Cerita Seks Dewasa - Nikmat Memek Wanita Paruh Baya

Cerita sex terbaru, cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante.

Tante Diana, meski usia sudah matang kisaran 38 tahun, namun memiliki paras yang cantik, di tambah dengan tubuh yang masih montok dan sexy, ukuran payudara lumayan gede yaitu 35b. .... Busyetttt abissss... Pria mana yang tak ngiler oleh kecantikan dan kemolekan Tante Diana. Dia memiliki usaha sendiri , yaitu salon dan spa.

www.cerwasa.com

Ekonomi Tante Diana sudah sangat mapan. Namun dibalik itu semua, Tante Diana begitu sangat kesepian. Sebab suaminya sering dinas di luar kota, dan Tante Diana sudah dikaruniai seorang anak perempuan.

Waktu itu gue lagi potong rambut di Salonnya, gue mengajaknya ngobrol banyak hal. sampai kami pun akrab dengan candaan. Setelah selesai potong rambut, gue tidak langsung pulang tapi menemaninya mengobrol. Sejak hari itu, gue semakin akrab dengannya. Gue dan Tante Diana sering cathing lewat WA. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali gue bermaksud ngajak Sari (pacar gue) yang isinya.

“Pagi dear.. gi apa? Aku kangen nih.... Pengin banget bisa bercinta mau kamu lagi...”

Karena waktu itu gue juga baru saja cathingan dengan Tante Diana , refleks jariku mengirimkan tulisan itu ke Tante Diana !. dan Gue sama sekali tidak sadar telah salah kirim sampai kemudian dering di HP-ku berbunyi dan:

“Wah.. Ini chat tuk siapa ya kok romantis banget.... ” balasan dari Tante Diana
“Maaf, Tante. Gue salah kirim. Abis aku lagi pengin-penginnya nih.. Maaf ya Tante..” balasku.

Gue sengaja berterus terang tentang ‘keinginan’ku karena ingin tahu reaksi Tante Diana .

“Wah... wahhhh .... ternyata sudah berani begituan ya! tulisan itu buat pacarmu ya?” balasan dari Tante Diana lagi
“Eh ... enggak Tante. Itu TTM-ku. Teman Tapi Mesra.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Tante..” jawabku

Beberapa menit kemudian, Tante Diana tidak membalas Chat-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Diana meneleponku.

“Kamu lagi dimana Ferdy?” Tanya Tante Diana .

Suaranya lebih akrab daripada biasanya.

“Di rumah, Tante. Maaf ya tadi gue udah salah kirim. Jadi ketahuan deh kalau gue lagi pengen..” jawabku.
“Gue tadi heran juga. Ferdy yang pendiam dan alim, dan terkersan lugu. Ternyata.. udah pengalaman rupanya!” balas tante Diana sambil tertawa lepas
“Hm.. Tapi memang gue lugu lho, Tant..” kata gue bercanda.
“Hahaha.. lugu tapi sering kali bercinta.. Siapa tuh cewek?”
“Ya teman lama, Tante. Temen ngeseks-ku yang pertama.” Gue bicara terus terang. Bagiku sudah kepalang basah.
“Wah.. Kok dia mau ya kamu ajak bercinta?” tanyanya heran.
“Kami temen akrab, Tant. Waktu itu kami sama-sama terserang napsu birahi.” Jawabku apa adanya.
“Lho... jika kalian memang sama-sama suka, kenapa tidak jadian saja?”
“Kami masih sama-sama ingin bebas. Sering juga pacaran malah terbentur pada batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Bagiku tidak masalah bagiku dia bercinta dengan laki-laki lain. Gue pun begitu.. dan tentu saja kami sama-sama bertanggung jawab dan berhati-hati. Kami sangat selektif dalam bercinta. Takut penyakit, Tante.” .” jawabku

“Oh.. Safe Sex ya? “ kata tante Diana
“Begitulah nte.... Terus Tante sendiri bagaimana dengan suami? Kapan terakhir ngeseks?” Tanya gue mencoba memancingnya.

Kudengar Tante Diana menarik nafas panjang.

“Udah kira-kira 5 bulan yang lalu, Ferdy.” Jawabnya.

Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Gue jadi ingin tahu lebih banyak lagi. Dahulu dia sangat menyukai seks. Minimal seminggu sekali kami bercinta.”

“Lho, Tante Diana berhak minta dong. Itu kan kebutuhan batin. Setiap orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang, Tante?” Tanya gue.
“Gue sih pernah memberinya tanda bahwa gue sedang ingin ngetot. Tetapi dia kelihatannya sedang tidak ada gairah. Gue tidak mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku.”
“Oh.. Kalau Ferdy sih tidak perlu dipaksa, dengan Tante Diana sih oke-oke aja..” goda gue asal saja.
“Ferdy, kamu. . itu muda n ganteng. Masa mau dengan wanita yang lebih tua ? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku..” katanya
“Tante Diana serius? Gue gak nyangka lho Tante Diana bisa bicara seperti ini. Tante Diana tu masih muda. 39 tahun. Seksi dan montok. Kok bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal Tante Diana terlihat sangat mandiri di mata gue..”
“Fer... jika kamu tidak sedang sibuk... ke rumahku sekarang ya? Pinta Tante Diana.

Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan gue tidak pernah berkhayal sebelumnya untuk mendapatkan Tante Diana . Selama ini gue sangat menghormatinya sebagai wanita yang terhormat. Bergegas gue mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Diana.

Di sepanjang jalan gue masih tak habis pikir. Apakah benar nanti gue akan bercinta dengan Tante Diana ? Rasanya mustahil. Sampai di rumah Tante Diana , ternyata rumahnya memang sepi. Gue masuk ke ruang tamu yang di dalamnya berisi buku-buku koleksi Tante Diana .

“Tutup saja pintunya, Ferdy.” Kata Tante Diana .

Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras. Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi cewek-cewek yang pernah bercinta denganku, gue merasa aneh berdiri di depan seorang wanita paruh baya yang cantik dan seksi . Setelah gue menutup pintu, belum sempat gue duduk, Tante Diana sudah melangkah menghampiriku. Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dada gue. Gue tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman pertama gue dengan wanita yang usianya di atasku.

Apa gue harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide. Banyak ide bermunculan di otakku. Beberapa saat lamanya gue bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya gue memilih tenang. Gue ingin tahu apa yang Tante Diana mau. Gue akan mengikutinya. Kali ini gue main safe saja.

“Tante Diana adalah masalah?” bisikku.

Kurasakan pelukan Tante Diana semakin erat. Dia tidak menjawab. Gue juga diam. Benar-benar pengalaman baru buatku. Kurasakan kontolku tidak bergerak. Rupanya pelukan Tante Diana tidak membuatku terangsang.

“Gue cuma ingin memelukmu. Sudah lama gue tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan kan ?” akhirnya Tante Diana berbicara.
“Enggak Tante. Peluk saja sepuas Tante Diana . Apapun yang Tante Diana inginkan dariku, kalau gue mampu, gue akan melakukannya.” Jawabku
“Gak usah pakai rayu-rayuan. Tante sudah sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini..” kata tante Diana

Benar juga kata Tante Diana. Hari itu gue belajar menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Diana , kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, gue tidak seratus persen percaya. Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan tulus. Perasaan wanita sangat peka. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu.

“Tante...., gue beruntung bisa dipeluk wanita secantik tante. Siapa sangka chat salah kirim bisa berhadiah pelukan?” canda gue.

Memang benar gue merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan gue yakin perasaan Tante Diana akan menangkap ketulusanku.

“Kamu memang pantas mendapatkan pelukanku, Ferdy..” bisik tante Diana lagi. Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh.. Gue jadi ingin menciumnya.

Di satu sisi gue tahu bahwa gue salah. Tante Diana sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal gue menikmati pelukan itu. Bahkan gue ingin lebih dari sekedar pelukan. Gue ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta kenikmatan. Apalagi Tante Diana sudah 5 bulan lebih tidak mendapatkan kebutuhan jasmaniah. Pasti dia sangat haus sekarang. Gue mulai memperhitungkan situasi.

Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup aman untuk beberapa saat.. Perlahan gue memberanikan diri menyentuh wajah Tante Diana . Dengan dua buah jariku, gue membelai wajahnya lembut. Mata gue menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Diana gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di wajahnya.

Wajah gue menunduk mencari bibirnya. Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa detik, ciuman kami terlepas. Tante Diana menyandarkan kepalanya ke dada gue.

“Fer.... Tante mulai menyayangimu..” bisiknya nyaris tak kudengar.

Gue yang sudah merasakan ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi gue sudah mulai terangsang. Gue mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya menatapku kembali. Gue tak berani menciumnya.

Dan Tante Diana menciumku, menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan akhirnya kami bercumbu dengan napsu membara. Kami sama-sama kehausan.. Agh.. Gue tak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia membutuhkanku dan gue juga membutuhkannya.

Gue segera membopongnya dan membantunya duduk di atas meja. Dengan begini gue akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat. Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada tara. Tanganku mulai bergerak ke arah payudaranya.

Gue remas payudaranya dari luar. Memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Tante Diana menggelinjang. Perlahan gue menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan tanganku tertahan. Tante Diana menolak. Rupanya dia hanya ingin bercumbu denganku. Namun
Gue nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat gue berhasil melepas kait bra-nya. Payudaranya terasa utuh di tanganku, masih sangat kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya bibirnya melenguh hebat saat gue meremas payudaranya.

“Jangan...Fer.... tante tidak memerlukan ini semua.. Cukup peluk tante!” tegur Tante Diana . Gue tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak.

Gue tetap merangsang payudaranya. Gerakan menolak tante Diana melemah. Dan akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah bangkit. Dengan mulutku gue membuka kancing-kancing kemejanya.

Tante Diana tertawa melihat ulahku. Kini gue bebas mencumbu payudaranya. Kujilat dan kuhisap puting susunya. Tante Diana melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram rambut kepala gue. Bibirnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit telinga gue, sementara kepala gue, lidahku, bergerak bebas merangsang payudaranya.

Ach...., begitu enak dan nikmat. Payudaranya tidak terlalu besar namun seksi sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan puting yang cukup besar. Gue bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadang hidungku juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Diana semakin memburu. Tak lama tanganku menyusup ke balik roknya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya telah basah.

Tante Diana merapatkan pahanya. Itu adalah penolakan yang kedua. Kepalanya menggeleng ketika kutatap matanya. Gue terus menatap matanya dan kembali mencumbunya. Gue tidak akan memaksanya. Tetapi gue punya cara lain. Gue akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan persetubuhan. Perlahan cumbuanku turun ke lehernya.

“Aaauuuggghhhhhh.......,” kudengar lenguhannya.

Dengan penuh napsu gue mencumbunya di leher. Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu telinganya.

“Ferrrrr...........” rintihnya.

Telinganya juga sensitif. Tubuh tante bergetar. Semakin banyak titik tubuhnya yang sensitif, semakin bagus. Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan berputar-putar dan seolah menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Diana semakin bergairah.

“Ka.. mu.. Na.. kallll Ferrrrr... Pintar sekali membuatku.. Bergairah..” katanya terputus-putus. Nafasnya semakin memburu.
“Tante Diana cantik sekali. Gue sangat menginginkanmu, Tante.. Gue ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi tanteee..” bisikku sambil terus mencium telinganya.
“Begitu juga dengan tante ....Ferdy.. ” jawab tante Diana .

Kulihat Tante Diana membalas ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang vaginanya. Kali ini kakinya agak terbuka. Gue berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya.

“Aahh..... Ferddyyyyy.....” Tante Diana semakin terangsang.

Kakinya terbuka semakin lebar. Kini gue sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan membuatnya makin hebat dilanda badai birahi. Entahlah, gue sangat tenang dalam melakukannya. Gue rangsang terus titik-titik lemah tubuhnya, gue semakin tenang. Gue seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah, rupanya gue berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum sendiri.

Tante Diana semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak malu-malu melepas kancing celana gue dan mencari kontolku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Birahi Gue semakin terbakar.

Napsu birahi kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan gue melepas turun celana dalamnya. Tidak perlu dilepas. Gue menatap matanya meminta persetujuannya. Mata Tante Diana nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun perbuatanku.

Selanjutnya perlahan kontolku menembus liang vaginanya tanpa kondom. Gue merasakan kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan dengan memakai kondom. Gue berani tanpa kondom karena gue yakin dengan kesehatan Tante Diana . Gue mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa kembali dan kami ngeseks dengan dahsyat. Suara kontolku yang mengocok vaginanya terdengar khas. Gue mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya.

Tetapi benar-benar tanpa kondom membuatku kontolku lebih peka hingga belum begitu lama, gue sudah merasakan di ambang klimaks. Segera kuhentikan aksiku. Kucabut kontolku dan gue menenangkan diri. Kami berciuman. Gue tak mau birahi Tante Diana surut. Setelah gelora napsu gue agak tenang gue kembali memasukkan kontolku.

Kali ini gue tidak menggebu dalam memompa kontolku. Gue memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan gue lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat Tante Diana yang sudah 5 bulan tidak merasakan nikmatnya kontol lelaki. Gelombang badai birahi kembali melanda. Keringat kami bercucuran.

Kontolku terasa agak panas. Gue belajar menahan nafas dan sesekali saat kurasakan gue hendak mencapai puncak, gue menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme. Gue berusaha seperti menahan kencing. Dan usaha gue berhasil. Setidaknya gue bisa bercinta cukup lama mengimbangi Tante Diana yang perlahan tapi pasti semakin menuju puncak. Muka tante Diana semakin kemerahan. Wajahnya yang cantik tampak sangat menggemaskan ketika sedang dilanda birahi.

“Tante Diana cantik sekali.. Hebat juga ketika ngeseks..” bisikku.

Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang semakin penuh dengan keringat.

“Aaaahhhhh kontol kamu. . juga.. Enak, Fer..” Tante Diana mulai meracau.

Tante Diana bolak-balik memejamkan mata, membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan dan rambutnya semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi sekali saat seorang wanita bercinta. Sebenarnya gue ingin mengubah posisi lagi. Gue ingin lebih lama bercinta. Dari bahasa tubuh Tante Diana , gue yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku kurasa telah melukai punggungku. Terkadang giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit.

“Auuuuuugh.. Arrhhk.. tante sudah ham.. pir... sampaiiii Ferrrrr...” rintihnya.

Tanganku meraih bra Tante Diana dan meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu. Daripada menjerit, lebih baik menggigit bra sekuatnya. Kontolku semakin gencar menghunjam vaginanya. Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Gue ingin sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Diana walaupun menurutku sangat sulit untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, tante berencana membiarkannya orgasme terlebih dulu, baru gue menyusul.

“Aaaaagggggghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit lagi..... dikit lagi.... yaaa... terus ... terus ” erang Tante Diana

Kurasakan kontolku juga semakin panas. Gue juga sudah mendekati puncak. Aliran air mani dari bawah sudah merambat naik siap menyembur. Gerakan Tante Diana semakin menyentak-nyentak. Beberapa saat kemudian gue merasakan tubuh Tante Diana mengejang dan bergetar hebat.

Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram punggungg gue sangat-kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan yang tertahan.. Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah menjerit sepuasnya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaagghh..... gue sampaiiiiiiii Ferrrrrrrrrrrrrrrr..... Aaahhhhhh” kepala tante mendongak.

Gue merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat kontolku semakin panas. Tante Diana orgasme sementara gue juga sudah semakin dekat. Gue mempercepat kocokanku. Cepat.. Dan gue mencabut kontolku. Air mani gue berhamburan menyembur di perut dan dada Tante Diana . Ah.., nikmat sekali mencapai puncak. Perjuanganku tidak sia-sia. Gue yang selama ini rutin berlatih menahan kencing, melatih otot-otot perut dan kontolku, sukses mengantarkan Tante Diana menggapai orgasmenya.

Ngetot dengan Tante Diana lebih mendebarkan dan menantang. Tante Diana segera mencari tissue dan membersihkan ceceran pejuh gue. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai bra dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal dirapikan saja. Gue pun tinggal merapikan celana gue. Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas di wajah Tante Diana .

Kami pun tertawa bersama. Gue memeluknya. Mencium dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di ruangan itu sangat membantu tubuh kami cepat kering.

“Nte... kenapa tadi sudah tahu gue lagi pengin-penginnya malah tante undang kemari..” kata gue.

“Terus terang tante tadi juga lagi pengen banget, Ferdy. Begitu tahu kamu ternyata sudah pengalaman, tante jadi tergoda denganmu. Tante jadi pengin banget terpuaskan oleh kamu.

Tante Diana mencium bibirku lagi. Kami kembali berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya, saling bergelut.

Kami terus berciuman sambil berpelukan. Banyak laki-laki melupakan kenyataan bahwa ada hubungan yang harus dibina setelah kita ngeseks. Setelah terjadi orgasme, wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman. Kami berpelukan dan dengan jelas gue mendengar suara Tante Diana

“Tante sangat menyukaimu Ferdy. Terima kasih buat semuanya. tante merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu..”
“Gue juga Tante... thanks dan buat gue puas hari ini...” jawabku sambil kembali memagut bibir mungilnya. Kisah selanjutnya di inginseks22.com

Tags: Cerita sex terbaru, cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita mesum, cerita ngentot, cerita seks perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita seks selingkuh, cerita sex, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante.

Subscribe to receive free email updates: