayak gitu.

“Man... Aku nggak akan ngadu ke yang punya rumah asal…” katanya mengancamku
“Asal apaan...?” jawabku spontan

Sukma tidak menjawab, namun dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di bibir vaginanya yang telah basah. Sukma sengaja membuat aku terangsang. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku menggeliat tegang lagi. Tapi aku masih ingin Sukma membarakan gairahku lebih jauh. Sukma berdiri bersandar di tembok kamar. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku. Akupun segera bangkit berdiri dan berjalan kearahnya, selanjutnya aku berdiri di depan gadis itu.

“Ayo.. mas Herman... buat aku puas kaya Dita” pintanya penuh hasrat.

Kedua tanganku meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Putingnya yang kemerah-merahan sudah membesar dan keras, tanda Sukma sudah nafsu banget.

“Aaaaahh..…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin kuat meremasi payudaranya.
“Ooooohhh.. mas.. enak bangettttt” desahannya semakin keras.

Sukma memainkan jamarinya di kepala penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan.

“Eehesshhhhhhhs… tanganmu enak banget…” desahku

Gadis itu terus memainkan batang penisku itu. Birahiku semakin menggelora, maka aku emutin susu-susu Sukma bergantian.

“Aaaaaaaaaauh…” Desah Sukma sambil tangannya meremas batang penisku.

Beberapa saat kemudian aku baringkan tubuh Sukma di lantai. Sukma segera merengkuhku untuk melumat bibirku. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap bibir vaginanya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jarikupun bermain lincah di vaginanya.

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta. Aku ajak Sukma untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Sukma segera membenamkan penisku ke dalam bibir vaginanya. Sukma dengan ganas melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Sukma, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya.

“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Sukma sambil terus melumat batang penisku.
“Ouwgh… isep Sukma, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Sukma menghisap kuat-kuat penisku dan jrooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Sukma . Sukma menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, ganti aku menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Sukma berbisik,

“Mas.. aku udah pengin ngerasain penismu…” Sukma berbisik sambil menggemgam penisku.

Aku minta Sukma bermain dalam posisi dogystyle, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina Sukma. Kutusuk masuk senjataku melewati lubang vaginya itu.

“Aduh .....Sakit Mas…” Suka menjerit lirih
“Tahun Sukma… dikit lagi…” kataku
“Eeehhh… waaa!!”

Selanjutnya dengan sekali dorongan, batang penisku amblas sudah dikenyot lubang vagina Sukma. Aku diamkan sebentar lalu perlahan aku mulai gerakkan penisku maju mundur.

“Eeehh… terus mass… uhh… enakkkk” Sukma mulai meracau

Tubuh Sukma menggeliat-geliat nikmat bagai cacing. Darah merembes di pahanya ya.g putih.
Lima belas menit penisku bergerak maju mundur di vagina Sukma. Tanda aku mau klimaks sudah mulai aku rasakan, maka aku percepat gerakan pantatku maju mundur...

“Aku mau keluarrrr sayangggg.....” kataku
“Aku juga mas.... kita barengan ya....” kata sukma

Akhirnya Sukma menjerit menandakan bahwa ia sudah mencapai pasa titik kepuasan tertinggi, dan demikian juga dengan aku. Hingga akhirnya Sukma kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Dita .

Hari itu aku merasakan kelelahan yang luar biasa karena sudah ngetot dengan 2 gadis perawan itu. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka.

Tags: Cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru.

Subscribe to receive free email updates: